Rabu, 23 Desember 2009

BAGAIMANA MENGAMBIL MANFAAT DARI AL-QUR'AN

Jika anda ingin mengambil manfaat dari Al-Qur'an al-Karim, maka bulatkanlah hatimu tatkala membaca dan mendengarkannya, pasanglah telingamu, hadirkan hatimu, rasakanlah siapa yang sedang engkau ajak berbicara, siapa yang dituju dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena sesungguhnya obyek yang dituju adalah anda melalui lisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.


Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaaf: 37)

Yang demikian itu karena kesempurnaan pengaruh tergantung kepada sesuatu yang diharapkan pengaruhnya, obyek yang hendak menerima pengaruh serta terpenuhinya syarat-syarat untuk timbulnya suatu pengaruh. Juga tiadanya penghalang yang menghambatnya.

Ayat di atas mencakup penjelasan semua itu dengan lafazh yang ringkas, jelas dan menunjukkan makna yang dimaksud. Ibnu Qutaibah berkata: "Dengarkanlah Kitabullah, yakni dengan kesaksian hati dan pemahaman, bukan dengan kelalaian dan kehampaan.

Jika yang diharapkan pengaruhnya adalah Al-Qur'an, obyek yang hendak menerima pengaruh adalah hati yang hidup, terpenuhi pula syarat, yakni adanya perhatian, ditambah lagi dengan tiadanya penghalang berupa kesibukan hati dan kelalaiannya terhadap makna yang terkandung maupun berpaling pada sesuatu yang lain, niscaya muncullah pengaruhnya, yakni bisa mendapatkan manfaat dan peringatan.

Dengan memperhatikan kalamullah dan khitab (obyek yang ditujunya), niscaya akan kita dapatkan bahwa Dia-lah pemilik seluruh kerajaan, pemilik segala pujian, segala urusan berada di tangan-Nya, berasal dari-Nya, kembali pula kepada-Nya, bersemayam di singgasana-Nya dan tak tersembunyi sedikit pun atas-Nya segala apa yang ada dalam kekuasaan-Nya. Maha Mengetahui apa yang terbetik dalam hati para hamba-Nya, Maha Melihat apa-apa yang dirahasiakan mereka dan apa-apa yang ditampakkan.

Maka perhatikanlah, bagaimana Dia memuji diri-Nya dan menasihati hamba-hamba-Nya, menunjukkan kepada mereka apa-apa yang mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan memberikan peringatan dari apa-apa yang dapat menyebabkan mereka binasa.

Nampaklah dari khitab yang ditujunya, bahwa Allah memberikan teguran-teguran kepada orang yang dicintai-Nya dengan teguran yang halus, padahal mereka seringkali tergelincir namun Allah mengampuni mereka, menerima udzur mereka, memperbaiki keadaan yang rusak di antara mereka, menjadi penolong atas mereka, menjamin kemaslahatan bagi mereka dan mengentaskan mereka dari kegundahan.

Maka tatkala hati menyaksikan dari Al-Qur'an tentang Maha Raja Yang Maha Agung, Maha Penyayang, Maha Pemurah, Maha Indah, maka bagaimana mungkin hati tidak terdorong untuk mencintai-Nya dan berlomba untuk mendekatkan diri kepada-Nya? Maka dia akan mempertaruhkan jiwanya untuk mencintai-Nya, sehingga Dia menjadi sesuatu yang paling dicintai dari selain-Nya, keridhaan-Nya lebih didahulukan olehnya daripada keridhaan siapa pun selain-Nya.

Bagaimana mungkin hati tidak nyaman untuk berdzikir kepada-Nya, melestarikan kecintaannya kepada-Nya, rindu kepada-Nya, dan senang dekat dengan-Nya? Padahal unsur itulah yang merupakan makanan, kekuatan dan obat baginya. Ketika unsur itu tiada, maka menjadi rusak dan binasalah hati. Hidup pun tak lagi bermanfaat baginya.

***

Abu Abdillah

(Al-Fawa'id; Raudhah Al-Mahbub min Kalaam Muharrik Al-Qulub, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

“SEANDAINYA AKU JADI WANITA AKU MALU MENJADI WANITA JIKA”

Kalau banyak orang lain
Merasa bangga menjadi wanita,
Karena wanita layak dipuja,
Karena wanita cantik memesona,
Karena wanita bisa dibeli dengan harta,
Karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya,
Maka justru sebaliknya,
Dengan lantang aku berkata.. "aku malu menjadi wanita!"

Ya, Aku malu menjadi wanita,
Kalau faktanya wanita itu gampang
diiming-i minggi harta dengan mengorbankan harga dirinya.
Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu
sebagai sumber maksiat, memikat,
hingga mengajak pada jalan sesat.

Aku malu menjadi wanita kalau ternyata
dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga
sanggup memunculkan syahwat.
Aku malu menjadi wanita kalau ternyata
Tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan- angan bagi pria.
Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita
tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya
dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.

Sungguh, aku malu menjadi wanita yang
tidak sesuai dengan fitrahnya.
Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi,
sosok wanita yang seperti Allah harapkan.
Aku malu, karena itu pertanda
aku belum amanah terhadap titipan Allah ini.

Entahlah, selama ini aku sudah menjadi wanita macam apa.
Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan,
kalau- kalau pada hari akhir nanti
Tak ada daya bagiku untuk
mempertanggungjawab kan ini semua.

Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah,
wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan .
Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia,
menyinari dengan cinta. Dari kesholehannya, akhlaknya,
ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina
dengan mengajarkannya ilmu dan agama.
Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia,
Hingga perjuangan itu terus ada.

Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku.
Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri.
Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan
kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu.
Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan
akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah.."

Profil Asiyah Istri Fir'aun...

Asiyah binti Muzahim merupakan salah satu diantara wanita-wanita pilihan yang pernah terukir dalam bingkai sejarah. Dia istri Fir’aun, seorang raja Mesir di zaman Nabi Musa. Saat bersama Fir’aun, Asiyah tidak dikaruniai seorang anak pun. Fir’aun sangat mencintainya karena kecantikan dan kematangan akhlaknya. Telah berapa banyak cobaan dan tantangan yang harus dihadapinya dengan penuh kesabaran. Bahkan, berbagai kesulitan mampu dirubah menjadi kemudahan, sehingga Asiyah dikenal sebagai rahmat, bagi masyarakat di zaman Fir’aun yang penuh dengan kelicikan dan lalim.

Pada masa yang seperti itulah muncul peristiwa yang akan menentukan sejarah hidup Nabi Musa selanjutnya. Disebutkan dalam sejarah kenabian, ketika Asiyah duduk-duduk di taman yang indah nan luas, dihiasi dengan aliran sungai mempesona. Dia melihat sebuah peti mengambang. Perlahan-lahan peti itu semakin mendekat sehingga Asiyah menyuruh para pembantunya untuk mengambil dan mengeluarkan isi peti tersebut. Ketika dibuka, ternyata di dalamnya terdapat seorang bayi mungil, elok dan rupawan. Maka, muncullah perasaan kasih sayang dalam diri Asiyah. Allah mengaruniakan cinta dan kasih sayang terhadap bayi tersebut melalui Asiyah. Tak pelak lagi, Asiyah memerintahkan agar bayi itu dibawa ke istana dengan bertekad memelihara dan mangasuhnya.

Ketika mendengar berita tersebut, Fir’aun hendak membunuhnya, karena dia melihat mimpi yang selama ini menghantuinya tentang seorang anak yang kelak menghancurkannya. Para dukun dan ahli nujum dihadirkan dari seluruh pelosok negara. Mimpinya pun diceritakan kepada mereka, sehingga ia diperingatkan agar hati-hati dengan kelahiran seorang bayi yang akan menjadi penyebab kehancuran kerajaannya. Akhirnya, semua bayi laki-laki Bani Israel yang lahir diperintahkan agar dibunuh, kecuali bayi yang diasuh Asiyah. Fir’aun pun luluh dengan bujukan Asiyah ketika ia berkata: “Kita tidak mempunyai keturunan anak laki-laki, maka jangan bunuh anak ini. Semoga ada manfaatnya untuk kita atau kita jadikan dia sebagai anak kandung kita”. Fir’aun menyetujui dan menyarankan agar anak itu dididik sedemikian rupa. Asiyah memberi nama Musa terhadap anak tersebut dan mendidiknya hingga dewasa dalam istana Fir’aun. Dan kisah tentang ini tidak asing lagi bagi kita.

Kelak, Asiyah merupakan salah seorang yang mempercayai Musa. Ketika Fir’aun mengetahui hal tersebut, tiba-tiba rasa cintanya berubah menjadi kemarahan dan permusuhan. Asiyah tidak mengindahkannya karena dirinya tahu bahwa kebenaran bersamanya. Dan dia pun tahu bahwa Musa as adalah utusan Allah yang kebenarannya tidak dapat dihalangi oleh tantangan dan ancaman yang datangnnya dari siapa saja. Hingga meninggal dunia, hari-hari akhirnya Asiyah hanya dipenuhi dengan dzikir kepada Allah seraya mengucapkan:

{"Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya"}

Allah telah mengabulkan do’anya, bahkan dalam sebuah hadis Nabi saw disebutkan bahwa Asiyah termasuk diantara wanita-wanita yang mulia, diriwayatkan: [“Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam puteri Imron dan Asiyah istri Fir’aun”].

KENIKMATAN HIDUP

“Dan hendaklah kamu MEMINTA AMPUN kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi KENIKMATAN yang baik kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan (ajal) dan Dia akan memberi kepada setiap pemilik keutamaan (amal-amal perbuatan baik) balasan keutamaannya (karunia) . Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku (Muhammad) takut kamu akan ditimpa siksa pada hari yang besar (kiamat). Kepada Allah lah kembalimu, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Huud [11]:3-4)

Apa sebenarnya kennikmatan hidup itu?
Manusia sering kali berpikir bahwa kenikmatan hidup adalah keinginan dalam kehidupan ini yang selalu terpenuhi. Ia mungkin lupa, setiap keinginan yang telah terpenuhi dapat saja luput dari ketentraman hidup, kebahagiaan dan kemuliaan diri atau dalam bahasa iman kita sebut dengan“Hidup yang penuh keberkahan”. Berapa banyak manusia yang merasa telah terpenuhi segala keinginannya, memperoleh kelapangan harta, ketinggian kedudukan, bahkan menduga telah meraih segala yang dicita-citakan tapi hidupnya selalu dipenuhi rasa was-was, dan kadangkala hina dimata orang lain. Ia jadi bahan gunjingan dan tumpuan kemarahan orang lain. Ia sanggup menghabiskan biaya yang tidak sedikit dalam membeli kenikmatan hidup, tapi nikmat itu hanya sebentar saja dirasakannya untuk kemudian hilang tak berbekas dan jiwanya kembali kosong.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thahaa [20]: 124)

Ketentraman, kebahagiaan dan kemulian diri yang dalam bahasa iman kita sebut dengan “hidup yang penuh keberkahan” akan melahirkan kenikmatan hidup yang terus menerus seperti yang dimaksud dengan ayat 3-4 dalm QS Hud diatas. Seorang hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah selalu akan merasakan kelezatan iman dan ketentraman hidup dalam naungan illahi Rabbi. Sebuah jalan lurus yang ia tempuh akan menjadikan ia hidup dalam kemulian.

Allah melalui Rasul-Nya yang mulia meminta kita untuk selalu memohon ampun dan senantiasa bertaubat kepada-Nya atas segala kesalahan kita. Dalam bahasa Fiqih, ibadah sholat baik yang wajib maupun yang sunnat adalah suatu kegiatan yang mengumpulkan segala bentuk dzikir dan istighfar kepada Allah Azza wa Jalla. Kita sadar bahwa sebagai hamba-Nya yang lemah kita tidak luput dari kealpaan dan kesalahan yang meliputi diri kita. Alangkah baiknya jika diluar ibadah sholat yang kita lakukan, lisan kita selalu dibasahi oleh dzikir tanda mengingat Allah dan istighfar tanda kita sadar akan kealpaan kita sebagai seorang hamba.

Suatu hari, Rasulullah saw pernah duduk beserta beberapa sahabatnya. Lalu datanglah seorang laki-laki. Dia bertanya dan mengeluhkan kemiskinannya kepada Nabi. Rasulullah bersabda, “Engkau harus beristigfar.”

Kemudian datang seorang laki-laki lainnya bertanya dan mengeluhkan sedikitnya anak. Maka Rasulullah bersabda, “Engkau harus beristigfar.”

Lantas salah seorang sahabat, Abu Hurairah ra. berkata: “Ya Rasulullah, penyakitnya bermacam-macam, namun obatnya hanya satu.” Maka Rasulullah bersabda, “Aku akan bacakan kepada kalian apa yang telah disampaikan nabi Nuh kepada ummatnya.” Kemudian Rasulullah membaca firman Allah: “Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan mu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak mu, dan mengadakan untuk kamu kebun-kebun dan mengadakan untuk kamu sungai-sungai yang mengalir (didalamnya).’” (QS Nuh [71] 10-12)

Rasulullah kemudian berkata: “Barangsiapa senantiasa membaca istigfar, maka Allah menjadikan baginya jalan keluar atas setiap kesulitan yang ia derita dan Allah memberi kelapangan atas setiap kesempitannya serta Allah memberi kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Candanya Para Ulama (Syaikh al-Albani, Syaikh Ibn Baz & Syaikh Ibn ‘Utsaimin rahimahumullah)

1. Ada seorang pemuda penuntut ilmu pernah naik mobil bersama Syaikh al-Abani rahimahullah. Syaikh al-Abani mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Melihatnya, maka pemuda itupun menegur:”Wahai Syaikh,ini namanya ‘ngebut’ dan hukumnya tidak boleh. “Syaikh ibnu Baz mengatakan bahwa hal ini termasuk menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Mendengarnya, Syaikh al-Albani rahimahullah tertawa lalu berkata:”Ini adalah fatwa seseorang yang tidak merasakan nikmatnya mengemudi mobil!!.” Pemuda itu berkata: “Syaikh, akan saya laporkan hal ini kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz.” Jawab Syaikh al-Abani;”Silahkan,laporkan saja.”

Pemuda itu melanjutkan ceritanya: “Suatu sa’at, saya bertemu dengan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di Makkah maka saya laporkan dialog saya dengan Syaikh al-Abani rahimahullah tersebut kepada beliau.Mendengarnya, beliau juga tertawa seraya berkata: ‘Katakan padanya:”ini adalah fatwa seseorang yang belum merasakan enaknya terkena denda!” (Al-Imam Ibnu Baz,Abdul Aziz as-Shadan hlm.73)

2. Diceritakan bahwa suatu ketika Raja Khalid rahimahullah mengunjungi
rumah Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah, sebagaimana kebiasaan para raja sebagai sikap
menghormati dan memuliakan para ulama. Dan ketika sang Raja melihat rumah
Syaikh yg sangat sederhana maka raja menawarkan kepada Syaikh untuk
dibangunkan sebuah rumah untuk beliau, Syaikh berterimakasih dan
berkata:”Saya sedang membangun rumah di daerah As-Salihiyah (wilayah
Unayzah, Qasim), bagaimanapun mesjidnya dan panti sosialnya membutuhkan
bantuan (dana)”

Maka setelah sang Raja pergi, beberapa orang yg ikut dlm pertemuan itu
berkata: “Wahai Syaikh, kami tidak mengetahui kalau anda sedang membangun
rumah di As-Salihiyah?”

Maka Syaikh menjawab: “Bukankah pekuburan ada di As-Salihiyah?”

(Ad-Dur Ath-Thamin Fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-`Allamah ibn Utsaimin – p.218)

3. Ada salah seorang suami dari cucu Syaikh Ibnu Baz menemui beliau dan berkata, “Wahai Syaikh, kami ingin agar engkau mengunjungi dan makan di rumah kami”. Jawaban beliau, “Tidak masalah, jika engkau menikah untuk kedua kalinya maka kami akan datang ke acara walimah insya Allah”.

Setelah pulang, orang ini bercerita kepada istrinya tentang apa yang dikatakan oleh kakeknya. Kontan saja cucu perempuan dari Syaikh Ibnu Baz buru-buru menelpon kakeknya. “Wahai Syeikh, apa maksudnya?”. Ibnu Baz berkata kepada cucunya, “Kami hanya guyon dengan dia. Kami tidak mengharuskannya untuk nikah lagi. Kami akan berkunjung ke rumahmu meski tidak ada acara pernikahan”. (www.ustadzaris.com)

4. Abdullah bin Ali Al-Matawwu’ menceritakan bahwa dia menemani Syaikh Ibn
Utsaimin (dari Unayzah) menuju Al-Bada-i yg jaraknya 15 km dari Unayzah
untuk memenuhi undangan makan siang.

Setelah makan siang, ketika mereka dlm perjalanan pulang mereka melihat
seorang dgn jenggot berwarna merah (mungkin dicelup dgn hinna) dgn wajah
tenang melambaikan tangan (mencari tumpangan).

Syaikh berkata: “Pelanlah! kita akan mengajaknya bersama kita”

Maka Syaikh berkata kpd orang itu: “Engkau mau kemana?”

Orang itu menjawab: “Ajak aku bersama kalian ke Unayzah”

Syaikh berkata: “Dengan dua syarat, pertama engkau tidak boleh merokok,
kedua engkau harus mengingat Allah”

Orang itu menjawab: “Masalah rokok, aku tidak merokok, walaupun tadi aku
menumpang seseorang yg merokok dan (karena itu) aku minta diturunkan
disini, dan tentang mengingat Allah maka tidak ada muslim kecuali dia
mengingat Allah”

Maka orang itu naik ke mobil

(Terlihat jelas sepanjang perjalanan bahwa) orang itu tidak menyadari
kalau dia sedang bersama Syaikh Ibn Utsaimin. Ketika tiba di Unayzah orang
itu berkata:”Tunjukkan padaku rumah Syaikh Ibn Utsaimin, karena aku punya
pertanyaan yg ingin aku tanyakan pada beliau”

maka Syaikh berkata:”Kenapa tidak engkau tanyakan pada beliau ketika
engkau bertemu dgn beliau di Al-Bada-i?”

Orang itu berkata:”Aku tidak bertemu dgn beliau”

Syaikh berkata:”Aku melihat sendiri engkau berbicara dgn beliau dan
memberi salam kpdnya”

Orang itu berkata:”Engkau mempermainkan orang yg lebih tua dari orang tuamu!”

Syaikh tersenyum dan berkata kpdnya:”Shalat Ashar-lah di mesjid ini (Jami’
Unayzah) nanti engkau akan melihat beliau”

Orang itu pergi tanpa mengetahui bahwa tadi dia sedang berbicara dgn
Syaikh Ibn Utsaimin sendiri.

Setelah dia selesai shalat Ashr, orang itu melihat Syaikh didepan selesai
mengimami shalat jama’ah, maka dia bertanya (pada orang lain) tentang
beliau, dan diberitahukan kpdnya bahwa Syaikh itu adalah Syaikh Ibn
Utsaimin. Maka orang itu mendekati Syaikh dan meminta maaf karena tidak
mengenali beliau tadi(diperjalanan), kemudian dia menyampaikan
pertanyaannya. Syaikh pun menjawab pertanyannya, dan orang itu mulai
menangis memohon kpd Syaikh.

(Al-Jami’ li Hayaat Al-`Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.38)

5. Jika ada seorang yang berkunjung ke rumah Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, maka beliau pasti menawari orang tersebut untuk turut makan malam bersama beliau. Jika orang tersebut beralasan, “Wahai Syaikh, saya tidak bisa” maka dengan nama berkelakar Ibnu Baz berkata, “Engkau takut dengan istrimu ya?! Marilah makan malam bersama kami”. (www.ustadzaris.com)

6. Dalam pelajaran fiqih, ketika membahas tentang cacat di dalam pernikahan, seorang murid bertanya kepada Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah : “Wahai syaikh, bagaimana seandainya ada seorang laki-laki menikah, ternyata setelah itu ketahuan istrinya tidak punya gigi, bolehkah dia mencerainya?”
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab : “Itu istri yang sangat istimewa!! Karena dia tidak muungkin dapat menggigitmu!!” (Majalah al-Furqon)

7. Ketika Syaikh Ibnu Baz rahimahullah hendak rekaman untuk acara Nurun ‘ala Darb (acara tanya jawab di radio Al Qur’an Al Karim di Saudi), biasanya beliau melepas kain sorbannya dan dengan nada canda beliau berkata, “Siapa yang mau memikul amanah?”. Jika ada salah seorang yang ada di tempat tersebut mengatakan, “Saya” maka beliau berkata, “Silahkan ambil”. (www.ustadzaris.com)

8. Seseorang bertanya kepada Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah: “Ada sebuah Hadist mengatakan : ‘Tidak ada pertaruhan dalam perlombaan kecuali lomba panah,atau onta, atau kuda’. Apa pendapat anda mengenai orang yang menyelenggarakan lomba untuk ayam dan merpati?”

Beliau menjawab: “Wallahi- Ya akhiy- Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata “Tidak ada pertaruhan dalam perlombaan kecuali lomba panah,atau onta, atau kuda”.”As-Sabaq” disini bermakna “Al-’audh”(mengganti). Karena hal-hal ini membantu dalam kondisi peperangan. Karena ada faidah (manfaat) darinya.Pembuat syariat membolehkan berlomba pada hal tersebut.Apabila ayam mu bisa membantumu dalam peperangan bisa kau tunggani ,meninju (melompat) dan menggali..maka tidak mengapa, jika tidak maka jangan…..”
(Liqo Bab Al-Maftuh pertanyaan ketiga,kaset No.200)

9. Seseorang bertanya kepada Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah : “Apa hukum menggantungkan doa-doa di mobil seperti doa menaiki kendaraan atau safar dan lain sebagainya.Apa jawaban bagi yang berkata bahwa hal tersebut termasuk tamimah?”

Beliau menjawab: “Termasuk tamimah (jimat)? Saya katakan terhadap orang yang berkata bahwa hal ini tergolong tamimah: Sungguh telah benar, apabila mobilnya sakit!! Digantungkan doa-doa ini di mobil nya bukan di penumpangnya,dan diletakkan di mobilnya juga baik karena bisa mengingatkan penumpang dengan doa menaiki kendaraan.Atau dengan doa safar.Semua yang bisa membantu kebaikan maka hal itu baik.Saya tidak memandang menggantungknnya tidak boleh.Ini bukan termasuk tamimah kecuali sebagaimana saya katakan tadi :Jika mobilnya sedang sakit,kemudian digantungkannya doa-doa ini kemudian sembuh dengan idzin Allah!! Oleh karenanya perkara ini baik-baik saja!

(Liqo As-Syahri ,kaset No.9 Side B)

10. Diceritakan oleh Ihsan bin Muhammad Al-Utaybi; Setelah selesai shalat di masjidil haram al-makki, Syaikh meninggalkan Al-Haram untuk pergi ke suatu tempat dgn mobil, maka beliau menghentikan sebuah taxi dan menaikinya. Dalam perjalanan, sang supir ingin berkenalan dgn penumpangnya, maka dia menanyakan:”(Nama)anda siapa wahai Syaikh?”

Syaikh menjawab:”Muhammad bin Utsaimin”

Dengan terkejut sang supir bertanya:”Syaikh Ibn Utsaimin?” karena mengira Syaikh berbohong kpdnya, sebab dia tidak menyangka seorang seperti Syaikh Ibn Utsaimin akan menjadi penumpang taxi nya.

Maka Syaikh menjawab:”Ya, Asy Syaikh”

Sopir taksi memutar kepalanya untuk melihat wajah Asy-Syaikh Al-Utsaimin

Syaikh pun bertanya:”Siapakah (nama) kamu wahai saudaraku?”

Supir itu menjawab:”Saya Asy Syaikh Abdul`Aziz bin Baz!”

Syaikh pun tertawa dan menanyakan:”Engkau Syaikh Abdul`Aziz bin Baz?!!!”

Supir taxi itu menjawab:”Ya, seperti anda Syaikh Ibn Utsaimin”

Lalu Syaikh berkata:”Tapi kan Syaikh Abdul`Aziz bin Baz buta, dan beliau
tidak menyetir mobil”

Seketika itu sang supir taxi mulai menyadari bahwa penumpang yg duduk
disebelahnya benar-benar Syaikh Ibn Utsaimin. Dan sungguh kacau apa yg dia hadapi sekarang (salah tingkah).

(Safahat Musyiqah min Hayaatil Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.79
Ref:Al-Madinah ((Ar-Risalah)), nomor:13788)

11. Diceritakan oleh Abu Khalid AbdulKarim Al-Miqrin; Ketika di studio sedang
melakukan rekaman acara “Pertanyaan melalui Telepon”, seorang saudara
bernama Sa’d Khamis selalu berkata kpd Syaikh setiap kali selesai sesi
rekaman:”Jazakallahu khairan wahai Syaikh, (dan semoga) Allah mengasihi
kedua orang tua Anda”

(pada kesempatan kali ini) Syaikh berkata:”Aamiin ya Sa’d, dan untukku?”

Maka Sa’d barkata (lagi):”Semoga Allah mengasihi kedua orang tuamu”

Dan Syaikh menjawab (lagi):”Aamiin, dan untukku?”

Kemudian Sa’d Khamis menyadari apa yg dimaksud (oleh perkataan Syaikh),
maka dia berkata:”Semoga Allah mengasihi Anda dan semoga Allah mengasihi
kedua orang tua Anda dan semoga Allah membalas kebaikan Anda dgn
sebaik-baik balasan”

Maka Syaikh pun tersenyum lalu tertawa, dan kita semuapun tertawa.

(Arba`ah`asyar`aam ma`a Samahatiil-`Allamah Asy-Syaikh Ibn Utsaimin – p.63)


http://alqiyamah.wordpress.com/2009/12/18/candanya-para-ulama-syaikh-al-albani-syaikh-ibn-baz-syaikh-ibn-utsaimin-rahimahumullah/

Senin, 21 Desember 2009

99 Petuah Orang-Orang Alim

1. Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus meski hanya sedikit. (Kanjeng Nabi)
2. Akan kuberikan ilmu yang kumiliki kepada siapapun, asal mereka mau memanfaatkan ilmu yang telah kuberikan itu. (Imam Syafi’i)
3. Jangan sampai ayam jantan lebih pandai darimu. Ia berkokok di waktu subuh, sedang kamu tetap lelap dalam tidur. (Lukman Hakim).
4. Apabila secara kebetulan kamu menjadi orang yang dekat dengan penguasa, maka berhati-hatilah kamu seolah-olah kamu sedang berdiri di atas pedang yang tajam sekali. (Imam Ghozali)
5. Aku tak suka memakai baju baru, hal itu kulakukan karena aku takut timbul iri hati tetangga-tetanggaku. (Abu Ayub as-Sakhtayani).
6. Allah telah memberikan petunjuk kepadaku sehinga aku bisa mengenali diriku sendiri dengan segala kelemahan dan kehinaanku. (Ali BinAbu Thalib).
7. Andaikata seseorang mau memikirkan kebesaran Allah, maka ia takkan sampai hati untuk melakukan perbuatan perbuatan dosa. (Bisyir)
8. Sifat rendah hati, yaitu taat dalam mengerjakan kebenaran dan menerima kebenaran itu yang datangnya dari siapapun. (Fudlail bin Iyadl).
9. Dalam shalatku selama 40 tahun, aku tak pernah lupa mendo’akan guruku yang bernama Imam Syafi’i. Itu kulakukan karena aku memperolah ilmu dari Allah lewat beliau. (Yahya bin Said al-Qathan).
10. Orang yang beramal tanpa didasari ilmu, maka amalnya akan sia-sia belaka, karena tidak diterima oleh Allah. (Ibnu Ruslan).
11. Fikiran merupakan sumber dari ilmu, sedang ilmu itu sendiri merupakan sumber amal. (Wahb).
12. Orang yang mengerti ilmu fikih berarti ia bisa makrifat kepada Allah dengan ilmunya menyebabkan ia kenal kepada-Nya. Bahkan dengan ilmunya ia bisa mengajar orang lain sampai pandai. (Syeikh Izzuddin bin Abdussalam).
13. Jangan berteman yang hanya mau menemanimu ketika kamu sehat atau kaya, karena tipe teman seperti itu sungguh berbahaya sekali bagi kamu dibelakang hari.(Imam Ghozali).
14. Jika ada musuh yang bisa mendekatkan kamu kepada Allah, maka hal itu lebih baik dari pada teman akrab yang menjauhkan kamu dari Allah. (Abul Hasan as-Sadzili).
15. Wahai Sayyidina Ali! Ketahuilah olehmu bahwa ada dua golongan yang celaka di hadapanmu. Pertama yaitu yang terlalu cinta kepadamu. Dan kedua yang terlalu benci kepadamu. (Kanjeng Nabi).
16. Orang yang bijak tidak akan terpeleset oleh harta, dan meski terpeleset, ia akan tetap mendapatkan pegangan. (Abdullah bin Abbas).
17. Berfikir sesaat sungguh lebih mengesankan ketimbang mengerjakan shalat sepanjang malam. (Hasan Bashri).
18. Hal-hal yang bisa menyebabkan badan lemah antara lain sebagai berikut: Banyak makan makanan yang rasanya masam, sering bersedih, banyak minum air tetapi tidak makan sesuatu, serta sering melakukan hubungan seksual. (Imam Ghazali).
19. Barang siapa tidak mencintai untuk agama dan membenci untuk agama, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki agama. (Abu Abdilah al- Shdiq).
20. Berhati-hatilah dari berteman dengan : Ulama yang bersikap tak peduli, pecinta ajaran sufi yang bodoh serta pemimpin-pemimpin yang lalai. (Sahl bin Abdullah).
21. Inginkan sesuatu dengan bakat yang kau miliki, dan jangan menginginkan sesuatu sesuai dengan nafsu atau seleramu. (Lukman Hakim).
22. Bagi orang berilmu yang ingin meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, maka kuncinya hendakalah ia mengamalkan ilmunya kepada orang-orang. (Syaikh Abdul Qodir Jailani).
23. Merenungkan tentang nikmat Allah sungguh merupakan salah satu ibadah yang utama. (Umar bin Abdul Azis).
24. Teman yang tidak membabantu kesulitan seperti halnya musuh. Tanpa saling membantu maka hubungan teman tak akan lama. Telah kucari teman sejati dalam setiap masa, akan tetapi usahaku itu siasia belaka. (Imam Syafií).
25. Lihatlah orang-orang yang dibawahmu dalam usrusan harta dunia, dan jangan sekali-kali melihat yang berada di atasmu, supaya kamu tidak meremehkan karunia Allah yang diberikan kepadamu. (Kanjeng Nabi).
26. Sedikit makan, sedikit tidur, dan sedikit kesenangan merupakan ciri-ciri orang yang dicintai oleh Allah. (Abu Bakar bin Abdullah Al-Muzani).
27. Barang siapa senang menjadi pemimpin, maka ia tidak akan mendapat kemenagan untuk selama-lamanya. (Fudhail bin Iyadh).
28. Siapa yang pada hari ini hanya memikirkan dirinya sendiri maka pada esok iapun akan memikirkan dirinya saja. Lebih dari itu, siapa yang pada hari ini memikirkan Allah maka besok ia akan selalu memikirkan Allah pula. (Abu Sulaiman).
29. Bersikap sabar kepada kawan yang berbuat jelek kepadamu sungguh lebih baik dari pada mencacinya. mencaci lebih baik dari pada memutuskan talisilaturahmi. Dan memutuskan tali silaturahmi lebih baik dari pada bertengkar. (Seorang Ulama).
30. Allah tidak memberi kekuatan terhadap orang-orang alim lewat suatu paksaan, akan tetapi Allah menguatkan mereka lewat pintu iman. (Sahl Ibnu Abdullah).
31. Ketahuilah olehmu, sesungguhnya akal hanya merupakan sesuatu alat untuk mencapai segala sesuatu yang hanya berhubungan dengan hamba atau manusia, bukan untuk mencapai Allah. (Ibnu Atha).
32. Jangan sekali-kali kamu menganggap remeh kebajikan meski kelihatannya tidak berharga, yaitu seperti ketika kamu menyambut temanmu dengan menampakkan wajah berseri-seri. (Kanjeng Nabi Muhammad).
33. Jika seseorang mati dalam keadaan punya hutang, padahal orang itu mampu membayarnya ketika masih hidup di dunia, maka kebahagiaannya akan diambil dan diberikan kepadanya dosa orang yang di hutanginya, lalu ia dijebloskan ke neraka. Namun, jika memang tidak mampu membayarnya, maka hanya kebaikannya saja yang diambil, lalu diberikan kepada pihak yang dihutangi. sedang dosa si pemberi hutang tidak diberikan kepada orang yang berhutang. (Ibnu Abdusalam).
34. Jalan yang diajarkan syariát islam adalah jalan yang paling tepat dalam pengerjaan ibadah kepada Allah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah istiqomah dalam mengerjakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. (Abdu Khodir jailani).
35. Hendaklah kamu tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu. (Lukman Hakim).
36. Kebahagiaanku jika mati sebelum baligh lalu aku dimasukkan kedalam syurga, tidak sebahagia jika aku hidup sampai tua dalam keadaan mengenal Allah yaitu yang paling bertaqwa, rajin mengerjaklan ibadah serta menerima apa apa yang telah di berikan Allah kepadaku. (Ali bin Abu Tholib).
37. Jika Allah bersamamu, maka jangan takut kepada siapa saja, akan tetapi jika Allah sudah tidak lagi bersamamu, maka siapa lagi yang bisa diharapkan olehmu? (Hasan al Banna).
38. Barang siapa tidak peduli terhadap nasib agama, berarti ia tidak punya agama, barang siapa yang semangatnya tidak berkobar-kobar jika agama Islam ditimpa suatu bencana, maka Islam tidak butuh kepada mereka. (Imam al-Ghazali).
39. Ilmu menginginkan untuk diamalkan. Apabila orang mengamalkannya, maka ilmu itu tetap ada. Namun sebaliknya, jika tidak diamalkan, maka ilmu akan hilang dengan sendirinya. (Sufyan ats-Tsauri).
40. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ilmu yang bisa melahirkan rasa takut kepada Allah adalah ilmu yang paling baik. (Ibnu Athaillah as-Sakandari). Bekerjalah untuk keperluan makanmu. Sedang yang paling baik bagi kau yaitu bangun di tengah malam dan berpuasa di siang hari. (Ibrahim bin Adham).
41. Jalan apa saja yang ditempuh seseorang dalam mengerjakan ibadah adalah sesaat kecuali jalan yang ditempuh oleh Kanjeng nabi Muhammad. Dalam pada itu, siapapun yang tidak mengikuti petunjuk kitab suci Al-Qurán dan hadits nabi, maka janganlah ia mengikuti pendapatku. Hal itu karena pendapatku berasal dari Qurán –Hadits. (Imam al-Junaid).
42. Orang yang tidak percaya bahwa Allah telah menjamin rezekinya, maka ia akan mendapat laknat dari Allah. (Hasanal-Bashri).
43. Dzikir seperti halnya jiwa dari semua amal, sedang keutamaan dan kelebihan dzikir tidak bisa dibatasi. (AL-Qusyairi).
44. Orang-orang yang tidak mengikuti keinginan-keinginan hawa nafsunya, maka tidak akan mendapat pujian dari orang banyak. (Imam al-Ghazali).
45. Orang dermawan dekat kepada Allah, dekat pada rahmat-Nya, serta selamat dari siksa-Nya. Sedang orang kikir, jauh dari Allah, jauh dari rahmat-Nya dan dekat sekali kepada siksa-Nya. (Kanjeng Nabi).
46. Barang siapa tidak meghargai nikmat, maka nikmat itu akan diambil dalam keadaan ia tidak mengetahuinya. (Siriy Assaqathi).
47. Mengerjakan sesuatu sesuai dengan ketentuan hukum syara’ berarti menuju jalan kebahagiaan baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Dan hendaklah kamu merasa takut jika kamu berpisah dengan orang-orang yang ahli di bidang agama. (Syaikh Abdul Qadir Jailani).
48. Saya merasa heran kepada orang-orang yang mengerjakan shalat subuh setelah matahari terbit. Lalu bagaimana mereka diberi rezeki. (Ulama Shalaf).
49. Para pembuat peti jenasah mengira bahwa tidak ada yang lebih busuk melebihi mayat orang-orang yang beriman. Bahkan diterangkan oleh Allah : Perut ulama jahat sungguh lebih busuk baunya dari itu. (Al-Auzaí).
50. Orang yang hanya sehari-harinya hanya sibuk mencari uang untuk kesejahteraan keluarganya, maka mustahil ia mendapat ilmu pengetahuan. (Imam Syafií).
51. Tanda tanda orang yang celaka antara lain: Bergairah dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan haram, menjauhi nasihat ulama dan selalu menyendiri jika mengerjakan shalat. (Kanjeng Nabi).
52. Manisnya akhirat mustahil diraih oleh orang-orang yang suka terkenal di mata manusia. (Bisyir).
53. Dengan pengalaman akan bertambah ilmu pengetahuannya, dengan berdzikir menyebabkan bertambah rasa cinta dan dengan berfikir akan menambah rasa taqwa kepada Allah. (Hatim).
54. Aku akan mencari ilmu hanya karena Allah, dan aku tidak akan mencari jika untuk selain Allah. (Imam al-Ghazali).
55. Berfikir merupakan cermin untuk melihat apa-apa yang baik dan yang buruk pada dirimu. (Fudhail).
56. Ketahuilah bahwa satu majelis ilmu bisa menghapus dosa 70 majelis yang tidak ada gunanya. (Atha’bin Yassar).
57. Kulupakan dadaku dan kubelenggu penyakit tamakku, karena aku sadar bahwa sifat tamak bisa melahirkan kehinaan. (Imam Syafií).
58. Biasakan hatimu untuk bertafakur dan biasakan matamu dengan sering menangis. (AbuSulaiman ad-Darani).
59. Hidup didunia hanya merupakan tempat tinggal sementara untuk melanjutkan perjalanan nan jauh menuju keabadian. (Kanjeng Nabi).
60. Setiap manusia hendaknya memperhatikan waktu dan sekaligus mengutamakannya. (Umar bin Utsman al-Maliky).
61. Apabila kamu melihat seseorang sedang memanjatkan doá kepada Allah, tetapi disisi lain perbuatannya tidak sesuai dengan hukum syara’, maka jauhilah orang itu. (Abdul Qasim an-Nawwawi).
62. Kuakui bahwa dosaku banyak sekali. Tapi, aku sadar, sesungguhnya rahmat Allah lebih luas dan lebih besar dari dosa-dosaku. (Abu Nawas).
63. Jika kamu berhadapan dengan gurumu, sesungguhnya secara hakikat kamu sedang berhadapan dengan rasul. Sadar akan hal itu, maka hormatilah gurumu. (Sebagian Ulama).
64. Setiap kamu adalah pemimpin, yaitu : Pemimpin terhadap diri dan keluarganya, pemimpin terhadap masyarakat dan bangsanya.( Mousthafaal-Gholayaini). Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat, sedang pengkhianat yang paling keji yaitu pengkhianatan pemimpin. (Ali bin Abu Thalib).
65. Berteman dengan orang yang bodoh yang tidak mengikuti ajakan hawa nafsunya sungguh lebih baik bagi kamu ketimbang berteman dengan orang alim tapi suka terhadap nafsuya. (Ibnu Athaillah as-Sakandari).
66. Siapa takut kepada Allah, maka tidak hidup marahnya, Siapa yang bertaqwa kepada-Nya, niscaya tidak mengerjakan sesukanya. (Umar bin Khathhab).
67. Ya Allah! Seandainya Engkau akan mengadili kelak pada hari kiamat, maka jangan Kau adili aku di dekat Nabi Muhammad, karena aku merasa malu jika mengaku sebagai umatnya padahal hidupku penuh dengan perbuatan dosa. (Muhammad Iqbal).
68. Cintai dan sayangilah para fakir miskin, maka Allah akan menyayangimu. (Kanjeng Nabi).
69. Hendaklah kamu menjauhi keramaian orang banyak atau berúzlah,. Katakan demikian, karena orang banyak bisa menyebabkan kamu berpaling dari Allah serta mendorong kamu untuk berbuat dosa. (Sayyid Bakri al-Maliki).
70. Yang disebut orang sufi, yaitu orang yang hatinya bersih dan selalu mengingat Allah. (Basyar bin al-Harits).
71. Tidak ada suatu kebahagiaan bagi ornag-orang muslim setelah mereka memeluk Islam, seperti kebahagiaan mereka ketika itu. (Anas r.a.).
72. Telah kurangkum pendapat 70 orang shiddiqin. Mereka sebagaian besar berpendapat bahwa banyak minum bisa menyebabkan banyak tidur. (Ibrahim bin Khawwas).
73. Aku tidak pernah melihat orang yang berakal, melainkan kutemukan dia takut kepada mati dan merasa susah dengannya. (Hasan).
74. Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika ia berpendapat salah. (Imam Syafií).
75. Wahai pemburu dunia! Berbuatlah kebajikan dan hendaklah kamu meninggalkan dunia, karena hal itu lebih baik bagimu. (Nabi Isa).
76. Barang siapa tidak dicoba dengan bencana atau kesusahan, maka tidak ada sebuah kebahagiaanpun baginya di sis Allah. (Adh-Dhahhak).
77. Perbanyaklah kamu mengingat mati, karena hal itu bisa membersihkan dosa dan menyebabkan zuhud atau tidak cinta kepada dunia. (Kanjeng Nabi).
78. Orang yang cinta kepada Allah akan minum dari gelas kecintaan dan bumi menjadi sempit baginya. Ya, dia mengenal Allah dengan penuh ma’rifat kepada-Nya, tenggelam di samudra rindu kepada-Nya dan merasa asyik bermunajat kepada-Nya. (Asy-Syubali).
79. Aku suka mendoákan saudara-saudaraku sebanyak 70 orang, dan nama-nama mereka kusebut satu persatu dalam panjatan doáku itu. (Abu Darba).
80. Setiap manusia mempunyai orang yang dicintai dan yang dibenci. Tapi bagimu, jika ada maka berkumpullah kamu dengan orang-orang yang bertaqwa. (Imam Syafií).
81. Orang orang terdahulu jika pergi kerumah gurunya, maka mereka senantiasa memberi sesuatu untuk minta berkah. Bahkan mereka selalu menyenandungkan doá seperti ini: wahai Allah!”Ampunilah semua kesalahan guruku terhadapku, dan jangan sekalai-kali engkau menghilangkan berkah ilmunya untukku. (Sebagaian Ulama).
82. Jika aku mandapat ampunan dari Allah, maka hal itu merupakan rahmat yang sangat besar dari-Nya. Tetapi, jika sebaliknya, maka aku tidak akan mampu berbuat apapun. (Abu Nawas).
83. Pangkal dari seluruh kebaikan di dunia maupun di akhirat adalah taqwa kepada Allah. (Abu Sulaiman Addarani).
84. Orang yang ma’rifat kepada Allah, maka ia terikat dengan cintannya, hatinya bisa melihat dan amal ibadahnya selalu bertambah banyak kepada-Nya. (Dzinnun al-Mishry).
85. Siapa yang memenuhi hatinya dengan kewaspadaan dan keikhlasan, maka Allah akan menghiasi badannya sebagai pembela agama dan menjadikan hadits sebagai pedoman hidup.
86. Yang disebut dengan teguh hati adalah memegang dengan sungguh-sungguh apa-apa yang dibutuhkan oleh kamu dan membuang yang selain itu. (Aktssam bin Shaifi).
87. Orang yang terkaya yaitu orang yang menerima pembagian Allah dengan rasa senang. (Ali bin Husein).
88. Kerjakan apa saja yang telah menjadi hak dan kewajibanmu, karena kebahagiaan hidupmu terletak di situ. (Musthafa al-Gholayani).
89. Ada dua hal tidak tertandingi kejelekannya, yaitu: Berbuat syirik dan membuat rugi umat Islam. Begitu pula, terdapat dua perkara yang tidak tertandingi kebaikannya, ialah : Beriman kepada Allah, serta memberi manfaat kepada umat Islam. (Kanjeng Nabi).
90. Pedagang yang berhati lemah takkan pernah untung ataupun rugi. Malah ia rugi. Ya, seseorang harus menyalakan api supaya memperoleh cahaya. (Jalaludin Rumi).
91. Aku membaca sebagian kitab kuno, yang kandungannya ialah : Bahwasannya sebagian hal yang dipercepat siksaannya dan tak dapat ditunda adalah amanat itu dikhianati , kebaikan ditutupi, keluarga diputuskan dan meninds manusia. (Kholid ar-Robaí).
92. Memerintah atau mengawasi diri sendiri jauh lebih sulit dan lebih baik dari pada memerintah dan mengawasi sesuatu negeri. (Ibrahim bin Adham).
93. Ciri-ciri ulama akhirat antara lain: dia sangat berhati-hati dalam memberi fatwa, bahkan bersikeras untuk tidak bertaqwa sama sekali. Apabila ditanya oleh orang tentang segala sesuatu yang diketahui baik yang bersumber dari Al Qurán, hadits, ijma’dan kiyas, maka ia menjelaskan sesuai dengan kemampuannya. Sebaliknya, jika ia tidak mengetahui secara pasti, maka dengan jujur ia berkata : aku tidak tahu. (Imam al-Ghazali).
94. Hati-hatilah terhadap senda gurau, karena tidak sedikit bahaya yang terdapat didalamnya. Berapa banyak senda gurau anatara dua sahabat yang berakhir pada perkelahian.
95. Dunia adalah perniagaan, pasarnya ialah menyendiri, modalnya adalah taqwa, dan labanya adalah surga. (Aku Sulaiman ad-Darani).
96. Kehidupan seorang mukmin ibarat matahari, terbenam di suatu wilayah untuk terbit di wilayah lainnya. Dia selalu bersinar dan hidup serta tak pernah terbenam selamanya. (Muhammad Iqbal).
97. Keluarlah dari dirimu dan serahkanlah segalanya kepada Allah. Penuhi hatimu dengan Allah. Patuhilah kepada perintah-Nya dan larikanlah dirimu dari larangan-Nya, supaya nafsu badaniahmu tidak memasuki hatimu setelah ia keluar. Untuk membuang nafsu-nafsu badaniah dari hatimu, kamu harus berjuang melawannya dan jangan menyerah kepadanya dalam keadaan bagaimanapun juga dan dalam tempo kapanpun juga. (Syeikh Abdul QadirJailani).
98. Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan adalah akhlak ular. Kebajikan yang dibalas dengan kejahatan adalah akhlak buaya. kebajikan yang dibalas dengan kebajikan adalah akhlak anjing. Kejahatan yang dibalas dengan kebajikan itulah akhlak manusia. (Nasirin).
99. Ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui tingkah laku nafsu dan sifat-sifatnya baik sifat buruk maupun sifat yang terpuji. Jadi dari kisah sebuah gilingan tersebut di atas, maka jika diterapkan pada manusia yakni mempelajari nafsu manusia yang ada kaitannya dengan tingkah laku dan sifat-sifatnya. Mempelajari tasawauf hukumnya fardhuáin (wjib bagi setiap orang Islam yang mukalaf). Karena dapat dipergunakan untuk memperindah, memperbaiki dan memperbagus hati. Itulah seratus “Petuah Emas”orang-orang alim yang dapat kita jadikan sebagai pedoman hidup atau minimal bisa difungsikan sebagai pegangan dalam rangka membentuk pribadi-pribadi yang Islami secara kafah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang alim yang kelak berhak mendiami surga dan selamat dari siksa-siksa pedih di neraka. Hanya kepada Allah kita mengharap ridha, dan hanya kepada-Nya kita berpasrah diri. Amin, Amin, Ya, Rabbal álamin.