Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan Khadafi
Tulisan ini bermula dari rasa gembiraku ketika seorang yang biasa kupanggil adek mulai bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi aurat, sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.
“Mmm… yang dulu suka panjat tali sekarang mulai demen sama rok…”
Semoga niatan ini bukan api yang membara di awal lalu kemudian padam. Semoga dengan tekad yang kuat dan kesungguhan, Allah memudahkan untuk istiqomah dan terus memperbaiki diri.
Saudariku,
Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita bersaudara di atas ikatan iman.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling menyayangi di atas ikatan tersebut.
Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.
Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu sama lainnya.
Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini…
Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.
Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Robb yang telah menciptakan kita dari setetes mani,
Robb yang juga telah menciptakan ibu kita, bapak kita, dan orang-orang yang kita sayangi,
Robb yang telah memberi rizki pada kita sampai kita sebesar ini,
Robb yang telah memberi hidayah Islam -sebuah nikmat yang sangat besar yang tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat ini-
Robb yang telah memberi kita banyak sekali nikmat,
Robb yang telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang taat,
Robb yang juga telah mengancam dengan neraka bagi yang enggan untuk taat,
Robb yang janji-Nya haq, yang tidak pernah menyalahi janji,
Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya,
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya,
“Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.”
Di dalam hadis lain terdapat tambahan:
“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.” (Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam As-Shaghir hal. 232, dari hadits Ibnu Amru dengan sanad shahih. Sedangkan hadits yang lain tersebut dikeluarkan oleh muslim dari riwayat Abu Hurairah)
Saudariku,
Masih akrab dalam pandangan kita, saudari-saudari kita keluar rumah dengan membuka auratnya. Beberapa diantaranya sangat “memperhatikan” penampilannya.
Mulai dari merk baju yang berkelas, model yang up to date,
Bahkan diantaranya kita lihat baju yang sempit dan serba pendek,
celana yang juga serba pas-pasan,
rambut direbounding,
alis yang “dirapikan”,
lipstik tipis warna pink,
minyak wangi yang mmmm…
*mungkin karena belum tahu*
Saudariku,
Apa yang kita dapat dari semua ini?
“cantik”?
“aduhai”?
“modis”?
“gaul”?
“tidak ketinggalan jaman”?
atau mungkin sekedar untuk bisa percaya diri ketika keluar rumah dan berhadapan dengan orang-orang?
Memang banyak yang akan melihat “WAH” pada wanita yang berpenampilan seperti ini sehingga menyebabkan beberapa di antara kita tertipu dan bahkan berlomba untuk menjadi yang “terhebat” dalam masalah ini.
Tetapi saudariku,
Saya ingin mengajak kita untuk menjadi seorang muslimah yang sejati!
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan apa yang mereka pamerkan dari tubuh dan kecantikan mereka.
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan merk yang ada pada baju-baju mereka.
Sungguh! Kain sepuluh ribu per meter dari Pasar Bering lebih mulia jika kita memakainya dalam rangka ketaatan pada Allah,
Robb yang telah menciptakan kita,
Robb yang telah mensyariatkan jilbab untuk kita.
Duhai…
Pakaian mana yang lebih mulia dari pakaian ketaqwaan?
Adalah nikmat yang besar ketika kita masuk Islam.
Seseorang dinilai bukan lagi dari tulisan (baca: merk) apa yang tertempel di bajunya, atau dari seberapa mancung hidungnya, seberapa cantik wajahnya, seberapa elok parasnya, seberapa anggun bersoleknya.
Tapi seseorang dinilai dari apa yang ada dalam hatinya, apa yang diucap oleh lisannya, dan apa yang diperbuat oleh badannya.
Ya!
Seseorang dinilai dari ketaqwaannya.
Jadi tidak perlu lagi kita bersibuk-sibuk untuk pamerkan kebolehan tubuh dan kecantikan.
Saudariku,
Tidakkah kita melihat jajanan yang ada di emperan?
Terbungkus dengan ala kadarnya,
semua orang bisa menjamahnya,
atau bahkan mencicipinya.
Bahkan seringkali yang mencicipi adalah orang iseng yang tidak benar-benar bermaksud untuk membeli. Setelah mencicipinya, dia letakkan kembali kemudian dia tinggal pergi.
Bukan hanya orang iseng, bahkan lalat-lalat pun mengerumuninya.
Berbeda dengan makanan berkualitas yang terbungkus rapi dan tersegel.
Terjaga dan tidak tersentuh tangan-tangan iseng.
Di antara keduanya, kita lebih memilih yang mana?
Tentu yang kedua.
Jika untuk makanan saja demikian, maka lebih-lebih lagi kita memilih untuk diri kita sendiri.
Saudariku,
Demikian juga keadaannya seorang lelaki yang baik-baik.
Dia akan memilih wanita yang menjaga kehormatannya,
yang kecantikannya tidak dia pamerkan.
Tidak dia biarkan dinikmati oleh banyak orang.
Yang demikian adalah karena wanita yang menjaga auratnya lebih mulia dari pada wanita yang memamerkan auratnya.
Wahai saudariku,
Bahkan lelaki yang sholeh berlindung pada Allah dari godaan kita.
Wanita adalah godaan yang besar bagi lelaki.
Pada umumnya lelaki itu lemah terhadap godaan wanita.
Maka sebagai wanita, jangan malah kita menggodanya!
Tetapi kita bantu mereka untuk bisa menjaga pandangan dan menjauh dari maksiat.
Sukakah kita jika kita menjadi sebab pemuda-pemuda tergelincir dalam kemaksiatan?
Menjadi penyebar fitnah dan perusak generasi?
Saudariku yang aku cintai,
Berat hati ini melihat hal seperti ini terjadi pada saudari kita…
Allah telah memuliakan kita dengan mensyari’atkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan membiarkan aurat terbuka? Secara tidak langsung, ini berarti membiarkan diri menjadi objek pemuas syahwat yang bisa dinikmati sembarang orang.
Allah telah memuliakan kita dengan mensyariatkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan keluar dari ketaatan?
***
Artikel www.muslimah.or.id
Rabu, 04 November 2009
Penyejuk Mata
Dikirim: Ummu Yusuf Wikayatu Diny
Muroja’ah: Ust Aris Munandar
Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugrahkannya seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan di luar tak menjadikan suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya; Baiti Jannati (rumahku surgaku).
Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat suami bertambah kuat jalinan perasaannya. Wajah istri adalah keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan. Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia memiliki istri yang berwajah memikat.
Tapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa fakta-fakta. Dan kedua, bantahan dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Konon, Christina Onassis, mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi, dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.
Kecantikan wajah Christina tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan antara ia dan suami-suaminya tidak pernah kuat.
Kasus ini memberikan ibroh kepada kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya bersifat qalbiyyah!
Bantahan kedua, sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR. bukhari, Muslim)
Hadist di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan suami semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zhahir. Ada yang bersifat bathiniyyah.
Dengan demikian wahai saudariku muslimah, tidak mesti kita harus mempercantik diri dengan alat kosmetik atau dengan menggunakan gaun-gaun aduhai yang akhirnya akan membawa kita pada sikap berlebihan pada hal yang halal bahkan menyebabkan kita menjadi lalai dan meninggalkan segala yang bermanfaat dalam perkara-perkara akhirat, wal ‘iyadzubillah. Namun tidak berarti kita meninggalkan perawatan diri dengan menjaga fitrah manusia, dengan menjaga kebersihan, kesegaran dan keharuman tubuh yang akhirnya melalaikan diri dalam menjaga hak suami. Ada yang lebih berarti dari semua itu, ada yang lebih penting untuk kita lakukan demi mendapatkan cinta suami.
Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri seorang wanita adalah sesuatu pengaruh yang terbit dari dalam jiwa dengan segala kemuliaannya dan mempunyai harga diri, dapat menjaga diri, suci, bersih, dan membuat kehidupan lebih tinggi di atas egonya.
Untuk itulah saudariku muslimah… Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu dengan cinta dan kasih sayang serta tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah seperti jiwamu yang penuh dengan kebaikan, perhatian serta kelembutan. Bukankah kita telah melihat contoh-contoh yang gemilang dari pribadi-pribadi yang kuat dari para shahabiyyah radiyallahu ‘anhunna…?
Janganlah engkau penuhi dirimu dengan ahlak yang selalu sedih dan gelisah, banyak pengaduan dan keluh kesah dan selalu mengancam, karena hal tersebut akan menggelapkan hatimu. Tersenyumlah untuk kehidupan. Seperti kuatnya para shahabiyyah dalam menghadapi kehidupan yang keras dan betapa kuatnya wanita-wanita yang lembut itu mempertahankan agamanya…
Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama. Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang diajarkan Islam, yang diawali dengan sifat keimanan. Sebagaimana firman Allah, (yang artinya) “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” (QS. Al-Hujaraat: 7)
Apabila keimanan telah benar-benar terpatri dalam hati, maka akan tumbuhlah sifat-sifat indah yang menghiasi diri manusia, mulai dari Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur, Terhormat, Berani, Sabar, Lemah Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga Silaturrahim, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang tidak mungkin disebut satu-persatu. Semuanya adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hambanya agar dapat bahagia hidup di dunia dan akhirat.
Wanita benar-benar sangat diuntungkan, karena ia memiliki kesempatan yang lebih besar dalam hal perhiasan jiwa dengan arti yang sesungguhnya, yaitu ketika wanita memiliki sifat-sifat terpuji yang mengangkat derajatnya ke puncak kemuliaan, dan jauh dari segala sesuatu yang dapat menghancurkanya dan menghilangkan rasa malunya….!
Saudariku… jika engkau telah menikah, maka nasihat ini untuk mengingatkanmu agar engkau selalu menampilkan kecantikan dirimu dengan kecantikan sejati yang berasal dari dalam jiwamu, bukan dengan kecantikan sebab yang akan lenyap dengan lenyapnya sebab.
Saudariku… jika saat ini Allah belum mengaruniai engkau jodoh seorang suami yang sholeh, maka persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri yang sholihah dengan memperbaiki diri dari kekurangan yang dimiliki lalu tutuplah ia dengan memunculkan potensi yang engkau miliki untuk mendekatkan dirimu kepada Yang Maha Rahman, mempercantik diri dengan ketakwaan kepada Allah yang dengannya akan tumbuh keimanan dalam hatimu sehingga engkau dapat menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia.
Saudariku… ini adalah sebuah nasihat yang apabila engkau mengambilnya maka tidak ada yang akan diuntungkan melainkan dirimu sendiri.
Disalin dari: Buletin al-Izzah edisi no16/thn III/Muharram 1425 H
Muroja’ah: Ust Aris Munandar
Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugrahkannya seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan di luar tak menjadikan suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya; Baiti Jannati (rumahku surgaku).
Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat suami bertambah kuat jalinan perasaannya. Wajah istri adalah keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan. Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia memiliki istri yang berwajah memikat.
Tapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa fakta-fakta. Dan kedua, bantahan dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Konon, Christina Onassis, mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi, dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.
Kecantikan wajah Christina tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan antara ia dan suami-suaminya tidak pernah kuat.
Kasus ini memberikan ibroh kepada kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya bersifat qalbiyyah!
Bantahan kedua, sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR. bukhari, Muslim)
Hadist di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan suami semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zhahir. Ada yang bersifat bathiniyyah.
Dengan demikian wahai saudariku muslimah, tidak mesti kita harus mempercantik diri dengan alat kosmetik atau dengan menggunakan gaun-gaun aduhai yang akhirnya akan membawa kita pada sikap berlebihan pada hal yang halal bahkan menyebabkan kita menjadi lalai dan meninggalkan segala yang bermanfaat dalam perkara-perkara akhirat, wal ‘iyadzubillah. Namun tidak berarti kita meninggalkan perawatan diri dengan menjaga fitrah manusia, dengan menjaga kebersihan, kesegaran dan keharuman tubuh yang akhirnya melalaikan diri dalam menjaga hak suami. Ada yang lebih berarti dari semua itu, ada yang lebih penting untuk kita lakukan demi mendapatkan cinta suami.
Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri seorang wanita adalah sesuatu pengaruh yang terbit dari dalam jiwa dengan segala kemuliaannya dan mempunyai harga diri, dapat menjaga diri, suci, bersih, dan membuat kehidupan lebih tinggi di atas egonya.
Untuk itulah saudariku muslimah… Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu dengan cinta dan kasih sayang serta tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah seperti jiwamu yang penuh dengan kebaikan, perhatian serta kelembutan. Bukankah kita telah melihat contoh-contoh yang gemilang dari pribadi-pribadi yang kuat dari para shahabiyyah radiyallahu ‘anhunna…?
Janganlah engkau penuhi dirimu dengan ahlak yang selalu sedih dan gelisah, banyak pengaduan dan keluh kesah dan selalu mengancam, karena hal tersebut akan menggelapkan hatimu. Tersenyumlah untuk kehidupan. Seperti kuatnya para shahabiyyah dalam menghadapi kehidupan yang keras dan betapa kuatnya wanita-wanita yang lembut itu mempertahankan agamanya…
Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama. Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang diajarkan Islam, yang diawali dengan sifat keimanan. Sebagaimana firman Allah, (yang artinya) “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” (QS. Al-Hujaraat: 7)
Apabila keimanan telah benar-benar terpatri dalam hati, maka akan tumbuhlah sifat-sifat indah yang menghiasi diri manusia, mulai dari Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur, Terhormat, Berani, Sabar, Lemah Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga Silaturrahim, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang tidak mungkin disebut satu-persatu. Semuanya adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hambanya agar dapat bahagia hidup di dunia dan akhirat.
Wanita benar-benar sangat diuntungkan, karena ia memiliki kesempatan yang lebih besar dalam hal perhiasan jiwa dengan arti yang sesungguhnya, yaitu ketika wanita memiliki sifat-sifat terpuji yang mengangkat derajatnya ke puncak kemuliaan, dan jauh dari segala sesuatu yang dapat menghancurkanya dan menghilangkan rasa malunya….!
Saudariku… jika engkau telah menikah, maka nasihat ini untuk mengingatkanmu agar engkau selalu menampilkan kecantikan dirimu dengan kecantikan sejati yang berasal dari dalam jiwamu, bukan dengan kecantikan sebab yang akan lenyap dengan lenyapnya sebab.
Saudariku… jika saat ini Allah belum mengaruniai engkau jodoh seorang suami yang sholeh, maka persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri yang sholihah dengan memperbaiki diri dari kekurangan yang dimiliki lalu tutuplah ia dengan memunculkan potensi yang engkau miliki untuk mendekatkan dirimu kepada Yang Maha Rahman, mempercantik diri dengan ketakwaan kepada Allah yang dengannya akan tumbuh keimanan dalam hatimu sehingga engkau dapat menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia.
Saudariku… ini adalah sebuah nasihat yang apabila engkau mengambilnya maka tidak ada yang akan diuntungkan melainkan dirimu sendiri.
Disalin dari: Buletin al-Izzah edisi no16/thn III/Muharram 1425 H
Siapakah yang Ukhty pilih
Penyusun: Ummu Muhammad (Bulletin Zuhairoh)
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar
Menikah, satu kata ini akan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi pemuda ataupun pemudi yang sudah mencapai usia remaja. Remaja yang sudah mulai memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, akan memperhatikan pasangan yang diimpikan menjadi pasangan hidupnya. Sejenak waktu, hatinya akan merenda mimpi, membayangkan masa depan yang indah bersamanya.
Saudariku muslimah yang dirahmati Allah, tentu kita semua menginginkan pasangan hidup yang dapat menjadi teman dalam suka dan duka, bersama dengannya membangun rumah tangga yang bahagia, sampai menapaki usia senja, bahkan menjadi pasangan di akhirat kelak. Tentu kita tidak ingin bahtera tumah tangga yang sudah terlanjur kita arungi bersama laki-laki yang menjadi pilihan kita kandas di tengah perjalanan, karena tentu ini akan sangat menyakitkan, menimbulkan luka mendalam yang mungkin sangat sulit disembuhkan, baik luka bagi kita maupun bagi buah hati yang mungkin sudah ada. Lagipula, kita mengetahui bahwa Allah Ta’ala, Robb sekaligus Illah kita satu-satunya sangat membenci perceraian, meskipun hal itu diperbolehkan jika memang keduanya merasa berat. “Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Itulah slogan yang biasa dipakai untuk masalah kesehatan. Dan untuk masalah kita ini, yang tentunya jauh lebih urgen dari masalah kesehatan tentu lebih layak bagi kita untuk memakai slogan ini, agar kita tidak menyesal di tengah jalan.
Saudariku muslimah, sekarang banyak kita jumpai fenomena yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan hati. Banyak dari saudari-saudari kita yang terpesona dengan kehidupan dunia, sehingga timbul predikat ‘cewek matre’, yaitu bagi mereka yang menyukai laki-laki karena uangnya. Ada juga diantara saudari kita yang memilih laki-laki hanya karena fisiknya saja. Ada juga diantara mereka yang menyukai laki-laki hanya karena kepintarannya saja, padahal belum tentu kepintarannya itu akan menyelamatkannya, mungkin justru wanita itu yang akan dibodohi.
Sebenarnya tidak mengapa kita menetapkan kriteria – kriteria tersebut untuk calon pasangan kita, namun janganlah hal tersebut dijadikan tujuan utama, karena kriteria-kriteria itu hanya terbatas pada hal yang bersifat duniawi, sesuatu yang tidak kekal dan suatu saat akan menghilang. Lalu bagaimana solusinya ? Saudariku, sebagai seorang muslim, standar yang harus kita jadikan patokan adalah sesuatu yang sesuai dengan ketentuan syariat. Karena hanya dengan itu kebahagian hakiki akan tercapai, bukan hanya kebahagian dunia saja yang akan kita dapatkan, tapi kebahagiaan akhirat yang kekal pun akan kita nikmati jika kita mempunyai pasangan yang bisa diajak bekerjasama dalam ketaatan kepada Allah.
Diantara kriteria-kriteria yang hendaknya kita utamakan antara lain:
1. Memilih calon suami yang mempunyai agama dan akhlak yang baik, dengan hal tersebut ia diharapkan dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam membimbing keluarga, menunaikan hak istri, mendidik anak, serta memiliki tanggung jawab dalam menjaga kehormatan keluarga.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin ‘Ali, “Saya punya seorang putri, siapakah kiranya yang patut jadi suaminya ?” Hasan bin ‘Ali menjawab, “Seorang laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, sebab jika ia senang ia akan menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tidak suka zalim kepadanya.”
2. Memilih calon suami yang bukan dari golongan orang fasiq, yaitu orang yang rusak agama dan akhlaknya, suka berbuat dosa, dan lain-lain.
“Siapa saja menikahkan wanita yang di bawah kekuasaanya dengan laki-laki fasiq, berarti memutuskan tali keluarga.” (HR. Ibnu Hibban, dalam Adh-Dhu’afa’ & Ibnu Adi)
Ibnu Taimiyah berkata, “Laki-laki itu selalu berbuat dosa, tidak patut dijadikan suami. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang salaf.” (Majmu’ Fatawa 8/242)
3. Laki-laki yang bergaul dengan orang-orang sholeh.
4. Laki-laki yang rajin bekerja dan berusaha, optimis, serta tidak suka mengobral janji dan berandai-andai.
5. Laki-laki yang menghormati orang tua kita.
6. Laki-laki yang sehat jasmani dan rohani.
7. Mau berusaha untuk menjadi suami yang ideal, diantaranya: Melapangkan nafkah istri dengan tidak bakhil dan tidak berlebih-lebihan; memperlakukan istri dengan baik, mesra, dan lemah lembut; bersendau gurau dengan istri tanpa berlebih-lebihan; memaafkan kekurangan istri dan berterima kasih atas kelebihannya; meringankan pekerjaan istri dalam tugas-tugas rumah tangga; tidak menyiarkan rahasia suami istri; memberi peringatan dan bimbingan yang baik jika istri lalai dari kewajibannya; memerintahkan istri memakai busana muslimah ketika keluar; menemani istri bepergian; tidak membawa istri ke tempat-tempat maksiat; menjaga istri dari segala hal yang dapat menimbulkan fitnah kepadanya; memuliakan dan menghubungkan silaturahim kepada orang tua dan keluarga istri; memanggil istri dengan panggilan kesukaannya; dan yang terpenting bekerjasama dengan istri dalam taat kepada Allah Ta’ala.
Satu hal yang perlu kita ingat saudariku, bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Jangan pernah membayangkan bahwa laki-laki yang sholeh itu tidak punya cacat & kekurangan. Tapi, satu hal yang tidak boleh kita tinggalkan adalah ikhtiar dengan mencari yang terbaik untuk kita, serta bertawakal kepada Allah dengan diiringi do’a.
Maroji’:
Ensiklopedi Wanita Muslimah. Haya bintu Mubaroh Al-Barik.
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar
Menikah, satu kata ini akan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi pemuda ataupun pemudi yang sudah mencapai usia remaja. Remaja yang sudah mulai memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, akan memperhatikan pasangan yang diimpikan menjadi pasangan hidupnya. Sejenak waktu, hatinya akan merenda mimpi, membayangkan masa depan yang indah bersamanya.
Saudariku muslimah yang dirahmati Allah, tentu kita semua menginginkan pasangan hidup yang dapat menjadi teman dalam suka dan duka, bersama dengannya membangun rumah tangga yang bahagia, sampai menapaki usia senja, bahkan menjadi pasangan di akhirat kelak. Tentu kita tidak ingin bahtera tumah tangga yang sudah terlanjur kita arungi bersama laki-laki yang menjadi pilihan kita kandas di tengah perjalanan, karena tentu ini akan sangat menyakitkan, menimbulkan luka mendalam yang mungkin sangat sulit disembuhkan, baik luka bagi kita maupun bagi buah hati yang mungkin sudah ada. Lagipula, kita mengetahui bahwa Allah Ta’ala, Robb sekaligus Illah kita satu-satunya sangat membenci perceraian, meskipun hal itu diperbolehkan jika memang keduanya merasa berat. “Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Itulah slogan yang biasa dipakai untuk masalah kesehatan. Dan untuk masalah kita ini, yang tentunya jauh lebih urgen dari masalah kesehatan tentu lebih layak bagi kita untuk memakai slogan ini, agar kita tidak menyesal di tengah jalan.
Saudariku muslimah, sekarang banyak kita jumpai fenomena yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan hati. Banyak dari saudari-saudari kita yang terpesona dengan kehidupan dunia, sehingga timbul predikat ‘cewek matre’, yaitu bagi mereka yang menyukai laki-laki karena uangnya. Ada juga diantara saudari kita yang memilih laki-laki hanya karena fisiknya saja. Ada juga diantara mereka yang menyukai laki-laki hanya karena kepintarannya saja, padahal belum tentu kepintarannya itu akan menyelamatkannya, mungkin justru wanita itu yang akan dibodohi.
Sebenarnya tidak mengapa kita menetapkan kriteria – kriteria tersebut untuk calon pasangan kita, namun janganlah hal tersebut dijadikan tujuan utama, karena kriteria-kriteria itu hanya terbatas pada hal yang bersifat duniawi, sesuatu yang tidak kekal dan suatu saat akan menghilang. Lalu bagaimana solusinya ? Saudariku, sebagai seorang muslim, standar yang harus kita jadikan patokan adalah sesuatu yang sesuai dengan ketentuan syariat. Karena hanya dengan itu kebahagian hakiki akan tercapai, bukan hanya kebahagian dunia saja yang akan kita dapatkan, tapi kebahagiaan akhirat yang kekal pun akan kita nikmati jika kita mempunyai pasangan yang bisa diajak bekerjasama dalam ketaatan kepada Allah.
Diantara kriteria-kriteria yang hendaknya kita utamakan antara lain:
1. Memilih calon suami yang mempunyai agama dan akhlak yang baik, dengan hal tersebut ia diharapkan dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam membimbing keluarga, menunaikan hak istri, mendidik anak, serta memiliki tanggung jawab dalam menjaga kehormatan keluarga.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin ‘Ali, “Saya punya seorang putri, siapakah kiranya yang patut jadi suaminya ?” Hasan bin ‘Ali menjawab, “Seorang laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, sebab jika ia senang ia akan menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tidak suka zalim kepadanya.”
2. Memilih calon suami yang bukan dari golongan orang fasiq, yaitu orang yang rusak agama dan akhlaknya, suka berbuat dosa, dan lain-lain.
“Siapa saja menikahkan wanita yang di bawah kekuasaanya dengan laki-laki fasiq, berarti memutuskan tali keluarga.” (HR. Ibnu Hibban, dalam Adh-Dhu’afa’ & Ibnu Adi)
Ibnu Taimiyah berkata, “Laki-laki itu selalu berbuat dosa, tidak patut dijadikan suami. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang salaf.” (Majmu’ Fatawa 8/242)
3. Laki-laki yang bergaul dengan orang-orang sholeh.
4. Laki-laki yang rajin bekerja dan berusaha, optimis, serta tidak suka mengobral janji dan berandai-andai.
5. Laki-laki yang menghormati orang tua kita.
6. Laki-laki yang sehat jasmani dan rohani.
7. Mau berusaha untuk menjadi suami yang ideal, diantaranya: Melapangkan nafkah istri dengan tidak bakhil dan tidak berlebih-lebihan; memperlakukan istri dengan baik, mesra, dan lemah lembut; bersendau gurau dengan istri tanpa berlebih-lebihan; memaafkan kekurangan istri dan berterima kasih atas kelebihannya; meringankan pekerjaan istri dalam tugas-tugas rumah tangga; tidak menyiarkan rahasia suami istri; memberi peringatan dan bimbingan yang baik jika istri lalai dari kewajibannya; memerintahkan istri memakai busana muslimah ketika keluar; menemani istri bepergian; tidak membawa istri ke tempat-tempat maksiat; menjaga istri dari segala hal yang dapat menimbulkan fitnah kepadanya; memuliakan dan menghubungkan silaturahim kepada orang tua dan keluarga istri; memanggil istri dengan panggilan kesukaannya; dan yang terpenting bekerjasama dengan istri dalam taat kepada Allah Ta’ala.
Satu hal yang perlu kita ingat saudariku, bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Jangan pernah membayangkan bahwa laki-laki yang sholeh itu tidak punya cacat & kekurangan. Tapi, satu hal yang tidak boleh kita tinggalkan adalah ikhtiar dengan mencari yang terbaik untuk kita, serta bertawakal kepada Allah dengan diiringi do’a.
Maroji’:
Ensiklopedi Wanita Muslimah. Haya bintu Mubaroh Al-Barik.
Al Isyq’ atau mabuk cinta
Bismillah,
Semoga Allah memudahkan kita untuk segera sembuh dari salah satu penyakit hati yang sangat berat ini. Sejujurnya
sungguh saya sedih mengetahui realitas2 saat ini.. begitu memfitnahnya kami kaum wanita bagi kalian….
Al Isyq’, atau mabuk cinta, atau Ibnul Qoyyim Mengatakan mereka yang terkena Al ‘Isq ini sebagai pemuja gambar. Mengapa pemuja gambar? karena mereka memuja gambar/sosok yang mereka tidak bisa lepas dari gambar/sosok tersebut dimanapun berada (ta’lim Ustadz Aris pas Kajian Ramadhan) Tidak ada yang bisa menghindar dari musibah ini, baik ikhwan maupun akhwat. dan fitrah manusia itu memang cenderung kepada lawan jenis. Hal itu normal, memang itulah fithrahnya, apa lagi pada usia usia baligh yang memang sudah waktunya bagi seorang untuk menyempurnakan separuh agamanya. islam sudah dengan jelas memberi keterangan dan larangan untuk menjauhinya. Namun Alhamdulillah Syari’at ini juga memberi solusi bagi yang sudah ‘terperosok’.
Diantara solusi dari segala solusi, atau master of solution yaitu nikah. Ustadz abu Umar bilang, tidak ada obat yg paling manjur untuk orang sedang dimabuk cinta kecuali menikah dngn orang tersebut. tetapi Ustadz abu zubeir, bilang tidak mesti dengan orang yg dimaksud “Menikahlah, dan milikilah sayak..” Dan seperti banyak skali kita sering mendengar di ceramah ceramah, sesungguhnya dengan nikah maka akan terbuka pntu pintu kebaikan yang banyak, akan terbuka pintu pintu rizki dan lain lain yang jika dibahas bisa jadi satu kitab sendiri. Namun, jika antum belum mampu, maka solusinya adalah berpuasa. “Hai pemuda, barangsiapa diantara kalian yang telah mampu nikaah, maka menikahlah. jika belum mampu,
maka perpuasalah, karena ia ibarat kebiri” Dan jika antum memang mesti berpuasa, maka lakukanlah dengan penuh kesabaran. InsyaaAllah Allah menggantikan kesabaran antum itu dengan sesuatu yang lebih indah.
Jika seorang berdoa namun Allah belum juga mengabulkannya, padahal ia sudah memenuhi syarat syarat terkabulnya do’a maka ia harus sabar dan ridha, yakinlah Allah mempunyai hikmah yang sangat tinggi, Allah sangat saya kepada
Hamba2-Nya dan seorang tidak mengethaui akibat urusannya. Terkadang seseorang mengharap sesuatu padahal itu jelek baginya, dan ia membenci sesuatu padahal hal itu baik baginya.
di buku Bila hati dimabuk cinta oleh Muhammad Ibrahim al Hamd, beliau menuliskan beberapa kiat kiat terapi AlIsyq yaitu (dengan sedikit tambahan):
1. Ikhlas kepada Allah, karena iblis sudah mengecualikan untuk tidak menggoda hamba2 Allah yang mukhlis
2. Berdoa merendahkan diri kpd Allah. Jujur… menyerahkan semuanya kepada Allah
Ada seorang akhwat ngaji, terfitnah dengan ikhwan, ia tdk bs berhenti memikirkannya. saat bulan ramadhan kemarin, sebelum sahur, akhwat tersebut bercerita, beliau berdo’a.. mengaku dengan jujur kepada Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, bahwa diri ia yang lemah dan jahil ini sedang terjerat didalam perangkap setan.. menyerahkan semua kepada Allah.. dan iapun ketiduran. saat ia bangun, ia sudah tidak merasa apa apa terhadap ikhwan tersebut. tidak lupa, Namun gejolak2 itu reda dengan sendirinya. Allah benar benar Maha Kuasa.
Ada juga kisah lain yang saya dengar, akhwat terfitnah dengan dosennya yang tentu saja dosennya hanyalah seorang bapak2 beristri, beliau bnr2 terfitnah hingga kalau beliau ngajar, akhwat tersebut tidak menundukkan pandangan sedikitpun. tak jarang akhwat ini menangis. Lalu beliau berdoa sungguh2 memohon pertolongan..beliau pun bermimpi sedang berada diatas tebing, melihat kebawah itu tampaklah air yang begitu segar.. bening…beliau pun terjun, saat bangun, rasa itu sudah tidak ada,
Alhamdulillah. Demikianlah Allah menolong hamba hamba yang benar2 meminta. Maka Mintalah kepada-Nya dengan penuh rasa harap dan penghambaan
3. menahan pandangan. bukan hanya pada orang yang menyebabkan kita terfitnah tapi terhadap semua lawan Jenis
4. banyak2 perfikir (bagaimsaya sebenarnya kok bisa bisanya terjatuh dalam fitnah….) dan banyak2 berdzikir
5. Menjauh dari orang yang mnyebabkan mabuk cinta, atau apapuun yang mengingatkan kepadanya, semampu kita.
6. menyibukkan diri dengan hal2 yang bermanfaat. (ngapalin Qur’an…. insyaallah….hisnul muslim… ) terutama dengan dzikrullah karena pd hakekatnya orng yg mabuk cinta itu hatinya kosong…
7. menikahlah… menikahlah.. menikahlah..
8. menegok orang2 sakit, sekarat, mnziarahi kubur.. memikirkan tentang mati dan bagaimsaya nanti jka sudah mati.. selamatkan kita dari hisab yang berat? mudahkah hisab kita nanti? bagaiman dengan prtanyaan pertanyaan malaikat di alam kubur? mampukah kita menjawabnya? bagaimsaya dengan amal shalih kita?
9. rajin2 menghadiri majelis ilmu.. agar bisa bertemu org2 soleh.. melihat betapa mereka tidak begitu peduli akan dunia, mlhat mereka begitu seru dan asyiknya menuntut ilmu.. muraja’ah.. (dan hasad kepada mereka (salah satu hasad yang dibolehkan kan ya?). Jangan menyendiri karena menyendiri akan menyebabkan kita teringat ingat si dia lagi. tapi bergabunglah bersama orang2 yang sibuk mengingat Allah.
10. memangkas habis ambisi dengan membuang putus asa dan bulatkan keinginan untuk menundukkan hawa nafsu
11, konsisten mengerjakan shalat secara smpurna
12. menjaga kharisma agar tidak jatuh kepada kedudukan yang hina dina. (Hal ini sangat penting. saya melihat laki2 yang sedang mabuk cinta itu… hancur harga dirinya…. ) gengsi disini berguna juga memelihara kemuliaan diri kesucian dan keormatan. jangan sampai dipandang kita sedang tergila gila gitu. bangunlah dengan rasa yang baru, semangat yang baru. Yakinkan pada diri bahwa tidak ada yang bisa menundukkan diriku, dan aku tidak taat kecuali kepada Allah dan Rasulnya, tidak kepada hawa nafsu, setan dan bisikan bisikannya. Allahu akbar..
14. membayangkan cela yang terdapat pada diri orang yang dicintai kata ibnul Jauzi sesungguhnya manusia penuh dengan najis dan kotoran dan org2 yang dimabuk cinta melihat kekasihnya dalam keadaan sempurna, karena conta, ia
tak dapat melihat aib kekasihnya sebab hakikat sesiatu tidak tampak kecuali dilihat dengan ‘adil’ tapi orang yang dimabuk cinta itu sedang dikuasai hawa nafsu yang dzalim yang menutupi seluruh cela dari kekasihnya
15. memikirkan ditinggal pergi orangyang dicintai. baik ditinggal mati atau ditinggal karena sudah bosan
16. Memikirkan akibat dari perbuatannya. orang yang berakal adalah orang yang dapat menimbang2 apakah cintanya akan mendatangkan kenikmatan atau kesengsaraan. kalo orang berakal mungkin berfikir. “ngapain si saya kemairn..
tidak penting.. menghabiskan waktu saja.. lebih baik menghadiri ta’lim atau muraja’ah hapalan ” dst
17. memikirkan bahwa… hal ini adalah ujian yang jika kita melauinya dengan sabar, maka allah akan menambahkan kemuliaan bagi kita, sempurnalah kemuliaannya, dan derajadnya akan meningkat kepada level yang lebih tinggi.
Bahkan mungkin ia akan memperoleh cinta dari penciptanya, cinta yang memnuhi hati dan membuat cinta2 yang lain tidak beguna (yang dengannya seseorang dapat merasakan manisnya iman : mencintai Allah dan rasulnya lebihhh dari
apapun!) salah seorang ustadz Ahlusunnah pernah berkata..seseorang itu… kedudukannya bisa jauh lebih mulia setelah bermaksiat. kayak Nabi adam. itu kan dulu disurga ya..habis tu beilau bermaksiat kepada Allah, dan beliau
pun… bertaubat bersujud beratus2 tahunlalu Allah Angkat beliau menjadi yang paling utama diantara ciptaan yang lain2. lebih mulia dari malaikat.. setan.. jin… orang itu lebih mulia setelah bermaksiat dan bertobat dgn bnar benar tobat….
18. memikirkan, betapa banyak hal hal yang bermanfaat menjadi luput karena sibuk dengan hal seperti ini..
Orang orang yang mulia, cinta mereka tercurah kepada ilmu ilmu yang mulia juga. menjaga iffah (kehormatan diri) dan sifat
mulia lainnya mereka tidak begitu peduli akan syahwat yang inderawi, karena itu adalah santapan jasmani. sedang orang2 mulia lebih mengutamakan santapan AKAL!! ilmu lebih lebih lezat !!
19. (terakhir) melongok kondisi orang orang yang mabuk cinta. tampak tidak ada harapan hidup..hidupnya hampa karena memikirkan orang yang blum tentu jadi siapa siapanya…
salah satu cerita yang paling terkenal yaitu tentnag Qois dan Laila Majnoon itu… Qois sampai hilang akal.. -ih kan konyol banget tu ya “semua mengaku mengenal Laila, tapi laila tidak mengakuianya”
dan
20. (ini point tambahan dari saya) berhenti membicarakannya. biarkan ia
‘tenggelam’ , jangan lagi mengangkat2 topik tentang ini.
tambahan lagi.
Saya bertanya pada ustadz, jawaban ustadnya dengan sedikit perubahan. Wanita itu didominasi perasaan. Maka tingkatkan fungsi otak kiri dengan banyak banyak berfikir. Jangan biarkan perasaan mendominasi. Tingkatkan fungi otak kiri –yang didominasi logika- dengan mmeplajari sesuatu sesuatu yang rumit seperti bahasa. jadi fungsi otak kanan itu ditekan oleh otak kiri. kira2 seperti itu. Dan ini sedikit bekerja pada saya,… waktu itu saya .. yah,. Begitulah. Pusing memikirkan-nya. Namun waktu itu malem malem banget jam 1 an ada akhwat yang sedang belajar bareng bahasa arab. Lalu saya ikut nimbrung, waktu itu saya belajar nahwu – sorof (yang saya ulang berkali kali itu…) saya maksa2in, pokoknya ni kepala mesti dibikin pusing dengan bahasa arab.. ya Alhamdulillah… saya pusing sendiri memikirkan kenapa harokatnya jadi dhommah dan seterusnya. Hahaha… pusing dengan yg demikian lebih manfaat dan mulia daripada pusing yang ga penting. Setelah itu saya pikir kepala saya lumayan sehat dan bisa berfikir logis. Saya jadi mikir. Makhluq macam apa yang sudah saya pikirkan sebenarnya? Secara agama mungkin masih banyak yang jauh lebih baik dari dia. Secara fisik juga masih banyak yang lain.^^
Semoga Allah memudahkan kita untuk segera sembuh dari salah satu penyakit hati yang sangat berat ini. Sejujurnya
sungguh saya sedih mengetahui realitas2 saat ini.. begitu memfitnahnya kami kaum wanita bagi kalian….
Al Isyq’, atau mabuk cinta, atau Ibnul Qoyyim Mengatakan mereka yang terkena Al ‘Isq ini sebagai pemuja gambar. Mengapa pemuja gambar? karena mereka memuja gambar/sosok yang mereka tidak bisa lepas dari gambar/sosok tersebut dimanapun berada (ta’lim Ustadz Aris pas Kajian Ramadhan) Tidak ada yang bisa menghindar dari musibah ini, baik ikhwan maupun akhwat. dan fitrah manusia itu memang cenderung kepada lawan jenis. Hal itu normal, memang itulah fithrahnya, apa lagi pada usia usia baligh yang memang sudah waktunya bagi seorang untuk menyempurnakan separuh agamanya. islam sudah dengan jelas memberi keterangan dan larangan untuk menjauhinya. Namun Alhamdulillah Syari’at ini juga memberi solusi bagi yang sudah ‘terperosok’.
Diantara solusi dari segala solusi, atau master of solution yaitu nikah. Ustadz abu Umar bilang, tidak ada obat yg paling manjur untuk orang sedang dimabuk cinta kecuali menikah dngn orang tersebut. tetapi Ustadz abu zubeir, bilang tidak mesti dengan orang yg dimaksud “Menikahlah, dan milikilah sayak..” Dan seperti banyak skali kita sering mendengar di ceramah ceramah, sesungguhnya dengan nikah maka akan terbuka pntu pintu kebaikan yang banyak, akan terbuka pintu pintu rizki dan lain lain yang jika dibahas bisa jadi satu kitab sendiri. Namun, jika antum belum mampu, maka solusinya adalah berpuasa. “Hai pemuda, barangsiapa diantara kalian yang telah mampu nikaah, maka menikahlah. jika belum mampu,
maka perpuasalah, karena ia ibarat kebiri” Dan jika antum memang mesti berpuasa, maka lakukanlah dengan penuh kesabaran. InsyaaAllah Allah menggantikan kesabaran antum itu dengan sesuatu yang lebih indah.
Jika seorang berdoa namun Allah belum juga mengabulkannya, padahal ia sudah memenuhi syarat syarat terkabulnya do’a maka ia harus sabar dan ridha, yakinlah Allah mempunyai hikmah yang sangat tinggi, Allah sangat saya kepada
Hamba2-Nya dan seorang tidak mengethaui akibat urusannya. Terkadang seseorang mengharap sesuatu padahal itu jelek baginya, dan ia membenci sesuatu padahal hal itu baik baginya.
di buku Bila hati dimabuk cinta oleh Muhammad Ibrahim al Hamd, beliau menuliskan beberapa kiat kiat terapi AlIsyq yaitu (dengan sedikit tambahan):
1. Ikhlas kepada Allah, karena iblis sudah mengecualikan untuk tidak menggoda hamba2 Allah yang mukhlis
2. Berdoa merendahkan diri kpd Allah. Jujur… menyerahkan semuanya kepada Allah
Ada seorang akhwat ngaji, terfitnah dengan ikhwan, ia tdk bs berhenti memikirkannya. saat bulan ramadhan kemarin, sebelum sahur, akhwat tersebut bercerita, beliau berdo’a.. mengaku dengan jujur kepada Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, bahwa diri ia yang lemah dan jahil ini sedang terjerat didalam perangkap setan.. menyerahkan semua kepada Allah.. dan iapun ketiduran. saat ia bangun, ia sudah tidak merasa apa apa terhadap ikhwan tersebut. tidak lupa, Namun gejolak2 itu reda dengan sendirinya. Allah benar benar Maha Kuasa.
Ada juga kisah lain yang saya dengar, akhwat terfitnah dengan dosennya yang tentu saja dosennya hanyalah seorang bapak2 beristri, beliau bnr2 terfitnah hingga kalau beliau ngajar, akhwat tersebut tidak menundukkan pandangan sedikitpun. tak jarang akhwat ini menangis. Lalu beliau berdoa sungguh2 memohon pertolongan..beliau pun bermimpi sedang berada diatas tebing, melihat kebawah itu tampaklah air yang begitu segar.. bening…beliau pun terjun, saat bangun, rasa itu sudah tidak ada,
Alhamdulillah. Demikianlah Allah menolong hamba hamba yang benar2 meminta. Maka Mintalah kepada-Nya dengan penuh rasa harap dan penghambaan
3. menahan pandangan. bukan hanya pada orang yang menyebabkan kita terfitnah tapi terhadap semua lawan Jenis
4. banyak2 perfikir (bagaimsaya sebenarnya kok bisa bisanya terjatuh dalam fitnah….) dan banyak2 berdzikir
5. Menjauh dari orang yang mnyebabkan mabuk cinta, atau apapuun yang mengingatkan kepadanya, semampu kita.
6. menyibukkan diri dengan hal2 yang bermanfaat. (ngapalin Qur’an…. insyaallah….hisnul muslim… ) terutama dengan dzikrullah karena pd hakekatnya orng yg mabuk cinta itu hatinya kosong…
7. menikahlah… menikahlah.. menikahlah..
8. menegok orang2 sakit, sekarat, mnziarahi kubur.. memikirkan tentang mati dan bagaimsaya nanti jka sudah mati.. selamatkan kita dari hisab yang berat? mudahkah hisab kita nanti? bagaiman dengan prtanyaan pertanyaan malaikat di alam kubur? mampukah kita menjawabnya? bagaimsaya dengan amal shalih kita?
9. rajin2 menghadiri majelis ilmu.. agar bisa bertemu org2 soleh.. melihat betapa mereka tidak begitu peduli akan dunia, mlhat mereka begitu seru dan asyiknya menuntut ilmu.. muraja’ah.. (dan hasad kepada mereka (salah satu hasad yang dibolehkan kan ya?). Jangan menyendiri karena menyendiri akan menyebabkan kita teringat ingat si dia lagi. tapi bergabunglah bersama orang2 yang sibuk mengingat Allah.
10. memangkas habis ambisi dengan membuang putus asa dan bulatkan keinginan untuk menundukkan hawa nafsu
11, konsisten mengerjakan shalat secara smpurna
12. menjaga kharisma agar tidak jatuh kepada kedudukan yang hina dina. (Hal ini sangat penting. saya melihat laki2 yang sedang mabuk cinta itu… hancur harga dirinya…. ) gengsi disini berguna juga memelihara kemuliaan diri kesucian dan keormatan. jangan sampai dipandang kita sedang tergila gila gitu. bangunlah dengan rasa yang baru, semangat yang baru. Yakinkan pada diri bahwa tidak ada yang bisa menundukkan diriku, dan aku tidak taat kecuali kepada Allah dan Rasulnya, tidak kepada hawa nafsu, setan dan bisikan bisikannya. Allahu akbar..
14. membayangkan cela yang terdapat pada diri orang yang dicintai kata ibnul Jauzi sesungguhnya manusia penuh dengan najis dan kotoran dan org2 yang dimabuk cinta melihat kekasihnya dalam keadaan sempurna, karena conta, ia
tak dapat melihat aib kekasihnya sebab hakikat sesiatu tidak tampak kecuali dilihat dengan ‘adil’ tapi orang yang dimabuk cinta itu sedang dikuasai hawa nafsu yang dzalim yang menutupi seluruh cela dari kekasihnya
15. memikirkan ditinggal pergi orangyang dicintai. baik ditinggal mati atau ditinggal karena sudah bosan
16. Memikirkan akibat dari perbuatannya. orang yang berakal adalah orang yang dapat menimbang2 apakah cintanya akan mendatangkan kenikmatan atau kesengsaraan. kalo orang berakal mungkin berfikir. “ngapain si saya kemairn..
tidak penting.. menghabiskan waktu saja.. lebih baik menghadiri ta’lim atau muraja’ah hapalan ” dst
17. memikirkan bahwa… hal ini adalah ujian yang jika kita melauinya dengan sabar, maka allah akan menambahkan kemuliaan bagi kita, sempurnalah kemuliaannya, dan derajadnya akan meningkat kepada level yang lebih tinggi.
Bahkan mungkin ia akan memperoleh cinta dari penciptanya, cinta yang memnuhi hati dan membuat cinta2 yang lain tidak beguna (yang dengannya seseorang dapat merasakan manisnya iman : mencintai Allah dan rasulnya lebihhh dari
apapun!) salah seorang ustadz Ahlusunnah pernah berkata..seseorang itu… kedudukannya bisa jauh lebih mulia setelah bermaksiat. kayak Nabi adam. itu kan dulu disurga ya..habis tu beilau bermaksiat kepada Allah, dan beliau
pun… bertaubat bersujud beratus2 tahunlalu Allah Angkat beliau menjadi yang paling utama diantara ciptaan yang lain2. lebih mulia dari malaikat.. setan.. jin… orang itu lebih mulia setelah bermaksiat dan bertobat dgn bnar benar tobat….
18. memikirkan, betapa banyak hal hal yang bermanfaat menjadi luput karena sibuk dengan hal seperti ini..
Orang orang yang mulia, cinta mereka tercurah kepada ilmu ilmu yang mulia juga. menjaga iffah (kehormatan diri) dan sifat
mulia lainnya mereka tidak begitu peduli akan syahwat yang inderawi, karena itu adalah santapan jasmani. sedang orang2 mulia lebih mengutamakan santapan AKAL!! ilmu lebih lebih lezat !!
19. (terakhir) melongok kondisi orang orang yang mabuk cinta. tampak tidak ada harapan hidup..hidupnya hampa karena memikirkan orang yang blum tentu jadi siapa siapanya…
salah satu cerita yang paling terkenal yaitu tentnag Qois dan Laila Majnoon itu… Qois sampai hilang akal.. -ih kan konyol banget tu ya “semua mengaku mengenal Laila, tapi laila tidak mengakuianya”
dan
20. (ini point tambahan dari saya) berhenti membicarakannya. biarkan ia
‘tenggelam’ , jangan lagi mengangkat2 topik tentang ini.
tambahan lagi.
Saya bertanya pada ustadz, jawaban ustadnya dengan sedikit perubahan. Wanita itu didominasi perasaan. Maka tingkatkan fungsi otak kiri dengan banyak banyak berfikir. Jangan biarkan perasaan mendominasi. Tingkatkan fungi otak kiri –yang didominasi logika- dengan mmeplajari sesuatu sesuatu yang rumit seperti bahasa. jadi fungsi otak kanan itu ditekan oleh otak kiri. kira2 seperti itu. Dan ini sedikit bekerja pada saya,… waktu itu saya .. yah,. Begitulah. Pusing memikirkan-nya. Namun waktu itu malem malem banget jam 1 an ada akhwat yang sedang belajar bareng bahasa arab. Lalu saya ikut nimbrung, waktu itu saya belajar nahwu – sorof (yang saya ulang berkali kali itu…) saya maksa2in, pokoknya ni kepala mesti dibikin pusing dengan bahasa arab.. ya Alhamdulillah… saya pusing sendiri memikirkan kenapa harokatnya jadi dhommah dan seterusnya. Hahaha… pusing dengan yg demikian lebih manfaat dan mulia daripada pusing yang ga penting. Setelah itu saya pikir kepala saya lumayan sehat dan bisa berfikir logis. Saya jadi mikir. Makhluq macam apa yang sudah saya pikirkan sebenarnya? Secara agama mungkin masih banyak yang jauh lebih baik dari dia. Secara fisik juga masih banyak yang lain.^^
Menikah
Assalamualaikum Wr.wb
Menikah adalah sunah rasul dan untuk menyempurnakan agama. Tapi mungkin bagi ikhwan ataupun akhwat yang akan menikah mempunyai banyak sekali pertimbangan yang bahkan kadang2 membuat niat kita untuk menikah menjadi pasang surut. Banyak sekali yang menjadi bahan pertimbangan, mungkin yang paling banyak menjadi bahan pertiimbangan adalah masalah Maisyah. Tapi bukankah allah telah menjamin rezki seseorang. Apakah seseorang bisa menjamin kalaupun sekarang dia bekerja apakah dia masih tetap akan bekerja sehari setelah menikah? Bisa saja setelah sehari menikah dia dipecat. Kalaupun dia punya harta yang melimpah, rumah yang bagus apakah dia bisa menjamin klau sehari setelah menikah harta dan rumah itu masih ada? bisa jadi klau dirampok atau terjadi kebakaran semua akan hilang!!!
Mungkin banyak yang berfikir kenapa harus menikah muda? kamu terlalu kecil untuk menikah? Kamu belum punya pekerjaan tetap? kamu belum punya rumah? Bagaimana kamu memberi Nafkah? apakah kamu bisa mengurus rumah tangga? Mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin akan di ajukan oleh orang tua ataupun keluarga bila seseorang mempunyai Azzam tuk segera menyempurnakan agamanya. Mungkin klau kita berfikir secara logika mungkin alasan yang mereka pertanyaan itu masuk akal, tapi bukankah allah yang lebih mengetahui tentang kebaikan seseorang dan allah yang akan memberi rezki seseorang, bahkan ada beberapa ikhwan yang mengatakan bahwa setelah mereka menikah karna allah rezeki mereka mengalir dari arah mana saja tanpa mereka sangka-sangka. Ummi Abii Kami adalah putra putrimu yang ingin menyempurnakan agama kami dan menjaga kami dari hal-hal yang tidak diinginkan menjaga diri kami dari hal-hal negatif dan yang paling penting kam i ingin menikah karna allah.
Mungkin kita blum pernah tau bagaimana calon suami/ istri kita, Landasan yang paling kokoh untuk membentuk suatu keluarga yang sakinah mawadah wa rohmah adalah karena Agama, karena kita mempunyai visi dan misi yang sama karena allah ingin menjalani kehidupan ini di jalan Allah. Ingatlah seorang istri akan berpindah ke rumah yang belum pernah dia tinggali, menjadi istri dari suami yang blum pernah ia kenal ( maksudnya kenal lebih jauh ) sebellumnya, menuju ke keluarga barunya sekarang. Menikah adalah menyatukan 2 karakter anak manusia yang belum saling mengenal satu sama laiinya sebelumnya. Mungkin banyak yang berfikir klau kita menikah dengan akhwat atau ikhwan yang aktif mengikuti kajian kita tidak akan menemukan begitu banyak masalah, kita pasti akan menjalani rumah tangga yang kita idam-idamkan. Tapi semua itu salah bermimpi itu boleh tapi tak semua impian kita akan jadi kenyataan, Di rumah tangga manapun pasti mengalami namanya perselisihan atau pun beda pendapat tapi kita kembalikan smua nya ke allah Seperti apa baiknya karna semua di kehidupan kita ini sudah ada aturanya dalam alQuran. Ingatlah suami/istri kita adalah Manusia yang berusaha tuk jadi istri sholeh dan suami solehah.
Menikah adalah sunah rasul dan untuk menyempurnakan agama. Tapi mungkin bagi ikhwan ataupun akhwat yang akan menikah mempunyai banyak sekali pertimbangan yang bahkan kadang2 membuat niat kita untuk menikah menjadi pasang surut. Banyak sekali yang menjadi bahan pertimbangan, mungkin yang paling banyak menjadi bahan pertiimbangan adalah masalah Maisyah. Tapi bukankah allah telah menjamin rezki seseorang. Apakah seseorang bisa menjamin kalaupun sekarang dia bekerja apakah dia masih tetap akan bekerja sehari setelah menikah? Bisa saja setelah sehari menikah dia dipecat. Kalaupun dia punya harta yang melimpah, rumah yang bagus apakah dia bisa menjamin klau sehari setelah menikah harta dan rumah itu masih ada? bisa jadi klau dirampok atau terjadi kebakaran semua akan hilang!!!
Mungkin banyak yang berfikir kenapa harus menikah muda? kamu terlalu kecil untuk menikah? Kamu belum punya pekerjaan tetap? kamu belum punya rumah? Bagaimana kamu memberi Nafkah? apakah kamu bisa mengurus rumah tangga? Mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin akan di ajukan oleh orang tua ataupun keluarga bila seseorang mempunyai Azzam tuk segera menyempurnakan agamanya. Mungkin klau kita berfikir secara logika mungkin alasan yang mereka pertanyaan itu masuk akal, tapi bukankah allah yang lebih mengetahui tentang kebaikan seseorang dan allah yang akan memberi rezki seseorang, bahkan ada beberapa ikhwan yang mengatakan bahwa setelah mereka menikah karna allah rezeki mereka mengalir dari arah mana saja tanpa mereka sangka-sangka. Ummi Abii Kami adalah putra putrimu yang ingin menyempurnakan agama kami dan menjaga kami dari hal-hal yang tidak diinginkan menjaga diri kami dari hal-hal negatif dan yang paling penting kam i ingin menikah karna allah.
Mungkin kita blum pernah tau bagaimana calon suami/ istri kita, Landasan yang paling kokoh untuk membentuk suatu keluarga yang sakinah mawadah wa rohmah adalah karena Agama, karena kita mempunyai visi dan misi yang sama karena allah ingin menjalani kehidupan ini di jalan Allah. Ingatlah seorang istri akan berpindah ke rumah yang belum pernah dia tinggali, menjadi istri dari suami yang blum pernah ia kenal ( maksudnya kenal lebih jauh ) sebellumnya, menuju ke keluarga barunya sekarang. Menikah adalah menyatukan 2 karakter anak manusia yang belum saling mengenal satu sama laiinya sebelumnya. Mungkin banyak yang berfikir klau kita menikah dengan akhwat atau ikhwan yang aktif mengikuti kajian kita tidak akan menemukan begitu banyak masalah, kita pasti akan menjalani rumah tangga yang kita idam-idamkan. Tapi semua itu salah bermimpi itu boleh tapi tak semua impian kita akan jadi kenyataan, Di rumah tangga manapun pasti mengalami namanya perselisihan atau pun beda pendapat tapi kita kembalikan smua nya ke allah Seperti apa baiknya karna semua di kehidupan kita ini sudah ada aturanya dalam alQuran. Ingatlah suami/istri kita adalah Manusia yang berusaha tuk jadi istri sholeh dan suami solehah.
Contoh isteri Sholehah
"Ya Allah...berikanlah aku kekuatan dan kemampuan untuk menjadi istri yang sholihah, yang mendapatkan ridho-MU, kemudian keridhoan suamiku, dan bangunkanlah sebuah rumah bagiku di surga, dimana tak ada hiruk pikuk dan kelelahan..."
Contoh Istri Yang Sholehah
Oleh Syaikh Abdul Malik Al-Qasim
Ulama yang bertakwa Asy-Sya’bi rahimahullah suatu ketika duduk bersama Syuraih Al-Qadhi rahimahullah. Asy_sya’bi bertanya kepada Syuraih perihal keadaan dia di dalam rumah. Maka Syuraih bercerita: “Selama dua puluh tahun tidak ada anggota keluargaku yang membuatku marah.” Asy-Sya’bi menyahut: “Bagaimana bisa?” Syuraih berkata: “malam pertamaku bersama isteriku, aku melihat perangai yang baik dan wajah yang sangat cantik, lalu aku berkata dalam hati: ‘Saya akan bersuci dan shalat dua rakaat sebagai sujud syukur kepada Allah’. Ketika aku salam dari shalat, ternyata aku mendapati isteriku shalat di belakangku dan salam bersamaku.
Ketika rumah telah sepi dari pada sahabat dan handai tolan, aku berdiri mendekatinya untuk melakukan apa yang sewajarnya dilakukan oleh suami terhadap itrinya. Tapi dia berkata: ‘Tunggu sebentar wahai Abu Umayyah.’ Lalu dia mulai berbicara: ‘Segala puji bagi Allah, saya memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya dan saya ucapkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Sesungguhnya aku adalah wanita yang masih asing tentang dirimu, belum banyak tahu tentang akhlakmu. Maka beritahulah kepadaku apa saja yang Anda sukai agar aku melaksanakannya dan apa saja yang Anda benci agar aku bisa menghindarinya.’
Diamelanjutkan: ‘Sesungguhnya di kalangan kaummu ada wanita yang layak untuk Anda nikahi, begitupun di kalangan kaumku ada pula kaum laki-laki yang sekufu’ denganku. Akan tetapi jika Allah menghendaki suatu perkara, maka terjadilah. Engkau telah memiliki diriku, maka berbuatlah sesuai dengan yang diperintahkan Allah kepadamu, rujuk dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Denikian yang bisa saya sampaikan, aku memohon ampunan kepada Allah untukku dan untukmu.’
Syuraih berkata: “Demi Allah wahai Asy-Sya’bi, alangkah butuhnya aku terhadap khutbah tersebut.” Akupun berkata: “Alhamdulillah, saya memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, shalawat dan salam semoga selalu tercurah atas Nabi, wa ba’du: Sungguh Anda telah mengatakan suatu ucapan yang jika Anda konsekuen niscaya akan mendapatkan bagianmu. (Yakni akan mendapatkan kebaikan yang banyak untukmu), akan tetapi jika Anda mengingkarinya, maka ucapan itu menjadi hujjah atasmu.”
Kemudian Syuraih berkata: “Aku menyukai ini dan itu, ini dan itu, dan aku membenci ini dan itu, jika Anda melihat suatu kebaikan maka sebarkanlah dan jika Anda melihat keburukan dariku maka rahasiakanlah.”
Kemudian istriku berkata: “Bagaimana kadar yang kau sukai untuk mengunjungi keluargaku?” Aku manjawab: “Aku tidak suka jika mertuaku bosan terhadapku.” (Aku tidak suka mengunjungi mereka terus-menerus yang membuat merekabosan terhadapku)
Istriku berkata: “Siapakah yang Anda suka di antara tetanggamu sehingga dia boleh memasuki rumahmu dan boleh saya izinkan masuk? Siapa pula di antara mereka yang tidak Anda suka?”
Saya menjawab: “Bani Fulan termasuk orang-orang shalih, bani Fulan termasuk kaum yang shalih, maka izinkan mereka masuk. Akan tetapi bani Fulan dan bani Fulanadalah kaum yang buruk perangai, jangan kau izinkan masuk.”
Syuraih melanjutkan ceritanya: “Maka malam itu saya bermalam bersamanya dengan malam yang sangat indah, selama satu tahun saya hidup berdampingan dengannya belum pernah aku melihatnya kecuali dalam keadaan yang aku sukai dan aku harapkan.
Ketika memasuki tahun kedua, aku kembali dari majelis qadhi ke rumahku, ternyata ada seorang wanita di rumahku. Lalu aku bertanya: “Siapakah tamu ini?” Merekamenjawab: “Dia adalah ibu mertuamu.” Ibu menoleh kepadaku dan bertanya: “Bagaimana menurutmu perlakuan istrimu wahai Abu Umayyah?” aku menjawab: “Dia adalah sebaik-baik istri.”
Ibu mertua berkata: “Wahai abu Umayyah, sesungguhnya seorang istri itu keadaannya tidak akan buruk ketika dalam dua keadaan. Yakni jika dia melahirkan seorang anak atau berbahagian di sisi suaminya. (Yakni merasa dicintai suami dan merasa diperhatikan olehnya). Demi Allah, seorang laki-laki tidak akan pernah ditimpa keburukan dari seorang istri yang mau dibimbing. Maka didiklah istrimu dan bimbinglah sekehendakmu.”
Syuraih berkata: “Lalu saya tinggal bersama istriku selama dua puluh tahun, aku tidak pernah menghukumnya sedikitpun kecuali sekali saja, itupun ternyata saya yang salah, kemudian dia telah wafat, semoga Allah merahmatinya.”
((Disalin dari buku Istri Shalihah Anugerah Terindah hal. 73-77, karya Abdul Malik Al-Qasim, penerbit Pustaka At-Tibyan, Solo)) Copas dari Naira Narita
Contoh Istri Yang Sholehah
Oleh Syaikh Abdul Malik Al-Qasim
Ulama yang bertakwa Asy-Sya’bi rahimahullah suatu ketika duduk bersama Syuraih Al-Qadhi rahimahullah. Asy_sya’bi bertanya kepada Syuraih perihal keadaan dia di dalam rumah. Maka Syuraih bercerita: “Selama dua puluh tahun tidak ada anggota keluargaku yang membuatku marah.” Asy-Sya’bi menyahut: “Bagaimana bisa?” Syuraih berkata: “malam pertamaku bersama isteriku, aku melihat perangai yang baik dan wajah yang sangat cantik, lalu aku berkata dalam hati: ‘Saya akan bersuci dan shalat dua rakaat sebagai sujud syukur kepada Allah’. Ketika aku salam dari shalat, ternyata aku mendapati isteriku shalat di belakangku dan salam bersamaku.
Ketika rumah telah sepi dari pada sahabat dan handai tolan, aku berdiri mendekatinya untuk melakukan apa yang sewajarnya dilakukan oleh suami terhadap itrinya. Tapi dia berkata: ‘Tunggu sebentar wahai Abu Umayyah.’ Lalu dia mulai berbicara: ‘Segala puji bagi Allah, saya memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya dan saya ucapkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Sesungguhnya aku adalah wanita yang masih asing tentang dirimu, belum banyak tahu tentang akhlakmu. Maka beritahulah kepadaku apa saja yang Anda sukai agar aku melaksanakannya dan apa saja yang Anda benci agar aku bisa menghindarinya.’
Diamelanjutkan: ‘Sesungguhnya di kalangan kaummu ada wanita yang layak untuk Anda nikahi, begitupun di kalangan kaumku ada pula kaum laki-laki yang sekufu’ denganku. Akan tetapi jika Allah menghendaki suatu perkara, maka terjadilah. Engkau telah memiliki diriku, maka berbuatlah sesuai dengan yang diperintahkan Allah kepadamu, rujuk dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Denikian yang bisa saya sampaikan, aku memohon ampunan kepada Allah untukku dan untukmu.’
Syuraih berkata: “Demi Allah wahai Asy-Sya’bi, alangkah butuhnya aku terhadap khutbah tersebut.” Akupun berkata: “Alhamdulillah, saya memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, shalawat dan salam semoga selalu tercurah atas Nabi, wa ba’du: Sungguh Anda telah mengatakan suatu ucapan yang jika Anda konsekuen niscaya akan mendapatkan bagianmu. (Yakni akan mendapatkan kebaikan yang banyak untukmu), akan tetapi jika Anda mengingkarinya, maka ucapan itu menjadi hujjah atasmu.”
Kemudian Syuraih berkata: “Aku menyukai ini dan itu, ini dan itu, dan aku membenci ini dan itu, jika Anda melihat suatu kebaikan maka sebarkanlah dan jika Anda melihat keburukan dariku maka rahasiakanlah.”
Kemudian istriku berkata: “Bagaimana kadar yang kau sukai untuk mengunjungi keluargaku?” Aku manjawab: “Aku tidak suka jika mertuaku bosan terhadapku.” (Aku tidak suka mengunjungi mereka terus-menerus yang membuat merekabosan terhadapku)
Istriku berkata: “Siapakah yang Anda suka di antara tetanggamu sehingga dia boleh memasuki rumahmu dan boleh saya izinkan masuk? Siapa pula di antara mereka yang tidak Anda suka?”
Saya menjawab: “Bani Fulan termasuk orang-orang shalih, bani Fulan termasuk kaum yang shalih, maka izinkan mereka masuk. Akan tetapi bani Fulan dan bani Fulanadalah kaum yang buruk perangai, jangan kau izinkan masuk.”
Syuraih melanjutkan ceritanya: “Maka malam itu saya bermalam bersamanya dengan malam yang sangat indah, selama satu tahun saya hidup berdampingan dengannya belum pernah aku melihatnya kecuali dalam keadaan yang aku sukai dan aku harapkan.
Ketika memasuki tahun kedua, aku kembali dari majelis qadhi ke rumahku, ternyata ada seorang wanita di rumahku. Lalu aku bertanya: “Siapakah tamu ini?” Merekamenjawab: “Dia adalah ibu mertuamu.” Ibu menoleh kepadaku dan bertanya: “Bagaimana menurutmu perlakuan istrimu wahai Abu Umayyah?” aku menjawab: “Dia adalah sebaik-baik istri.”
Ibu mertua berkata: “Wahai abu Umayyah, sesungguhnya seorang istri itu keadaannya tidak akan buruk ketika dalam dua keadaan. Yakni jika dia melahirkan seorang anak atau berbahagian di sisi suaminya. (Yakni merasa dicintai suami dan merasa diperhatikan olehnya). Demi Allah, seorang laki-laki tidak akan pernah ditimpa keburukan dari seorang istri yang mau dibimbing. Maka didiklah istrimu dan bimbinglah sekehendakmu.”
Syuraih berkata: “Lalu saya tinggal bersama istriku selama dua puluh tahun, aku tidak pernah menghukumnya sedikitpun kecuali sekali saja, itupun ternyata saya yang salah, kemudian dia telah wafat, semoga Allah merahmatinya.”
((Disalin dari buku Istri Shalihah Anugerah Terindah hal. 73-77, karya Abdul Malik Al-Qasim, penerbit Pustaka At-Tibyan, Solo)) Copas dari Naira Narita
Dengarkan Cerita Ummu
sendiri memang menyenangkan...
bisa melakukan apa saja yg kumau...
tanpa hrs bertanya dan dipertanyakan...
tanpa harus memperhatikan dan saling berbagi...
tetapi...
dengan berjalannya waktu...
aku pun berkata lain...
semua yg ku lakukan sendiri terasa hambar...
perlu seseorang tuk ku bersandar...
tempat bertanya, tempat berbagi...
tempat bercerita... dan menemani ku saat ku perlukan...
banyak yg datang menghampiriku...
dan mencoba tuk mengetuk hatiku...
bagaimana ku tahu dirimulah pilihan-Nya???
engkau yg akan bersamaku sampai akhir hidupku???
aku pun tak tahu...
aku pun tak pasti...
yang kuyakini adalah Alloh pasti kan memilih yg terbaik tuk ku jadikan teman hidupku...
yang kuyakini adalah Alloh pasti tak kan mencelakakanku...
ku jalani hidupku dg keyakinanku...
ku coba belajar tentang dirimu...
kini ku tahu...
kau memperhatikanku...
kau mau berbagi denganku...
dengan keyakinanku...
ku terima uluran tanganmu...
resmi sudah ku hidup denganmu...
lengkap sudah hidupku...
bahagia saja yg kurasa...
hidup dengan dirimu...
tak semudah yg kubayangkan...
banyak yg masih perlu kupelajari tentang dirimu...
apa yg kau suka dan tak kau suka...
apa yg kau mau dan tak kau mau...
semua ku jalani... karena ku isterimu...
yang akan selalu berada disampingmu...
dalam keadaan susah maupun senang...
kadang emosiku mau berkata...
bila dirimu tak sejalan denganku...
kadang ku ingin berlari pulang...
bila kau memaksakan kehendakmu...
tapi ku kan tetap bertahan...
karena kau suamiku...
yg ku pilih dengan keyakinanku kepada-Nya...
semua kupelajari...
dengan berjalannya waktu...
kunikmati perananku...
kutingkatkan kesabaranku...
kutingkatkan pengetahuanku...
bisa melakukan apa saja yg kumau...
tanpa hrs bertanya dan dipertanyakan...
tanpa harus memperhatikan dan saling berbagi...
tetapi...
dengan berjalannya waktu...
aku pun berkata lain...
semua yg ku lakukan sendiri terasa hambar...
perlu seseorang tuk ku bersandar...
tempat bertanya, tempat berbagi...
tempat bercerita... dan menemani ku saat ku perlukan...
banyak yg datang menghampiriku...
dan mencoba tuk mengetuk hatiku...
bagaimana ku tahu dirimulah pilihan-Nya???
engkau yg akan bersamaku sampai akhir hidupku???
aku pun tak tahu...
aku pun tak pasti...
yang kuyakini adalah Alloh pasti kan memilih yg terbaik tuk ku jadikan teman hidupku...
yang kuyakini adalah Alloh pasti tak kan mencelakakanku...
ku jalani hidupku dg keyakinanku...
ku coba belajar tentang dirimu...
kini ku tahu...
kau memperhatikanku...
kau mau berbagi denganku...
dengan keyakinanku...
ku terima uluran tanganmu...
resmi sudah ku hidup denganmu...
lengkap sudah hidupku...
bahagia saja yg kurasa...
hidup dengan dirimu...
tak semudah yg kubayangkan...
banyak yg masih perlu kupelajari tentang dirimu...
apa yg kau suka dan tak kau suka...
apa yg kau mau dan tak kau mau...
semua ku jalani... karena ku isterimu...
yang akan selalu berada disampingmu...
dalam keadaan susah maupun senang...
kadang emosiku mau berkata...
bila dirimu tak sejalan denganku...
kadang ku ingin berlari pulang...
bila kau memaksakan kehendakmu...
tapi ku kan tetap bertahan...
karena kau suamiku...
yg ku pilih dengan keyakinanku kepada-Nya...
semua kupelajari...
dengan berjalannya waktu...
kunikmati perananku...
kutingkatkan kesabaranku...
kutingkatkan pengetahuanku...
Langganan:
Postingan (Atom)
