<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914</id><updated>2011-07-08T08:45:11.916+08:00</updated><title type='text'>Akhwatunnisa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>295</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-6830196078451708510</id><published>2010-01-03T10:05:00.000+08:00</published><updated>2010-01-03T10:06:05.850+08:00</updated><title type='text'>Dengan 5 Hal Ini, Kau Akan Berbahagia Bersamaku, Istriku…</title><content type='html'>*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari majalah al-mawwaddah, Edisi I Tahun ke-3,Sya’ban 1430H/2009,Rubrik: Taman Pasutri, oleh: Ustadz Abu Amar al-Ghoyami hal:29-30*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan mendahulukan perasaannya. Akibatnya, Anda tidak bisa puas dengan jawabannya yang memang sangat sedikit.Bila ini terjadi pada suami Anda, maka Anda harus tahu bahwa memang tidak semua laki-laki bisa begitu saja terbuka, namun benar-benar ada tipe suami yang memang pendiam dan pemalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tips yang bisa digunakan oleh istri untuk mengambil hati suaminya yang pendiam dan pemalu yang menurut hasil penelitan telah terbukti banyak memberi faedah bagi istri untuk bisa hidup berbahagia bersama suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jadilah Istri Yang Menghormati Suami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila istri menghormati suaminya, maka dengan mudahnya suami pun akan menghormatinya. Namun, bila istri tidak bisa menghormati suaminya maka selamanya ia akan menderita disisi suaminya. Mengapa? Apakah memang sikap saling menghormati merupakan kebutuhan asasi bagi suami yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga mereka mewajibkannya atas istri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak istri yang bila telah melahirkan anak suaminya beranggapan bahwa ia akan terus damai disisi suaminya. Ia menyangka akan senantiasa bahagia disisi suaminya hanya dengan telah lahirnya anak suaminya. Akibat dari sangkaan dan duga-duga ini akhirnya banyak istri yang lupa atau tidak lagi memandang perlu sikap hormat kepada suaminya. Ia banyak merendahkan suaminya dan menyepelekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, istri yang menghormati suaminya ialah istri-istri penduduk surga. Tidaklah Anda ingin meneladani mereka? Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maukah aku kabarkan kepada kalian para istri kalian di surga? Wanita yang penyayang, sangat subur, dan suka kembali berbuat baik yang apabila berbuat aniaya ia akan mengatakan, ‘ Ini tanganku ada diatas tanganmu, aku tidak bisa sekejap pun memejamkan mata sehingga engkau ridho kepadaku”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah meminta maaf merupakan bentuk penghormatan yang tinggi? Bukankah mengulurkan tangan mengharapkan maaf suami merupakan sikap hormat istri kepadanya? Maka, bila Anda ingin menghormati suami, jadilah istri yang sabar atas kekhilafannya. Jadilah istri yang tidak pernah menentang suami saat ia marah. Jadilah istri yang menghargai dan menghormati cemburu suami. Jadilah istri yang bisa menjaga suami. Jadilah istri yang tidak enggan meminta maaf. Enggan meminta maaf suami adalah bukti kesombongan istri. Tunjukkan rasa hormat dan perhatian Anda kepada suami dihadapan orang lain, baik saat ia bersamamu maupun saat ia tidak hadir disisimu. Dengan begitu, Anda telah menghormatinya dan insya Allah Anda akan senantiasa bahagia disisinya. Perkataan yang mudah terucap dan mudah menghancurkan rumah tangga ialah, “ Aku tidak akan menghormatimu lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jadilah Istri Yang Bertanggung Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak istri mengeluhkan perihal suaminya yang tidak bertanggung jawab. Sementara banyak pula suami yang menganggap istrinya tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, penting sekali kita menilik kisah Asma’, putri Abu Bakar ash Shidiq. Ia adalah istri yang ikut memikul tanggung jawab dirumah suaminya secara sempurna. Bahkan ia tetap menjaga dan menghormati perasaan serta kecemburuan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya ialah Zubair, seorang sahabat yang fakir. Asma’ pun tahu bahwa suaminya sangat membutuhkan kesiapannya untuk ikut memikul tanggung jawab keluarga bersamanya. Ia biasa mengurusi makanan kuda Zubair, menjahit tempat airnya, menumbuk gandum, mengusung biji-bijian dari kebun dan lain-lainnya. Namun begitu, ia sangat menyadari bahwa keadaanya tidak boleh mengurangi rasa hormatnya kepada suaminya. Ia tetap menjaga perasaan suaminya dan kecemburuannya. Ia lebih memilih mengusung biji-bijian diatas pundaknya dengan berjalan kaki daripada naik untuk padahal ada kaum laki-laki bersamanya. Hal itu hanya demi menghargai kecemburuan suaminya. Sehingga dihadapan istri yang sangat menghargai dan bertanggung jawab inilah sosok seorang suami pun luluh hatinya sehingga ia berkata, “ Demi Allah, pengorbananmu untuk membawa biji-bijian itu jauh lebih berat bagiku daripada dudukmu diatas unta Rasulullah shalallahu aalaihi wassalam”.Memang , Asma’ lebih mendahulukan kecemburuan suaminya sehingga tidak menerima tawaran Rasulullah Shalallahualaihi wassalam untuk naik di unta beliau saat mengusung biji-bijian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jadilah Istri Yang Terbuka dan Menghargai Perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenteraman perasaan dipengaruhi oleh terungkapnya isi hati pasutri. Ungkapan isi hati tentang rasa cinta kasih istri terhadap suami merupakan factor utama untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Para suami sangat membutuhkan hal itu, sebagaimana istripun membutuhkannya. Bahkan Rasulullah Shalallahu aalaihi wassalam membolehkan istri berdusta dalam pengungkapan rasa cinta dan kasihnya terhadap suaminya demi terwujudnya kehangatan hubungan berumah tangga dan demi terpeliharanya ikatan pernikahan.2 Lalu,mengapa pasutri tidak melakukannya? Mengapa para istri tidak mengutarakan isi hatinya kepada suaminya tentang sesuatu yang bisa membahagiakan kehidupan rumah tangganya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Percayalah Kepada Suamimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa cemburu merupakan bukti yang sangat kuat akan besarnya cinta dan kasih istri kepada suaminya. Sehingga rasa cemburu terkadang dibutuhkan untuk mengungkapkan isi hati istri kepada suaminya bahwa ia mencintai dan mengasihinya. Bahkan, sifat pencemburu merupakan hal yang lazim bagi wanita. Namun cemburu ada dua, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ada diantara sifat cemburu ada yang dicintai dan ada pula yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang dicintai Allah adalah cemburu dalam keragu-raguan, sedangkan cemburu yang dibenci oleh Allah ialah cemburu tidak dalam keragu-raguan”3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemburu tidak boleh menghilangkan kepercayaan istri kepada suaminya dengan memastikan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, misalnya si istri mengatakan: “ Mengapa kamu telat pulang?” atau “ Darimana saja tadi kamu pergi?” atau “ Berapa banyak wanita yang bekerja ditempat kerjamu?” Semua perkataan ini dan yang senada ialah cemburu yang tidak baik sebab didasari penetapan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, bukan dibangun diatas kepercayaan atau sekadar duga-duga dan rasa ragu yang akan hilang dengan penjelasan dari suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jadilah Istri Yang Berakhlak Terpuji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami yang shahih akan merasa bahagia dan terpenuhi kebutuhan asasinya bila beristrikan seorang wanita yang baik akhlaknya. Wanita yang buruk ialah wanita yang perkataannya selalu bermakna ancaman, ucapan dan suaranya kasar, tidak mau tahu kebaikan orang lain atasnya, dan suka mencari-cari keburukan orang lain. Selain itu, ia juga tidak mengasihi suami, sedikit rasa malunya, suka mencela, pemarah, rumahnya kotor, suka menunjuk dengan tangan dan jarinya, biasa berdusta, dan selalu meneteskan air mata buaya. Istri yang berakhlak terpuji tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Bahkan, disaat ia sedang cemburu sekalipun, ia hanya akan menyebut kebaikan suami yang tidak bisa tidak harus membuatnya cemburu.Semoga dengan 5 hal in Anda, para istri , akan berbahagia bersama suami Anda. Wallahul Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hadits Hasan, lihat Shahihul Jami’ 2604 oleh Syaikh al-Albani [↩]&lt;br /&gt;2. lihat dalam Shahih Muslim, Bab Dusta yang di Perbolehkan hadits no.1810 dan Bukhari no.2692 bunyi haditsnya adalah : “Saya tidak pernah mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam memberi kelonggaran berdusta kecuali dalam 3 hal: [1] Orang yang berbicara dengan maksud hendak mendamaikan, [2] orang yang berbicara bohong dalam peperangan dan [3] suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga [↩]&lt;br /&gt;3. Hadits Hasan, riwayat Abu Dawud 2661 dan Nasai 2570, lihat Shahihul Jami’ 2221 oleh Syaikh al-Albani [↩]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-6830196078451708510?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/6830196078451708510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2010/01/dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6830196078451708510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6830196078451708510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2010/01/dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia.html' title='Dengan 5 Hal Ini, Kau Akan Berbahagia Bersamaku, Istriku…'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-2962757135330628887</id><published>2009-12-26T10:00:00.001+08:00</published><updated>2009-12-26T10:00:15.329+08:00</updated><title type='text'>Fish</title><content type='html'>&lt;script type="text/javascript" src="http://widgets.clearspring.com/o/48cfe5b37f644537/4b356e2dffb7a384/48cfe5b37f644537/4d3c5560/widget.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-2962757135330628887?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/2962757135330628887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/fish.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/2962757135330628887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/2962757135330628887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/fish.html' title='Fish'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3259186268609808478</id><published>2009-12-23T09:13:00.000+08:00</published><updated>2009-12-23T09:14:57.771+08:00</updated><title type='text'>BAGAIMANA MENGAMBIL MANFAAT DARI AL-QUR'AN</title><content type='html'>Jika anda ingin mengambil manfaat dari Al-Qur'an al-Karim, maka bulatkanlah hatimu tatkala membaca dan mendengarkannya, pasanglah telingamu, hadirkan hatimu, rasakanlah siapa yang sedang engkau ajak berbicara, siapa yang dituju dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena sesungguhnya obyek yang dituju adalah anda melalui lisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaaf: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang demikian itu karena kesempurnaan pengaruh tergantung kepada sesuatu yang diharapkan pengaruhnya, obyek yang hendak menerima pengaruh serta terpenuhinya syarat-syarat untuk timbulnya suatu pengaruh. Juga tiadanya penghalang yang menghambatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas mencakup penjelasan semua itu dengan lafazh yang ringkas, jelas dan menunjukkan makna yang dimaksud. Ibnu Qutaibah berkata: "Dengarkanlah Kitabullah, yakni dengan kesaksian hati dan pemahaman, bukan dengan kelalaian dan kehampaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang diharapkan pengaruhnya adalah Al-Qur'an, obyek yang hendak menerima pengaruh adalah hati yang hidup, terpenuhi pula syarat, yakni adanya perhatian, ditambah lagi dengan tiadanya penghalang berupa kesibukan hati dan kelalaiannya terhadap makna yang terkandung maupun berpaling pada sesuatu yang lain, niscaya muncullah pengaruhnya, yakni bisa mendapatkan manfaat dan peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan kalamullah dan khitab (obyek yang ditujunya), niscaya akan kita dapatkan bahwa Dia-lah pemilik seluruh kerajaan, pemilik segala pujian, segala urusan berada di tangan-Nya, berasal dari-Nya, kembali pula kepada-Nya, bersemayam di singgasana-Nya dan tak tersembunyi sedikit pun atas-Nya segala apa yang ada dalam kekuasaan-Nya. Maha Mengetahui apa yang terbetik dalam hati para hamba-Nya, Maha Melihat apa-apa yang dirahasiakan mereka dan apa-apa yang ditampakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perhatikanlah, bagaimana Dia memuji diri-Nya dan menasihati hamba-hamba-Nya, menunjukkan kepada mereka apa-apa yang mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan memberikan peringatan dari apa-apa yang dapat menyebabkan mereka binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaklah dari khitab yang ditujunya, bahwa Allah memberikan teguran-teguran kepada orang yang dicintai-Nya dengan teguran yang halus, padahal mereka seringkali tergelincir namun Allah mengampuni mereka, menerima udzur mereka, memperbaiki keadaan yang rusak di antara mereka, menjadi penolong atas mereka, menjamin kemaslahatan bagi mereka dan mengentaskan mereka dari kegundahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tatkala hati menyaksikan dari Al-Qur'an tentang Maha Raja Yang Maha Agung, Maha Penyayang, Maha Pemurah, Maha Indah, maka bagaimana mungkin hati tidak terdorong untuk mencintai-Nya dan berlomba untuk mendekatkan diri kepada-Nya? Maka dia akan mempertaruhkan jiwanya untuk mencintai-Nya, sehingga Dia menjadi sesuatu yang paling dicintai dari selain-Nya, keridhaan-Nya lebih didahulukan olehnya daripada keridhaan siapa pun selain-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin hati tidak nyaman untuk berdzikir kepada-Nya, melestarikan kecintaannya kepada-Nya, rindu kepada-Nya, dan senang dekat dengan-Nya? Padahal unsur itulah yang merupakan makanan, kekuatan dan obat baginya. Ketika unsur itu tiada, maka menjadi rusak dan binasalah hati. Hidup pun tak lagi bermanfaat baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Al-Fawa'id; Raudhah Al-Mahbub min Kalaam Muharrik Al-Qulub, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3259186268609808478?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3259186268609808478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/bagaimana-mengambil-manfaat-dari-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3259186268609808478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3259186268609808478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/bagaimana-mengambil-manfaat-dari-al.html' title='BAGAIMANA MENGAMBIL MANFAAT DARI AL-QUR&apos;AN'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-2148799080722568747</id><published>2009-12-23T09:02:00.000+08:00</published><updated>2009-12-23T09:08:10.388+08:00</updated><title type='text'>“SEANDAINYA AKU JADI WANITA AKU MALU MENJADI WANITA JIKA”</title><content type='html'>Kalau banyak orang lain&lt;br /&gt;Merasa bangga menjadi wanita,&lt;br /&gt;Karena wanita layak dipuja,&lt;br /&gt;Karena wanita cantik memesona,&lt;br /&gt;Karena wanita bisa dibeli dengan harta,&lt;br /&gt;Karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya,&lt;br /&gt;Maka justru sebaliknya,&lt;br /&gt;Dengan lantang aku berkata.. "aku malu menjadi wanita!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Aku malu menjadi wanita,&lt;br /&gt;Kalau faktanya wanita itu gampang&lt;br /&gt;diiming-i minggi harta dengan mengorbankan harga dirinya.&lt;br /&gt;Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu&lt;br /&gt;sebagai sumber maksiat, memikat,&lt;br /&gt;hingga mengajak pada jalan sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku malu menjadi wanita kalau ternyata&lt;br /&gt;dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga&lt;br /&gt;sanggup memunculkan syahwat.&lt;br /&gt;Aku malu menjadi wanita kalau ternyata&lt;br /&gt;Tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan- angan bagi pria.&lt;br /&gt;Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita&lt;br /&gt;tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya&lt;br /&gt;dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, aku malu menjadi wanita yang&lt;br /&gt;tidak sesuai dengan fitrahnya.&lt;br /&gt;Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi,&lt;br /&gt;sosok wanita yang seperti Allah harapkan.&lt;br /&gt;Aku malu, karena itu pertanda&lt;br /&gt;aku belum amanah terhadap titipan Allah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, selama ini aku sudah menjadi wanita macam apa.&lt;br /&gt;Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan,&lt;br /&gt;kalau- kalau pada hari akhir nanti&lt;br /&gt;Tak ada daya bagiku untuk&lt;br /&gt;mempertanggungjawab kan ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah,&lt;br /&gt;wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan .&lt;br /&gt;Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia,&lt;br /&gt;menyinari dengan cinta. Dari kesholehannya, akhlaknya,&lt;br /&gt;ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina&lt;br /&gt;dengan mengajarkannya ilmu dan agama.&lt;br /&gt;Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia,&lt;br /&gt;Hingga perjuangan itu terus ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku.&lt;br /&gt;Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri.&lt;br /&gt;Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan&lt;br /&gt;kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu.&lt;br /&gt;Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan&lt;br /&gt;akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah.."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-2148799080722568747?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/2148799080722568747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/seandainya-aku-jadi-wanita-aku-malu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/2148799080722568747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/2148799080722568747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/seandainya-aku-jadi-wanita-aku-malu.html' title='“SEANDAINYA AKU JADI WANITA AKU MALU MENJADI WANITA JIKA”'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-8828905698511933956</id><published>2009-12-23T09:01:00.000+08:00</published><updated>2009-12-23T09:02:46.919+08:00</updated><title type='text'>Profil Asiyah Istri Fir'aun...</title><content type='html'>Asiyah binti Muzahim merupakan salah satu diantara wanita-wanita pilihan yang pernah terukir dalam bingkai sejarah. Dia istri Fir’aun, seorang raja Mesir di zaman Nabi Musa. Saat bersama Fir’aun, Asiyah tidak dikaruniai seorang anak pun. Fir’aun sangat mencintainya karena kecantikan dan kematangan akhlaknya. Telah berapa banyak cobaan dan tantangan yang harus dihadapinya dengan penuh kesabaran. Bahkan, berbagai kesulitan mampu dirubah menjadi kemudahan, sehingga Asiyah dikenal sebagai rahmat, bagi masyarakat di zaman Fir’aun yang penuh dengan kelicikan dan lalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa yang seperti itulah muncul peristiwa yang akan menentukan sejarah hidup Nabi Musa selanjutnya. Disebutkan dalam sejarah kenabian, ketika Asiyah duduk-duduk di taman yang indah nan luas, dihiasi dengan aliran sungai mempesona. Dia melihat sebuah peti mengambang. Perlahan-lahan peti itu semakin mendekat sehingga Asiyah menyuruh para pembantunya untuk mengambil dan mengeluarkan isi peti tersebut. Ketika dibuka, ternyata di dalamnya terdapat seorang bayi mungil, elok dan rupawan. Maka, muncullah perasaan kasih sayang dalam diri Asiyah. Allah mengaruniakan cinta dan kasih sayang terhadap bayi tersebut melalui Asiyah. Tak pelak lagi, Asiyah memerintahkan agar bayi itu dibawa ke istana dengan bertekad memelihara dan mangasuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar berita tersebut, Fir’aun hendak membunuhnya, karena dia melihat mimpi yang selama ini menghantuinya tentang seorang anak yang kelak menghancurkannya. Para dukun dan ahli nujum dihadirkan dari seluruh pelosok negara. Mimpinya pun diceritakan kepada mereka, sehingga ia diperingatkan agar hati-hati dengan kelahiran seorang bayi yang akan menjadi penyebab kehancuran kerajaannya. Akhirnya, semua bayi laki-laki Bani Israel yang lahir diperintahkan agar dibunuh, kecuali bayi yang diasuh Asiyah. Fir’aun pun luluh dengan bujukan Asiyah ketika ia berkata: “Kita tidak mempunyai keturunan anak laki-laki, maka jangan bunuh anak ini. Semoga ada manfaatnya untuk kita atau kita jadikan dia sebagai anak kandung kita”. Fir’aun menyetujui dan menyarankan agar anak itu dididik sedemikian rupa. Asiyah memberi nama Musa terhadap anak tersebut dan mendidiknya hingga dewasa dalam istana Fir’aun. Dan kisah tentang ini tidak asing lagi bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, Asiyah merupakan salah seorang yang mempercayai Musa. Ketika Fir’aun mengetahui hal tersebut, tiba-tiba rasa cintanya berubah menjadi kemarahan dan permusuhan. Asiyah tidak mengindahkannya karena dirinya tahu bahwa kebenaran bersamanya. Dan dia pun tahu bahwa Musa as adalah utusan Allah yang kebenarannya tidak dapat dihalangi oleh tantangan dan ancaman yang datangnnya dari siapa saja. Hingga meninggal dunia, hari-hari akhirnya Asiyah hanya dipenuhi dengan dzikir kepada Allah seraya mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{"Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya"}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mengabulkan do’anya, bahkan dalam sebuah hadis Nabi saw disebutkan bahwa Asiyah termasuk diantara wanita-wanita yang mulia, diriwayatkan: [“Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam puteri Imron dan Asiyah istri Fir’aun”].&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-8828905698511933956?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/8828905698511933956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/profil-asiyah-istri-firaun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8828905698511933956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8828905698511933956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/profil-asiyah-istri-firaun.html' title='Profil Asiyah Istri Fir&apos;aun...'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-2551180288053052205</id><published>2009-12-23T09:00:00.002+08:00</published><updated>2009-12-23T09:01:34.033+08:00</updated><title type='text'>KENIKMATAN HIDUP</title><content type='html'>“Dan hendaklah kamu MEMINTA AMPUN kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi KENIKMATAN yang baik kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan (ajal) dan Dia akan memberi kepada setiap pemilik keutamaan (amal-amal perbuatan baik) balasan keutamaannya (karunia) . Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku (Muhammad) takut kamu akan ditimpa siksa pada hari yang besar (kiamat). Kepada Allah lah kembalimu, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Huud [11]:3-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya kennikmatan hidup itu?&lt;br /&gt;Manusia sering kali berpikir bahwa kenikmatan hidup adalah keinginan dalam kehidupan ini yang selalu terpenuhi. Ia mungkin lupa, setiap keinginan yang telah terpenuhi dapat saja luput dari ketentraman hidup, kebahagiaan dan kemuliaan diri atau dalam bahasa iman kita sebut dengan“Hidup yang penuh keberkahan”. Berapa banyak manusia yang merasa telah terpenuhi segala keinginannya, memperoleh kelapangan harta, ketinggian kedudukan, bahkan menduga telah meraih segala yang dicita-citakan tapi hidupnya selalu dipenuhi rasa was-was, dan kadangkala hina dimata orang lain. Ia jadi bahan gunjingan dan tumpuan kemarahan orang lain. Ia sanggup menghabiskan biaya yang tidak sedikit dalam membeli kenikmatan hidup, tapi nikmat itu hanya sebentar saja dirasakannya untuk kemudian hilang tak berbekas dan jiwanya kembali kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thahaa [20]: 124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentraman, kebahagiaan dan kemulian diri yang dalam bahasa iman kita sebut dengan “hidup yang penuh keberkahan” akan melahirkan kenikmatan hidup yang terus menerus seperti yang dimaksud dengan ayat 3-4 dalm QS Hud diatas. Seorang hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah selalu akan merasakan kelezatan iman dan ketentraman hidup dalam naungan illahi Rabbi. Sebuah jalan lurus yang ia tempuh akan menjadikan ia hidup dalam kemulian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah melalui Rasul-Nya yang mulia meminta kita untuk selalu memohon ampun dan senantiasa bertaubat kepada-Nya atas segala kesalahan kita. Dalam bahasa Fiqih, ibadah sholat baik yang wajib maupun yang sunnat adalah suatu kegiatan yang mengumpulkan segala bentuk dzikir dan istighfar kepada Allah Azza wa Jalla. Kita sadar bahwa sebagai hamba-Nya yang lemah kita tidak luput dari kealpaan dan kesalahan yang meliputi diri kita. Alangkah baiknya jika diluar ibadah sholat yang kita lakukan, lisan kita selalu dibasahi oleh dzikir tanda mengingat Allah dan istighfar tanda kita sadar akan kealpaan kita sebagai seorang hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Rasulullah saw pernah duduk beserta beberapa sahabatnya. Lalu datanglah seorang laki-laki. Dia bertanya dan mengeluhkan kemiskinannya kepada Nabi. Rasulullah bersabda, “Engkau harus beristigfar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian datang seorang laki-laki lainnya bertanya dan mengeluhkan sedikitnya anak. Maka Rasulullah bersabda, “Engkau harus beristigfar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas salah seorang sahabat, Abu Hurairah ra. berkata: “Ya Rasulullah, penyakitnya bermacam-macam, namun obatnya hanya satu.” Maka Rasulullah bersabda, “Aku akan bacakan kepada kalian apa yang telah disampaikan nabi Nuh kepada ummatnya.” Kemudian Rasulullah membaca firman Allah: “Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan mu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak mu, dan mengadakan untuk kamu kebun-kebun dan mengadakan untuk kamu sungai-sungai yang mengalir (didalamnya).’” (QS Nuh [71] 10-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah kemudian berkata: “Barangsiapa senantiasa membaca istigfar, maka Allah menjadikan baginya jalan keluar atas setiap kesulitan yang ia derita dan Allah memberi kelapangan atas setiap kesempitannya serta Allah memberi kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-2551180288053052205?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/2551180288053052205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/kenikmatan-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/2551180288053052205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/2551180288053052205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/kenikmatan-hidup.html' title='KENIKMATAN HIDUP'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3344426501921149702</id><published>2009-12-23T09:00:00.001+08:00</published><updated>2009-12-23T09:00:54.060+08:00</updated><title type='text'>Candanya Para Ulama (Syaikh al-Albani, Syaikh Ibn Baz &amp; Syaikh Ibn ‘Utsaimin rahimahumullah)</title><content type='html'>1. Ada seorang pemuda penuntut ilmu pernah naik mobil bersama Syaikh al-Abani rahimahullah. Syaikh al-Abani mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Melihatnya, maka pemuda itupun menegur:”Wahai Syaikh,ini namanya ‘ngebut’ dan hukumnya tidak boleh. “Syaikh ibnu Baz mengatakan bahwa hal ini termasuk menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Mendengarnya, Syaikh al-Albani rahimahullah tertawa lalu berkata:”Ini adalah fatwa seseorang yang tidak merasakan nikmatnya mengemudi mobil!!.” Pemuda itu berkata: “Syaikh, akan saya laporkan hal ini kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz.” Jawab Syaikh al-Abani;”Silahkan,laporkan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu melanjutkan ceritanya: “Suatu sa’at, saya bertemu dengan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di Makkah maka saya laporkan dialog saya dengan Syaikh al-Abani rahimahullah tersebut kepada beliau.Mendengarnya, beliau juga tertawa seraya berkata: ‘Katakan padanya:”ini adalah fatwa seseorang yang belum merasakan enaknya terkena denda!” (Al-Imam Ibnu Baz,Abdul Aziz as-Shadan hlm.73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diceritakan bahwa suatu ketika Raja Khalid rahimahullah mengunjungi&lt;br /&gt;rumah Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah, sebagaimana kebiasaan para raja sebagai sikap&lt;br /&gt;menghormati dan memuliakan para ulama. Dan ketika sang Raja melihat rumah&lt;br /&gt;Syaikh yg sangat sederhana maka raja menawarkan kepada Syaikh untuk&lt;br /&gt;dibangunkan sebuah rumah untuk beliau, Syaikh berterimakasih dan&lt;br /&gt;berkata:”Saya sedang membangun rumah di daerah As-Salihiyah (wilayah&lt;br /&gt;Unayzah, Qasim), bagaimanapun mesjidnya dan panti sosialnya membutuhkan&lt;br /&gt;bantuan (dana)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setelah sang Raja pergi, beberapa orang yg ikut dlm pertemuan itu&lt;br /&gt;berkata: “Wahai Syaikh, kami tidak mengetahui kalau anda sedang membangun&lt;br /&gt;rumah di As-Salihiyah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Syaikh menjawab: “Bukankah pekuburan ada di As-Salihiyah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ad-Dur Ath-Thamin Fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-`Allamah ibn Utsaimin – p.218)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ada salah seorang suami dari cucu Syaikh Ibnu Baz menemui beliau dan berkata, “Wahai Syaikh, kami ingin agar engkau mengunjungi dan makan di rumah kami”. Jawaban beliau, “Tidak masalah, jika engkau menikah untuk kedua kalinya maka kami akan datang ke acara walimah insya Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pulang, orang ini bercerita kepada istrinya tentang apa yang dikatakan oleh kakeknya. Kontan saja cucu perempuan dari Syaikh Ibnu Baz buru-buru menelpon kakeknya. “Wahai Syeikh, apa maksudnya?”. Ibnu Baz berkata kepada cucunya, “Kami hanya guyon dengan dia. Kami tidak mengharuskannya untuk nikah lagi. Kami akan berkunjung ke rumahmu meski tidak ada acara pernikahan”. (www.ustadzaris.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Abdullah bin Ali Al-Matawwu’ menceritakan bahwa dia menemani Syaikh Ibn&lt;br /&gt;Utsaimin (dari Unayzah) menuju Al-Bada-i yg jaraknya 15 km dari Unayzah&lt;br /&gt;untuk memenuhi undangan makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang, ketika mereka dlm perjalanan pulang mereka melihat&lt;br /&gt;seorang dgn jenggot berwarna merah (mungkin dicelup dgn hinna) dgn wajah&lt;br /&gt;tenang melambaikan tangan (mencari tumpangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh berkata: “Pelanlah! kita akan mengajaknya bersama kita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Syaikh berkata kpd orang itu: “Engkau mau kemana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu menjawab: “Ajak aku bersama kalian ke Unayzah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh berkata: “Dengan dua syarat, pertama engkau tidak boleh merokok,&lt;br /&gt;kedua engkau harus mengingat Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu menjawab: “Masalah rokok, aku tidak merokok, walaupun tadi aku&lt;br /&gt;menumpang seseorang yg merokok dan (karena itu) aku minta diturunkan&lt;br /&gt;disini, dan tentang mengingat Allah maka tidak ada muslim kecuali dia&lt;br /&gt;mengingat Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang itu naik ke mobil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Terlihat jelas sepanjang perjalanan bahwa) orang itu tidak menyadari&lt;br /&gt;kalau dia sedang bersama Syaikh Ibn Utsaimin. Ketika tiba di Unayzah orang&lt;br /&gt;itu berkata:”Tunjukkan padaku rumah Syaikh Ibn Utsaimin, karena aku punya&lt;br /&gt;pertanyaan yg ingin aku tanyakan pada beliau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka Syaikh berkata:”Kenapa tidak engkau tanyakan pada beliau ketika&lt;br /&gt;engkau bertemu dgn beliau di Al-Bada-i?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu berkata:”Aku tidak bertemu dgn beliau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh berkata:”Aku melihat sendiri engkau berbicara dgn beliau dan&lt;br /&gt;memberi salam kpdnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu berkata:”Engkau mempermainkan orang yg lebih tua dari orang tuamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh tersenyum dan berkata kpdnya:”Shalat Ashar-lah di mesjid ini (Jami’&lt;br /&gt;Unayzah) nanti engkau akan melihat beliau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu pergi tanpa mengetahui bahwa tadi dia sedang berbicara dgn&lt;br /&gt;Syaikh Ibn Utsaimin sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia selesai shalat Ashr, orang itu melihat Syaikh didepan selesai&lt;br /&gt;mengimami shalat jama’ah, maka dia bertanya (pada orang lain) tentang&lt;br /&gt;beliau, dan diberitahukan kpdnya bahwa Syaikh itu adalah Syaikh Ibn&lt;br /&gt;Utsaimin. Maka orang itu mendekati Syaikh dan meminta maaf karena tidak&lt;br /&gt;mengenali beliau tadi(diperjalanan), kemudian dia menyampaikan&lt;br /&gt;pertanyaannya. Syaikh pun menjawab pertanyannya, dan orang itu mulai&lt;br /&gt;menangis memohon kpd Syaikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Al-Jami’ li Hayaat Al-`Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jika ada seorang yang berkunjung ke rumah Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, maka beliau pasti menawari orang tersebut untuk turut makan malam bersama beliau. Jika orang tersebut beralasan, “Wahai Syaikh, saya tidak bisa” maka dengan nama berkelakar Ibnu Baz berkata, “Engkau takut dengan istrimu ya?! Marilah makan malam bersama kami”. (www.ustadzaris.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dalam pelajaran fiqih, ketika membahas tentang cacat di dalam pernikahan, seorang murid bertanya kepada Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah : “Wahai syaikh, bagaimana seandainya ada seorang laki-laki menikah, ternyata setelah itu ketahuan istrinya tidak punya gigi, bolehkah dia mencerainya?”&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab : “Itu istri yang sangat istimewa!! Karena dia tidak muungkin dapat menggigitmu!!” (Majalah al-Furqon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ketika Syaikh Ibnu Baz rahimahullah hendak rekaman untuk acara Nurun ‘ala Darb (acara tanya jawab di radio Al Qur’an Al Karim di Saudi), biasanya beliau melepas kain sorbannya dan dengan nada canda beliau berkata, “Siapa yang mau memikul amanah?”. Jika ada salah seorang yang ada di tempat tersebut mengatakan, “Saya” maka beliau berkata, “Silahkan ambil”. (www.ustadzaris.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Seseorang bertanya kepada Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah: “Ada sebuah Hadist mengatakan : ‘Tidak ada pertaruhan dalam perlombaan kecuali lomba panah,atau onta, atau kuda’. Apa pendapat anda mengenai orang yang menyelenggarakan lomba untuk ayam dan merpati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab: “Wallahi- Ya akhiy- Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata “Tidak ada pertaruhan dalam perlombaan kecuali lomba panah,atau onta, atau kuda”.”As-Sabaq” disini bermakna “Al-’audh”(mengganti). Karena hal-hal ini membantu dalam kondisi peperangan. Karena ada faidah (manfaat) darinya.Pembuat syariat membolehkan berlomba pada hal tersebut.Apabila ayam mu bisa membantumu dalam peperangan bisa kau tunggani ,meninju (melompat) dan menggali..maka tidak mengapa, jika tidak maka jangan…..”&lt;br /&gt;(Liqo Bab Al-Maftuh pertanyaan ketiga,kaset No.200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Seseorang bertanya kepada Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah : “Apa hukum menggantungkan doa-doa di mobil seperti doa menaiki kendaraan atau safar dan lain sebagainya.Apa jawaban bagi yang berkata bahwa hal tersebut termasuk tamimah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab: “Termasuk tamimah (jimat)? Saya katakan terhadap orang yang berkata bahwa hal ini tergolong tamimah: Sungguh telah benar, apabila mobilnya sakit!! Digantungkan doa-doa ini di mobil nya bukan di penumpangnya,dan diletakkan di mobilnya juga baik karena bisa mengingatkan penumpang dengan doa menaiki kendaraan.Atau dengan doa safar.Semua yang bisa membantu kebaikan maka hal itu baik.Saya tidak memandang menggantungknnya tidak boleh.Ini bukan termasuk tamimah kecuali sebagaimana saya katakan tadi :Jika mobilnya sedang sakit,kemudian digantungkannya doa-doa ini kemudian sembuh dengan idzin Allah!! Oleh karenanya perkara ini baik-baik saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Liqo As-Syahri ,kaset No.9 Side B)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Diceritakan oleh Ihsan bin Muhammad Al-Utaybi; Setelah selesai shalat di masjidil haram al-makki, Syaikh meninggalkan Al-Haram untuk pergi ke suatu tempat dgn mobil, maka beliau menghentikan sebuah taxi dan menaikinya. Dalam perjalanan, sang supir ingin berkenalan dgn penumpangnya, maka dia menanyakan:”(Nama)anda siapa wahai Syaikh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh menjawab:”Muhammad bin Utsaimin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terkejut sang supir bertanya:”Syaikh Ibn Utsaimin?” karena mengira Syaikh berbohong kpdnya, sebab dia tidak menyangka seorang seperti Syaikh Ibn Utsaimin akan menjadi penumpang taxi nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Syaikh menjawab:”Ya, Asy Syaikh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sopir taksi memutar kepalanya untuk melihat wajah Asy-Syaikh Al-Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh pun bertanya:”Siapakah (nama) kamu wahai saudaraku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supir itu menjawab:”Saya Asy Syaikh Abdul`Aziz bin Baz!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh pun tertawa dan menanyakan:”Engkau Syaikh Abdul`Aziz bin Baz?!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supir taxi itu menjawab:”Ya, seperti anda Syaikh Ibn Utsaimin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Syaikh berkata:”Tapi kan Syaikh Abdul`Aziz bin Baz buta, dan beliau&lt;br /&gt;tidak menyetir mobil”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu sang supir taxi mulai menyadari bahwa penumpang yg duduk&lt;br /&gt;disebelahnya benar-benar Syaikh Ibn Utsaimin. Dan sungguh kacau apa yg dia hadapi sekarang (salah tingkah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Safahat Musyiqah min Hayaatil Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.79&lt;br /&gt;Ref:Al-Madinah ((Ar-Risalah)), nomor:13788)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Diceritakan oleh Abu Khalid AbdulKarim Al-Miqrin; Ketika di studio sedang&lt;br /&gt;melakukan rekaman acara “Pertanyaan melalui Telepon”, seorang saudara&lt;br /&gt;bernama Sa’d Khamis selalu berkata kpd Syaikh setiap kali selesai sesi&lt;br /&gt;rekaman:”Jazakallahu khairan wahai Syaikh, (dan semoga) Allah mengasihi&lt;br /&gt;kedua orang tua Anda”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(pada kesempatan kali ini) Syaikh berkata:”Aamiin ya Sa’d, dan untukku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Sa’d barkata (lagi):”Semoga Allah mengasihi kedua orang tuamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Syaikh menjawab (lagi):”Aamiin, dan untukku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sa’d Khamis menyadari apa yg dimaksud (oleh perkataan Syaikh),&lt;br /&gt;maka dia berkata:”Semoga Allah mengasihi Anda dan semoga Allah mengasihi&lt;br /&gt;kedua orang tua Anda dan semoga Allah membalas kebaikan Anda dgn&lt;br /&gt;sebaik-baik balasan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Syaikh pun tersenyum lalu tertawa, dan kita semuapun tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Arba`ah`asyar`aam ma`a Samahatiil-`Allamah Asy-Syaikh Ibn Utsaimin – p.63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://alqiyamah.wordpress.com/2009/12/18/candanya-para-ulama-syaikh-al-albani-syaikh-ibn-baz-syaikh-ibn-utsaimin-rahimahumullah/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3344426501921149702?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3344426501921149702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/candanya-para-ulama-syaikh-al-albani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3344426501921149702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3344426501921149702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/candanya-para-ulama-syaikh-al-albani.html' title='Candanya Para Ulama (Syaikh al-Albani, Syaikh Ibn Baz &amp; Syaikh Ibn ‘Utsaimin rahimahumullah)'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-8724112907835717293</id><published>2009-12-21T15:01:00.000+08:00</published><updated>2009-12-21T15:02:24.085+08:00</updated><title type='text'>99 Petuah Orang-Orang Alim</title><content type='html'>1.  Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus meski hanya sedikit. (Kanjeng Nabi)&lt;br /&gt;   2. Akan kuberikan ilmu yang kumiliki kepada siapapun, asal mereka mau memanfaatkan ilmu yang telah kuberikan itu. (Imam Syafi’i)&lt;br /&gt;   3. Jangan sampai ayam jantan lebih pandai darimu. Ia berkokok di waktu subuh, sedang kamu tetap lelap dalam tidur. (Lukman Hakim).&lt;br /&gt;   4. Apabila secara kebetulan kamu menjadi orang yang dekat dengan penguasa, maka berhati-hatilah kamu seolah-olah kamu sedang berdiri di atas pedang yang tajam sekali. (Imam Ghozali)&lt;br /&gt;   5. Aku tak suka memakai baju baru, hal itu kulakukan karena aku takut timbul iri hati tetangga-tetanggaku. (Abu Ayub as-Sakhtayani).&lt;br /&gt;   6. Allah telah memberikan petunjuk kepadaku sehinga aku bisa mengenali diriku sendiri dengan segala kelemahan dan kehinaanku. (Ali BinAbu Thalib).&lt;br /&gt;   7. Andaikata seseorang mau memikirkan kebesaran Allah, maka ia takkan sampai hati untuk melakukan perbuatan perbuatan dosa. (Bisyir)&lt;br /&gt;   8. Sifat rendah hati, yaitu taat dalam mengerjakan kebenaran dan menerima kebenaran itu yang datangnya dari siapapun. (Fudlail bin Iyadl).&lt;br /&gt;   9. Dalam shalatku selama 40 tahun, aku tak pernah lupa mendo’akan guruku yang bernama Imam Syafi’i. Itu kulakukan karena aku memperolah ilmu dari Allah lewat beliau. (Yahya bin Said al-Qathan).&lt;br /&gt;  10. Orang yang beramal tanpa didasari ilmu, maka amalnya akan sia-sia belaka, karena tidak diterima oleh Allah. (Ibnu Ruslan).&lt;br /&gt;  11. Fikiran merupakan sumber dari ilmu, sedang ilmu itu sendiri merupakan sumber amal. (Wahb).&lt;br /&gt;  12. Orang yang mengerti ilmu fikih berarti ia bisa makrifat kepada Allah dengan ilmunya menyebabkan ia kenal kepada-Nya. Bahkan dengan ilmunya ia bisa mengajar orang lain sampai pandai. (Syeikh Izzuddin bin Abdussalam).&lt;br /&gt;  13. Jangan berteman yang hanya mau menemanimu ketika kamu sehat atau kaya, karena tipe teman seperti itu sungguh berbahaya sekali bagi kamu dibelakang hari.(Imam Ghozali).&lt;br /&gt;  14. Jika ada musuh yang bisa mendekatkan kamu kepada Allah, maka hal itu lebih baik dari pada teman akrab yang menjauhkan kamu dari Allah. (Abul Hasan as-Sadzili).&lt;br /&gt;  15. Wahai Sayyidina Ali! Ketahuilah olehmu bahwa ada dua golongan yang celaka di hadapanmu. Pertama yaitu yang terlalu cinta kepadamu. Dan kedua yang terlalu benci kepadamu. (Kanjeng Nabi).&lt;br /&gt;  16. Orang yang bijak tidak akan terpeleset oleh harta, dan meski terpeleset, ia akan tetap mendapatkan pegangan. (Abdullah bin Abbas).&lt;br /&gt;  17. Berfikir sesaat sungguh lebih mengesankan ketimbang mengerjakan shalat sepanjang malam. (Hasan Bashri).&lt;br /&gt;  18. Hal-hal yang bisa menyebabkan badan lemah antara lain sebagai berikut: Banyak makan makanan yang rasanya masam, sering bersedih, banyak minum air tetapi tidak makan sesuatu, serta sering melakukan hubungan seksual. (Imam Ghazali).&lt;br /&gt;  19. Barang siapa tidak mencintai untuk agama dan membenci untuk agama, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki agama. (Abu Abdilah al- Shdiq).&lt;br /&gt;  20. Berhati-hatilah dari berteman dengan : Ulama yang bersikap tak peduli, pecinta ajaran sufi yang bodoh serta pemimpin-pemimpin yang lalai. (Sahl bin Abdullah).&lt;br /&gt;  21. Inginkan sesuatu dengan bakat yang kau miliki, dan jangan menginginkan sesuatu sesuai dengan nafsu atau seleramu. (Lukman Hakim).&lt;br /&gt;  22. Bagi orang berilmu yang ingin meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, maka kuncinya hendakalah ia mengamalkan ilmunya kepada orang-orang. (Syaikh Abdul Qodir Jailani).&lt;br /&gt;  23. Merenungkan tentang nikmat Allah sungguh merupakan salah satu ibadah yang utama. (Umar bin Abdul Azis).&lt;br /&gt;  24. Teman yang tidak membabantu kesulitan seperti halnya musuh. Tanpa saling membantu maka hubungan teman tak akan lama. Telah kucari teman sejati dalam setiap masa, akan tetapi usahaku itu siasia belaka. (Imam Syafií).&lt;br /&gt;  25. Lihatlah orang-orang yang dibawahmu dalam usrusan harta dunia, dan jangan sekali-kali melihat yang berada di atasmu, supaya kamu tidak meremehkan karunia Allah yang diberikan kepadamu. (Kanjeng Nabi).&lt;br /&gt;  26. Sedikit makan, sedikit tidur, dan sedikit kesenangan merupakan ciri-ciri orang yang dicintai oleh Allah. (Abu Bakar bin Abdullah Al-Muzani).&lt;br /&gt;  27. Barang siapa senang menjadi pemimpin, maka ia tidak akan mendapat kemenagan untuk selama-lamanya. (Fudhail bin Iyadh).&lt;br /&gt;  28. Siapa yang pada hari ini hanya memikirkan dirinya sendiri maka pada esok iapun akan memikirkan dirinya saja. Lebih dari itu, siapa yang pada hari ini memikirkan Allah maka besok ia akan selalu memikirkan Allah pula. (Abu Sulaiman).&lt;br /&gt;  29. Bersikap sabar kepada kawan yang berbuat jelek kepadamu sungguh lebih baik dari pada mencacinya. mencaci lebih baik dari pada memutuskan talisilaturahmi. Dan memutuskan tali silaturahmi lebih baik dari pada bertengkar. (Seorang Ulama).&lt;br /&gt;  30. Allah tidak memberi kekuatan terhadap orang-orang alim lewat suatu paksaan, akan tetapi Allah menguatkan mereka lewat pintu iman. (Sahl Ibnu Abdullah).&lt;br /&gt;  31. Ketahuilah olehmu, sesungguhnya akal hanya merupakan sesuatu alat untuk mencapai segala sesuatu yang hanya berhubungan dengan hamba atau manusia, bukan untuk mencapai Allah. (Ibnu Atha).&lt;br /&gt;  32. Jangan sekali-kali kamu menganggap remeh kebajikan meski kelihatannya tidak berharga, yaitu seperti ketika kamu menyambut temanmu dengan menampakkan wajah berseri-seri. (Kanjeng Nabi Muhammad).&lt;br /&gt;  33. Jika seseorang mati dalam keadaan punya hutang, padahal orang itu mampu membayarnya ketika masih hidup di dunia, maka kebahagiaannya akan diambil dan diberikan kepadanya dosa orang yang di hutanginya, lalu ia dijebloskan ke neraka. Namun, jika memang tidak mampu membayarnya, maka hanya kebaikannya saja yang diambil, lalu diberikan kepada pihak yang dihutangi. sedang dosa si pemberi hutang tidak diberikan kepada orang yang berhutang. (Ibnu Abdusalam).&lt;br /&gt;  34. Jalan yang diajarkan syariát islam adalah jalan yang paling tepat dalam pengerjaan ibadah kepada Allah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah istiqomah dalam mengerjakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. (Abdu Khodir jailani).&lt;br /&gt;  35. Hendaklah kamu tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu. (Lukman Hakim).&lt;br /&gt;  36. Kebahagiaanku jika mati sebelum baligh lalu aku dimasukkan kedalam syurga, tidak sebahagia jika aku hidup sampai tua dalam keadaan mengenal Allah yaitu yang paling bertaqwa, rajin mengerjaklan ibadah serta menerima apa apa yang telah di berikan Allah kepadaku. (Ali bin Abu Tholib).&lt;br /&gt;  37. Jika Allah bersamamu, maka jangan takut kepada siapa saja, akan tetapi jika Allah sudah tidak lagi bersamamu, maka siapa lagi yang bisa diharapkan olehmu? (Hasan al Banna).&lt;br /&gt;  38. Barang siapa tidak peduli terhadap nasib agama, berarti ia tidak punya agama, barang siapa yang semangatnya tidak berkobar-kobar jika agama Islam ditimpa suatu bencana, maka Islam tidak butuh kepada mereka. (Imam al-Ghazali).&lt;br /&gt;  39. Ilmu menginginkan untuk diamalkan. Apabila orang mengamalkannya, maka ilmu itu tetap ada. Namun sebaliknya, jika tidak diamalkan, maka ilmu akan hilang dengan sendirinya. (Sufyan ats-Tsauri).&lt;br /&gt;  40. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ilmu yang bisa melahirkan rasa takut kepada Allah adalah ilmu yang paling baik. (Ibnu Athaillah as-Sakandari). Bekerjalah untuk keperluan makanmu. Sedang yang paling baik bagi kau yaitu bangun di tengah malam dan berpuasa di siang hari. (Ibrahim bin Adham).&lt;br /&gt;  41. Jalan apa saja yang ditempuh seseorang dalam mengerjakan ibadah adalah sesaat kecuali jalan yang ditempuh oleh Kanjeng nabi Muhammad. Dalam pada itu, siapapun yang tidak mengikuti petunjuk kitab suci Al-Qurán dan hadits nabi, maka janganlah ia mengikuti pendapatku. Hal itu karena pendapatku berasal dari Qurán –Hadits. (Imam al-Junaid).&lt;br /&gt;  42. Orang yang tidak percaya bahwa Allah telah menjamin rezekinya, maka ia akan mendapat laknat dari Allah. (Hasanal-Bashri).&lt;br /&gt;  43. Dzikir seperti halnya jiwa dari semua amal, sedang keutamaan dan kelebihan dzikir tidak bisa dibatasi. (AL-Qusyairi).&lt;br /&gt;  44. Orang-orang yang tidak mengikuti keinginan-keinginan hawa nafsunya, maka tidak akan mendapat pujian dari orang banyak. (Imam al-Ghazali).&lt;br /&gt;  45. Orang dermawan dekat kepada Allah, dekat pada rahmat-Nya, serta selamat dari siksa-Nya. Sedang orang kikir, jauh dari Allah, jauh dari rahmat-Nya dan dekat sekali kepada siksa-Nya. (Kanjeng Nabi).&lt;br /&gt;  46. Barang siapa tidak meghargai nikmat, maka nikmat itu akan diambil dalam keadaan ia tidak mengetahuinya. (Siriy Assaqathi).&lt;br /&gt;  47. Mengerjakan sesuatu sesuai dengan ketentuan hukum syara’ berarti menuju jalan kebahagiaan baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Dan hendaklah kamu merasa takut jika kamu berpisah dengan orang-orang yang ahli di bidang agama. (Syaikh Abdul Qadir Jailani).&lt;br /&gt;  48. Saya merasa heran kepada orang-orang yang mengerjakan shalat subuh setelah matahari terbit. Lalu bagaimana mereka diberi rezeki. (Ulama Shalaf).&lt;br /&gt;  49. Para pembuat peti jenasah mengira bahwa tidak ada yang lebih busuk melebihi mayat orang-orang yang beriman. Bahkan diterangkan oleh Allah : Perut ulama jahat sungguh lebih busuk baunya dari itu. (Al-Auzaí).&lt;br /&gt;  50. Orang yang hanya sehari-harinya hanya sibuk mencari uang untuk kesejahteraan keluarganya, maka mustahil ia mendapat ilmu pengetahuan. (Imam Syafií).&lt;br /&gt;  51. Tanda tanda orang yang celaka antara lain: Bergairah dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan haram, menjauhi nasihat ulama dan selalu menyendiri jika mengerjakan shalat. (Kanjeng Nabi).&lt;br /&gt;  52. Manisnya akhirat mustahil diraih oleh orang-orang yang suka terkenal di mata manusia. (Bisyir).&lt;br /&gt;  53. Dengan pengalaman akan bertambah ilmu pengetahuannya, dengan berdzikir menyebabkan bertambah rasa cinta dan dengan berfikir akan menambah rasa taqwa kepada Allah. (Hatim).&lt;br /&gt;  54. Aku akan mencari ilmu hanya karena Allah, dan aku tidak akan mencari jika untuk selain Allah. (Imam al-Ghazali).&lt;br /&gt;  55. Berfikir merupakan cermin untuk melihat apa-apa yang baik dan yang buruk pada dirimu. (Fudhail).&lt;br /&gt;  56. Ketahuilah bahwa satu majelis ilmu bisa menghapus dosa 70 majelis yang tidak ada gunanya. (Atha’bin Yassar).&lt;br /&gt;  57. Kulupakan dadaku dan kubelenggu penyakit tamakku, karena aku sadar bahwa sifat tamak bisa melahirkan kehinaan. (Imam Syafií).&lt;br /&gt;  58. Biasakan hatimu untuk bertafakur dan biasakan matamu dengan sering menangis. (AbuSulaiman ad-Darani).&lt;br /&gt;  59. Hidup didunia hanya merupakan tempat tinggal sementara untuk melanjutkan perjalanan nan jauh menuju keabadian. (Kanjeng Nabi).&lt;br /&gt;  60. Setiap manusia hendaknya memperhatikan waktu dan sekaligus mengutamakannya. (Umar bin Utsman al-Maliky).&lt;br /&gt;  61. Apabila kamu melihat seseorang sedang memanjatkan doá kepada Allah, tetapi disisi lain perbuatannya tidak sesuai dengan hukum syara’, maka jauhilah orang itu. (Abdul Qasim an-Nawwawi).&lt;br /&gt;  62. Kuakui bahwa dosaku banyak sekali. Tapi, aku sadar, sesungguhnya rahmat Allah lebih luas dan lebih besar dari dosa-dosaku. (Abu Nawas).&lt;br /&gt;  63. Jika kamu berhadapan dengan gurumu, sesungguhnya secara hakikat kamu sedang berhadapan dengan rasul. Sadar akan hal itu, maka hormatilah gurumu. (Sebagian Ulama).&lt;br /&gt;  64. Setiap kamu adalah pemimpin, yaitu : Pemimpin terhadap diri dan keluarganya, pemimpin terhadap masyarakat dan bangsanya.( Mousthafaal-Gholayaini). Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat, sedang pengkhianat yang paling keji yaitu pengkhianatan pemimpin. (Ali bin Abu Thalib).&lt;br /&gt;  65. Berteman dengan orang yang bodoh yang tidak mengikuti ajakan hawa nafsunya sungguh lebih baik bagi kamu ketimbang berteman dengan orang alim tapi suka terhadap nafsuya. (Ibnu Athaillah as-Sakandari).&lt;br /&gt;  66. Siapa takut kepada Allah, maka tidak hidup marahnya, Siapa yang bertaqwa kepada-Nya, niscaya tidak mengerjakan sesukanya. (Umar bin Khathhab).&lt;br /&gt;  67. Ya Allah! Seandainya Engkau akan mengadili kelak pada hari kiamat, maka jangan Kau adili aku di dekat Nabi Muhammad, karena aku merasa malu jika mengaku sebagai umatnya padahal hidupku penuh dengan perbuatan dosa. (Muhammad Iqbal).&lt;br /&gt;  68. Cintai dan sayangilah para fakir miskin, maka Allah akan menyayangimu. (Kanjeng Nabi).&lt;br /&gt;  69. Hendaklah kamu menjauhi keramaian orang banyak atau berúzlah,. Katakan demikian, karena orang banyak bisa menyebabkan kamu berpaling dari Allah serta mendorong kamu untuk berbuat dosa. (Sayyid Bakri al-Maliki).&lt;br /&gt;  70. Yang disebut orang sufi, yaitu orang yang hatinya bersih dan selalu mengingat Allah. (Basyar bin al-Harits).&lt;br /&gt;  71. Tidak ada suatu kebahagiaan bagi ornag-orang muslim setelah mereka memeluk Islam, seperti kebahagiaan mereka ketika itu. (Anas r.a.).&lt;br /&gt;  72. Telah kurangkum pendapat 70 orang shiddiqin. Mereka sebagaian besar berpendapat bahwa banyak minum bisa menyebabkan banyak tidur. (Ibrahim bin Khawwas).&lt;br /&gt;  73. Aku tidak pernah melihat orang yang berakal, melainkan kutemukan dia takut kepada mati dan merasa susah dengannya. (Hasan).&lt;br /&gt;  74. Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika ia berpendapat salah. (Imam Syafií).&lt;br /&gt;  75. Wahai pemburu dunia! Berbuatlah kebajikan dan hendaklah kamu meninggalkan dunia, karena hal itu lebih baik bagimu. (Nabi Isa).&lt;br /&gt;  76. Barang siapa tidak dicoba dengan bencana atau kesusahan, maka tidak ada sebuah kebahagiaanpun baginya di sis Allah. (Adh-Dhahhak).&lt;br /&gt;  77. Perbanyaklah kamu mengingat mati, karena hal itu bisa membersihkan dosa dan menyebabkan zuhud atau tidak cinta kepada dunia. (Kanjeng Nabi).&lt;br /&gt;  78. Orang yang cinta kepada Allah akan minum dari gelas kecintaan dan bumi menjadi sempit baginya. Ya, dia mengenal Allah dengan penuh ma’rifat kepada-Nya, tenggelam di samudra rindu kepada-Nya dan merasa asyik bermunajat kepada-Nya. (Asy-Syubali).&lt;br /&gt;  79. Aku suka mendoákan saudara-saudaraku sebanyak 70 orang, dan nama-nama mereka kusebut satu persatu dalam panjatan doáku itu. (Abu Darba).&lt;br /&gt;  80. Setiap manusia mempunyai orang yang dicintai dan yang dibenci. Tapi bagimu, jika ada maka berkumpullah kamu dengan orang-orang yang bertaqwa. (Imam Syafií).&lt;br /&gt;  81. Orang orang terdahulu jika pergi kerumah gurunya, maka mereka senantiasa memberi sesuatu untuk minta berkah. Bahkan mereka selalu menyenandungkan doá seperti ini: wahai Allah!”Ampunilah semua kesalahan guruku terhadapku, dan jangan sekalai-kali engkau menghilangkan berkah ilmunya untukku. (Sebagaian Ulama).&lt;br /&gt;  82. Jika aku mandapat ampunan dari Allah, maka hal itu merupakan rahmat yang sangat besar dari-Nya. Tetapi, jika sebaliknya, maka aku tidak akan mampu berbuat apapun. (Abu Nawas).&lt;br /&gt;  83. Pangkal dari seluruh kebaikan di dunia maupun di akhirat adalah taqwa kepada Allah. (Abu Sulaiman Addarani).&lt;br /&gt;  84. Orang yang ma’rifat kepada Allah, maka ia terikat dengan cintannya, hatinya bisa melihat dan amal ibadahnya selalu bertambah banyak kepada-Nya. (Dzinnun al-Mishry).&lt;br /&gt;  85. Siapa yang memenuhi hatinya dengan kewaspadaan dan keikhlasan, maka Allah akan menghiasi badannya sebagai pembela agama dan menjadikan hadits sebagai pedoman hidup.&lt;br /&gt;  86. Yang disebut dengan teguh hati adalah memegang dengan sungguh-sungguh apa-apa yang dibutuhkan oleh kamu dan membuang yang selain itu. (Aktssam bin Shaifi).&lt;br /&gt;  87. Orang yang terkaya yaitu orang yang menerima pembagian Allah dengan rasa senang. (Ali bin Husein).&lt;br /&gt;  88. Kerjakan apa saja yang telah menjadi hak dan kewajibanmu, karena kebahagiaan hidupmu terletak di situ. (Musthafa al-Gholayani).&lt;br /&gt;  89. Ada dua hal tidak tertandingi kejelekannya, yaitu: Berbuat syirik dan membuat rugi umat Islam. Begitu pula, terdapat dua perkara yang tidak tertandingi kebaikannya, ialah : Beriman kepada Allah, serta memberi manfaat kepada umat Islam. (Kanjeng Nabi).&lt;br /&gt;  90. Pedagang yang berhati lemah takkan pernah untung ataupun rugi. Malah ia rugi. Ya, seseorang harus menyalakan api supaya memperoleh cahaya. (Jalaludin Rumi).&lt;br /&gt;  91. Aku membaca sebagian kitab kuno, yang kandungannya ialah : Bahwasannya sebagian hal yang dipercepat siksaannya dan tak dapat ditunda adalah amanat itu dikhianati , kebaikan ditutupi, keluarga diputuskan dan meninds manusia. (Kholid ar-Robaí).&lt;br /&gt;  92. Memerintah atau mengawasi diri sendiri jauh lebih sulit dan lebih baik dari pada memerintah dan mengawasi sesuatu negeri. (Ibrahim bin Adham).&lt;br /&gt;  93. Ciri-ciri ulama akhirat antara lain: dia sangat berhati-hati dalam memberi fatwa, bahkan bersikeras untuk tidak bertaqwa sama sekali. Apabila ditanya oleh orang tentang segala sesuatu yang diketahui baik yang bersumber dari Al Qurán, hadits, ijma’dan kiyas, maka ia menjelaskan sesuai dengan kemampuannya. Sebaliknya, jika ia tidak mengetahui secara pasti, maka dengan jujur ia berkata : aku tidak tahu. (Imam al-Ghazali).&lt;br /&gt;  94. Hati-hatilah terhadap senda gurau, karena tidak sedikit bahaya yang terdapat didalamnya. Berapa banyak senda gurau anatara dua sahabat yang berakhir pada perkelahian.&lt;br /&gt;  95. Dunia adalah perniagaan, pasarnya ialah menyendiri, modalnya adalah taqwa, dan labanya adalah surga. (Aku Sulaiman ad-Darani).&lt;br /&gt;  96. Kehidupan seorang mukmin ibarat matahari, terbenam di suatu wilayah untuk terbit di wilayah lainnya. Dia selalu bersinar dan hidup serta tak pernah terbenam selamanya. (Muhammad Iqbal).&lt;br /&gt;  97. Keluarlah dari dirimu dan serahkanlah segalanya kepada Allah. Penuhi hatimu dengan Allah. Patuhilah kepada perintah-Nya dan larikanlah dirimu dari larangan-Nya, supaya nafsu badaniahmu tidak memasuki hatimu setelah ia keluar. Untuk membuang nafsu-nafsu badaniah dari hatimu, kamu harus berjuang melawannya dan jangan menyerah kepadanya dalam keadaan bagaimanapun juga dan dalam tempo kapanpun juga. (Syeikh Abdul QadirJailani).&lt;br /&gt;  98. Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan adalah akhlak ular. Kebajikan yang dibalas dengan kejahatan adalah akhlak buaya. kebajikan yang dibalas dengan kebajikan adalah akhlak anjing. Kejahatan yang dibalas dengan kebajikan itulah akhlak manusia. (Nasirin).&lt;br /&gt;  99. Ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui tingkah laku nafsu dan sifat-sifatnya baik sifat buruk maupun sifat yang terpuji. Jadi dari kisah sebuah gilingan tersebut di atas, maka jika diterapkan pada manusia yakni mempelajari nafsu manusia yang ada kaitannya dengan tingkah laku dan sifat-sifatnya. Mempelajari tasawauf hukumnya fardhuáin (wjib bagi setiap orang Islam yang mukalaf). Karena dapat dipergunakan untuk memperindah, memperbaiki dan memperbagus hati. Itulah seratus “Petuah Emas”orang-orang alim yang dapat kita jadikan sebagai pedoman hidup atau minimal bisa difungsikan sebagai pegangan dalam rangka membentuk pribadi-pribadi yang Islami secara kafah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang alim yang kelak berhak mendiami surga dan selamat dari siksa-siksa pedih di neraka. Hanya kepada Allah kita mengharap ridha, dan hanya kepada-Nya kita berpasrah diri. Amin, Amin, Ya, Rabbal álamin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-8724112907835717293?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/8724112907835717293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/99-petuah-orang-orang-alim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8724112907835717293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8724112907835717293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/99-petuah-orang-orang-alim.html' title='99 Petuah Orang-Orang Alim'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-6716927771383123133</id><published>2009-12-13T14:16:00.001+08:00</published><updated>2009-12-14T10:50:57.276+08:00</updated><title type='text'>TAKJUB</title><content type='html'>Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya&lt;br /&gt;di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat&lt;br /&gt;oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di&lt;br /&gt;Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung&lt;br /&gt;tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja.&lt;br /&gt;Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda&lt;br /&gt;itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk&lt;br /&gt;di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghor-matan&lt;br /&gt;lantas kembali duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat kepada para&lt;br /&gt;hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap&lt;br /&gt;ia keluar dari sini." Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.&lt;br /&gt;Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap&lt;br /&gt;tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata,&lt;br /&gt;"Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah&lt;br /&gt;pemuda ini beranjak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta, "Bagaimana anda tahu&lt;br /&gt;bahwa saya seorang mus-lim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang&lt;br /&gt;terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang&lt;br /&gt;pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan&lt;br /&gt;mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda&lt;br /&gt;tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun&lt;br /&gt;menerima tantangan debat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan&lt;br /&gt;anda harus menja-wabnya dengan tepat." Si pemuda tersenyum dan berkata,&lt;br /&gt;"Silahkan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pendeta pun mulai bertanya,&lt;br /&gt;1. Sebutkan satu yang tiada duanya,&lt;br /&gt;2. dua yang tiada tiganya,&lt;br /&gt;3. tiga yang tiada empatnya,&lt;br /&gt;4. empat yang tiada limanya,&lt;br /&gt;5. lima yang tiada enamnya,&lt;br /&gt;6. enam yang tiada tujuhnya,&lt;br /&gt;7. tujuh yang tiada delapannya,&lt;br /&gt;8. delapan yang tiada sembilannya,&lt;br /&gt;9. sembilan yang tiada sepuluhnya,&lt;br /&gt;10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,&lt;br /&gt;11. sebelas yang tiada dua belasnya,&lt;br /&gt;12. dua belas yang tiada tiga belasnya,&lt;br /&gt;13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya.&lt;br /&gt;14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!&lt;br /&gt;15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?&lt;br /&gt;16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?&lt;br /&gt;17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?&lt;br /&gt;18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!&lt;br /&gt;19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api&lt;br /&gt;dan siapakah yang terpelihara dari api?&lt;br /&gt;20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu&lt;br /&gt;dan siapakah yang terpelihara dari batu?&lt;br /&gt;21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!&lt;br /&gt;22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua&lt;br /&gt;dibawah sinaran matahari?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman&lt;br /&gt;mengandung keyakinan kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca basmalah ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.&lt;br /&gt;2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran&lt;br /&gt;kami)." (Al-Isra': 12).&lt;br /&gt;3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika&lt;br /&gt;Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika&lt;br /&gt;me-negakkan kembali dinding yang hampir roboh.&lt;br /&gt;4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.&lt;br /&gt;5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.&lt;br /&gt;6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan makhluk.&lt;br /&gt;7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT&lt;br /&gt;berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis&lt;br /&gt;Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah&lt;br /&gt;sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).&lt;br /&gt;8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman.&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru&lt;br /&gt;langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di&lt;br /&gt;atas kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).&lt;br /&gt;9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada&lt;br /&gt;Nabi Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik,&lt;br /&gt;katak, darah, kutu, belalang, dan berbicara langsung dgn ALLAH (Q.S. Al A'raf : 144)&lt;br /&gt;10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan.&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka&lt;br /&gt;untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).&lt;br /&gt;11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudaraYusuf&lt;br /&gt;12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang&lt;br /&gt;terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air&lt;br /&gt;untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.'&lt;br /&gt;Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).&lt;br /&gt;13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf&lt;br /&gt;ditambah dengan ayah dan ibunya.&lt;br /&gt;14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh.&lt;br /&gt;Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai&lt;br /&gt;menying-sing. " (At-Takwir: 18).&lt;br /&gt;15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.&lt;br /&gt;16.. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah&lt;br /&gt;saudara-saudara Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah&lt;br /&gt;kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." Setelah&lt;br /&gt;kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka," tak ada cercaaan&lt;br /&gt;ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan&lt;br /&gt;ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."&lt;br /&gt;17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai.&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai."&lt;br /&gt;(Luqman: 19).&lt;br /&gt;18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam,&lt;br /&gt;malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.&lt;br /&gt;19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan&lt;br /&gt;api ialah&lt;br /&gt;Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah&lt;br /&gt;SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (AlAnbiya': )&lt;br /&gt;20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab&lt;br /&gt;dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu&lt;br /&gt;adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).&lt;br /&gt;21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu&lt;br /&gt;daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).&lt;br /&gt;22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30&lt;br /&gt;daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah&lt;br /&gt;sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah&lt;br /&gt;bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga d&lt;br /&gt;ike rjakan di malam hari dan dua di siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda muslim&lt;br /&gt;tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia&lt;br /&gt;mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu&lt;br /&gt;pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya&lt;br /&gt;diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha&lt;br /&gt;menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab&lt;br /&gt;pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Mereka berkata,* "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan&lt;br /&gt;semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun&lt;br /&gt;anda tidak mampu menjawabnya! "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Pendeta tersebut berkata,&lt;br /&gt;*"Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku&lt;br /&gt;takut kalian marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pendeta pun berkata,&lt;br /&gt;*"Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa Asyhadu anna&lt;br /&gt;Muhammadar Rasulullah."*&lt;br /&gt;Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam&lt;br /&gt;melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya telah mengetahui bahwa&lt;br /&gt;Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan akan&lt;br /&gt;menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di dunia dan di akherat..&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih tertutup bahkan&lt;br /&gt;cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya..&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada mereka yang mau berpikir..&lt;br /&gt;amien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-6716927771383123133?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/6716927771383123133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/takjub.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6716927771383123133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6716927771383123133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/takjub.html' title='TAKJUB'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-571868237308853597</id><published>2009-12-12T09:12:00.000+08:00</published><updated>2009-12-12T09:13:07.093+08:00</updated><title type='text'>Wanita Suci (Suara Hati Seorang Ikhwan untuk Seluruh Wanita Suci)</title><content type='html'>Wanita Suci,&lt;br /&gt;Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?&lt;br /&gt;Karena toh kau tak perlu mengenalku.&lt;br /&gt;Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakan dengan bunga terindah sekalipun.&lt;br /&gt;Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.&lt;br /&gt;Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Suci,&lt;br /&gt;Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena akan membuatku mengingatmu.&lt;br /&gt;Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.&lt;br /&gt;Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.&lt;br /&gt;Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.&lt;br /&gt;Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh lumpur.&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Suci,&lt;br /&gt;Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.&lt;br /&gt;Ada ingin tapi tak ada henti.&lt;br /&gt;Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelabat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.&lt;br /&gt;Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kau pertaruhkan.&lt;br /&gt;Mungkin kau tak peduli&lt;br /&gt;Tapi kau hanya wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.&lt;br /&gt;Dan tak lebih dari wanita biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Suci,&lt;br /&gt;Jangan pernah kau tatapku penuh&lt;br /&gt;Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untuk melihatku.&lt;br /&gt;Bukan karena aku terlalu indah,tapi karena aku seorang yang masih kotor.&lt;br /&gt;Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.&lt;br /&gt;Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari lumpur.&lt;br /&gt;Kau memang suci, tapi masih sangat mugkin kau termanipulasi.&lt;br /&gt;Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Suci,&lt;br /&gt;Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu ke hadapan Tuhanmu&lt;br /&gt;Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu difikir lagi.&lt;br /&gt;Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.&lt;br /&gt;Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.&lt;br /&gt;Jangan ada ragu, janagn ada malu, semua terukir dalam kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Suci,&lt;br /&gt;Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.&lt;br /&gt;Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.&lt;br /&gt;Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.&lt;br /&gt;Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kubangun dengan segala kekhusyu’an tangis doamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Suci&lt;br /&gt;Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.&lt;br /&gt;Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.&lt;br /&gt;Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kau pilih,&lt;br /&gt;Seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu yang meminta ke –Islam-an sebagai mahar pernikahannya&lt;br /&gt;Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi&lt;br /&gt;Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta&lt;br /&gt;Dalam setiap denyut nadi kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-571868237308853597?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/571868237308853597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/wanita-suci-suara-hati-seorang-ikhwan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/571868237308853597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/571868237308853597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/wanita-suci-suara-hati-seorang-ikhwan.html' title='Wanita Suci (Suara Hati Seorang Ikhwan untuk Seluruh Wanita Suci)'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3434608345801379914</id><published>2009-12-06T13:51:00.000+08:00</published><updated>2009-12-06T13:52:36.514+08:00</updated><title type='text'>Surat Cinta Untuk Saudariku</title><content type='html'>Saudariku,&lt;br /&gt;Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita bersaudara di atas ikatan iman.&lt;br /&gt;Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling menyayangi di atas ikatan tersebut.&lt;br /&gt;Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.&lt;br /&gt;Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu sama lainnya.&lt;br /&gt;Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini…&lt;br /&gt;Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;Robb yang telah menciptakan kita dari setetes mani,&lt;br /&gt;Robb yang juga telah menciptakan ibu kita, bapak kita, dan orang-orang yang kita sayangi,&lt;br /&gt;Robb yang telah memberi rizki pada kita sampai kita sebesar ini,&lt;br /&gt;Robb yang telah memberi hidayah Islam -sebuah nikmat yang sangat besar yang tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat ini-&lt;br /&gt;Robb yang telah memberi kita banyak sekali nikmat,&lt;br /&gt;Robb yang telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang taat,&lt;br /&gt;Robb yang juga telah mengancam dengan neraka bagi yang enggan untuk taat,&lt;br /&gt;Robb yang janji-Nya haq, yang tidak pernah menyalahi janji,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya,&lt;br /&gt;“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya,&lt;br /&gt;“Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadis lain terdapat tambahan:&lt;br /&gt;“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.” (Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam As-Shaghir hal. 232, dari hadits Ibnu Amru dengan sanad shahih. Sedangkan hadits yang lain tersebut dikeluarkan oleh muslim dari riwayat Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Masih akrab dalam pandangan kita, saudari-saudari kita keluar rumah dengan membuka auratnya. Beberapa diantaranya sangat “memperhatikan” penampilannya.&lt;br /&gt;Mulai dari merk baju yang berkelas, model yang up to date,&lt;br /&gt;Bahkan diantaranya kita lihat baju yang sempit dan serba pendek,&lt;br /&gt;celana yang juga serba pas-pasan,&lt;br /&gt;rambut direbounding,&lt;br /&gt;alis yang “dirapikan”,&lt;br /&gt;lipstik tipis warna pink,&lt;br /&gt;minyak wangi yang mmmm…&lt;br /&gt;*mungkin karena belum tahu*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Apa yang kita dapat dari semua ini?&lt;br /&gt;“cantik”?&lt;br /&gt;“aduhai”?&lt;br /&gt;“modis”?&lt;br /&gt;“gaul”?&lt;br /&gt;“tidak ketinggalan jaman”?&lt;br /&gt;atau mungkin sekedar untuk bisa percaya diri ketika keluar rumah dan berhadapan dengan orang-orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak yang akan melihat “WAH” pada wanita yang berpenampilan seperti ini sehingga menyebabkan beberapa di antara kita tertipu dan bahkan berlomba untuk menjadi yang “terhebat” dalam masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saudariku,&lt;br /&gt;Saya ingin mengajak kita untuk menjadi seorang muslimah yang sejati!&lt;br /&gt;Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan apa yang mereka pamerkan dari tubuh dan kecantikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan merk yang ada pada baju-baju mereka.&lt;br /&gt;Sungguh! Kain sepuluh ribu per meter dari Pasar Bering lebih mulia jika kita memakainya dalam rangka ketaatan pada Allah,&lt;br /&gt;Robb yang telah menciptakan kita,&lt;br /&gt;Robb yang telah mensyariatkan jilbab untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai saudariku..&lt;br /&gt;Pakaian mana yang lebih mulia dari pakaian ketaqwaan?&lt;br /&gt;Adalah nikmat yang besar ketika kita masuk Islam.&lt;br /&gt;Seseorang dinilai bukan lagi dari tulisan (baca: merk) apa yang tertempel di bajunya, atau dari seberapa mancung hidungnya, seberapa cantik wajahnya, seberapa elok parasnya, seberapa anggun bersoleknya.&lt;br /&gt;Tapi seseorang dinilai dari apa yang ada dalam hatinya, apa yang diucap oleh lisannya, dan apa yang diperbuat oleh badannya.&lt;br /&gt;Ya!&lt;br /&gt;Seseorang dinilai dari ketaqwaannya.&lt;br /&gt;Jadi tidak perlu lagi kita bersibuk-sibuk untuk pamerkan kebolehan tubuh dan kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Tidakkah kita melihat jajanan yang ada di emperan?&lt;br /&gt;Terbungkus dengan ala kadarnya,&lt;br /&gt;semua orang bisa menjamahnya,&lt;br /&gt;atau bahkan mencicipinya.&lt;br /&gt;Bahkan seringkali yang mencicipi adalah orang iseng yang tidak benar-benar bermaksud untuk membeli. Setelah mencicipinya, dia letakkan kembali kemudian dia tinggal pergi.&lt;br /&gt;Bukan hanya orang iseng, bahkan lalat-lalat pun mengerumuninya.&lt;br /&gt;Berbeda dengan makanan berkualitas yang terbungkus rapi dan tersegel.&lt;br /&gt;Terjaga dan tidak tersentuh tangan-tangan iseng.&lt;br /&gt;Di antara keduanya, kita lebih memilih yang mana?&lt;br /&gt;Tentu yang kedua.&lt;br /&gt;Jika untuk makanan saja demikian, maka lebih-lebih lagi kita memilih untuk diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Demikian juga keadaannya seorang lelaki yang baik-baik.&lt;br /&gt;Dia akan memilih wanita yang menjaga kehormatannya,&lt;br /&gt;yang kecantikannya tidak dia pamerkan.&lt;br /&gt;Tidak dia biarkan dinikmati oleh banyak orang.&lt;br /&gt;Yang demikian adalah karena wanita yang menjaga auratnya lebih mulia dari pada wanita yang memamerkan auratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku,&lt;br /&gt;Bahkan lelaki yang sholeh berlindung pada Allah dari godaan kita.&lt;br /&gt;Wanita adalah godaan yang besar bagi lelaki.&lt;br /&gt;Pada umumnya lelaki itu lemah terhadap godaan wanita.&lt;br /&gt;Maka sebagai wanita, jangan malah kita menggodanya!&lt;br /&gt;Tetapi kita bantu mereka untuk bisa menjaga pandangan dan menjauh dari maksiat.&lt;br /&gt;Sukakah kita jika kita menjadi sebab pemuda-pemuda tergelincir dalam kemaksiatan?&lt;br /&gt;Menjadi penyebar fitnah dan perusak generasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku yang aku cintai,&lt;br /&gt;Berat hati ini melihat hal seperti ini terjadi pada saudari kita…&lt;br /&gt;Allah telah memuliakan kita dengan mensyari’atkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan membiarkan aurat terbuka? Secara tidak langsung, ini berarti membiarkan diri menjadi objek pemuas syahwat yang bisa dinikmati sembarang orang.&lt;br /&gt;Allah telah memuliakan kita dengan mensyariatkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan keluar dari ketaatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku,&lt;br /&gt;Kembalilah!&lt;br /&gt;Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!&lt;br /&gt;Kematian bisa datang kapan saja.&lt;br /&gt;Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?&lt;br /&gt;Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan bermaksiat?&lt;br /&gt;Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?&lt;br /&gt;Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!&lt;br /&gt;Tidakkah kita rindu dengan surga?&lt;br /&gt;Bagaimana bisa masuk jika mencium baunya saja tidak bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Apalagi yang menghalangi kita dari syari’at yang mulia ini?&lt;br /&gt;Kesenangan apa yang kita dapat dengan keluar dari syari’at ini?&lt;br /&gt;Kesenangan yang kita dapat hanya bagian dari kesenangan dunia.&lt;br /&gt;Lalu apalah artinya kesenangan itu jika tebusannya adalah diharamkannya surga (bahkan baunya) untuk kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai…&lt;br /&gt;Apa yang hendak kita cari dari kampung dunia?&lt;br /&gt;Apalah artinya jika dibanding dengan kampung akhirat?&lt;br /&gt;Mana yang hendak kita cari?&lt;br /&gt;Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala&lt;br /&gt;Semoga Allah menjadikan hati kita tunduk dan patuh pada apa yang Allah syariatkan. Dan bersegera padanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.&lt;br /&gt;Lalu jilbab seperti apa yang Allah maksudkan?&lt;br /&gt;Jilbab kan modelnya banyak…&lt;br /&gt;*Semoga Allah memberi hidayah padaku dan pada kalian untuk berada di atas ketaatan dan istiqomah diatasnya*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, saudariku.&lt;br /&gt;Sangat penting bagi kita untuk mengetahui jilbab seperti apa yang Allah maksudkan dalam perintah tersebut supaya kita tidak salah sangka.&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ingin melakukan sholat subuh seperti apa yang Allah maksud, tentunya kita juga ingin berjilbab seperti yang Allah maksud.&lt;br /&gt;“Ya… terserah saya! Mau sholat subuh dua rokaat atau tiga rokaat yang penting kan saya sholat subuh!”&lt;br /&gt;“Ya… terserah saya! Mau pake jilbab model apa, yang penting kan saya pake jilbab!”&lt;br /&gt;Mmm…&lt;br /&gt;Tidak seperti ini kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan mengenai hal ini ada sebuah buku yang bagus untuk dijadikan rurukan karena di dalamnya memuat dalil-dalil yang kuat dari Al Quran dan As Sunnah, yaitu Jilbab al Mar’ah al Muslimah fil Kitabi wa Sunnah yang ditulis oleh Muhammad Nasiruddin Al Albani. Buku ini telah banyak diterjemahkan dengan judul Jilbab Wanita Muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun secara ringkas, jilbab wanita muslimah mempunyai beberapa persyaratan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menutup seluruh badan&lt;br /&gt;Adapun wajah dan telapak tangan maka para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama menyatakan wajib untuk ditutup dan sebagian lagi sunnah jika ditutup. Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albani dalam buku di atas mengambil pendapat sunnah. Masing-masing pendapat berpijak pada dalil sehingga kita harus bisa bersikap bijak. Yang mengambil pendapat sunnah maka tidak selayaknya memandang saudara kita yang mengambil pendapat wajib sebagai orang yang ekstrim, berlebih-lebihan atau sok-sokan karena pendapat mereka berpijak pada dalil. Adapun yang mengambil pendapat wajib maka tidak selayaknya pula memandang saudara kita yang mengambil pendapat sunnah sebagai orang yang bersikap meremehkan dan menyepelekan sehingga meragukan kesungguhan mereka dalam bertakwa dan berittiba’ (mengikuti) sunnah nabi. Pendapat mereka juga berpijak pada dalil.&lt;br /&gt;*Semoga Allah menjadikan hati-hati kita bersatu dan bersih dari sifat dengki, hasad, dan merasa lebih baik dari orang lain*&lt;br /&gt;2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan&lt;br /&gt;3. Kainnya harus tebal dan tidak tipis&lt;br /&gt;4. Harus longgar, tidak ketat, sehingga tidak dapat menggambarkan bentuk tubuh&lt;br /&gt;5. Tidak diberi wewangian atau parfum&lt;br /&gt;6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki&lt;br /&gt;7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir&lt;br /&gt;8. Bukan libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas)&lt;br /&gt;“BERAT!&lt;br /&gt;Rambutku kan bagus! Kenapa harus ditutup?&lt;br /&gt;Lagi pula kalau ditutup bisa pengap, nanti kalau jadi rontok gimana?”&lt;br /&gt;“RIWEH!&lt;br /&gt;Harus pakai kaus kaki terus.&lt;br /&gt;Kaus kaki kan cepet kotor, males nyucinya!”&lt;br /&gt;“Baju yang kaya laki-laki ini kan baju kesayanganku! Ini style ku! Kalau pake rok jadi kaya orang lain. I want to be my self! Kalau pakai bajunya cewek RIBET! Gak praktis dan gak bisa leluasa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Sesungguhnya setan tidak akan membiarkan begitu saja ketika kita hendak melakukan ketaatan kecuali dia akan membisikkan kepada kita ketakutan dan keragu-raguan sehingga kita mengurungkan niat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menjadikanku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka, belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka, sehingga Engkau akan mendapati kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (Qs. Al A’raf: 16-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qoyyim berkata “Apabila seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka setan akan berusaha melemahkan semangatnya, merintangi, memalingkan, dan membuat dia menunda-nunda melaksanakan ketaatan tersebut. Apabila seorang melakukan kemaksiatan, maka setan akan membantu dan memanjangkan angan dan keinginannya.”&lt;br /&gt;Mungkin setan membisikkan&lt;br /&gt;“Dengan memakai jilbab, maka engkau tidak lagi terlihat cantik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar!&lt;br /&gt;Apa definisi cantik yang dimaksud?&lt;br /&gt;Apa dengan dikatakan “wah…”, banyak pengagum dan banyak yang nggodain ketika kita jalan maka itu dikatakan cantik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh!&lt;br /&gt;Kecantikan iman itu mengalahkan kecantikan fisik.&lt;br /&gt;Mari kita lihat bagaimana istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabiyah!&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan mereka menduduki tempat yang mulia?&lt;br /&gt;Bukan karena penampilan dan kecantikan, tetapi karena apa yang ada di dalam dada-dada mereka.&lt;br /&gt;Tidakkah kita ingin berhias sebagaimana mereka berhias?&lt;br /&gt;Sibuk menghiasi diri dengan iman dan amal sholeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku,&lt;br /&gt;Seandainya fisik adalah segala-galanya, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memilih wanta-wanita yang muda belia untuk beliau jadikan istri. Namun kenyataannya, istri-istri nabi adalah janda kecuali Aisyah radhiyallahu ‘anha.&lt;br /&gt;Atau… mungkin setan membisikkan&lt;br /&gt;“Dengan jilbab akan terasa panas dan gerah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku,&lt;br /&gt;Panasnya dunia tidak sebanding dengan panasnya api neraka.&lt;br /&gt;Bersabar terhadapnya jauh lebih mudah dari pada bersabar terhadap panasnya neraka.&lt;br /&gt;Tidakkah kita takut pada panasnya api neraka yang dapat membakar kulit kita?&lt;br /&gt;Kulit yang kita khawatirkan tentang jerawatnya, tentang komedonya, tentang hitamnya, tentang tidak halusnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku,&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa ketaatan kepada Allah akan mendatangkan kesejukan di hati. Jika hati sudah merasa sejuk, apalah arti beberapa tetes keringat yang ada di dahi.&lt;br /&gt;Tidak akan merasa kepanasan karena apa yang dirasakan di hati mengalahkan apa yang dialami oleh badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala&lt;br /&gt;Semoga Allah memudahkan nafsu kita untuk tunduk dan patuh kepada syariat.&lt;br /&gt;“Riweh pake kaus kaki.”&lt;br /&gt;“Ribet pake baju cewek.”&lt;br /&gt;“Panas! Gerah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku…&lt;br /&gt;Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan meski nafsu kita membencinya.&lt;br /&gt;Setiap ketaatan yang kita lakukan dengan ikhlas, tidak akan pernah sia-sia. Allah akan membalasnya dan ini adalah janji Allah dan janji-Nya adalah haq.&lt;br /&gt;“Celana bermerk kesayanganku bagaimana?”&lt;br /&gt;“Baju sempit itu?”&lt;br /&gt;“Minyak wangiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku…&lt;br /&gt;Semoga Allah memudahkan kita untuk meninggalkan apa saja yang Allah larang meski nafsu kita menyukainya.&lt;br /&gt;Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Semoga Allah memudahkan kita untuk bersegera dalam ketaatan,&lt;br /&gt;Meneladani para shohabiyah ketika syariat ini turun, mereka tidak berfikir panjang untuk segera menutup tubuh mereka dengan kain yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Jadi bukan melulu soal penampilan!&lt;br /&gt;Bahkan memamerkan dengan menerjang aturan Robb yang telah menciptakan kita.&lt;br /&gt;Tetapi…&lt;br /&gt;Mari kita sibukkan diri berhias dengan kecantikan iman.&lt;br /&gt;Berhias dengan ilmu dan amal sholeh,&lt;br /&gt;Berhias dengan akhlak yang mulia.&lt;br /&gt;Hiasi diri kita dengan rasa malu!&lt;br /&gt;Tutupi aurat kita!&lt;br /&gt;Jangan pamerkan!&lt;br /&gt;Jagalah sebagaimana kita menjaga barang berharga yang sangat kita sayangi.&lt;br /&gt;Simpanlah kecantikannya,&lt;br /&gt;Simpan supaya tidak sembarang orang bisa menikmatinya!&lt;br /&gt;Simpan untuk suami saja,&lt;br /&gt;Niscaya ini akan menjadi kado yang sangat istimewa untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;Peringatan itu hanya bermanfaat bagi orang yang mau mengikuti peringatan dan takut pada Allah.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Robb Yang Maha Pemurah walau dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 11)&lt;br /&gt;Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mau mengikuti peringatan,&lt;br /&gt;Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang takut pada Robb Yang Maha Pemurah walau kita tidak melihat-Nya,&lt;br /&gt;Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berlindung pada Allah dari hati yang keras dan tidak mau mengikuti peringatan. Kita berlindung pada Allah, Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang Allah firmankan dalam QS. Yasin: 10 (yang artinya):&lt;br /&gt;“Sama saja bagi mereka apakah kami memberi peringatan kepada mereka ataukah kami tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” (QS. Yasin: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3434608345801379914?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3434608345801379914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/surat-cinta-untuk-saudariku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3434608345801379914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3434608345801379914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/surat-cinta-untuk-saudariku.html' title='Surat Cinta Untuk Saudariku'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-5503861507944334476</id><published>2009-12-06T13:20:00.000+08:00</published><updated>2009-12-06T13:21:01.316+08:00</updated><title type='text'>Surat Noura (Sepenggal kisah dari AAC)</title><content type='html'>Kepada&lt;br /&gt;Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa&lt;br /&gt;dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.&lt;br /&gt;Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang yang lembut hatinya,&lt;br /&gt;Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau baca suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.&lt;br /&gt;Wahai orang yang lembut hatinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak menitikkan air mata untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang yang lembut hatinya,&lt;br /&gt;Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku, kau tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu. Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera dalam relung jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang yang lembut hatinya,&lt;br /&gt;Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu neraka dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah Maria menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat Jibril menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti kematian. Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya pada punggungku yang sakit tiada tara. Namun apa yang terjadi Fahri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur ia menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak berniat turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan segala keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah permintaanmu melalui sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka air mata dukaku. Maria tidak mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap tidak mau. Kau mengatakan pada Maria: ‘Kumohon tuturlah dan usaplah air mata. Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya. Maria tetap tidak mau.” Dia menjawab: “Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa.” Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau memaksa Maria, kau katakan, “Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih.” Lalu Maria turun dan kau mengawasi dari jendela. Aku tahu semua karena Maria membeberkan semua. Ia memperlihatkan semua kata-katamu yang masih tersimpan dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku cium kakinya. Sebab menurut dia sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan kubasahi dengan air mata haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu aku tidak lagi merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku tidak sendirian di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang yang lembut hatinya,&lt;br /&gt;Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan serigala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang yang lembut hatinya,&lt;br /&gt;Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan ini semua. Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar di dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat oleh makhluk dhaif seperti diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang yang lembut hatinya,&lt;br /&gt;Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal bagimu. Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku padamu yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi budakmu. Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai rambutnya dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari itu. Sangat tidak pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku berharap menjadi isterimu. Aku merasa dengan itu aku akan menemukan hidup baru yang jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan dan kehinaan. Yang ada dalam benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku sangat mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan selalu menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan diriku. Meskipun saat ini aku berada di tempat yang tenang dan aman di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam, tapi aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan menemukan diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang yang lembut hatinya,&lt;br /&gt;Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa. Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu dirimu dengan kenistaan kata-kataku yang tertoreh dalam lembaran kertas ini. Jika ada yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku sudah siap seandainya aku harus terbakar oleh panasnya api cinta yang pernah membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku jadi Laila yang mati karena kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau jadi Majnun. Kau orang baik, orang baik selalu disertai Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku.&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum,&lt;br /&gt;Yang dirundung nestapa,&lt;br /&gt;Noura&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-5503861507944334476?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/5503861507944334476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/surat-noura-sepenggal-kisah-dari-aac.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5503861507944334476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5503861507944334476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/surat-noura-sepenggal-kisah-dari-aac.html' title='Surat Noura (Sepenggal kisah dari AAC)'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-5935398796059751856</id><published>2009-12-05T16:21:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T16:22:04.993+08:00</updated><title type='text'>Muslimah yang Ikhlas</title><content type='html'>Penulis: Ummu Habibah&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ustadz Abu Salman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah… ketahuilah bahwa engkau dan manusia seluruhnya di muka bumi ini diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah, demikian pula tujuan jin diciptakan tidak lain adalah untuk meyembah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu (yaitu mengesaknKu).” (Adz Dzariyat 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah dilakukan oleh seorang muslimah karena kebutuhannya terhadap Allah sebagai tempat sandaran hati dan jiwa, sekaligus tempat memohon pertolongan dan perlindungan. Dan ketahuilah saudariku bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal seorang muslimah, di samping dia harus mencontoh gerak dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepadaNya, dengan mentauhidknnya.” (Al Bayyinah 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas adalah meniatkan ibadah seorang muslimah hanya untuk mengharap keridhoan dan wajah Allah semata dan tidak menjadikan sekutu bagi Allah dalam ibadah tersebut. Ibadah yang dilakukan untuk selain Allah atau menjadikan sekutu bagi Allah sebagai tujuan ibadah ketika sedang beribadah kepada Allah adalah syirik dan ibadah yang dilakukan dengan niat yang demikian tidak akan diterima oleh Allah. Misalnya menyembah berhala di samping menyembah Allah atau dengan ibadah kita mengharapkan pujian, harta, kedudukan dunia, dan lain-lain. Syirik merusak kejernihan ibadah dan menghilangkan keikhlasan dan pahalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ” Ia tidak mendapatkan apa-apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tadi mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, dan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap menjawab, ” Ia tidak akan mendapatkan apa-apa. ” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya.” (HR. Abu Dawud dan Nasai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah saudariku… bahwa ikhlas bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kotoran, sedikit atau pun banyak – sehingga tujuan ibadah adalah murni karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas hanya akan datang dari seorang muslimah yang mencintai Allah dan menjadikan Allah sebagi satu-satunya sandaran dan harapan. Namun kebanyakan wanita pada zaman sekarang mudah tergoda dengan gemerlap dunia dan mengikuti keinginan nafsunya. Padahal nafsu akan mendorong seorang muslimah untuk lalai berbuat ketaatan dan tenggelam dalam kemaksiatan, yang akhirnya akan menjerumuskan dia pada palung kehancuran di dunia dan jurang neraka kelak di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hampir tidak ada ibadah yang dilakukan seorang muslimah bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan dunia. Namun ini bukanlah alasan untuk tidak memperhatikan keikhlasan. Ingatlah bahwa Allah sentiasa menyayangi hambaNya, selalu memberikan rahmat kepada hambaNya dan senang jika hambaNya kembali padaNya. Allah senatiasa menolong seorang muslimah yang berusaha mencari keridhoan dan wajahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetaplah berusaha dan berlatih untuk menjadi orang yang ikhlas. Salah satu cara untuk ikhlas adalah menghilangkan ketamakan terhadap dunia dan berusaha agar hati selalu terfokus kepada janji Allah, bahwa Allah akan memberikan balasan berupa kenikmatan abadi di surga dan menjauhkan kita dari neraka. Selain itu, berusaha menyembunyikan amalan kebaikan dan ibadah agar tidak menarik perhatianmu untuk dilihat dan didengar orang, sehingga mereka memujimu. Belajarlah dari generasi terdahulu yang berusaha ikhlas agar mendapatkan ridho Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu ada penduduk Madinah yang mendapatkan sedekah misterius, hingga akhirnya sedekah itu berhenti bertepatan dengan sepeninggalnya Ali bin Al Husain. Orang-orang yang yang memandikan beliau tiba-tiba melihat bekas-bekas menghitam di punggung beliau, dan bertanya, “Apa ini?” Sebagian mereka menjawab, “Beliau biasa memanggul karung gandum di waktu malam untuk dibagikan kepada orang-orang fakir di Madinah.” Akhirnya mereka pun tahu siapa yang selama ini suka memberi sedekah kepada mereka. Ketika hidupnya, Ali bin Husain pernah berkata, “Sesungguhnya sedekah yang dilakukan diam-diam dapat memadamkan kemurkaan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah engkau menjadi orang-orang yang meremehkan keikhlasan dan lalai darinya. Kelak pad hari kiamat orang-orang yang lalai akan mendapati kebaikan-kebaikan mereka telah berubah menjadi keburukan. Ibadah mereka tidak diterima Allah, sedang mereka juga mendapat balasan berupa api neraka dosa syirik mereka kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;“Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi azab mereka dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan.” (Az Zumar 47-48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103-104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah… bersabarlah dalam belajar ikhlas. Palingkan wajahmu dari pujian manusia dan gemerlap dunia. Sesungguhnya dunia ini fana dan akan hancur, maka sia-sia ibadah yang engkau lakukan untuk dunia. Sedangkan akhirat adalah kekal, kenikmatannya juga siksanya. Bersabarlah di dunia yang hanya sebentar, karena engkau tidak akan mampu bersabar dengan siksa api neraka walau hanya sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf&lt;br /&gt;Tazkiyatun Nufus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-5935398796059751856?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/5935398796059751856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/muslimah-yang-ikhlas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5935398796059751856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5935398796059751856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/muslimah-yang-ikhlas.html' title='Muslimah yang Ikhlas'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-6522000043580239004</id><published>2009-12-05T16:20:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T16:21:14.597+08:00</updated><title type='text'>Memahami Pernyataan “Aku Beriman Kepada Allah”</title><content type='html'>Penyusun: Ummu Ziyad&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku beriman kepada Allah” adalah sebuah pernyataan yang sudah dapat dipastikan telah kita lafalkan. Kita juga mengetahui bahwa keimanan ini adalah keimanan yang pertama kali dituntut bagi seorang muslim pada rukun iman yang enam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang apa itu iman, yaitu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman dengan takdir, yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh manakah pemahaman kita akan pernyataan keimanan ini? Beriman kepada Allah, tidaklah cukup dengan sekedar mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta dan Pemberi Rezeki. Karena kaum musyrikin pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengakui ini, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, “Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita tidak sekedar taklid (ikut-ikutan) dan dapat memahami pernyataan keimanan ini secara benar, maka ketahuilah saudariku, keimanan kepada Allah terkandung di dalamnya empat unsur yang saling berkaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, keimanan kepada wujudullah (adanya Allah ta’ala). Maka jelas batillah pendapat yang mengatakan bahwa Allah tidak ada. Bahkan keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala jelas nyata, baik secara fitrah, akal, syar’i dan secara indrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fitrah, setiap makhluk mengimani adanya Dzat yang menciptakan tanpa harus berpikir atau mempelajari terlebih dahulu. Adapun jika tidak sesuai dengan fitrah, maka ini terjadi karena ada sesuatu yang memasuki hatinya dan memalingkannya dari fitrah tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Lalu orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara akal, maka kita mengetahui tidak mungkin sesuatu ada tanpa ada yang menciptakan dan kita juga mengetahui kita tidak menciptakan diri-diri kita sendiri. Maka jelas ada Dzat yang menciptakan, dan Dia-lah Allah tabaroka wata’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil secara syar’i, maka seluruh kitab samawi membahas tentang adanya Allah ta’ala. Adapun ayat-ayat yang berisi hukum-hukum yang berisi manfaat untuk makhluk menunjukkan bahwa Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui apa yang membawa manfaat bagi makhluk-Nya. Dan ayat-ayat yang berisi khobar kauniyah dapat kita saksikan peristiwa-peristiwa yang sesuai dengan yang dikhabarkan tersebut, dan ini menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa untuk mewujudkan peristiwa yang telah diberitakan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Allah juga dapat kita ketahui secara indrawi dengan dua cara, yaitu dari terkabulnya do’a dan dari mu’jizat para Nabi dimana manusia dapat menyaksikan atau mendengar mukjizat tersebut. Ini adalah kenyataan yang pasti akan adanya Dzat yang mengutus para Nabi tersebut dan Dia-lah Allah ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, keimanan kepada sifat rububiyah Allah ta’ala, yaitu kita mengimani bahwa hanya Allah Rabb semesta alam dan tidak ada satupun sekutu bagi-Nya. Hanya bagi-Nya-lah hak untuk mencipta, menguasai dan memerintah. Tidak ada seorang pun yang mengingkari sifat rububiyah Allah ini kecuali orang-orang yang sombong yang meragukan perkataan mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah! Keimanan pada sifat rububiyah Allah telah diakui oleh kaum musyrikin pada zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al Muminun [23]: 84-89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu saudariku, kita perlu mengetahui unsur yang ketiga dari keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu keimanan kepada sifat uluhiyah Allah ta’ala, yaitu mengimani bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah dan tidak ada satu pun sekutu bagi-Nya. Allah ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 163)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah pada sifat uluhiyah inilah yang ditolak oleh kaum musyrikin karena mereka mengambil tuhan-tuhan selain Allah ta’ala yang mereka meminta pertolongan dan memberikan pengorbananan pada sesembahan-sesembahan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala membatilkan perbuatan kaum musyrikin dan orang-orang yang membuat sekutu-sekutu bagi Allah ta’ala dengan dua dalil secara akal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Sesembahan mereka tidak memiliki kekhususan dari sifat-sifat uluhiyah Allah, mereka tidak menciptakan tetapi diciptakan, mereka tidak dapat memberi manfaat, tidak dapat menolak bahaya dan sifat-sifat yang tidak mungkin dapat dimiliki selain Allah ta’ala.&lt;br /&gt;   2. Sesungguhnya kaum musyrikin mengakui bahwa Allah ta’ala adalah satu-satunya Pencipta (pengakuan pada sifat rububiyah Allah). Maka pengakuan mereka tersebut seharusnya melazimkan bagi mereka untuk tidak menyekutukan Allah dalam perkara uluhiyah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, engkau wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala yaitu nama-nama dan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau Sunnah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, tamtsil dan tafwidh. Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-A’raaf, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raaf [7]: 180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah! Penetapan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah tabaroka wa ta’ala tidak melazimkan kita melakukan penyerupaan atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Maha suci Allah dari segala penyerupaan tersebut. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syuura [42]: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah saudariku. Dengan keimanan yang benar pada Allah subhanahu wa ta’ala, maka akan meperbaiki ketauhidanmu kepada Allah ta’ala yaitu dengan tidak menyembah kepada selain-Nya, menyempurnakan kecintaanmu pada Allah serta memperbaiki amal ibadahmu dengan apa yang diperintahkan oleh Allah ta’ala dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Semoga engkau kini memahami dengan makna yang benar dari pernyataan, “Aku beriman kepada Allah”. Berimanlah kepada Allah ta’ala secara utuh! Janganlah engkau tinggalkan salah satu dari empat unsur keimanan pada Allah ini. Jika engkau tinggalkan unsur pertama, maka engkau termasuk orang-orang sombong yang membohongi dirimu sendiri. Jika engkau tinggalkan unsur kedua, maka engkau tidak lebih baik dari kaum musyrikin pada masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Jika engkau tinggalkan unsur ketiga, maka engkau akan terjerumus dalam perbuatan syirik yang Allah ta’ala tidak akan mengampunimu sebelum engkau bertobat. Jika engkau tinggalkan unsur keempat, maka engkau telah mengingkari apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Wallahu musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’: Syarh Tsalatsatul Ushul, Syaikh Muhammad ibn Sholih Al ‘Utsaimin, Dar Ibnul Jauzi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-6522000043580239004?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/6522000043580239004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/memahami-pernyataan-aku-beriman-kepada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6522000043580239004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6522000043580239004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/memahami-pernyataan-aku-beriman-kepada.html' title='Memahami Pernyataan “Aku Beriman Kepada Allah”'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-5802141063732242987</id><published>2009-12-05T16:19:00.002+08:00</published><updated>2009-12-05T16:20:02.231+08:00</updated><title type='text'>Bingkisan Paling Berharga Untuk si Kecil Adalah Aqidah</title><content type='html'>Penulis: Ummu Ayyub&lt;br /&gt;Dimurojaah oleh: Ustadz Subhan Khadafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase kanak-kanak merupakan tempat yang subur bagi pembinaan dan pendidikan. Masa kanak-kanak ini cukup lama, dimana seorang pendidik bisa memanfaatkan waktu yang cukup untuk menanamkan dalam jiwa anak, apa yang dia kehendaki. Jika masa kanak-kanak ini dibangun dengan penjagaan, bimbingan dan arahan yang baik, dengan izin Allah subhanahu wata’ala maka kelak akan tumbuh menjadi kokoh. Seorang pendidik hendaknya memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya. Jangan ada yang meremehkan bahwa anak itu kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat masa ini adalah masa emas bagi pertumbuhan, maka hendaknya masalah penanaman aqidah menjadi perhatian pokok bagi setiap orang tua yang peduli dengan nasib anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman Aqidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqidah islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, serta beriman pada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya merupakan perkara gaib. Seseorang akan merasa hal ini terlalu rumit untuk dijelaskan pada anak kecil yang mana kemampuan berfikir mereka masih sangat sederhana dan terbatas untuk mengenali hal-hal yang abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya setiap bayi yang lahir diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala di atas fitrah keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam QS. Al Α’rof: 172 yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menajdi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah bagian dari karunia Allah subhanahu wata’ala pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata. Dengan demikian, menanamkan keyakinan bukan dengan mengajarkan ketrampilan berdebat dan berargumentasi, akan tetapi caranya adalah menyibukkan diri dengan al Quran dan tafsirnya, hadits dan maknanya serta sibuk dengan ibadah-ibadah. Kita perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladan Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita perhatikan para rasul dan nabi, mereka selalu memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan aqidah putera-putera mereka. Perhatian nabi Ibrahim, diantaranya adalah sebagaimana terdapat dalam firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam.” (QS. Al Baqoroh: 132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga Lukman mempunyai perhatian yang besar pada puteranya sebagaimana wasiatnya yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Masih Kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian terhadap masalah aqidah hendaknya diberikan sejak anak masih kecil. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam memberikan perhatian kepada anak-anak meski mereka masih kecil. Beliau membuka jalan dalam membina generasi muda, termasuk diantaranya Ali bin Abi Thalib yang beriman kepada seruan nabi ketika usianya kurang dari sepuluh tahun. Begitu juga dalam menjenguk anak-anak yang sakit pun beliau memanfaatkan untuk menyeru mereka kepada Islam yang ketika itu di hadapan kedua orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga bisa melihat bagaimana Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan permasalahan aqidah pada Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhu yang pada saat itu dia masih kecil. Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan kemudharatan terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan kemudharatan itu terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para teladan kita begitu perhatian dengan anak-anak sejak mereka masih kecil, maka sangat mengherankan jika kita membiarkan anak-anak kita tumbuh dengan kita biarkan begitu saja terdidik oleh lingkungan dan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak kita dapati bahwa oleh banyak orang, anak kecil dianggap tidak layak untuk diberi penjelasan mengenai Al Quran dan maknanya, dianggap tidak berhak untuk diberi perhatian terhadap mentalitasnya. Terkadang dengan berdalih “Kemampuan berfikir anak kecil masih sederhana, maka tidak baik membebani mereka dengan hal-hal yang rumit dan berat. Tidak baik membebani anak di luar kesanggupan mereka.” Atau kita juga banyak mendapati ketika anak terjatuh pada kesalahan-kesalahan, mereka membiarkan begitu saja dengan berdalih “Ah… tidak apa-apa, mereka kan masih kecil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalih yang disampaikan memang tidak sepenuhnya salah, namun sayangnya tidak diletakkan pada tempatnya. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maroji’: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Tilf (terj. Mendidik Anak Bersama Nabi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-5802141063732242987?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/5802141063732242987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/bingkisan-paling-berharga-untuk-si.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5802141063732242987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5802141063732242987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/bingkisan-paling-berharga-untuk-si.html' title='Bingkisan Paling Berharga Untuk si Kecil Adalah Aqidah'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-6455250621543742924</id><published>2009-12-05T16:19:00.001+08:00</published><updated>2009-12-05T16:19:28.250+08:00</updated><title type='text'>Hukum Merayakan Valentine’s Day</title><content type='html'>Disusun ulang oleh: muslimah.or.id&lt;br /&gt;Diambil dari Fatwa-Fatwa Terkini jilid 2&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini telah merebak perayaan valentine’s day terutama di kalangan para pelajar putri, padahal ini merupakan hari raya kaum Nasrani. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah dan saling bertukar bunga berwarna merah. Kami mohon perkenanan syaikh untuk menerangkan hukun perayaan semacam ini, dan apa saran syaikh untuk kaum muslimin sehubungan dengan masalah-masalah seperti ini. Semoga Allah menjaga dan memelihara syaikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh merayakan valentine’s day karena sebab-sebab berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: bahwa itu adalah hari raya bid’ah tidak ada dasarnya dalam syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: bahwa itu akan menimbulkan kecengengan dan kecemburuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Bahwa itu akan menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara bodoh yang bertolak belakang dengan tuntunan para salaf radhiyallohu’anhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pada hari tersebut tidak boleh ada simbol-simbol perayaan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah ataupun yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya setiap muslim merasa mulia dengan agamnya dan tidak merendahkan diri dengan menuruti setiap ajakan. Semoga Allah Subhanahu wata’alla melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi dan semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan bimbingan dan petunjuk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Syaikh Ibnu Ustaimin, tanggal 5/11/1420 H yang beliau tanda tangani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahunnya pada tanggal 14 februari sebagian orang merayakan valentine’s Day. Mereka saling bertukar hadiah berupa bunga merah, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat dan sebagian toko atau produsen permen membuat atau menyediakan permen-permen yang berwarna merah lengkap dengan gambar hati, bahkan sebagian toko mengiklankan produk-produknya yang dibuat khusus untuk hari tersebut. Bagaimana pendapat syaikh tentang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Merayakan hari tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Membeli produk-produk khusus tersebut pada hari itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Transaksi jual beli ditoko (yang tidak ikut merayakan) yang menjual barang yang bisa dihadiahkan pada hari tersebut kepada orang yang hendak merayakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah membalas syaikh dengan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunah, para pendahulu umat sepakat menyatakan bahwa hari raya dalam islam hanya ada dua; Idul Fitri dan Idul Adha selain itu semua hari raya yang berkaitan dengan seseorang, kelompok, peristiwa atau lainnya adalah bid’ah, kaum muslimin tidak boleh melakukannya, mengakuinya, menampakkan kegembiraan karenanya dan membantu terselenggaranya karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga dengan begitu pelakunya berarti telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu merupakan simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dengan begitu berarti telah ber-tasyabbuh dengan mereka dan loyal terhadap mereka di dalam kitab-Nya yang mulia dan telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valentine’s Day termasuk jenis yang disebutkan tadi, karena merupakan hari raya Nasrani, maka seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh melakukannya, mengakuinya atau ikut mengucapkan selamat bahkan seharusnya meninggalkannya dan menjauhinya sebagai sikap taat terhadap Allah dan Rosul-Nya serta untuk membantu penyelenggaraan hari raya tersebut dan hari raya lainnya yang diharamkan baik itu berupa iklan dan sebagainya, karena semua ini termasuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta maksiat terhadap Allah dan Rosul-Nya sementara Allah Subhanahu wata’alla telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS. Al Ma’idah: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu hendaknya setiap muslim berpegangteguh dengan Al kitab dan As sunah dalam semua kondisi lebih-lebih pada saat-saat terjadinya fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat dan orang-orang yang fasik yang tidak mengajarkan kehormatan dari Allah dan tidak menghormati Islam. Dan hendaknya seorang muslim kembali kepada Allah dengan memohon petunjuk-Nya dan keteguhan didalam petunjuk-Nya. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang dapat meneguhkan dalam petunjuk-Nya selain Allah Subhanahu Wata’alla. Hanya Allah-lah yang kuasa memberi petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Al-Lajnah Ad-Da imah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (21203) tanggal 22/11/1420 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-6455250621543742924?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/6455250621543742924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/hukum-merayakan-valentines-day.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6455250621543742924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6455250621543742924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/hukum-merayakan-valentines-day.html' title='Hukum Merayakan Valentine’s Day'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-5542737143426422196</id><published>2009-12-05T16:17:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T16:18:49.931+08:00</updated><title type='text'>Ada Apa di Balik Valentine’s Day ?</title><content type='html'>Disusun ulang oleh: Ummu Ziyad&lt;br /&gt;Muroja’ah oleh: Ust Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti fillah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 14 Februari seakan-akan menjadi hari yang khusus bagi manusia secara umum, bahkan bagi seorang muslimah sekalipun. Dengan pengaruh dari berbagai media dan lingkungan, para gadis sibuk ikut-ikutan merayakan hari tersebut. Ada yang sibuk membuat coklat dan kue-kue untuk orang yang disayanginya, mengirimkan kartu, atau sengaja mengkhususkan membuat pengakuan cinta untuk lelaki pujaan hatinya. Na’udzubillah min dzalik. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan untuk dijauhkan dari perbuatan tersebut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui fatwa-fatwa yang ada pada artikel sebelumnya, ada baiknya kita juga mengetahui asal usul adanya hari valentine. Dengan demikian, insya Allah kita akan lebih berhati-hati dan tidak segan-segan untuk meninggalkan hari raya tersebut. Apalagi jika kita benar-benar ingin menjadi wanita muslimah sejati, yang sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan sangat takut dengan hukuman-Nya dan berharap keridhoan-Nya. Artikel berikut ini banyak menukil dari majalah As Sunnah dengan disertai berbagai tambahan dari penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Valentine’s Day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa definisi yang terdapat di majalah As Sunnah edisi 11 tahun I untuk menjelaskan tentang hari valentine ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A day on which lovers traditionally exchange affectionate messages and gift. It is ovserved on February 14, the date on which Saint Valentine was matyred. (The Encyclopedia Americana, volume XXVII, hal 860)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisi saling mengirimkan pesan-pesan cinta dan hadiah-hadiah. Hari itu diperingati pada tanggal 14 Februari, suatu hari di mana St. Valentine mengalami martir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The date on the modern celebration, February 14, is believed to derive in the execution of a Christian martyr, St. Valentine, on February 14, 270. (The Encyclopedia Americana, volume XIII, hal. 464)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanggal 14 Februari adalah perayaan modern yang diyakini berasal dari hari dihukum matinya seorang martir Kristen yaitu St. Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valentine, St. priest and physician of Rome who suffered martydorn probably during the persecution under Claudius II in 269. his feast is on 14 Feb. The custom of sending valentines probably had its origin in a heathen practice connected with the worship of Juno Februalis at the Lupercalia(*) or perhaps in the mediaval belief the birds commenced to mate onf 14 Feb. (Everyman’s Encyclopedia, volume XII, hal 388).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“St. Valentine adalah seorang pendeta dan tabib dari Roma yang (dianggap) martir sewaktu kaisar Claudius II pada tahun 269 M. Peringatan tersebut pada tanggal 14 Febuari. Kebiasaan dengan mengirim valentine-valentine berasal dari upacara penyembahan berhala yang dikaitkan dengan peribadatan Juno Februarlis di goa Lupercal, atau (bisa jadi) pendapat bahwa burung-burung kwain pada tanggal 14 Februari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Lupercalia merupakan upacara keagamaan (ritual) yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kuno yang dilaksanakan setiap tahun untuk menyembah dewa Lupercus, yang oleh mereka dianggap sebagai dewa kesuburan, dewa padang rumput dan pelindung ternak. Sebagai suatu upacara ritual kesuburan, Lupercalia juga dihubungkan dengan penghormatan dan penyembahan kepada dewa Faunus sebagai dewa alam dan pemberi wahyu. Upacara atau festival tersebut dipimpin dan diawasi oleh suatu badan kegamaan yang disebut Luperci dan para pendetanya disebut Luperci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap upacara Lupercalia dimulai dengan mengorbankan beberapa ekor kambing dan seekor anjing yang dipimpin oleh para Luperci. Upacara tersebut dilakukan di dalam sebuah gua bernama Lupercal, berada di bukit Palatine, yang merupakan salah satu bukit di kota Roma. Setelah itu dua orang Luperci (dalam sumber lain dua orang pemuda) dibawa ke sebuah altar, kemudian sebuah pisau yang berlumuran darah disentuhkan pada kening mereka dan darah itu diseka dengan kain wool yang telah dicelupkan ke dalam susu. Setelah itu kedua orang tersebut diharuskan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian para luperci memotong kulit kambing yang dikorbankan dan dijadikan cambuk. Kemudian mereka berlari dalam dua geromboloan mengelilingi bukit Palatine dan tembok-tembok kuno di Palatine, mencambuki setiap wanita baik yang mengikuti upacara maupun yang mereka temui di jalanan. Para wanita yang menerima cambukan itu dengan senang hati karena menurut mereka cambukan itu dapat menyebabkan atau mengembalikan kesuburannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara Lupercalia ini terus berlangsung sampai pada masa pemerintahan Kaisar Constantin Agung (280 – 337 M). Kaisar Romawi ini adalah kaisar pertama pemeluk agama Nasrani. Lewat masuknya agama Nasrani itu dan berbagai jalan yang ditempuhnya, dia memegang peranan penting dalam hal merubah agama yang dikejar-kejar dan diancam sebelumnya menjadi agama yang dominan (bersifat nasional). Pengaruh agama nasrani semakin meluas di kerajaan Romawi dan Dewan gereja memegang peranan penting di bidang politik. Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Gelasius I merubah bentuk upacara Lupercalia menjadi perayaan purifikasi (pemurnian/pembersihan diri). Dan pada tahun 496 M, Paus Gelasius I mengubah tanggal perayaan purifikasi yang berasal dari upacara ritual lupercalia dan tanggal 15 Februari menjadi tanggal 14 Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The St. Valentine who is spoken of as the apostle of Rhaetia, and venerated in passau as its first bishop. (Encyclopedia Briatannica, volume XIV, hal. 949).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“St. Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup yang pertama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dari keempat definisi tersebut adalah Valentine’s day dirayakan untuk mengormati dan mengkultuskan st. Valentine yang dianggap martir yang mati dibunuh pada tanggal 14 Februari 269 M (sumber lain menyebutkan 270 M) dan juga dianggap sebagai seorang utusan dan uskup yang dimuliakan. Pengambilan istilah itu juga dikaitkan dengan Lupercalia, upacara keagamaan orang Romawi Kuno dan juga bahwa burung-burung kawin pada tanggal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saudariku… Apakah engkau tahu apa itu martir? Martir adalah orang yang dianggap mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan (agama). Kini engkau tahu agama apa yang dipertahankan olehnya. Wallahul musta’an. Ya ukhti… bagaimana kita bisa turut serta pada hari yang ditetapkan untuk menghormati orang yang mempertahankan agama yang bukan Islam (ini bukan berarti kita dibolehkan untuk menetapkan hari khusus untuk kematian orang-orang yang mempertahankan agama Islam!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila dikaitkan dengan upacara Lupercalia, maka ini juga sangat jauh dari syari’at Islam, bahkan penuh dengan kesyirikan yang merusak tauhid. Lihatlah bagaimana upacara tersebut dilaksanakan untuk menyembah dewa-dewa. Padahal tidak ada yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Belum lagi keyakinan batil tentang pengaruh cambukan yang dapat menyebabkan atau mengembalikan kesuburan. Padahal tidak ada yang kuasa untuk memberi kesuburan pada seseorang sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, “Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy-Syuura [42]: 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah saudariku, tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali meninggalkan jauh-jauh kebiasaan turut serta merayakan hari Valentine ini. Apakah kita hendak turut serta pada acara yang ditetapkan oleh Nasrani untuk mengkultuskan sang uskup yang mati sebagai martir? Padahal kita ketahui orang-orang Nasrani tidak akan senang sampai kita mengikuti agama mereka. Maka senanglah mereka ketika kita turut berbaur dalam hari raya mereka. Karena Rasululllah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud). Atau… apakah kita hendak mendukung pula upacara Lupercalia yang penuh muatan syirik dan kemaksiatan? Na’udzubillah mindzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukupkanlah diri kita dengan apa yang telah diturunkan Allah dalam Al-Qur’an dan yang diajarkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Karena kasih sayang di antara sesama muslim jauh lebih indah dimana Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang mukmin di dalam saling mencintai, saling mengaishi dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu anggotanya menderita sakit maka seluruh jasad merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka engkau tidak perlu ragu-ragu untuk meninggalkan hari raya tersebut. Bertaubat adalah langkah yang utama dan mulia jika ternyata di hari yang lalu kita menjadi bagian dari perayaan tersebut. Semoga kita terus diberikan hidayah taufik oleh Allah untuk menjalankan amalan sesuai tuntunan syari’at. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Majalah As Sunnah edisi 11 tahun I.&lt;br /&gt;   2. Riyadush Shalihin – edisi Indonesia – karya Imam Nawawi jilid 1. Takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Duta Ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-5542737143426422196?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/5542737143426422196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/ada-apa-di-balik-valentines-day.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5542737143426422196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5542737143426422196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/ada-apa-di-balik-valentines-day.html' title='Ada Apa di Balik Valentine’s Day ?'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-8465588367379030182</id><published>2009-12-05T11:40:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T16:17:44.445+08:00</updated><title type='text'>Beriman Kepada Malaikat</title><content type='html'>Penyusun: Ummu ‘Umar &amp; Ummu Ziyad&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhty sekalian tentu telah mengetahui bahwasanya yang menyampaikan wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Malaikat Jibril. Kemudian pernahkah antunna (kalian) bertanya-tanya, apakah malaikat Allah hanya Jibril, atau adakah malaikat yang lainnya? Dan apa saja tugas mereka? Agar antunna tidak penasaran, mari kita simak ulasan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari cahaya, senantiasa menyembah Allah, tidak pernah mendurhakai perintah Allah serta senantiasa melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Keimanan kepada malakat mengandung 4 unsur, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Mengimani adanya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu kepercayaan yang pasti tentang keberadaan para malaikat. Tidak seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwa malaikat adalah hanya sebuah ‘kata’ yang bermakna konotasi yang berarti kebaikan atau semacamnya. Allah Ta’ala telah menyatakan keberadaan mereka dalam firman-Nya yang artinya: “Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 26-27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Mengimani nama-nama malaikat yang telah kita ketahui, sedangkan malaikat yang tidak diketahui namanya wajib kita imani secara global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dalil yang menunjukkan banyaknya bilangan malaikat dan tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah Ta’ala adalah sebuah hadits shahih yang berkaitan dengan baitul makmur. Di dalam hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya baitul makmur berada di langit yang ketujuh setentang dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada 70 ribu malaikat yang shalat di dalamnya kemudian apabila mereka telah keluar maka tidak akan kembali lagi.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Mengimani sifat-sifat malaikat yang kita ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti misalnya sifat Jibril, dimana Nabi mengabarkan bahwa beliau shallallahu’alaihi wa sallam pernah melihat Jibril dalam sifat yang asli, yang ternyata mempunyai enam ratus sayap yang dapat menutupi cakrawala (HR. Bukhari). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya yang mempunyai enam ratus sayap, setiap sayap menutup ufuk, dari sayapnya berjatuhan berbagai warna, mutiara dan permata yang hanya Allah sajalah yang mengetahui keindahannya.” (Ibnu Katsir berkata dalam Bidayah Wan Nihayah bahwa sanad hadits ini bagus dan kuat, sedangkan Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata dalam Al-Musnad bahwa sanad hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas disebutkan bahwa malaikat memiliki sayap dengan berbagai warna. Hal ini menunjukkan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla dan memberitahukan bentuk Jibril ‘alaihissalaam yang mempunyai enam ratus sayap, setiap sayap menutup ufuk. Kita tidak perlu mempersoalkan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat melihat enam ratus sayap dan bagaimana pula cara beliau menghitungnya? Padahal satu sayap saja dapat menutupi ufuk? Kita jawab: “Selagi hadits tersebut shahih dan para ulama menshahihkan sanadnya maka kita tidak membahas mengenai kaifiyat (bagaimananya), karena Allah Maha Kuasa untuk memperlihatkan kepada Nabi-Nya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hal-hal yang tidak dapat dibayangkan dan dicerna oleh akal fikiran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala menceritakan bahwa sayap yang dimiliki malaikat memiliki jumlah bilangan yang berbeda-beda. “Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Faathir: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat malaikat yang lain adalah terkadang malaikat itu -dengan kekuasaan Allah- bisa berubah bentuk menjadi manusia, sebagaimana yang terjadi pada Jibril saat Allah mengutusnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan pada manusia apa itu Islam, Iman dan Ihsan. Demikian juga dengan para malaikat yang diutus oleh Allah kepada Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalaam, mereka semua datang dalam bentuk manusia. Para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa mentaati apa yang diperintahkan oleh Allah dan tidak pernah mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mengimani dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengimani dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka yang mereka tunaikan berdasarkan perintah Allah Ta’ala, seperti bertasbih (mensucikan Allah) dan beribadah kepada-Nya tanpa kenal lelah dan tanpa pernah berhenti. Di antara para malaikat, ada yang memiliki tugas khusus, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Jibril ‘alaihissalaam yang ditugasi menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Rasul-Nya ‘alaihimussalaam.&lt;br /&gt;   2. Mikail yang ditugasi menurunkan hujan dan menyebarkannya.&lt;br /&gt;   3. Israfil yang ditugasi meniup sangkakala.&lt;br /&gt;   4. Malaikat Maut yang ditugasi mencabut nyawa. Dalam beberapa atsar ada disebutkan bahwa malaikat maut bernama Izrail, namun atsar tersebut tidak shahih. Nama yang benar adalah Malaikat Maut sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah ta’ala yang artinya: “Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu.” (QS. As-Sajdah: 11)&lt;br /&gt;   5. Yang ditugasi menjaga amal perbuatan hamba dan mencatatnya, perbuatan yang baik maupun yang buruk, mereka adalah para malaikat pencatat yang mulia. Adapun penamaan malaikat Raqib dan ‘Atid juga tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka kita menamakan malaikat sesuai dengan apa yang telah Allah namakan bagi mereka.&lt;br /&gt;   6. Yang ditugasi menjaga hamba pada waktu bermukim atau bepergian, waktu tidur atau ketika jaga dan pada semua keadaannya, mereka adalah Al-Mu’aqqibat.&lt;br /&gt;   7. Para malaikat penjaga surga. Ridwan merupakan pemimpin para malaikat di surga (apabila hadits tentang hal itu memang sah, ed).&lt;br /&gt;   8. Sembilan belas malaikat yang merupakan pemimpin para malaikat penjaga neraka dan pemukanya adalah malaikat Malik.&lt;br /&gt;   9. Para malaikat yang diserahi untuk mengatur janin di dalam rahim. Jika seorang hamba telah sempurna empat bulan di dalam perut ibunya, maka Allah ta’ala mengutus seorang malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya dan sengsara atau bahagianya.&lt;br /&gt;  10. Para malaikat yang diserahi untuk menanyai mayit ketika telah diletakkan di dalam kuburnya. Ketika itu, dua malaikat mendatanginya untuk menanyakan kepadanya tentang Rabb-nya, agamanya dan nabinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan-Kesalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat kesalahan-kesalahan yang merusak keimanan kepada malaikat. Bahkan bisa jadi kesalahan itu membawa kepada kekufuran – na’udzu billahi min dzalik -. Oleh karena itulah, kita berlindung kepada Allah agar tidak terjatuh dalam kesalahan tersebut. Beberapa kesalahan yang ada adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Sungguh inilah yang juga dikatakan kaum musyrikin. Maha Suci Allah dari anggapan ini. Hal ini terdapat dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri apa yang mereka sukai.” (QS. An-Nahl [16]: 57)&lt;br /&gt;   2. Beribadah kepada para malaikat. Padahal jika mereka mau merenungi ayat-ayat Al-Qur’an, akan jelas ditemukan bahwa para malaikat itu sendiri hanya menyembah kepada Allah semata. Walaupun mereka diberi berbagai kelebihan oleh Allah, mereka tetaplah makhluk Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.” (QS. Al A’raaf [7]: 206)&lt;br /&gt;   3. Menamakan para malaikat dengan nama-nama yang tidak ditetapkan oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an dan tidak disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti misalnya menamakan malaikat maut dengan nama Izroil, malaikat pencatat amal dengan Roqib dan ‘Atid.&lt;br /&gt;   4. Mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah pembantu Allah. Maha Suci Allah dari perkataan seperti ini. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan para malaikat tersebut. Dan segala makhluk yang diciptakan Allah adalah membutuhkan Allah. Malaikat-malaikat tersebut pun melaksanakan tugas-tugasnya karena diperintah oleh Allah dan diberi kemampuan untuk melaksanakannya. Kesalahan anggapan ini adalah termasuk dari kesalahan pemahaman karena menyamakan Allah dengan mahluk, dalam hal ini adalah menyamakan Allah dengan kondisi para raja yang membutuhkan pembantu-pembantu untuk melaksanakan pekerjaannya. Dan ini termasuk dalam hakikat kesyirikan. -na’udzubillah mindzalik-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Keimanan Kepada Malaikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beriman kepada para malaikat memiliki pengaruh yang agung dalam kehidupan setiap mukmin, di antaranya dapat kita sebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mengetahui keagungan, kekuatan serta kesempurnaan kekuasaan-Nya. Sebab keagungan (sesuatu) yang diciptakan (makhluk) menunjukkan keagungan yang menciptakan (al-Khaliq). Dengan demikian akan menambah pengagungan dan pemuliaan seorang mukmin kepada Allah, di mana Allah menciptakan para malaikat dari cahaya dan diberiNya sayap-sayap.&lt;br /&gt;   2. Senantiasa istiqomah (meneguhkan pendirian) dalam menaati Allah ta’ala. Karena barangsiapa beriman bahwa para malaikat itu mencatat semua amal perbuatannya, maka ini menjadikannya semakin takut kepada Allah, sehingga ia tidak akan berbuat maksiat kepada-Nya, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;   3. Bersabar dalam menaati Allah serta merasakan ketenangan dan kedamaian. Karena sebagai seorang mukmin ia yakin bahwa bersamanya dalam alam yang luas ini ada ribuan malaikat yang menaati Allah dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya.&lt;br /&gt;   4. Bersyukur kepada Allah atas perlindungan-Nya kepada anak Adam, dimana ia menjadikan sebagian dari para malaikat sebagai penjaga mereka.&lt;br /&gt;   5. Waspada bahwa dunia ini adalah fana dan tidak kekal, yakni ketika ia ingat Malaikat Maut yang suatu ketika akan diperintahkan untuk mencabut nyawanya. Karena itu, ia akan semakin rajin mempersiapkan diri menghadapi hari Akhir dengan beriman dan beramal shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sedikit ilmu yang dapat kami sampaikan kepada saudariku. Semoga antunna sekalian menemukan jawaban atas pertanyaan tentang malaikat yang selama ini mungkin menjadi ganjalan dalam benak antunna. Semoga setelah membaca dan merenungkan tentang hakikat malaikat, iman kita menjadi bertambah dan supaya lebih tertanam dalam hati kita, bahwa manusia tidak akan dibiarkan saja tanpa pertanggungjawaban, karena ada malaikat yang selalu mencatat amal perbuatan kita yang kelak kita akan ditanyai tentangnya… Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pelajaran Tauhid untuk Tingkat Lanjutan. Darul Haq.&lt;br /&gt;   2. Syarah Ushul Atsalatsah. Syaikh Fauzan. (terjemahan)&lt;br /&gt;   3. Syarh Tsalatsatul Ushul. Syaikh Muhammad ibn Sholih Al ‘Utsaimin.&lt;br /&gt;   4. Penjelasan kitab Kasyfu Syubhat oleh Ustadz Marwan (catatan kajian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-8465588367379030182?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/8465588367379030182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/beriman-kepada-malaikat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8465588367379030182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8465588367379030182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/beriman-kepada-malaikat.html' title='Beriman Kepada Malaikat'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3735750403899018790</id><published>2009-12-05T11:39:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:40:31.080+08:00</updated><title type='text'>Jauhkan Anak dari Tathoyyur!</title><content type='html'>Penyusun: Ummu Ziyad&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUK! Terdengar suara keras dari halaman. Ternyata si kecil Fida’ terjatuh keras. Lalu sang ibu pun tergopoh-gopoh berlari dari dalam. “Nah… nak… itu tandanya harus berhenti main. Ayo masuk rumah!” Lain lagi di rumah tetangga. Sang anak yang sudah berusia 11 tahun mendengar pembantu di dapur berkata, “Aduh… nasinya basah… siapa ya yang sakit di kampung?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ibu… kasihanilah anakmu dan keluarga yang menjadi tanggung jawabmu di rumah. Sungguh dengan terbiasa melihat dan mendengar kejadian semacam itu, maka akan mengendap dalam benak mereka perbuatan-perbuatan yang tidak lain merupakan tathoyyur. Padahal tidaklah tathoyyur itu melainkan termasuk kesyirikan. Apakah kita hendak mengajarkan kepada anak kesayangan kita dengan kesyirikan yang merusak fitrah tauhid kepada Allah? Wal’iyyadzubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tathoyyur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tathoyyur atau thiyaroh secara bahasa diambil dari kata thair (burung). Hal ini dikarenakan tathoyyur merupakan kebiasaan mengundi nasib dengan menerbangkan burung; jika sang burung terbang ke kanan, maka diartikan bernasib baik atau sebaliknya jika terbang ke kiri maka berarti bernasib buruk. Dan tathoyur secara istilah diartikan menanggap adanya kesialan karena adanya sesuatu (An Nihayah Ibnul Atsir 3/152, Al Qoulul Mufid Ibnu Utsaimin, 2/77. Lihat majalah Al-Furqon, Gresik). Walaupun pada asalnya anggapan sial ini dengan melihat burung namun ini hanya keumuman saja. Adapun penyandaran suatu hal dengan menghubungkan suatu kejadian untuk kejadian lain yang tidak ada memiliki hubungan sebab dan hanya merupakan tahayul semata merupakan tathoyur. Misalnya, jika ada yang bersin berarti ada yang membicarakan, jika ada cicak jatuh ke badan berarti mendapat rezeki, jika ada makanan jatuh berarti ada yang menginginkan dan kepercayaan-kepercayaan yang tidak ada dasarnya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللّهُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raaf [7]:131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman berkata, “Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Kesialan mereka, yaitu ‘Apa yang ditakdirkan kepada mereka.’ Dalam suatu riwayat, ‘Kesialan mereka adalah di sisi Allah dan dari-Nya.’ maksudnya kesialan mereka adalah dari Allah disebabkan kekafiran dan keingkaran mereka terhadap ayat-Nya dan rasul-rasul-Nya.” (Fathul Majid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan firman Allah yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yaasiin [36]:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan bahwa bisa jadi maksudnya adalah kemalangan itu berbalik menimpa dirimu sendiri. Artinya, tathoyyur yang kamu lakukan akan berbalik menimpamu (Fathul Majid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Hasan menjelaskan bahwa relevansi kedua ayat dalam masalah tathoyyur adalah tathoyyur berasal dari perbuatan orang-orang jahiliyah dan orang-orang musyrik. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam juga telah menafikan adanya tathoyyur dalam sabdanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَ لاَ هَامَةَ صَفَرَ، زَادَ مُسلِمُ: وَلاَ نَوْءَ وَلاَ غُوْلَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, “Tidak ada ‘adwa, tidak ada tathoyyur, tidak ada hamah dan tidak ada shafar.” (HR. Bukhori dan Muslim). Imam Muslim menambahkan dengan, “Tidak ada bintang dan tidak ada ghul (hantu).” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Penulis pada kesempatan ini hanya akan membahas penafian Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dengan adanya tathoyyur. Adapun pengertian istilah-istilah dalam hadits ini akan dibahas tersendiri dalam rubrik akidah, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya Mempercayai Tathoyyur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai Ibu, sesungguhnya tathoyyur adalah perbuatan yang dapat merusak tauhid karena ia termasuk kesyirikan. Terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud rodhiallahu ‘anhu secara marfu’,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وماَ مِنَّا إلاَّ، وَلَكِنَّ اللّهض يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tathoyyur adalah kesyirikan, tathoyyur adalah kesyirikan, dan tidak ada seorang pun dari kita kecuali (telah terjadi dalam dirinya sesuatu dari hal itu), akan tetapi Allah menghilangannya dengan tawakal.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menyatakan shahih dan menjadikan perkataan terakhir adalah dari perkataan Ibnu Mas’ud. Lihat Fathul Majid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurahman bin Hasan menjelaskan bahwa thiyarah termasuk kesyirikan yang menghalangi kesempurnaan tauhid karena ia berasal dari godaan rasa takut dan bisikan yang berasal dari setan (Fathul Majid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ibu… kesyirikan merupakan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah hingga sang pelaku bertaubat atas kesalahannya. Lalu bagaimana lagi jika kesyirikan yang kita lakukan diikuti oleh anak cucu kita. Itu berarti kita menanggung dosa-dosa mereka (karena telah mengikuti bertathoyyur) dengan tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun. Na’udzubillah mindzalik. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa melakukan amal keburukan maka baginya dosa dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan Adanya Tathoyyur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sebaliknya manusia adalah jiwa yang lemah yang juga memiliki musuh-musuh yang akan selalu membisikan was-was dari arah depan, belakang, samping kiri dan kanan. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Mu’awiyah bin Al Hakam bahwasannya ia berkata kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, ‘Di antara kami ada orang-orang yang bertathoyyur.’ Beliau menjawab, ‘Itu adalah sesuatu yang akan kalian temukan dalam diri kalian, akan tetapi janganlah engkau jadikan ia sebagai penghalang bagimu’.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Hasan berkata ketika mengomentari hadits ini, “Dengan ini Beliau mengabarkan bahwa rasa sial dan nasib malang yang ditimbukan dari sikap tathoyyur ini hanya pada diri dan keyakinannya, bukan pada sesuatu yang di-tathoyyurkan. Maka prasangka, rasa takut dan kemusyrikannya itulah yang membuatnya ber-tathoyyur dan menghalangi dirinya, bukan apa yang dilihat dan didengarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini jelas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan satu tanda apapun yang menunjukkan adanya kesialan atau menjadi sebab bagi sesuatu yang dikhawatirkan manusia. Ini adalah termasuk kasih sayang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karena jika ada tanda-tanda semacam itu, tentu manusia tidak akan tenang dalam menjalankan aktifias di dunia. Maka jika muncul rasa was-was dalam hati seseorang karena mendengar atau melihat sesuatu yang itu merupakan tathoyyur, maka hendaklah ia mengucapkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللّهُمَّ لاَ يَأْتِي بِااْحَسَنَاتِ إلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّآتِ إلاَّ أنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بشكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang menolak keburukan kecuali Engkau, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau.” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapula riwayat hadits dari Ibnu ‘Amr, “Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya karena tathoyyur, maka ia benar-benar telah berbuat kemusyrikan. Mereka berkata, ‘Lalu apa yang dapat menghapus itu?’ Ia berkata, ‘Hendaknya orang itu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللًّهُمَّ لاَ خَيْرَ إلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إلاَّ طَيْرُكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan dari engkau dan tidak ada Ilah yang haq selain Engkau.’” (HR.Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauhkan Anak dari Tathoyyur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang memang terjadi pada diri sang ibu atau anggota keluarga lain yang mengeluarkan kalimat atau perbuatan yang pada hakekatnya adalah tathoyyur baik disadari atau tidak. Maka kini ketika menyadari bahwa itu adalah kalimat tathoyyur, hendaknya anggota keluarga saling mengingatkan dan menggantinya dengan kalimat yang mengarahkan anak untuk kecintaannya pada dinul Islam. Hal ini dikarenakan anak sangat mudah menyerap hal-hal yang didengar atau dilihatnya dan akan terus membekas sampai sang anak dewasa (dengan tanpa menyadari itu adalah sebuah kesalahan atau kebaikan). Penulis memberikan beberapa contoh yang mungkin biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak jatuh atau terluka, maka tidak dikatakan, “Itu tandanya kamu begini dan begitu. Tidak usah diteruskan, dll.” Tetapi karena ia kesakitan dan menangis maka doakanlah ia semacam doa, “La ba’sa thohurun insya Allah.” Dengan demikian anak terbiasa mendengar doa tersebut dan sang ibu menjalankan salah satu sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk kesalahan dalam mendidik adalah ketika mereka terluka kemudian yang disalahkan adalah benda-benda di sekitarnya semisal, “Batunya nakal ya”. Ini hanya akan mengajarkan anak selalu mencari-cari kesalahan pada yang lain tanpa melihat kesalahan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya, ketika ada yang bersin, tidak dikatakan, “Wah ada yang ngomongin tuh” atau perkataan-perkataan yang tidak berdasar lainnya. Tetapi jika yang bersin mengucapkan “Alhamdulillah”, maka jawablah dengan “Yarhamukallah” yang kemudian akan dijawab kembali oleh yang bersin dengan bacaan, “Yahdikumullah wa yushlih baalakum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan-bacaan ini adalah termasuk sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang perlu dibiasakan pada diri anak. Dalam hal pendidikan pada anak yang banyak memerlukan pembiasaan, perlu adanya kerjasama dari anggota keluarga untuk saling mendukung dalam mendidik anak. Pembiasaan pada anak juga terpengaruh dari kebiasaan yang ada pada orang tua dan keluarga. (Lihat kitab Hisnul Muslim karya Sa’id bin Wahf al Qothoni -sudah diterjemahkan- untuk mengetahui do’a-do’a menurut sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh manis apa yang bisa kita tanamkan kepada sang anak ketika kecil jika mengikuti sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Insya Allah buahnya akan kita rasakan baik dalam waktu yang relatif dekat atau ketika sang anak telah besar nantinya. Ini juga menunjukkan betapa Nabi kita shollallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan segala hal yang baik untuk umatnya. Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Majalah Al Furqon edisi 5 tahun III.&lt;br /&gt;   2. Fathul Majid (terjemahan edisi revisi). Syaikh Abdurrahman bin Hasan alu Syaikh. Cetakan kelima. 2004.&lt;br /&gt;   3. Kitab Tauhid (terjemahan). Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Darul Haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3735750403899018790?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3735750403899018790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/jauhkan-anak-dari-tathoyyur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3735750403899018790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3735750403899018790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/jauhkan-anak-dari-tathoyyur.html' title='Jauhkan Anak dari Tathoyyur!'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-6014003377421284715</id><published>2009-12-05T11:30:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:39:46.820+08:00</updated><title type='text'>Iman Kepada Rasul</title><content type='html'>Penyusun: Ummu Ziyad&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku! Jangan Pandang Sebelah Mata Pembahasan Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada diantara kita yang merasa cukup dengan apa yang telah dipelajari selama ini dari bangku SD hingga bangku SMA (bahkan bangku perkuliahan) atau merasa tidak ada yang perlu dibahas lagi, sudah tahu bahwa Nabi itu ada 25, sifat nabi yang wajib ada 4, shidiq, fatonah, amanah, dan tabligh. Jika demikian pemahamanmu wahai saudariku, maka kebutuhanmu semakin besar dalam membaca tulisan kali ini, sehingga dengan izin Allah, engkau akan menyadari makna dan konsekuensi yang benar dari pernyataan keimananmu kepada Nabi dan Rasul-Nya ‘alaihimush shalatu wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Nabi dan Rasul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi dalam bahasa Arab berasal dari kata naba. Dinamakan Nabi karena mereka adalah orang yang menceritakan suatu berita dan mereka adalah orang yang diberitahu beritanya (lewat wahyu). Sedangkan kata rasul secara bahasa berasal dari kata irsal yang bermakna membimbing atau memberi arahan. Definisi secara syar’i yang masyhur, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan sedangkan Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dalam syari’at dan diperintahkan untuk menyampaikannnya (*). Sebagian ulama menyatakan bahwa definisi ini memiliki kelemahan, karena tidaklah wahyu disampaikan Allah ke bumi kecuali untuk disampaikan, dan jika Nabi tidak menyampaikan maka termasuk menyembunyikan wahyu Allah. Kelemahan lain dari definisi ini ditunjukkan dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Syaikh Ibn Abdul Wahhab menggunakan definisi ini dalam Ushulutsalatsah dan Kasyfu Syubhat, begitu pula Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ditampakkan kepadaku umat-umat, aku melihat seorang nabi dengan sekelompok orang banyak, dan nabi bersama satu dua orang dan nabi tidak bersama seorang pun.” (HR. Bukhori dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga menyampaikan wahyu kepada umatnya. Ulama lain menyatakan bahwa ketika Nabi tidak diperintahkan untuk menyampaikan wahyu bukan berarti Nabi tidak boleh menyampaikan wahyu. Wallahu’alam. Perbedaan yang lebih jelas antara Nabi dan Rasul adalah seorang Rasul mendapatkan syari’at baru sedangkan Nabi diutus untuk mempertahankan syari’at yang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Beriman Kepada Nabi dan Rasul ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah saudariku! Beriman kepada Nabi dan Rasul termasuk ushul (pokok) iman. Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana beriman kepada Nabi dan Rasul dengan pemahaman yang benar. Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin menyampaikan dalam kitabnya Syarh Tsalatsatul Ushul, keimanan pada Rasul terkandung empat unsur di dalamnya (*).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Perlu diperhatikan bahwa penyebutan empat di sini bukan berarti pembatasan bahwa hanya ada empat unsur dalam keimanan kepada nabi dan rosul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi dan Rasul. Orang yang mengingkari – walaupun satu Rasul – sama saja mengingkari seluruh Rasul. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’araa 26:105). Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan nabi Nuh, akan tetapi Allah menjadikan mereka kaum yang mendustai seluruh Rasul.&lt;br /&gt;   2. Mengimani nama-nama Nabi dan Rasul yang kita ketahui dan mengimani secara global nama-nama Nabi dan Rasul yang tidak ketahui. – akan datang penjelasannya -&lt;br /&gt;   3. Membenarkan berita-berita yang shahih dari para Nabi dan Rasul.&lt;br /&gt;   4. Mengamalkan syari’at Nabi dimana Nabi diutus kepada kita. Dan penutup para nabi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Sehingga ketika telah datang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib bagi ahlu kitab tunduk dan berserah diri pada Islam Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-NisaA’ 4:65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Nabi dan Rasul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah saudariku, jumlah Nabi tidaklah terbatas hanya 25 orang dan jumlah Rasul juga tidak terbatas 5 yang kita kenal dengan nama Ulul ‘Azmi. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari, ia bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, berapa jumlah rasul?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tiga ratus belasan orang.” (HR. Ahmad dishahihkan Syaikh Albani). Dalam riwayat Abu Umamah, Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa tepatnya para nabi?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “124.000 dan Rasul itu 315 orang.” Namun terdapat pendapat lain dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa jumlah Nabi dan Rasul tidak dapat kita ketahui. Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, walaupun dalam Al-Qur’an hanya disebut 25 nabi, maka kita tetap mengimani secara global adanya Nabi dan Rasul yang tidak dikisahkan dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Al-Mu’min 40:78). Selain 25 nabi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, terdapat 2 nabi yang disebutkan Nabi shalallahu’alaihiwasalam, yaitu Syts dan Yuusya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan tiga nama yang disebut dalam Al-Qur’an yaitu Zulkarnain, Tuba’ dan Khidir terdapat khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama apakah mereka Nabi atau bukan. Akan tetapi, untuk Zulkarnain dan Tuba’ maka yang terbaik adalah mengikuti Rasulullah shalallahu’alaihiwasalam, Beliau shalallahu’alaihiwasalam bersabda, “Aku tidak mengetahui Tubba nabi atau bukan dan aku tidak tahu Zulkarnain nabi atau bukan.” (HR. Hakim dishohihkan Syaikh Albani dalam Shohih Jami As Soghir). Maka kita katakan wallahu’alam. Untuk Khidir, maka dari ayat-ayat yang ada dalam surat Al-Kahfi, maka seandainya ia bukan Nabi, maka tentu ia tidak ma’shum dari berbagai perbuatan yang dilakukan dan Nabi Musa ‘alaihissalam tidak akan mau mencari ilmu pada Khidir. Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas Para Rasul ‘alaihissalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari’at dari tiap Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dengan tugas yang sama. Beberapa diantara tugas tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Menyampaikan risalah Allah ta’ala dan wahyu-Nya.&lt;br /&gt;   2. Dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;br /&gt;   3. Memberikan kabar gembira dan memperingatkan manusia dari segala kejelekan.&lt;br /&gt;   4. Memperbaiki jiwa dan mensucikannya.&lt;br /&gt;   5. Meluruskan pemikiran dan aqidah yang menyimpang.&lt;br /&gt;   6. Menegakkan hujjah atas manusia.&lt;br /&gt;   7. Mengatur umat manusia untuk berkumpul dalam satu aqidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan-Kesalahan Dalam Keimanan Kepada Nabi dan Rosul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat berbagai pemahaman yang salah dalam hal keimanan pada Nabi dan Rasul-Nya ‘alaihisholatu wassalam. Beberapa di antara kesalahan itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Memberikan sifat rububiyah atau uluhiyah pada nabi. Ini adalah suatu kesalahan yang banyak dilakukan manusia. Mereka meminta pertolongan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah wafat, menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cahaya di atas cahaya (sebagaimana kita dapat temui dalam sholawat nariyah) dan sebagainya yang itu merupakan hak milik Allah ta’ala semata. Nabi adalah manusia seperti kita. Mereka juga merupakan makhluk yang diciptakan Allah ta’ala. Walaupun mereka diberi berbagai kelebihan dari manusia biasa lainnya, namun mereka tidak berhak disembah ataupun diagungkan seperti pengagungan pada Allah ta’ala. Mereka dapat dimintai pertolongan dan berkah ketika masih hidup namun tidak ketika telah wafat.&lt;br /&gt;   2. Menyatakan sifat wajib bagi Nabi ada 4, yaitu shidiq, amanah, fatonah dan tabligh. Jika maksud pensifatan ini untuk melebihkan Nabi di atas manusia lainnya, maka sebaliknya ini merendahkan Nabi karena memungkinkan Nabi memiliki sifat lain yang buruk. Yang benar adalah Nabi memiliki semua sifat yang mulia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam 68:4) Mustahil bagi orang yang akan memperbaiki akhlak manusia tapi memiliki akhlak-akhlak yang buruk dan yang lebih penting lagi, pensifatan ini tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;   3. Mengatakan bahwa ada nabi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhususan Bagi Nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mendapatkan wahyu.&lt;br /&gt;   2. Ma’shum (terbebas dari kesalahan).&lt;br /&gt;   3. Ada pilihan ketika akan meninggal.&lt;br /&gt;   4. Nabi dikubur ditempat mereka meninggal.&lt;br /&gt;   5. Jasadnya tidak dimakan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan manusia pada para Nabi dan Rasul-Nya adalah sangat primer. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan, “Risalah kenabian adalah hal yang pasti dibutuhkan oleh hamba. Dan hajatnya mereka pada risalah ini di atas hajat mereka atas segala sesuatu. Risalah adalah ruhnya alam dunia ini, cahaya dan kehidupan. Lalu bagaimana mau baik alam semesta ini jika tidak ada ruhnya, tidak ada kehidupannya dan tidak ada cahayanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah saudariku. Kita mengetahui kebutuhan hamba akan risalah yang disampaikan oleh Rasul-Nya sangatlah besar. Karena tidaklah seorang hamba dapat melaksanakan ibadah yang dicintai dan diridhoi oleh Allah ta’ala kecuali dengan pengajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dengan diutusnya para Rasul ini, kita mengetahui bahwa Allah menyayangi dan memberi pertolongan pada hambanya. Oleh karena itulah kita wajib bersyukur dengan nikmat yang besar ini. Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Syarh Tsalatsatul Ushul. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin.&lt;br /&gt;   2. Rekaman kajian Iman kepada Nabi dan Rosul, Dauroh Muslim Muslimah Dasar 2004. Ustadz Kholid Syamhudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-6014003377421284715?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/6014003377421284715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/iman-kepada-rasul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6014003377421284715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/6014003377421284715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/iman-kepada-rasul.html' title='Iman Kepada Rasul'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-570966330023511700</id><published>2009-12-05T11:29:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:30:11.510+08:00</updated><title type='text'>Menjaga Anak dari Bahaya ‘Ain</title><content type='html'>Penulis: Ummu Ziyad&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan adalah hal yang didambakan setiap orang. Dan setiap kenikmatan juga dapat sekaligus menjadi ujian bagi seseorang. Salah satu kenikmatan yang dikaruniakan oleh Allah bagi sepasang insan adalah hadirnya sang buah hati dalam kehidupan. Ketika telah lahir, maka fisiknya yang lucu mengundang orang untuk memandang, memanjakan, menyentuhnya. Dan ketika tumbuh beranjak menjadi sosok kanak-kanak, tetap tingkah lakunya banyak mengundang perhatian orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebab ini, maka perlulah kita ketahui sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap yang memiliki kenikmatan pasti ada yang iri (dengki).” (Shahihul Jami’ 223. Lihat majalah Al Furqon). Perlu menjadi perhatian bagi orang tua bahwa dalam syari’at Islam telah dijelaskan adanya bahaya ‘ain (pandangan mata) terutama bagi anak-anak. Pandangan mata yang berbahaya ini dapat muncul dengan sebab kedengkian orang yang memandang atau karena kekaguman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya ‘Ain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qoyyim rohimahullah dalam kitab Tafsir Surat Muawwadzatain berkata, “Bahaya dari pandangan mata dapat terjadi ketika seseorang yang berhadapan langsung dengan sasarannya. Sasaran tukang pandang terkadang bisa mengenai sesuatu yang tidak patut didengki, seperti benda, hewan, tanaman, dan harta. Dan terkadang pandangan matanya dapat mengenai sasaran hanya dengan pandangan yang tajam dan pandangan kekaguman.” Pengaruh dari bahaya pandangan mata pun hampir mengenai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al Qur’an dan mereka mengatakan ‘Sesungguhnya dia (Muhammad) benar-benar gila.” (Al Qalam [68]: 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat pula hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;العين حقُُّ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, lihatlah bagaimana bahaya ‘ain telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah. Dan terdapat pula contoh-contoh pengaruh buruk ‘ain yang terjadi pada masa sahabat. Salah satunya adalah yang terjadi ada Sahl bin Hunaif yang terkena ‘ain bukan karena rasa dengki namun karena rasa takjub. Sebagaimana dalam hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif menyebutkan bahwa Amir bin Rabi’ah pernah melihat Sahl bin Hunaif mandi lalu berkatalah Amir, “Demi Allah, Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini.” Berkata Abu Umamamh, “Maka terpelantinglah Sahl.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata, “Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!” Maksudnya Nabi menyuruh Amir berwudhu kemudian diambil bekas air wudhunya untuk disiramkan kepada Sahl dan ini adalah salah satu cara pengobatan orang yang tertimpa ‘ain bila diketahui pelaku ‘ain tersebut (*). Maka Amir mandi dengan menggunakan satu wadah air. Dia mencuci wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia.” (HR. Malik dalam al Muwaththa 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. sanadnya shahih, para perawinya terpercaya, lihat Zaadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al Arnauth dan Abdul Qadir al Arnauth 4/150 cet tahun 1424 H. Lihat majalah Al Furqon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Kata mandi yang ada di sini maksudnya adalah berwudhu sebagaimana disebutkan Imam Malik dalam kitab Al Muwattho. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-Tanda Terkena ‘Ain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Pada suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ما لِصبيِّكم هذا يبكي قهلاََ استرقيتم له من العين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ‘ain?” (HR. Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais, “Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma menjawab, “Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain”. Beliau berkata, “Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlindung dari Bahaya ‘Ain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya syari’at Islam adalah sempurna. Setiap hal yang mendatangkan bahaya bagi umatnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu telah menjelaskan tentang perkara tersebut dan cara-cara mengantisipasinya. Begitu pula dengan bahaya ‘ain ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagi Seseorang yang Memungkinkan Memberi Pengaruh ‘Ain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits Abu Umamah di atas maka hendaknya seseorang yang mengagumi sesuatu dari saudaranya maka yang baik adalah mendoakan keberkahan baginya. Dan berdasarkan surat Al Kahfi ayat 39, maka ketika takjub akan sesuatu kita juga dapat mengucapkan doa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا شَآءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بِا للهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh atas kehendak Allah-lah semua ini terwujud.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagi yang Memungkinkan Terkena ‘Ain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ‘ain terjadi karena ada pandangan. Maka hendaknya orang tua tidak berlebihan dalam membanggakan anaknya karena dapat menimbulkan dengki ataupun kekaguman pada yang mendengar dan kemudian memandang sang anak. Adapun jika memang kenikmatan itu adalah sesuatu yang memang telah nampak baik dari kepintaran sang anak, fisiknya yang masya Allah, maka hendaknya orang tua mendoakan dengan doa-doa, dzikir dan ta’awudz yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah surat muawadzatain (surat Annas dan al-Falaq). Ada pula do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’: 3120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dengan doa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, terdapat pula do’a yang dibacakan oleh malaikat Jibril alaihissalam ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat gangguan setan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ أرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءِِ يُؤْذِيْكََ مِن شَرِّ كُلِّ نَفْسِِ وَ عَيْنِ حَاسِدِِ اللهُ يَشْفِيكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ‘ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terdapat do’a-do’a lain yang dapat dibacakan kepada sang anak untuk menjaganya dari bahaya ‘ain ataupun menyembuhkannya ketika telah terkena ‘ain. (lihat Hisnul Muslim oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani atau Ad Du’a min Al Kitab wa As Sunnah yang telah diterjemahkan dengan judul Doa-doa Dan Ruqyah dari Al-Qur’an dan Sunnah oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan-Kesalahan Dalam Penjagaan dari Bahaya ‘Ain atau Sejenisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bayi sangat rentan baik dari bahaya ‘ain ataupun gangguan setan lainnya. Terdapat beberapa kesalahan yang biasa terjadi dalam menjaga anak dari gangguan tersebut karena tidak berdasarkan pada nash syari’at. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Menaruh gunting di bawah bantal sang bayi dengan keyakinan itu akan menjaganya. Sungguh ini termasuk kesyirikan karena menggantungkan sesuatu pada yang tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya.&lt;br /&gt;   2. Mengalungkan anak dengan ajimat, mantra dan sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan sang anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlulah kita selalu mengingat, bahwa sekalipun kita mengetahui bahaya ‘ain memiliki pengaruh sangat besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu. Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Ini termasuk pengingkaran terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sikap yang terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikhabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Majalah Al Furqon edisi 4 Tahun V/Dzulqo’dah 1426.&lt;br /&gt;   2. Doa-Doa dan Ruqyah dari Al Qur’an dan Sunnah. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani. Media Hidayah. 2004.&lt;br /&gt;   3. Tafsir Surah Muawwadzatain. Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Akbar. 2002.&lt;br /&gt;   4. Tumbuh di Bawah Naungan Ilahi. Syaikh Jamal Abdul Rahman. Media Hidayah. 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-570966330023511700?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/570966330023511700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/menjaga-anak-dari-bahaya-ain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/570966330023511700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/570966330023511700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/menjaga-anak-dari-bahaya-ain.html' title='Menjaga Anak dari Bahaya ‘Ain'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-4901372268623266920</id><published>2009-12-05T11:28:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:29:31.834+08:00</updated><title type='text'>Ukhti Muslimah, Ketahuilah Hakekat Kesyirikan!</title><content type='html'>Penulis: Ummul Hasan&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاء فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah, demikianlah Allah menegaskan nasib seseorang yang berbuat syirik terhadap Allah. Betapa meruginya dia, ketika telah jatuh dari langit dia kemudian disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Betapa meruginya dia. Apakah hikmah di balik perumpamaan yang telah Allah sampaikan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesyirikan di Zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Hingga Zaman Sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syirik adalah mempersekutukan Allah dalam penyembahan terhadap-Nya. Syirik merupakan lawan dari tauhid (mengesakan Allah dalam penyembahan terhadap-Nya), sedangkan tauhid adalah inti ajaran setiap Rasul yang diutus oleh Allah. Maka tauhid yang sempurna haruslah terbebas dari noda kesyirikan. Akar kesyirikan adalah kebodohan manusia terhadap Allah. Manusia tidak mengenal Allah dengan baik, sehingga tidak pula mengenal tata cara beribadah yang benar kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya manusia sadar bahwa dirinya telah berbuat syirik kepada Allah namun karena kesombongannya untuk menerima kebenaran maka dia tetap teguh di atas kesyirikannya, sebagaimana yang terjadi pada kaum musyrikin di zaman Rasulullah. Mereka enggan mengucapkan syahadat Laa ilaaha illallah, karena mereka benar-benar paham bahwa maksud syahadat tersebut adalah tidak bolehnya menyembah sesuatu selain Allah, baik itu memberi sesajen, memohon do’a kepada orang-orang yang dianggap sholih, dan berbagai bentuk peribadatan yang lain. Mereka hanyalah sombong untuk menerima kebenaran ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya ?” (QS. Yunus: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, adapula manusia yang benar-benar bodoh karena tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjerumus dalam kesyirikan, sedangkan mereka merasa dirinya sedang beribadah kepada Allah dengan peribadatan yang sempurna. Inilah yang pada umumnya terjadi di masa kini, dimana orang-orang yang mempersembahkan peribadatan kepada selain Allah merasa bahwa mereka sedang beribadah kepada Allah. Mereka memberi sesajen ke tempat-tempat yang mereka anggap keramat padahal tempat-tempat itu sama sekali tidak dapat mendatangkan manfaat ataupun mudhorot bagi mereka, mereka berbondong-bondong datang ke kuburan-kuburan orang-orang yang mereka anggap wali (seperti: Wali Songo) lalu mereka berdo’a dengan begitu khusyu’ nya di sana, mereka takut akan kemurkaan “penjaga gunung” jikalau sesajen tak dihantarkan kepadanya lalu muncullah gempa yang menggoncangkan pasak-pasak bumi, mereka sangat khawatir bila ratu penjaga pantai tak diberi sepotong kepala kerbau maka sang ratu akan mendatangkan bencana dari lautan kepada mereka. Demikianlah kebodohan musyrikin zaman sekarang. Kesyirikan yang mereka lakukan bukan hanya dalam uluhiyah (penyembahan makhluk terhadap Al-Kholiq yaitu Allah), tetapi juga dalam perkara rububiyah (yaitu hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, seperti menciptakan, mendatangkan bencana, memberi rezeki, dan sebagainya). Betapa besar kebodohan orang-orang musyrik yang menganggap bahwa selain Allah (yaitu “penjaga gunung”, ratu penjaga pantai, orang-orang yang mereka anggap wali, dan tempat-tempat yang mereka anggap keramat) bisa memberi rezeki atau membebaskan mereka dari marabahaya, lalu karena itu orang-orang musyrik dengan penuh harap dan takut menyembah sekutu-sekutu Allah itu sebagaimana mereka menyembah Allah. Bahkan seringkali mereka lebih mengagungkan sekutu-sekutu tersebut dibandingkan pengagungan mereka terhadap Allah. Sebagaimana yang sering kita jumpai orang-orang yang sangat takut bila bencana datang akibat kemurkaan Nyi Roro Kidul Ratu Pantai Selatan, padahal mereka tidak takut bila Allah menimpakan azab yang sangat pedih secara tiba-tiba akibat kesyirikan yang senantiasa mereka lakukan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakekat Kesyirikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang musyrik mempersembahkan peribadatan kepada selain Allah dapat terjadi akibat salah satu diantara dua hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mereka menganggap bahwa sekutu-sekutu Allah yang mereka sembah itu memiliki kekuasaan yang sama dengan kekuasaan Allah, seperti kemampuan Dewi Sri menumbuhkan tanaman padi sebagaimana Allah pun dapat melakukannya, kemampuan “penjaga gunung” mendatangkan gempa bumi sebagaimana Allah pun dapat melakukannya.&lt;br /&gt;   2. Mereka menganggap bahwa sekutu-sekutu tersebut hanya merupakan wasilah (perantara) dalam mendekatkan orang-orang musyrik tersebut kepada Allah, seperti berdo’a pada orang-orang yang dianggap wali agar mereka hajat mereka dapat segera tersampaikan kepada Allah. Mereka menganggap Allah seperti raja yang sulit untuk mengetahui seluruh kebutuhan rakyatnya bila tidak dibantu oleh para pendamping yaang merupakan wasilah/perantara. Padahal bukankah di Al-Qur’an telah sangat sering disebutkan bahwa Allah adalah Al-Bashir (Yang Maha Melihat) dan As-Samii’ (Yang Maha Mendengar)??!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengenali hakekat kesyirikan, kita bisa mengetahui sebab-sebab kemusyrikan di zaman Rasulullah hingga zaman sekarang. Seorang ulama besar, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, menyebutkan bahwa hakekat kesyirikan kembali kepada dua perkara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Tasyabbuh, yaitu menyerupakan makhluk dengan Al-Kholiq dalam kekhususan yang dimiliki Allah (Al-Kholiq/Pencipta), seperti: menciptakan.&lt;br /&gt;   2. Tasybihul Kholiq bil makhluq, yaitu menyerupakan Al-Kholiq dengan makhluk, seperti: orang-orang Nasrani yang menamakan Allah dengan Tuhan Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin merunut kedua hakekat kesyirikan tersebut, maka kita akan kembali pada akar kesyirikan yaitu kebodohan manusia tentang Allah. Bagaimana tidak dikatakan bodoh bila telah jelas tanpa keraguan bahwa yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mengatur segala urusan, yang memiliki segenap kekuasaan alam semesta hanyalah Allah sehingga dengan sebab itulah hanya Allah yang berhak disembah, namun musyrikin tersebut tetap mempersembahkan bentuk peribadatan kepada selain Allah. Dengan kata lain, mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu yang sama sekali tidak memiliki kemampuan sebagaimana yang dimiliki oleh Allah. Mereka memberikan hak uluhiyah (penyembahan) kepada sesuatu yang tidak memiliki hak rububiyah (kemampuan untuk mencipta, mengatur alam semesta, dan berbagai kemampuan lain yang hanya dimiliki oleh Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin kita menyamakan Allah dengan makhluk? Padahal antara makhluk dan Al-Kholiq (Pencipta) pastilah berbeda. Al-Kholiq itu Maha Kuasa atas segala sesuatu, sedangkan makhluk tidak memiliki kekuasaan sedikitpun kecuali bila Al-Kholiq membantu mereka. Maka, bagaimana mungkin makhluk yang lemah bisa disamakan dengan Al-Kholiq yang Maha Kuasa? Pemikiran rusak seperti inilah yang merasuki jiwa orang-orang musyrik sejak dahulu hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milikilah Kunci Penutup Pintu Kesyirikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah, tentunya kita bersama telah mengetahui bahwa sesungguhnya Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alif laam miim. Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, renungilah kembali sebuah surat di dalam Al-Qur’an yang sudah sangat sering kita baca. Hendaknya surat tersebut menjadi perenungan bagi setiap orang yang mempersembahkan peribadatan mereka kepada selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an merupakan ucapan yang paling benar, maka pintu kesyirikan manalagi yang bisa dibuka bila Allah sendiri yang telah menegaskan di dalam Al-Qur’an bahwa TIDAK ADA SESUATU PUN YANG SETARA DENGAN- ALLAH??!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disarikan dari Syarah Kasfu Syubuhat oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin dan beberapa catatan ta’lim, seperti: Kasyfu Syubuhat dan Lum’atul I’tiqod)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-4901372268623266920?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/4901372268623266920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/ukhti-muslimah-ketahuilah-hakekat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/4901372268623266920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/4901372268623266920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/ukhti-muslimah-ketahuilah-hakekat.html' title='Ukhti Muslimah, Ketahuilah Hakekat Kesyirikan!'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-99215203647294256</id><published>2009-12-05T11:17:00.001+08:00</published><updated>2009-12-05T11:17:33.927+08:00</updated><title type='text'>Mengimani Kitab-Kitab Allah</title><content type='html'>Penyusun: Ummu ‘Ummar dan Ummu Ziyad&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah termasuk salah satu rukun iman, sebagaimana firman Allah azza wa jalla yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah ta’ala memerintahkan agar kita beriman kepada-Nya, kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam, kepada kitab-Nya yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya yakni Al-Qur’an dan juga memerintahkan agar kita mengimani kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an. Dalam hadits dari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasu-lNya, hari Akhir dan hendaknya engkau beriman kepada qadar (takdirNya), yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, perlu kita ketahui bersama bahwa keimanan kepada kitab-kitab Allah terkandung di dalamnya empat unsur, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, adalah beriman bahwa kitab-kitab itu benar-benar diturunkan dari sisi Allah ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, beriman kepada apa yang telah Allah namakan dari kitab-kitabNya dan mengimani secara global kitab-kitab yang kita tidak ketahui namanya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” Ayat ini menunjukkan bahwa terdapat kitab bagi setiap Rasul, akan tetapi kita tidak mengetahui seluruh namanya. Adapun kitab-kitab yang kita ketahui namanya adalah Al-Qur’an Al-Karim yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalaam, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihissalaam, Suhuf Ibrohim, dan Taurat (Ada sebagian ulama yang menyatakan kitab yang diturunkan bagi nabi Musa ‘alaihissalaam adalah Taurat, ada pula yang menyatakan bahwa bagi nabi Musa ‘alaihissalaam terdapat kitab lainnya yaitu Suhuf Musa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, yaitu membenarkan berita-berita yang benar dari kitab-kitab tersebut sebagaimana pembenaran kita terhadap berita-berita Al-Qur’an dan juga berita-berita lainnya yang tidak diganti atau dirubah, dari kitab-kitab terdahulu (sebelum Al-Qur’an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, yaitu mengamalkan hukum-hukum yang tidak dihapus (nasakh) serta dengan rela dan pasrah menerimanya, baik kita ketahui hikmahnya atau tidak. Ketahuilah saudariku, bahwa seluruh kitab yang ada telah terhapus (mansukh) dengan turunnya Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaimin terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Maa’idah 5:48). Artinya, Al-Qur’an sebagai ‘hakim’ atas kitab-kitab yang ada sebelumnya. Maka tidaklah diperbolehkan untuk mengamalkan hukum apapun dari hukum-hukum terdahulu, kecuali yang sah dan diakui oleh Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Keimanan Kepada Kitab-Kitab Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui bagaimana mengimani kitab-kitab Allah secara benar, maka tentunya keimanan tersebut akan berdampak bagi diri seorang muslim. Diantara buah keimanan tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mengetahui pertolongan Allah ta’ala pada hamba-hamba-Nya dimana Allah menurunkan kepada setiap kaum kitab yang memberi petunjuk pada mereka.&lt;br /&gt;   2. Mengetahui dengan hikmah-Nya, Allah ta’ala mensyari’atka kepada setiap kaum sesuai dengan keadaan mereka. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maa’idah 5:48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kini engkau memahamibagaimana beriman kepada kitab-kitab Allah ta’ala secara benar. Kitab-kitab yang seluruhnya adalah kalamullah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada setiap Rasul. Tunduk dan berserah diri dengan apa yang ada pada kitab terakhir yang diturunkan yaitu Al-Qur’an dengan tanpa menafikan kebenaran yang ada pada kitab-kitab sebelumnya. Mengamalkan seluruh hukumnya tanpa memilih sebagian ayat dan menolak ayat lainnya yang ini merupakan tindakan kekufuran – na’udzubillahi min dzalik-. Semoga Allah memudahkan kita dalam menjalankan syari’at ini. Hanya Allah-lah tempat bersandar dan memohon pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maroji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pelajaran Tauhid untuk Tingkat Lanjutan. Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif. Darul Haq.&lt;br /&gt;   2. Syarah Tsalaatsatul Ushuul – terjemahan -, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin/. Al Qowam.&lt;br /&gt;   3. Syarah Al ‘Aqidah Al Wasithiyah li Jam’il ‘Ulama. Dar Ibnul Jauzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-99215203647294256?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/99215203647294256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/mengimani-kitab-kitab-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/99215203647294256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/99215203647294256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/mengimani-kitab-kitab-allah.html' title='Mengimani Kitab-Kitab Allah'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-5880217329595579404</id><published>2009-12-05T11:16:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:17:03.149+08:00</updated><title type='text'>Indahnya Cinta Karena Allah</title><content type='html'>بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ummul Hasan&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara nalar pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain dibandingkan diri kita? Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepada saudara kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dalam syarah beliau terhadap hadits diatas (selengkapnya, lihat di Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Tidaklah seseorang beriman” maksudnya adalah -pen). Para ulama berkata, “yakni tidak beriman dengan keimanan yang sempurna, sebab jika tidak, keimanan secara asal tidak didapatkan seseorang kecuali dengan sifat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari kata “sesuatu bagi saudaranya” adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…hingga dia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan sebagaimana dia mencintai jika hal itu terjadi bagi dirinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abu Amru Ibnu Shalah berkata, “Hal ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan mustahil, padahal tidaklah demikian, karena makna hadits ini adalah tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai bagi keislaman saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya. Menegakkan urusan ini tidak dapat direalisasikan dengan cara menyukai jika saudaranya mendapatkan apa yang dia dapatkan, sehingga dia tidak turut berdesakan dengan saudaranya dalam merasakan nikmat tersebut dan tidak mengurangi kenikmatan yang diperolehnya. Itu mudah dan dekat dengan hati yang selamat, sedangkan itu sulit terjadi pada hati yang rusak, semoga Allah Ta’ala memaafkan kita dan saudara-saudara kita seluruhnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Zinad berkata, “Sekilas hadits ini menunjukkan tuntutan persamaan (dalam memperlakukan dirinya dan saudaranya), namun pada hakekatnya ada tafdhil (kecenderungan untuk memperlakukan lebih), karena manusia ingin jika dia menjadi orang yang paling utama, maka jika dia menyukai saudaranya seperti dirinya sebagai konsekuensinya adalah dia akan menjadi orang yang kalah dalam hal keutamaannya. Bukankah anda melihat bahwa manusia menyukai agar haknya terpenuhi dan kezhaliman atas dirinya dibalas? Maka letak kesempurnaan imannya adalah ketika dia memiliki tanggungan atau ada hak saudaranya atas dirinya maka dia bersegera untuk mengembalikannya secara adil sekalipun dia merasa berat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara ulama berkata tentang hadits ini, bahwa seorang mukmin satu dengan yang lain itu ibarat satu jiwa, maka sudah sepantasnya dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya karena keduanya laksana satu jiwa sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang mukmin itu ibarat satu jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara” yang dimaksud dalam hadits tersebut bukan hanya saudara kandung atau akibat adanya kesamaan nasab/ keturunan darah, tetapi “saudara” dalam artian yang lebih luas lagi. Dalam Bahasa Arab, saudara kandung disebut dengan Asy-Asyaqiiq ( الشَّّقِيْقُ). Sering kita jumpa seseorang menyebut temannya yang juga beragama Islam sebagai “Ukhti fillah” (saudara wanita ku di jalan Allah). Berarti, kebaikan yang kita berikan tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin, karena sesungguhnya kaum muslim itu bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin kita menerapkan hal ini sekarang? Sekarang kan jaman susah. Mengurus diri sendiri saja sudah susah, bagaimana mungkin mau mengutamakan orang lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku -semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita diatas keimanan-, jadilah seorang mukmin yang kuat! Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai Allah. Seberat apapun kesulitan yang kita hadapi sekarang, ketahuilah bahwa kehidupan kaum muslimin saat awal dakwah Islam oleh Rasulullah jauh lebih sulit lagi. Namun kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh melebihi kesedihan mereka pada kesulitan hidup yang hanya sementara di dunia. Dengarkanlah pujian Allah terhadap mereka dalam Surat Al-Hasyr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar(ash-shodiquun). Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut Allah memuji kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk memperoleh kebebasan dalam mewujudkan syahadat mereka an laa ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah. Mereka meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan harta yang telah mereka kumpulkan dengan jerih payah. Semua demi Allah! Maka, kaum muhajirin (orang yang berhijrah) itu pun mendapatkan pujian dari Allah Rabbul ‘alamin. Demikian pula kaum Anshar yang memang merupakan penduduk Madinah. Saudariku fillah, perhatikanlah dengan seksama bagaimana Allah mengajarkan kepada kita keutamaan orang-orang yang mengutamakan saudara mereka. Betapa mengagumkan sikap itsar (mengutamakan orang lain) mereka. Dalam surat Al-Hasyr tersebur, Allah memuji kaum Anshar sebagai Al-Muflihun (orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat) karena kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka (kaum Anshar) sebenarnya juga sedang berada dalam kesulitan. Allah Ta’aala memuji orang-orang yang dipelihara Allah Ta’aala dari kekikiran dirinya sebagai orang-orang yang beruntung. Tidaklah yang demikian itu dilakukan oleh kaum Anshar melainkan karena keimanan mereka yang benar-benar tulus, yaitu keimanan kepada Dzat yang telah menciptakan manusia dari tanah liat kemudian menyempurnakan bentuk tubuhnya dan Dia lah Dzat yang memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendaki oleh-Nya serta menghalangi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ingatlah wahai saudariku fillah, jangan sampai kita tergelincir oleh tipu daya syaithon ketika mereka membisikkan ke dada kita “utamakanlah saudaramu dalam segala hal, bahkan bila agama mu yang menjadi taruhannya.” Saudariku fillah, hendaklah seseorang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi agamanya. Misalkan seorang laki-laki datang untuk sholat ke masjid, dia pun langsung mengambil tempat di shaf paling belakang, sedangkan di shaf depan masih ada tempat kosong, lalu dia berdalih “Aku memberikan tempat kosong itu bagi saudaraku yang lain. Cukuplah aku di shaf belakang.” Ketahuilah, itu adalah tipu daya syaithon! Hendaklah kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan agama kita. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlomba-lombalah dalam membuat kebaikan agama, bukan dalam urusan dunia. Banyak orang yang berdalih dengan ayat ini untuk menyibukkan diri mereka dengan melulu urusan dunia, sehingga untuk belajar tentang makna syahadat saja mereka sudah tidak lagi memiliki waktu sama sekali. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menjaga diri kita agar tidak menjadi orang yang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujudkanlah Kecintaan Kepada Saudaramu Karena Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bersama mengurai, apa contoh sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara kita yang juga kita cintai bagi diri kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakekatnya ucapan salam merupakan do’a dari seseorang bagi orang lain. Di dalam lafadz salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” terdapat wujud kecintaan seorang muslim pada muslim yang lain. Yaitu keinginannya agar orang yang disapanya dengan salam, bisa memperoleh keselamatan, rahmat, dan barokah. Barokah artinya tetapnya suatu kebaikan dan bertambah banyaknya dia. Tentunya seseorang senang bila ada orang yang mendo’akan keselamatan, rahmat, dan barokah bagi dirinya. Semoga Allah mengabulkan do’a tersebut. Saudariku fillah, bayangkanlah! Betapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan kepada saudara kita sesama muslim bila setiap bertemu dengan muslimah lain -baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal- kita senantiasa menyapa mereka dengan salam. Bukankah kita pun ingin bila kita memperoleh banyak do’a yang demikian?! Namun, sangat baik jika seorang wanita muslimah tidak mengucapkan salam kepada laki-laki yang bukan mahromnya jika dia takut akan terjadi fitnah. Maka, bila di jalan kita bertemu dengan muslimah yang tidak kita kenal namun dia berkerudung dan kita yakin bahwa kerudung itu adalah ciri bahwa dia adalah seorang muslimah, ucapkanlah salam kepadanya. Semoga dengan hal sederhana ini, kita bisa menyebar kecintaan kepada sesama saudara muslimah. Insya Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertutur Kata yang Menyenangkan dan Bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sehari bisa kita hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sekedar berkumpul-kumpul dan ngobrol dengan teman. Seringkali obrolan kita mengarah kepada ghibah/menggunjing/bergosip. Betapa meruginya kita. Seandainya, waktu ngobrol tersebut kita gunakan untuk membicarakan hal-hal yang setidaknya lebih bermanfaat, tentunya kita tidak akan menyesal. Misalnya, sembari makan siang bersama teman kita bercerita, “Tadi shubuh saya shalat berjamaah dengan teman kost. Saya yang jadi makmum. Teman saya yang jadi imam itu, membaca surat Al-Insan. Katanya sih itu sunnah. Memangnya apa sih sunnah itu?” Teman yang lain menjawab, “Sunnah yang dimaksud teman anti itu maksudnya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang disunnahkan untuk membaca Surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at.” Lalu, teman yang bertanya tadi pun berkata, “Ooo… begitu, saya kok baru tahu ya…” Subhanallah! Sebuah makan siang yang berubah menjadi “majelis ilmu”, ladang pahala, dan ajang saling memberi nasehat dan kebaikan pada saudara sesama muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajak Saudara Kita Untuk Bersama-Sama Menghadiri Majelis ‘Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari obrolan singkat di atas, bisa saja kemudian berlanjut, “Ngomong-ngomong, kamu tahu darimana kalau membaca surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at itu sunnah?” Temannya pun menjawab, “Saya tahu itu dari kajian.” Alhamdulillah bila ternyata temannya itu tertarik untuk mengikuti kajian, “Kalau saya ikut boleh nggak? Kayaknya menyenangkan juga ya ikut kajian.” Temannya pun berkata, “Alhamdulillah, insyaAllah kita bisa berangkat sama-sama. Nanti saya jemput anti di kost.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling Menasehati, Baik Dengan Ucapan Lisan Maupun Tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya tentang aibnya kepada shahabat yang lain. Shahabat itu pun menjawab bahwa dia pernah mendengar bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu memiliki bermacam-macam lauk di meja makannya. Lalu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pun berkata yang maknanya ‘Seorang teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan kepadamu aib mu (agar orang yang dinasehati bisa memperbaiki aib tersebut. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang banyak. Agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang lain. Terdapat beberapa perincian dalam masalah ini -pen).’ Bentuk nasehat tersebut, bukan hanya secara lisan tetapi bisa juga melalui tulisan, baik surat, artikel, catatan saduran dari kitab-kitab ulama, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling Mengingatkan Tentang Kematian, Yaumil Hisab, At-Taghaabun (Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan), Surga, dan Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat banyak orang yang baru ingin bertaubat bila nyawa telah nyaris terputus. Maka, diantara bentuk kecintaan seorang muslim kepada saudaranya adalah saling mengingatkan tentang kematian. Ketika saudaranya hendak berbuat kesalahan, ingatkanlah bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan kita mati. Dan kita pasti tidak ingin bila kita mati dalam keadaan berbuat dosa kepada Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku fillah, berbaik sangkalah kepada saudari muslimah mu yang lain bila dia menasehati mu, memberimu tulisan-tulisan tentang ilmu agama, atau mengajakmu mengikuti kajian. Berbaik sangkalah bahwa dia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Sebagaimana dia pun menginginkan yang demikian bagi dirinya. Karena, siapakah gerangan orang yang senang terjerumus pada kubangan kesalahan dan tidak ada yang mengulurkan tangan padanya untuk menariknya dari kubangan yang kotor itu? Tentunya kita akan bersedih bila kita terjatuh di lubang yang kotor dan orang-orang di sekeliling kita hanya melihat tanpa menolong kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada ruginya bila kita banyak mengutamakan saudara kita. Selama kita berusaha ikhlash, balasan terbaik di sisi Allah Ta’ala menanti kita. Janganlah risau karena bisikan-bisikan yang mengajak kita untuk “ingin menang sendiri, ingin terkenal sendiri”. Wahai saudariku fillah, manusia akan mati! Semua makhluk Allah akan mati dan kembali kepada Allah!! Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal. Maka, melakukan sesuatu untuk Dzat Yang Maha Kekal tentunya lebih utama dibandingkan melakukan sesuatu sekedar untuk dipuji manusia. Bukankah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji Allah Ta’Ala Pasti Benar !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah -semoga Allah senantiasa menjaga kita diatas kebenaran-, ketahuilah! Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan kemuliaan di Akhirat. Terdapat beberapa Hadits Qudsi tentang hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Muslim al-Khaulani radhiyallahu ‘anhu dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, dengan sabdanya, ‘Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Muslim radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Kemudian aku keluar hingga bertemu ‘Ubadah bin ash-Shamit, lalu aku menyebutkan kepadanya hadits Mu’adz bin Jabal. Maka ia mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, yang berfirman, ‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.’ Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi; Shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat (artinya: “Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna.” Do’a ini diucapkan Rasulullah bila beliau mendapatkan hal yang menyenangkan). Allah Ta’aala menyediakan bagi kita lahan pahala yang begitu banyak. Allah Ta’aala menyediakannya secara cuma-cuma bagi kita. Ternyata, begitu sederhana cara untuk mendapat pahala. Dan begitu mudahnya mengamalkan ajaran Islam bagi orang-orang yang meyakini bahwa esok dia akan bertemu dengan Allah Rabbul ‘alamin sembari melihat segala perbuatan baik maupun buruk yang telah dia lakukan selama hidup di dunia. Persiapkanlah bekal terbaik kita menuju Negeri Akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita dan orang-orang yang kita cintai karena Allah di Surga Firdaus Al-A’laa bersama para Nabi, syuhada’, shiddiqin, dan shalihin. Itulah akhir kehidupan yang paling indah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maroji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Terjemah Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyyah karya Ibnu Daqiiqil ‘Ied&lt;br /&gt;   2. Terjemah Shahih Hadits Qudsi karya Syaikh Musthofa Al-’Adawi&lt;br /&gt;   3. Sunan Tirmidzi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-5880217329595579404?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/5880217329595579404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/indahnya-cinta-karena-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5880217329595579404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5880217329595579404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/indahnya-cinta-karena-allah.html' title='Indahnya Cinta Karena Allah'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-7206474490840741348</id><published>2009-12-05T11:13:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:14:40.810+08:00</updated><title type='text'>Macam-Macam Syirik</title><content type='html'>Penyusun Ulang: Ummu Aufa&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, setelah di edisi kemarin kita dapat mengetahui hakikat kesyirikan maka kini kami ingin menjelaskan mengenai macam-macam syirik. Syirik tidak hanya menyembah berhala, menyembah selain-Nya namun riya’ juga merupakan syirik. Dengan demikian marilah saudariku kita simak penjelasan di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian syirik ada berbagai macam tergantung dikelompokkan pada kelompok yang mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Syirik di dalam Rububiyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu meyakini bahwa selain Allah mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan lainnya dari sifat-sifat rububiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Syirik di dalam Uluhiyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu meyakini bahwa selain Allah bisa memberikan madharat atau manfaat, memberikan syafaat tanpa izin Allah, dan lainnya yang termasuk sifat-sifat uluhiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Syirik di dalam Asma’ wa Sifat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu seorang meyakini bahwa sebagian makhluk Allah memiliki sifat-sifat khusus yang Allah ta’alla miliki, seperti mengetahui perkara gaib, dan sifat-sifat lainnya yang merupakan kekhususan Rabb kita yang Maha Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syirik Menurut Kadarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Syirik Akbar (besar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu syirik dalam keyakinan, dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Syirik dalam berdoa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah merendahkan diri kepada selain Allah dengan tujuan untuk istighatsah dan isti’anah kepada selain-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Syirik dalam niat, kehendak dan maksud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah manakala melakukan ibadah tersebut semata-mata ingin dilihat orang atau untuk kepentingan dunia semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Syirik dalam keta’atan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menjadikan sesuatu sebagai pembuat syariat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah dalam menjalankan syariat dan ridho atas hukum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Syirik dalam kecintaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah mengambil makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyetarakan kecintaan makhluk dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Syirik Ashghar (kecil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu riya’, hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam, akan tetapi pelakunya wajib untuk bertaubat. Akan tetapi bukan hanya riya’ saja yang termasuk syirik Ashgar. Riya’ termasuk Syirik Ashghar namun tidak semua Syirik Ashghar hanya berupa riya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Syirik Khafi (tersembunyi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu seorang beramal dikarenakan keberadaan orang lain, hal ini pun termasuk riya’, dan hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam sebagaimana anda ketahui, namun pelakunya wajib bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Syirik Menurut Letak Terjadinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Syirik I’tiqodi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syirik yang berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun bisa mengubah takdir yang digariskan kepada kita. Hal ini termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam, kita berlindung kepada Allah dari hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Syirik Amali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu setiap amalan fisik yang dinilai oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti menyembelih untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Syirik Lafzhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu setiap lafazh yang dihukumi oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti perkataan sebagian orang, “Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau”, dan “Aku bertawakal kepadamu”, “Kalau bukan karena Allah dan si fulan maka akan begini dan begitu”, dan lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengetahui beberapa kategori syirik diatas dapat membantu kita untuk menghindarinya agar tidak terjatuh dalam kesyirikan dalam bentuk apapun dan cara bagaimana pun. Semoga kita semua bisa terhindar dari syirik tersebut di manapun dan kapan pun jua. Wallohu a’lam bishowab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;Penjelasan Al-Qaul Al-Mufid fii Adillati At-Tauhid (terj)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-7206474490840741348?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/7206474490840741348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/macam-macam-syirik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/7206474490840741348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/7206474490840741348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/macam-macam-syirik.html' title='Macam-Macam Syirik'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-111788940241287255</id><published>2009-12-05T11:12:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:13:11.753+08:00</updated><title type='text'>Ketika Kita Ingin Dilihat</title><content type='html'>Penyusun: Ummu Aiman&lt;br /&gt;Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah, anti sudah hafal 5 juz ???&lt;br /&gt;Hmmm…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Saat pujian datang -apalagi dari seseorang yang istimewa dalam pandangannya- tentulah hati akan bahagia jadinya. Berbunga-bunga, bangga, senang. Itu manusiawi. Namun hati-hatilah duhai saudariku, jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita karena di setiap amal ibadah yang kita lakukan dituntut keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah dan sebaliknya, niatpun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak bernilai sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, kita tidak hendak membahas tentang ikhlas melainkan salah satu lawan dari ikhlas, yaitu riya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah Ibnu Yaman pernah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal-hal yang baik sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal jelek agar aku terhindar dari kejelekan tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saudariku muslimah, marilah kita mempelajari tentang riya’ agar kita terhindar dari kejelekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari Kita Berbicara tentang Riya’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ru’yah (الرّؤية), maknanya penglihatan. Sehingga menurut bahasa arab hakikat riya’ adalah orang lain melihatnya tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan, “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan agar dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amal tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah ukhti mendengar tentang sum’ah? Sum’ah berbeda dengan riya’, jika riya’ adalah menginginkan agar amal kita dilihat orang lain, maka sum’ah berarti kita ingin ibadah kita didengar orang lain. Ibnu Hajar menyatakan: “Adapun sum’ah sama dengan riya’. Akan tetapi ia berhubungan dengan indera pendengaran (telinga) sedangkan riya’ berkaitan dengan indera penglihatan (mata).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika seorang beramal dengan tujuan ingin dilihat, misalnya membaguskan dan memperlama shalat karena ingin dilihat orang lain, maka inilah yang dinamakan riya’. Adapun jika beramal karena ingin didengar orang lain, seperti seseorang memperindah bacaan Al Qur’annya karena ingin disebut qari’, maka ini yang disebut sebagai sum’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya Riya’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudariku, bahwa riya’ termasuk ke dalam syirik asghar/kecil. Ia dapat mencampuri amal kita kemudian merusaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala. Lalu bagaimana dengan amalan yang tercampur riya’? Tentu saja akan merusak pahala amalan tersebut. Bisa merusak salah satu bagiannya saja atau bahkan merusak keseluruhan dari pahala amalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa bentuk riya’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Riya’ yang mencampuri amal dari awal hingga akhir, maka amalannya terhapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Misalnya seseorang yang hendak mengerjakan shalat lalu datang seseorang yang ia kagumi. Kemudian ia shalat dengan bagus dan khusyu’ karena ingin dilihat orang tersebut. Riya’ tersebut ada dari awal hingga akhir shalatnya dan ia tidak berusaha untuk menghilangkannya, maka amalannya terhapus.&lt;br /&gt;   2. Riya’ yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah amal dan dia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ ini tidak mempengaruhi pahala amalannya. Misalnya seseorang yang shalat kemudian muncul riya’ di tengah-tengah shalatnya dan ia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ tersebut tidak mempengaruhi ataupun merusak pahala shalat tersebut.&lt;br /&gt;   3. Riya’ muncul tiba-tiba di tengah-tengah namun dibiarkan terus berlanjut, maka ini adalah syirik asghar dan menghapus amalannya. Namun dalam kondisi ini ulama berselisih pendapat tentang amalan mana yang terhapus, misalnya riya’ dalam shalat. Apakah rakaat yang tercampuri riya’ saja yang terhapus ataukah keseluruhan shalatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama menyatakan bahwa yang terhapus hanyalah pada amalan yang terkait. Pendapat kedua, yaitu perlu dirinci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Kalau amalannya merupakan satu rangkaian dan tidak mungkin dipisahkan satu dengan yang lain, misalnya shalat dhuhur empat rakaat, maka terhapus rangkaian amal tersebut.&lt;br /&gt;   2. Kalau amalannya bukan merupakan satu rangkaian, maka amal yang terhapus pahalanya adalah sebatas yang tercampuri saja. Misalnya seseorang yang bersedekah kepada sepuluh orang anak yatim. Saat bersedekah pada anak kesatu sampai yang kelima ia ikhlas. Akan tetapi riya’ muncul saat ia bersedekah pada anak ke-enam, maka pahala yang terhapus adalah sedekah pada anak ke-enam. Contoh yang serupa adalah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riya’ itu Samar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan takut dicela. Hal ini menyebabkan riya’ menjadi sangat samar dan tersembunyi. Terkadang, seorang merasa telah beramal ikhlas karena Allah, namun ternyata secara tak sadar ia telah terjerumus kedalam penyakit riya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, pernahkah engkau mendengar langkah laki seekor semut? Suara langkahnya begitu samar bahkan tidak dapat kita dengar. Seperti inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kesamaran riya’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.” Lalu Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kesyirikan itu ialah menyembah selain Allah atau berdoa kepada selain Allah disamping berdoa kepada selain Allah?” maka beliau bersabda.”Bagaimana engkau ini. Kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah kaki semut.” (HR Abu Ya’la Al Maushili dalam Musnad-nya, tahqiq Irsya Al Haq Al Atsari, cetakan pertama, tahun 1408 H, Muassasah Ulum Al Qur’an, Beirut, hlm 1/61-62. dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Targhib, 1/91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan bahaya riya’ atas umat Islam melebihi kekhawatiran beliau terhadap bahaya Dajjal. Disebutkan dalam sabda beliau: “Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Dajjal.” Kami menyatakan, “Tentu!” beliau bersabda “Syirik khafi (syirik yang tersembunyi). Yaitu seseorang mengerjakan shalat, lalu ia baguskan shalatnya karena ia melihat ad seseorang yang memandangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak akan terjadi, kecuali karena faktor pendukung yang kuat. Yaitu karena setiap manusia memiliki kecenderungan ingin mendapatkan pujian, kepemimpinan dan kedudukan tinggi di hadapan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Riya’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ukhti muslimah, didalam mencapai tujuannya, para mura’i (orang yang riya’) menggunakan banyak jalan, diantaranya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat atau rajin berpuasa.&lt;br /&gt;   2. Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan pakaian yang seadanya agar tampil seperti ahli ibadah. Ketika menjelaskan QS Al Fath, dalam Hasyiah Ash Shawi 4/134 disebutkan, “Yang dimaksud ‘bekas sujud’ bukanlah hitam-hitam di dahi sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang ingin riya’ karena hitam-hitam di dahi merupakan perbuatan khawarij.”&lt;br /&gt;   3. Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasehat, menghafal atsar (riwayat salaf) agar dianggap sebagai orang yang sangat memperhatikan jejak salaf.&lt;br /&gt;   4. Dengan amal, yaitu seperti memperlama rukuk dan sujud ketika shalat agar tampak khusyu’ dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat Mengobati Penyakit Riya’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku, setiap insan tidak akan pernah lepas dari kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat kepada Allah atas kesalahan yang pernah dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia cepat berubah. Jika saat ini beribadah dengan ikhlas, bisa jadi beberapa saat kemudian ikhlas tersebut berganti dengan riya’. Pagi ikhlas, mungkin sore sudah tidak. Hari ini ikhlas, mungkin esok tidak. Hanya kepada Allahlah kita memohon agar hati kita diteguhkan dalam agama ini. َ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, hendaknya kita berusaha untuk menjaga hati agar terhidar dari penyakit riya’. Saudariku, inilah beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar terhindar dari riya’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memohon dan selalu berlindung kepada Allah agar mengobati penyakit riya’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riya’ adalah penyakit kronis dan berbahaya. Ia membutuhkan pengobatan dan terapi serta bermujahadah (bersungguh-sungguh) supaya bisa menolak bisikan riya’, sambil tetap meminta pertolongan Allah Ta’ala untuk menolaknya. Karena seorang hamba selalu membutuhkan pertolongan dan bantuan dari Allah. Seorang hamba tidak akan mampu melakukan sesuatu kecuali dengan bantuan dan anugerah Allah. Oleh karena itu, untuk mengobati riya’, seorang selalu membutuhkan pertolongan dan memohon perlindungan kepada-Nya dari penyakit riya’ dan sum’ah. Demikian yang diajarkan Rasulullah dalam sabda beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai sekalian manusia, peliharalah diri dari kesyirikan karena ia lebih samar dari langkah kaki semut.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami memelihara diri darinya padahal ia lebih samar dari langkah kaki semut?” beliau menjawab, “Katakanlah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللّهُمَّ إِنَّانَعُوْذُبِكَ مِنْ أََنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًانَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami mohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.’” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengenal riya’ dan berusaha menghindarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaran riya’ menuntut seseorang yang ingin menghindarinya agar mengetahui dan mengenal dengan baik riya’ dan penyebabnya. Selanjutnya, berusaha menghindarinya. Adakalanya seorang itu terjangkit penyakit riya’ disebabkan ketidaktahuan dan adakalanya karena keteledoran dan kurang hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengingat akibat jelek perbuatan riya’ di dunia dan akhirat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai saudariku di jalan Allah, sifat riya’ tidaklah memberikan manfaat sedikitpun, bahkan memberikan madharat yang banyak di dunia dan akhirat. Riya’ dapat membuat kemurkaan dan kemarahan Allah. Sehingga seseorang yang riya’ akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menyembunyikan dan merahasiakan ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu upaya mengekang riya’ adalah dengan menyembunyikan amalan. Hal ini dilakukan oleh para ulama sehingga amalan yang dilakukan tidak tercampuri riya’. Mereka tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk mengganggunya. Para ulama menegaskan bahwa menyembunyikan amalan hanya dianjurkan untuk amalan yang bersifat sunnah. Sedangkan amalan yang wajib tetap ditampakkan. Sebagian dari ulama ada yang menampakkan amalan sunnahnya agar dijadikan contoh dan diikuti manusia. Mereka menampakkannya dan tidak menyembunyikannya, dengan syarat merasa aman dari riya’. Hal ini tentu tidak akan bisa kecuali karena kekuatan iman dan keyakinan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Latihan dan mujahadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, ini semua membutuhkan latihan yang terus menerus dan mujahadah (kesungguhan) agar jiwa terbina dan terjaga dari sebab-sebab yang dapat membawa kepada perbuatan riya’ bila tidak, maka kita telah membuka pintu dan kesempatan kepada setan untuk menyebarkan penyakit riya’ ini ke dalam hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Para Salaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai muslimah, berikut ini adalah kisah salaf yang menunjukkan betapa mereka menjaga diri dari riya’ dan sum’ah. Mereka tidak menginginkan ketenaran dan popularitas. Justru sebaliknya, mereka ingin agar tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut jika hati mereka terkena ujub (bangga diri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Zar’ah yahya bin Abu ‘Amr bercerita: Pernah Adh-Dhahhak bin Qais keluar untuk memohon hujan bersama-sama dengan orang-orang, tapi ternyata hujan tidak turun dan beliau juga tidak melihat awan. Beliau berkata: “Dimana gerangan Yazid bin Al Aswad?” (dalam satu riwayat: tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan beliau. Beliau pun bertanya lagi: “Dimana Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi? Jika beliau mendengar, saya sangat berharap beliau berdiri.”) “Ini saya”, seru Yazid. “Berdirilah dan tolonglah kami ini di hadapan Allah. Jadilah kamu perantara(*) kami agar Allah menurunkan hujan kepada kami.”, kata Adh-Dhahhak bin Qais. Kemudian Yazid pun berdiri seraya menundukkan kepala sebatas bahu serta menyingsingkan lengan baju beliau kemudian berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu ini memohon syafaatku kepada-Mu.” Beliau berdoa tiga kali dan seketika itu pula turunlah hujan yang sangat deras sehingga hampir terjadi banjir. Kemudian beliau pun berkata: “Sesungguhnya kejadian ini membuat saya dikenal banyak orang. Bebaskanlah saya dari keadaan seperti ini.” Kemudian hanya berselang satu hari, yaitu Jum’at setelah peristiwa itu beliau pun wafat. (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fasawi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Dalam keadaan ini, meminta perantara dalam berdo’a diperbolehkan, karena Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi yang menjadi perantara masih dalam keadaan hidup, dan beliau adalah seorang yang shaleh. Bedakan dengan keadaan orang-orang yang berdo’a meminta kepada orang yang dianggap shaleh yang sudah meninggal dunia di kubur-kubur mereka! dan ini merupakan Syirik Akbar yang membuat pelakunya kekal di neraka jika belum bertaubat. -ed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Hammad bin Zaid rahimahullah: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub tapi beliau melewati jalan-jalan yang membuat diriku heran dan bertanya-tanya kenapa beliau sampai berbuat seperti ini (berputar-putar melewati beberapa jalan). Ternyata beliau berbuat seperti itu karena beliau tidak mau orang-orang mengenal beliau dan berkata: ‘Ini Ayyub, ini Ayyub! Ayyub datang, Ayyub datang!’” (Riwayat Ibnu Sa’ad dan lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hammad berkata lagi: “Ayyub pernah membawa saya melewati jalan yang lebih jauh, maka sayapun berkata: ‘Jalan ini lebih dekat!’ Beliau menjawab: ‘Saya menghindari kumpulan orang-orang di jalan tersebut.’ Dan memang apabila dia memberi salam, akan dijawab oleh mereka dengan jawaban yang lebih baik dari jawaban kepada yang lainnya. Dia berkata: ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya! Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya!’” (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fawasi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berlindung kepada Allah dari penyakit riya’. Semoga Allah menjadikan kita seorang mukhlishah, senantiasa berusaha untuk menjaga niat dari setiap amalan yang kita lakukan. Innamal ‘ilmu ‘indallah. Wa’allahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Terjemah Sittu Duror, Landasan Membangun Jalan Selamat. ‘Abdul Malik Ahmad Ramdhani. Media Hidayah. Cetakan pertama. 2004.&lt;br /&gt;   2. Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam. Cetakan pertama. LBIA Al Atsary.&lt;br /&gt;   3. Majalah As-Sunnah edisi 05/ VIII/ 1425H/ 2004M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-111788940241287255?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/111788940241287255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/ketika-kita-ingin-dilihat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/111788940241287255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/111788940241287255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/ketika-kita-ingin-dilihat.html' title='Ketika Kita Ingin Dilihat'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-1653226003426067366</id><published>2009-12-05T11:08:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:09:45.809+08:00</updated><title type='text'>Vegetarian Dalam Timbangan Islam</title><content type='html'>Penyusun: Ummu Ziyad&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengurangi lemak dengan tidak memakan daging hewan mungkin memang dibutuhkan untuk beberapa orang yang terkena penyakit kolesterol tinggi. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang benar-benar mengaku sebagai vegetarian sehingga mereka menghilangkan menu daging hewan secara total dari pola makan mereka? Mereka berdalih karena rasa kasihan terhadap para hewan, tidak tega dengan perlakuan para penyembelih hewan dan yang semacamnya. Yang lebih parah lagi, pada akhirnya mereka menolak berbagai bahan makanan yang berasal dari hewan, baik itu susu, telur, keju dan yang semacamnya. Sebabnya? Karena untuk pemerahan susu dikatakan hewan diperlakukan semena-mena, telur itu adalah cikal bakal anak hewan yang patut untuk hidup, atau kalimat-kalimat semacamnya. Dengan usaha keras mereka mempertahankan status vegetarian dengan menonton film yang memang dibuat untuk memperkuat ‘keimanan’ mereka akan apa yang mereka lakukan. Mudah-mudahan ukhti muslimah tidak ada yang ingin ikut-ikutan dengan apa yang mereka lakukan. Mengapa? Coba simak penjelasannya secara syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kaedah fikih, semua yang merupakan masalah adat, seperti makan, minum, pakaian, maka semuanya adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya. Berbeda dengan masalah ibadah yang pada dasarnya semua ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Oleh karena itulah kita tidak bisa sembarangan dalam melakukan ibadah, karena kita harus mengetahui bahwa hal tersebut benar diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah makanan, seperti dikatakan tadi, pada dasarnya, memakan suatu makanan seluruhnya adalah halal sampai ada dalil syar’i yang menjelaskan bahwa makanan itu haram. Misalnya, kita diharamkan untuk memakan tikus, kodok, binatang yang bertaring atau binatang yang bercakar yang cakarnya itu digunakan untuk memangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan ayam, sapi, kambing dan yang lainnya yang tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa itu adalah haram. Tentu saja jawabannya itu adalah boleh untuk dimakan. Dan tidaklah mereka diciptakan itu melainkan sebagai nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk hamba-Nya yang membutuhkan energi dalam melakukan aktifitas untuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5]: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hewan yang disembelih saja boleh untuk dimakan, maka terlebih lagi susu atau telur yang dihasilkan oleh hewan tersebut. Bahkan susu juga termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl [16]: 66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Lain Terlarangnya Menjadi Seorang Vegetarian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau telah jelas dalil-dalil tentang tidak haramnya binatang ternak, ada baiknya kita juga mengetahui alasan lain mengapa menjadi seorang vegetarian juga termasuk hal besar yang terlarang dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dapat dihukumi keluar dari Islam (kafir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan seorang vegetarian telah mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, seorang vegetarian telah membuat hukum baru yang bertentangan dengan syari’at. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَذَا فَإِنْ شَهِدُوا فَلا تَشْهَدْ مَعَهُمْ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَهُمْ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: “Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini.” Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa hafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Rabb mereka. (QS. Al-An’am 6:150)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan tafsir ayat ini, bahwa ada dua kemungkinan ketika seseorang diminta untuk mendatangkan dalil/alasan ketika mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan pertama adalah mereka tidak dapat mendatangkan dalil. Hal ini menunjukkan batilnya apa yang mereka serukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan kedua bahwa mereka mendatangkan alasan yang merupakan kedustaan. Tentu saja persaksian mereka ini tidak diterima. Dan ini bukanlah termasuk perkara dimana sah seorang yang adil untuk bersaksi dengannya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan kita untuk tidak mengikuti persaksian mereka. (Taisirul Karimirrohman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Membuat perkara baru (bid’ah) dalam agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terutama jika pengkhususan memakan makanan hanya dari yang berupa sayuran tersebut disandarkan kepada agama. Atau dengan kata lain menjadikannya sebagai sebuah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menyerupai Orang Kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah ukhti muslimah, bahwa banyak sekali hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk menyelisihi orang kafir? Sampai-sampai ada seorang Yahudi yang mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang diinginkan laki-laki ini? Tidak ada satupun urusan kita kecuali ia pasti menyelisihi kita di dalamnya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti muslimah juga tentu telah mengetahui, bahwa para biksu Budha adalah orang yang sangat teguh untuk tidak memakan daging. Mereka hanya mau makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Maka yang benar, seharusnya sebagai muslimah kita tidak ikut-ikutan menjadi seorang vegetarian, bahkan berusaha menyelisihi para biksu (orang-orang kafir) tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengingkari nikmat Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging, susu, telur atau hasil makanan lain yang didapatkan merupakan kenikmatan yang Allah berikan pada hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5]: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengingkari hukum yang Allah tetapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan cara untuk dapat memakan daging dari binatang ternak dengan cara menyembelihnya. Dan tidaklah apa yang Allah perintahkan melainkan sebuah kebaikan. Maka adalah suatu kesalahan ketika seorang vegetarian tidak memakan daging karena rasa kasihan melihat binatang ternak ketika disembelih menggelepar-gelepar, mengejang dan meregangkan otot, bahkan menyatakan itu tidak berperikemanusiaan (atau tidak berperikebinatangan?). Sekali lagi perlu kita ingatkan, bahwa tidaklah apa yang Allah perintahkan dan tentukan merupakan kebaikan walaupun mungkin kita belum mengetahui hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, tentang menyembelih hewan terdapat terdapat hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Schultz &amp; Dr. Hazim yang keduanya adalah Animal Scientists dari Hanover University – Jerman, yang menunjukkan bahwa hewan yang disembelih tidak merasakan rasa sakit. Hal ini dikarenakan pisau tajam yang mengiris leher ‘tidaklah menyentuh’ saraf rasa sakit. Sehingga reaksi menggelepar, meregang otot dan lainnya hanyalah ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (saat darah mengalir keluar dengan deras). Dan bukan ekspresi rasa sakit! (Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan apa yang orang-orang kafir lakukan dimana mereka mematikan hewan dengan cara dipukul terlebih dahulu dengan alat pemingsan (Captive Bolt Pistols) baru kemudian disembelih. Alasan mereka adalah agar hewan tersebut tidak kesakitan ketika disembelih dan daging tetap bagus karena hewan jatuh dengan pelan. Apalah artinya logika manusia dibandingkan dengan Allah yang Maha Mengetahui. Ternyata dari hasil penelitian tersebut, hewan yang dimatikan dengan cara tersebut segera merasakan rasa sakit setelah dipingsankan bahkan hasil dagingnya tidak sehat untuk konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah syari’at menjelaskan tentang makanan yang berasal dari binatang ternak. Janganlah tertipu dengan akal kita yang menilai sesuatu hanya berdasarkan penglihatan lahir dan perasaan semata. Sudah kehilangan kenikmatan dunia berupa makanan lezat, merugi pula di akhirat karena berbuat dosa. Na’udzu billah min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Jilbab Wanita Muslimah, Syaikh Nashiruddin Al Albani.&lt;br /&gt;   2. Taisirul Karimirahman, Syaikh Abdurrahman As Sa’di.&lt;br /&gt;   3. Fadhilah IPTEK – Islam: Trying to be The Real Moslem, Nanung Danar Dono, S.Pt, M.P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-1653226003426067366?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/1653226003426067366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/vegetarian-dalam-timbangan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1653226003426067366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1653226003426067366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/vegetarian-dalam-timbangan-islam.html' title='Vegetarian Dalam Timbangan Islam'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-9025710457558381078</id><published>2009-12-05T11:07:00.001+08:00</published><updated>2009-12-05T11:07:29.590+08:00</updated><title type='text'>Mari Sejenak Berbicara Tentang Zodiak</title><content type='html'>Ramalan Anda minggu ini:&lt;br /&gt;Zodiak: Aquarius&lt;br /&gt;Pekerjaan: Mulai menjalankan pekerjaan yang tertunda.&lt;br /&gt;Asmara: Patah semangat dan jenuh.&lt;br /&gt;Keuangan: Rezeki yang diperoleh ternyata tidak sebanding dengan usaha yang anda lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, tulisan kami di atas sama sekali bukan bermaksud untuk menjadikan website ini sebagai website ramalan bintang, akan tetapi tulisan di atas merupakan kutipan dari sebuah website yang berisi tentang ramalan-ramalan nasib seseorang berdasarkan zodiak. Ya, ramalan zodiak atau yang biasa dikenal dengan ramalan bintang sudah menjadi “gaya hidup” modern anak muda sekarang. Terlebih khusus lagi bagi para pemudi (bahkan muslimah). Namun, alangkah baiknya apabila kita meninjau ramalan bintang ini berdasarkan syariat islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan Bintang Termasuk Ilmu Nujum/Perbintangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zodiak adalah tanda bintang seseorang yang didasarkan pada posisi matahari terhadap rasi bintang ketika orang tersebut dilahirkan. Zodiak yang dikenal sebagai lambang astrologi terdiri dari 12 rasi bintang (Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces). Zodiak ini biasa digunakan sebagai ramalan nasib seseorang, yaitu suatu ramalan yang didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak (disarikan dari website Wikipedia). Dalam islam, zodiak termasuk ke dalam ilmu nujum/Perbintangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan Bintang Adalah Sihir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmu nujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan). Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa apabila ilmu nujumnya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiri adalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan Bintang = Mengetahui Hal yang Gaib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selain Allah yang mengetahui perkara gaib. Padahal Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml: 65). Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi besok, sebagaimana firmanNya yang artinya “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34). Klaim bahwa ada yang mengetahui ilmu gaib selain Allah adalah kekafiran yang mengeluarkan dari islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan Bintang = Ramalan Dukun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang menyatakan bahwa ia mengetahui hal yang gaib, maka pada hakikatnya ia adalah dukun. Baik dia itu tukang ramal, paranormal, ahli nujum dan lain-lain. (Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Ust Abu Isa Hafizhohullah) Oleh karena itu, ramalan yang didapatkan melalui zodiak sama saja dengan ramalan dukun. Hukum membaca ramalan bintang disamakan dengan hukum mendatangi dukun. (Kesimpulan dari penjelasan Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dalam kitab At-Tamhid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Membaca Ramalan Bintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang membaca ramalan bintang/zodiak baik itu di majalah, koran, website, melihat di TV ataupun mendengarnya di radio memiliki rincian hukum seperti hukum orang yang mendatangi dukun, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia membaca zodiak, meskipun ia tidak membenarkan ramalan tersebut. maka hukumnya adalah haram, sholatnya tidak diterima selama 40 hari. Dalilnya adalah “Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia membaca zodiak kemudian membenarkan ramalan zodiak tersebut, maka ia telah kufur terhadap ajaran Muhammad Shallahu alaihi wasallam. Rasulullah bersabda “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallahu alaihi wasallam.” (Hadits sahih Riwayat Imam Ahmad dan Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia membaca zodiak dengan tujuan untuk dibantah, dijelaskan dan diingkari tentang kesyirikannya, maka hukumnya terkadang dituntut bahkan wajib. (disarikan dari kitab Tamhid karya Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dan Qaulul Mufid karya Syeikh Utsaimin dengan sedikit perubahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shio, Fengshui, dan Kartu Tarot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman modern sekarang ini tidak hanya zodiak yang digunakan sebagai sarana untuk meramal nasib. Seiring dengan berkembangnya zaman, ramalan-ramalan nasib dalam bentuk lain yang berasal dari luar pun mulai masuk ke dalam Indonesia. Di antara ramalan-ramalan modern impor lainnya yang berkembang dan marak di Indonesia adalah Shio, Fengshui (keduanya berasal dari Cina) dan kartu Tarot (yang berasal dari Italia dan masih sangat populer di Eropa). Kesemua hal ini hukumnya sama dengan ramalan zodiak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib Baik dan Nasib Buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, jika ukhti renungkan, maka sesungguhnya orang-orang yang mencari tahu ramalan nasib mereka, tidak lain dan tidak bukan dikarenakan mereka menginginkan nasib yang baik dan terhindar dari nasib yang buruk. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita cam dan yakinkan di dalam hati-hati kita, bahwa segala hal yang baik dan buruk telah Allah takdirkan 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, sebagaimana Nabi bersabda “Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim). Hanya Allah yang tahu nasib kita. Yang dapat kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan hal yang baik dan terhindar dari hal yang buruk, selebihnya kita serahkan semua hanya kepada Allah. Allah berfirman yang artinya “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Qs. Ath Thalaq: 3). Terakhir, ingatlah, bahwa semua yang Allah tentukan bagi kita adalah baik meskipun di mata kita hal tersebut adalah buruk. Allah berfirman yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 216). Berbaik sangkalah kepada Allah bahwa apabila kita mendapatkan suatu hal yang buruk, maka pasti ada kebaikan dan hikmah di balik itu semua. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Adil terhadap hamba-hambaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust Ahmad Daniel, Lc.&lt;br /&gt;(Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Sekarang dosen di STDI Imam Syafi’i Jember)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-9025710457558381078?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/9025710457558381078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/mari-sejenak-berbicara-tentang-zodiak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/9025710457558381078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/9025710457558381078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/mari-sejenak-berbicara-tentang-zodiak.html' title='Mari Sejenak Berbicara Tentang Zodiak'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-4590732218581166290</id><published>2009-12-05T11:06:00.001+08:00</published><updated>2009-12-05T11:06:50.022+08:00</updated><title type='text'>Yang Terlupa Dari Keikhlasan</title><content type='html'>Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Ikhlas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dari Ikhlas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Ahmad Daniel, Lc.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-4590732218581166290?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/4590732218581166290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/yang-terlupa-dari-keikhlasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/4590732218581166290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/4590732218581166290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/yang-terlupa-dari-keikhlasan.html' title='Yang Terlupa Dari Keikhlasan'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-679795935853267371</id><published>2009-12-05T11:05:00.001+08:00</published><updated>2009-12-05T11:05:58.151+08:00</updated><title type='text'>Setelah Kita Dimasukkan ke Liang Kubur…</title><content type='html'>Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitnah Kubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.&lt;br /&gt;Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?&lt;br /&gt;Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?&lt;br /&gt;Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.&lt;br /&gt;Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-Bentuk Siksa Kubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.&lt;br /&gt;Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Dipecahkan kepalanya dengan batu, kemudian Allah tumbuhkan lagi kepalanya, dipecahkan lagi demikian seterusnya. Ini adalah siksa bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya dan  juga siksa bagi orang yang meninggalkan sholat wajib.&lt;br /&gt;   2. Dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepala, demikian juga hidung dan kedua matanya. Merupakan siksa bagi orang yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu berdusta dan kedustaannya itu mencapai ufuk.&lt;br /&gt;   3. Ada kaum lelaki dan perempuan telanjang berada dalam bangunan menyerupai tungku. Tiba-tiba datanglah api dari bawah mereka. Mereka adalah para pezina lelaki dan perempuan.&lt;br /&gt;   4. Dijejali batu, ketika sedang berenang, mandi di sungai. Ini merupakan siksa bagi orang yang memakan riba.&lt;br /&gt;   5. Kaum yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek adalah kaum yang mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni perbuatan jelek mereka.&lt;br /&gt;   6. Kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah dan dada mereka. Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzab dan nikmat kubur adalah benar adanya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ‘ijma ahlu sunnah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal itu. Dan hal ini hanya diingkari oleh orang-orang Mulhid (atheis). Mereka mengatakan bahwa seandainya kita membongkar kuburan tersebut, maka akan kita dapati keadaannya seperti semula. Namun, dapat kita bantah dengan dua hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Dengan dalil Al Qur’an dan Sunnah dan ‘ijma salaf yang menunjukkan tentang adzab kubur.&lt;br /&gt;   2. Sesungguhnya keadaan akhirat tidak bisa disamakan dengan keadaan dunia, maka adzab atau nikmat kubur tidaklah sama dengan apa yang bisa ditangkap dengan indra di dunia. (Diringkas dari Syarah Lum’atul I’tiqod, hal 65-66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak mengecapnya. Demikian juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan bagaimananya. Sebab akal memang tidak dapat memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya, kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan… maka jangan siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Aqidah Ath-Thahawiyah, Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi (diambil dari Mutuunut Tauhidi wal ‘Aqiidati)&lt;br /&gt;   2. Syarah Al Waajibaat al Mutahattimaat al Ma’rifah ‘alaa kulli Muslim wa Muslimah (edisi terjemah), Syaikh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al Khuraishi, Pustaka Imam Syafi’i&lt;br /&gt;   3. Syarah Lum’atul I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin&lt;br /&gt;   4. Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah (jilid 2. edisi Terjemah), Syaikh Abdul Akhir  Hammad al Ghunaimi, Penerbit At Tibyan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-679795935853267371?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/679795935853267371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/setelah-kita-dimasukkan-ke-liang-kubur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/679795935853267371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/679795935853267371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/setelah-kita-dimasukkan-ke-liang-kubur.html' title='Setelah Kita Dimasukkan ke Liang Kubur…'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-133837616401529859</id><published>2009-12-05T11:04:00.002+08:00</published><updated>2009-12-05T11:05:10.817+08:00</updated><title type='text'>Menyelamatkan Generasi dari Kegelapan Syirik Berupa Jimat</title><content type='html'>Penyusun: Ummu Nafisah&lt;br /&gt;Muraja’ah: Ustadz Nur Kholis bin Kurdian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah titipan Illahi. Ia merupakan sebuah amanat Allah yang diberikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu, sudah semestinya setiap orang tua benar-benar memperhatikan tentang pendidikan dan pembinaan bagi anak-anaknya. Orang tua hendaknya melindungi anak dari hal-hal yang dapat menjatuhkan anak dan dirinya sendiri dari hal-hal yang dapat mengundang kemurkaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Ibu, ketahuilah bahwa dosa yang paling besar dan tidak akan Allah ampuni adalah dosa kesyirikan. Sehingga sebagai seorang pendidik, kita harus memprioritaskan pembinaan tauhid pada anak-anak kita daripada yang lain. Tapi bukan berarti pendidikan yang lainnya lalu kita abaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua berkewajiban mentarbiyah anak-anaknya sejak usia dini untuk mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan. Sejak kecil hendaknya orang tua melindungi anak dari perbuatan-perbuatan kesyirikan. Misalnya adalah penggunaan jimat. Jimat, biasa digunakan untuk melindungi si pemilik jimat dari mara bahaya. Dalam masyarakat kita, masih sangat banyak para orang tua yang menggunakan jimat untuk melindungi anaknya dari kesialan, bahaya, serangan penyakit, dan lain-lain. Kita berlindung kepada Allah dari segala perbuatan yang mengantarkan kepada kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat Jimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jimat atau tamimah pada masa jahiliyah adalah sesuatu yang dikalungkan pada anak kecil atau binatang dengan maksud untuk menolak ‘ain. Namun hakikat jimat tidak terbatas pada bentuk dan kasus tertentu akan tetapi mencakup semua benda dari bahan apapun dan bagaimanapun cara pakainya. Ada yang terbuat dari bahan kain, benang, kerang maupun tulang baik dipakai dengan cara dikalungkan, digantungkan, dan sebagainya. Tempatnya pun bervariasi, baik di mobil, rumah, leher, kaki, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya seperti kalung, batu akik, cincin, sabuk (ikat pinggang), rajah (tulisan arab yang ditulis perhuruf dan kadang ditulis terbalik), selendang, keris, atau benda-benda yang digantungkan pada tempat-tempat tertentu, seperti di atas pintu kendaraan, di pintu depan rumah, diletakkan pada ikat pinggang atau sebagi ikat pinggang, sebagai susuk, atau ditulis di kertas, dibakar lalu diminum, dan lain-lain dengan maksud untuk menolak bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Jimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara wujudnya, jimat terbagi menjadi dua macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jimat yang tidak bersumber dari Al-Qur’an. Jimat jenis inilah yang dilarang oleh syariat Islam. Jika seseorang percaya bahwa jimat itu dapat berpengaruh tanpa kehendak Allah maka ia terjerumus dalam perbuatan syirik besar karena hatinya telah bersandar kepada selain Allah. Adapun jika seseorang meyakini bahwa jimat itu hanya sebagai sebab dan tidak memiliki kekuatan sendiri maka ia terjatuh dalam perbuatan syirik kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, jimat yang bersumber dari Al-Qur’an. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat, ada sebagian yang membolehkan dan ada yang melarangnya. Adapun pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah terlarang, meskipun hukumnya tidak syirik karena menggunakan Al-Qur’an disini berarti bersandar pada kalamullah bukan bersandar kepada makhluk. Mengapa dilarang? Karena keumuman dalil tentang keharaman jimat, tidak peduli jimat tersebut berupa Al-Qur’an ataupun bukan. Dengan membolehkan jimat yang berasal dari ayat Al-Qur’an, kita telah membuka peluang menyebarnya jimat yang bukan berasal dari Al-Qur’an yang jelas-jelas haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sarana yang dapat mengantar kepada perbuatan haram mempunyai hukum yang sama dengan perbuatan haram itu sendiri. Selain itu, pemakaian jimat dari Al-Qur’an juga mengandung unsur penghinaan terhadap Al-Qur’an, yaitu ketika dibawa tidur, buang hajat, atau sedang berkeringat dan semacamnya. Hal seperti ini tentu bertentangan dengan kesucian Al-Qur’an. Selain itu juga, jimat ini dapat pula dimanfaatkan oleh para pembuatnya untuk menyebarkan kemusyrikan dengan alasan jimat yang dibuatnya dari Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-Dalil Terlarangnya Jimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat banyak dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang memberitakan tentang pengharaman jimat. Beberapa dalil tersebut antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, yang artinya, “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?”. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Az-Zumar: 38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat di atas dapat kita renungkan bahwa berhala-berhala sesembahan orang musyrik tersebut tidak mampu memberikan manfaat atau menolak madharat bagi penyembahnya karena memang berhala bukan merupakan sebab untuk mencapai maksud penyembahnya. Begitu pula dengan para pengguna jimat yang telah mengambil sebab yang bukan merupakan sebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Ahmad, Hakim, dari Sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat seseorang yang memakai gelang kuningan di tangannya, maka beliau bertanya, “Apa ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu menjawab, “Penangkal sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabipun bersabda, “Lepaskanlah, karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ibu, sebagai seorang muslim kita seharusnya meyakini dengan sepenuh hati bahwa manfaat dan mudharat itu ada di tangan Allah sehingga kita tidak boleh menggantungkan hati kepada selain Allah. Kita wajib bertawakkal hanya kepada Allah saja. Allah berfirman yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hanya kepada Allah saja hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal.” (Qs. Ibrahim: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, sesungguhnya jimat tidak dapat menolak dan menghilangkan apa yang telah Allah takdirkan. Hal inilah yang harus kita tanamkan pada diri anak-anak kita. Dengan menghindar dari kesyirikan ketika mentarbiyah anak, semoga menjadikan kita sebagai pendidik mulia yang dapat melahirkan generasi yang terlindungi dari kegelapan syirik. Waallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diringkas dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafi’i.&lt;br /&gt;   2. Jimat, Gaya Hidup Modern (Abu Abdirrahman), Buletin Dakwah At-Tauhid edisi no.34/ Thn 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-133837616401529859?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/133837616401529859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/menyelamatkan-generasi-dari-kegelapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/133837616401529859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/133837616401529859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/menyelamatkan-generasi-dari-kegelapan.html' title='Menyelamatkan Generasi dari Kegelapan Syirik Berupa Jimat'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-8409345864219116330</id><published>2009-12-05T11:04:00.001+08:00</published><updated>2009-12-05T11:04:37.057+08:00</updated><title type='text'>Mengenal Islam</title><content type='html'>Penyusun: Ummu Ziyad&lt;br /&gt;Muraja’ah: Ust. Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, terjadi percakapan antara sepasang suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, jumlah orang Islam tuh lebih sedikit ya daripada Nasrani?”&lt;br /&gt;“Iya kalau ukurannya internasional lebih sedikit.”&lt;br /&gt;“Hmm… belum lagi kaum munafiqin di dalam Islam itu sendiri ya bang? (wal’iyya dzubillah.)”&lt;br /&gt;“Iya…”&lt;br /&gt;“Belum lagi orang-orang yang berpikiran liberal ya?&lt;br /&gt;“Iya…”&lt;br /&gt;“Belum lagi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu tidak saudariku, belum lagi yang terakhir itu apa?&lt;br /&gt;Belum lagi orang yang mungkin sebenarnya mengaku dirinya Islam, tapi ia tidak mengenal Islam dan mungkin tidak paham bahwa dia telah keluar dari Islam. Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Islam sebagaimana didefinisikan para ulama adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;االأِسْتِسْلامُ لِلَّهِ بِالتّوحيدد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al istislamu lillahi bit tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و الأنقياد له بالطاعة&lt;br /&gt;wal inqiyaadu lahu bit too’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و البراءة من الشرك و أهله&lt;br /&gt;wal barooatu minasyirki wa ahlihi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita perjelas satu persatu definisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berserah diri kepada Allah dengan cara hanya beribadah kepada-Nya dan tidak kepada selain-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya kita benar-benar melakukan peribadatan dan segala bentuk penghambaan hanya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Qs. Al Ikhlas [112]: 1-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, sebagian besar dari saudara kita masih sulit meninggalkan kepercayaan pada ramalan bintang (zodiak) dan penentuan nasib baik dan buruk berdasarkan hal ini (artinya ia menggantungkan urusannya dan pengharapannya pada sesuatu selain Allah). Padahal perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui dan hanya kepada Allah-lah seseorang menggantungkan segala urusannya selain usaha yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dari perkara yang sulit ditinggalkan ini merambat ke hal-hal lain yang juga merupakan bentuk-bentuk kesyirikan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Maka untuk poin pertama ini, kita harus memperbaiki ilmu tentang tauhid. Dan janganlah merasa aman dan merasa pintar sehingga mengatakan “Ah, bosan bahasannya tauhid terus.” Bukankah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdakwah di Mekah selama 13 tahun untuk menanamkan pondasi penting ini kepada para sahabat? Begitu pentingnya tauhid, karena menjadi dasar untuk peribadahan yang lain. Dan begitu pentingnya tauhid ini, agar segala amal ibadah tercatat sebagai amalan ibadah dan tidak terhapus begitu saja oleh kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh pentingnya tauhid, tidak akan ada kemenangan besar dalam jihad fi sabilillah jika di dalamnya terdapat hal-hal yang merusak tauhid, seperti jimat, bergantung pada jin, aji tolak bala dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menundukkan ketaatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, seorang muslim menundukkan segala bentuk ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Mungkin kita tidak sadar, bahwa selama ini kita bukan taat kepada Allah dan Rasul sebagaiman yang diperintahkan oleh syari’at. Bahkan kita terjatuh pada perilaku orang-orang jahiliyyah yang lebih mengedepankan ketaatan kepada tetua yang jika ditelusuri ternyata tidak mengajarkan hal-hal yang sesuai dengan syari’at-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;َاوَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Qs. Al Maaidah [5]: 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh kecil, karena sudah dari kecil diajarkan merayakan maulid nabi, isra mi’raj dan hari-hari besar yang bahkan dijadikan libur nasional, maka kita menganggap bahwa kita harus tunduk dan ikut merayakannya. Padahal jika benar kita taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kita tunduk dan pasrah tidak merayakan hari-hari tersebut karena memang hari-hari tersebut tidak disyari’atkan (tidak diperintahkan) oleh Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berlepas diri dari syirik dan pelakunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang berserah diri hanya kepada Allah dan tidak kepada yang lain, maka ia akan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Karena sungguh sia-sialah seluruh amalan seorang muslim jika ia melakukan kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al An’am [6]: 88}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh dalam masalah ini adalah ucapan selamat natal kepada kaum nasrani. Padahal jelas-jelas natal dirayakan oleh mereka dalam rangka ‘kelahiran’ yesus (yang dianggap tuhan). Maka jika kita memberi ucapan selamat kepada mereka, ini dapat diartikan menyetujui hari tersebut dan berarti mengakui adanya tuhan selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kesyirikan, kadang samar sekali tak terlihat secara langsung, namun sungguh sangat membinasakan. Oleh sebab itulah, kaum muslimin disarankan membaca do’a sebagai berikut agar segala bentuk kesyirikan yang mungkin secara tidak sadar dilakukan, diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهمَّ إنّي أعوذُ بكَ أنْ أُشْركَ بكَ وَ انا أعْلمُ و أستغفرُك لما لا اعْلمُِ&lt;br /&gt;Allahuma inni ‘a udzu bika an usyrika bika wa ana a’lamu wa astaghfiruka limaa laa a’ lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dari berbuat kesyirikan kepadamu yang aku ketahui, dan aku memohon ampunanmu dari kesyirikan yang aku tidak ketahui.” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjadi pengenalan singkat tentang Islam yang bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Majalah Al Furqon edisi 5 tahun ke-8 1429/2008&lt;br /&gt;   2. Syarah Tsalatsatul Ushul (terjemah) Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Pustaka Al Qowam cetakan ke-6 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-8409345864219116330?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/8409345864219116330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/mengenal-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8409345864219116330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8409345864219116330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/mengenal-islam.html' title='Mengenal Islam'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3009287871700650785</id><published>2009-12-05T11:02:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:03:53.055+08:00</updated><title type='text'>Berkunjung ke Telaga Rasulullah</title><content type='html'>Penyusun: Ummu Nafisah&lt;br /&gt;Muraja’ah: Ustadz Nur Kholis, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berbicara tentang telaga, mungkin yang akan terbayang di benak kita adalah tentang keindahannya. Airnya yang jernih kebiruan, pepohonan yang hijau dan rindang di sekitarnya, kicauan burung-burung yang membelah langit di atas telaga, dan keindahan lain yang dapat kita temui di sekitar telaga. Itulah keindahan telaga di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau saudariku, di hari akhir nantipun akan ada telaga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang keberadaan telaga di hari akhir ini telah dijelaskan jauh hari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja sebagai muslimah yang baik, kita harus mengimani hal ini meskipun akal kita tak mampu menjangkaunya. Ketahuilah wahai saudariku, pembahasan mengenai telaga di hari akhir ini merupakan pembahasan yang berkaitan dengan keimanan terhadap hari akhir. Karena itu, ketundukan terhadap nash-nash syar’i harus lebih didahulukan daripada pemikiran akal semata. Nah, bagaimanakah sebenarnya telaga di hari akhir tersebut? Semoga Allah memudahkan kita dalam membahas hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Nabi Memiliki Telaga (Haudh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafazh al-haudh ( الحوض ) secara bahasa adalah al-jam’u (kumpulan), dikatakan menghimpun (mengumpulkan) air, lalu ditempatkan pada suatu wadah apabila telah terkumpul. Kadang-kadang dimaknai dengan wadah air. Secara syar’i (terminologi), makna al-haudh adalah telaga air yang turun dari sungai surga pada hari kiamat yang diperuntukkan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits-hadits mutawatir dan berdasarkan kesepakatan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. (Lihat Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku telah mendahului kalian menuju al-haudh…” (HR. Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’d).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah, perlu kita ketahui bahwa setiap Nabi ‘alaihimus shalaatu wa sallam memiliki telaga. Namun telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling besar, paling mulia, paling indah, dan paling banyak pengikutnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga, mereka membanggakan diri, siapa di antara mereka yang paling banyak peminumnya (pengikutnya). Dan aku berharap, akulah yang paling banyak pengikutnya.” (HR. Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik Telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan tentang ciri-ciri telaga beliau kepada kita. Ketahuilah saudariku, telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah telaga yang paling indah di antara telaga-telaga Nabi lainnya. Dan telaga tersebut diperuntukkan untuk kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itulah kita patut bergembira akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam airnya lebih putih dari susu. Rasanya lebih manis daripada madu. Lebih harum dari minyak kesturi. Panjangnya sama dengan lebarnya, yaitu satu bulan perjalanan. Gayungnya bagaikan bintang di langit dalam jumlah dan indahnya. Telaga Rasulullah memiliki dua saluran yang dihubungkan ke surga, yaitu ke sungai al-Kautsar. Barangsiapa yang minum seteguk air darinya, maka tidak akan kehausan lagi selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telagaku (panjang dan lebarnya) satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada kesturi, bejananya sebanyak bintang di langit, siapa yang minum darinya, ia tidak akan merasa haus selamanya.” (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dimanakah letak haudh? Ulama berbeda pendapat tentang letak haudh, apakah setelah atau sebelum shirath (jembatan yang dibentangkan di atas Neraka Jahannam yang akan dilewati umat manusia menuju Surga sesuai amal perbuatan mereka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Qurthubi mengatakan bahwa haudh terletak sebelum manusia meniti shirath, tepatnya di padang makhsyar. Dalilnya adalah ada sebagian orang yang ingin ke haudh, namun ia diusir darinya. Sedang Imam Bukhari berpendapat bahwa letak haudh adalah setelah shirath. Walllahu Ta’ala a’lam, pendapat yang terkuat adalah pendapat Imam Qurthubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-Orang yang Diusir dari Telaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tahukah engkau saudariku, bahwa tidak semua umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa minum dari telaga beliau. Akan ada orang-orang yang diusir dari telaga beliau. Siapakah mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh akan ada yang terusir dari telaga di antara umatku. Celakalah orang yang mengganti-ganti agama setelah aku meninggal dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu golongan manusia yang akan diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang mengganti-ganti syari’at yang telah Rasulullah ajarkan. Maka hendaknya kita berhati-hati akan hal ini. Kerjakanlah ibadah hanya yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan ajarkan kepada umatnya. Periksalah setiap amal ibadah kita, sesuaikah dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tanyalah diri kita ketika hendak melakukan sebuah ibadah, apakah ibadah tersebut sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Adakah dalil yang memerintahkannya? Karena setiap amal ibadah hukum asalnya adalah haram dikerjakan, kecuali jika ada dalil yang mensyariatkannya. Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang hal ini, kita bisa membaca artikel yang berjudul “Mengenal Kata Bid’ah” di situs ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Qurthubi mengatakan bahwa ulama berpendapat setiap orang yang murtad dan ahlu bid’ah adalah orang yang terusir dari telaga. Yang paling keras pengusirannya adalah yang paling jauh dan menyimpang dari ajaran para salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya adalah orang yang berbuat zholim dan menutupi kebenaran, memusuhi dan menghina orang-orang yang membela kebenaran, serta orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang-orang munafik, akan disikapi sebagaimana sikap yang nampak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengajaknya ke telaga, lalu disingkapkan tabir mereka sehingga diketahui bahwa mereka kafir. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Menjauhlah kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenali dari Bekas Wudhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Panjang sisi) telagaku lebih jauh jaraknya antara Ailah dan ‘Adn (keduanya adalah nama tempat), lebih putih dari salju, lebih manis daripada madu yang dicampur susu, bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang-bintang, dan aku benar-benar akan menghalangi manusia darinya sebagaimana seorang yang menghalangi unta milik orang lain dari telaganya. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mengenali kami waktu itu?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat-umat yang lain. Kalian datang kepadaku dengan anggota wudhu yang putih bersinar dari bekas wudhu”. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah saudariku, sedikit pembahasan tentang telaga Rasulullah. Semoga kita dapat berkunjung ke telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meminum airnya yang lebih putih dari susu, lebih harum dari kesturi, dan lebih manis dari madu. Aamiin ya Mujibas Saailin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka Imam Asy-Syafi’i&lt;br /&gt;    * Kajian kitab Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad oleh Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3009287871700650785?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3009287871700650785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/berkunjung-ke-telaga-rasulullah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3009287871700650785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3009287871700650785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/berkunjung-ke-telaga-rasulullah.html' title='Berkunjung ke Telaga Rasulullah'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3857430675433364488</id><published>2009-12-05T11:01:00.000+08:00</published><updated>2009-12-05T11:02:02.175+08:00</updated><title type='text'>Topeng Emansipasi</title><content type='html'>Penyusun: Ummu Khadijah dan Ummul Hasan&lt;br /&gt;Muraja’ah: Ust. Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku yang semoga dirahmati Allah, sudah tidak asing terdengar di telinga kita bahwa baiknya wanita akan menjadi kunci kebaikan umat. Peran dan partisipasi seorang wanita adalah suatu hal yang sangat penting. Wanita laksana pedang bermata dua, jika ia baik dan menunaikan tugas-tugas utamanya sesuai dengan yang Allah gariskan maka ia bagaikan batu-bata yang baik bagi bangunan masyarakat Islam. Namun jika ia telah menyimpang dari syari’at yang Allah tetapkan, maka ia ibarat pedang yang akan merusak dan menghancurkan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi Wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh Islam sangat paham bahwa peran wanita muslimah sangat penting dalam membangun masyarakat Islam. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha menyerang Islam melalui kaum wanitanya. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menghancurkan wanita muslimah melalui “emansipasi”. Mereka menamakan emansipasi sebagai gerakan yang membebaskan wanita dari kezhaliman dan untuk memenuhi hak-hak mereka secara adil (menurut mereka) –dengan slogan toleransi, kebebasan wanita, persamaan gender, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketahuilah wahai Saudariku, emansipasi tumbuh dari sistem sekuler yang memisahkan antara kehidupan dan nilai agama. Mereka menginginkan wanita menjadi pesaing bagi laki-laki dan memperebutkan kedudukan dengan kaum laki-laki. Wanita dalam konsep mereka ibarat barang dagangan yang dipajang di etalase, yang siap dijadikan tontonan bagi para hamba syahwat dan menjadi budak nafsu mereka. Na`udzubillah, mereka juga berusaha menjauhkan wanita dari hijab dan rumah-rumah mereka, mengabaikan pengasuhan anak dengan mengatakan bahwa mengasuh anak tidak mendatangkan materi, membunuh kreatifitas dan menghambat potensi sumber daya manusia kaum wanita. Coba kita perhatikan, betapa menyedihkannya pemikiran mereka ini yang memandang baik buruknya kehidupan dari sudut pandang materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka lontarkan. Mungkin secara sepintas, wacana emansipasi mampu menjawab problematika wanita dan mengangkat harkatnya tapi tidaklah mungkin itu diraih dengan mengorbankan kehormatan dan harga diri wanita. Sungguh, tak akan bisa disatukan antara yang haq dengan yang bathil. Mereka tidaklah ingin membebaskan wanita dari kezhaliman tetapi sesungguhnya merekalah yang ingin bebas menzhalimi wanita!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Dalam Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam benar-benar memperhatikan peran wanita muslimah, karena di balik peran mereka inilah lahir pahlawan dan pemimpin agung yang mengisi dunia dengan hikmah dan keadilan. Wanita begitu dijunjung dan dihargai perannya baik ketika menjadi seorang anak, ibu, istri, kerabat, atau bahkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menjadi anak, kelahiran anak wanita merupakan sebuah kenikmatan agung, Islam memerintahkan untuk mendidiknya dan akan memberikan balasan yang besar sebagaimana dalam hadits riwayat `Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak wanita lalu bersabar menghadapi mereka dan memberi mereka pakaian dari hasil usahanya maka mereka akan menjadi penolong baginya dari neraka.” (HR. Ibnu Majah: 3669, Bukhori dalam “Adabul Mufrod”: 76, dan Ahmad: 4/154 dengan sanad shahih, lihat “Ash-Shahihah: 294).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjadi seorang ibu, seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepadanya, berbuat baik kepadanya, dan dilarang menyakitinya. Bahkan perintah berbuat baik kepada ibu disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak tiga kali baru kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan perintah untuk berbuat baik kepada ayah. Dari Abu Hurairah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk menerima perbuatan baik dari saya?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah kembali menjawab, ‘Ibumu,’ lalu dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Bapakmu.’” (HR. Bukhori: 5971, Muslim: 2548)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun ketika menjadi seorang istri, Islam begitu memperhatikan hak-hak wanita sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat-19 yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat wanita menjadi kerabat atau orang lain pun Islam tetap memerintahkan untuk mengagungkan dan menghormatinya. Banyaknya pembahasan tentang wanita di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan kemuliaan mereka. Karena sesuatu yang banyak dibahas dan mendapat banyak perhatian tentunya adalah sesuatu yang penting dan mulia. Lalu masih adakah yang berani mengatakan bahwa Islam menzhalimi wanita?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku, demikianlah syari’at Islam menempatkan wanita di singgasana kemuliaan. Adapun di zaman sekarang, kenyataan yang terjadi di masyarakat sungguh jauh dari itu semua. Penyebabnya tidak lain adalah karena jauhnya umat Islam dari pemahaman yang benar terhadap agama mereka. Seringkali ada orang yang menjadikan kesalahan orang lain sebagai hujjah (argumentasi) baginya untuk turut berbuat kesalahan yang sama. Terkadang pula orang-orang menilai syari’at Islam dari perilaku orang-orang yang menyatakan bahwa mereka beragama Islam, namun pada hakekatnya perilaku mereka belumlah menggambarkan yang demikian. Oleh karena itu wahai Saudariku, janganlah menjadikan perilaku manusia sebagai dalil. Jadikanlah Al-Qur`an dan Sunnah dengan pemahaman para shahabat sebagai petunjuk bagi kita. Sungguh kita berlindung kepada Allah dari butanya hati dan akal dari kebenaran. Wallahul musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinukil dari:&lt;br /&gt;Artikel “Keagungan Wanita Dalam Naungan Islam” (sumber: Majalah Al-Furqon Tahun 6 Edisi 9 Rabi’uts Tsani 1428 H)&lt;br /&gt;Buku “Emansipasi Wanita” karya Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid&lt;br /&gt;Buku “Wanita-wanita Teladan Di Masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi dengan perubahan seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3857430675433364488?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3857430675433364488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/topeng-emansipasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3857430675433364488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3857430675433364488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/12/topeng-emansipasi.html' title='Topeng Emansipasi'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-7591066035020561957</id><published>2009-11-10T08:10:00.000+08:00</published><updated>2009-11-10T08:11:29.715+08:00</updated><title type='text'>MEMANG, JODOH RAHASIA ALLAH</title><content type='html'>“Apakah kamu percaya jodoh, Fahri?” tanya Maria pada Fahri.&lt;br /&gt;Fahri menjawab dengan bijak, “Ya, setiap orang punya …”&lt;br /&gt;“…Jodohnya masing-masing” sambung Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun mendengar cuplikan dialog dalam film Ayat Ayat Cinta yang sedang ku tonton. Ya, setiap orang punya jodohnya masing-masing. Jodoh… Aku menarik nafas dalam-dalam setiap kali memikirkan tentang jodoh. Kapankah aku betemu dengan jodohku? 40 tahun bukanlah usia yang muda untuk menikah. Aku sudah bosan mendengar pertanyaan kapan aku akan menikah. Apakah bulan Mei? Meibi yes, meibi no.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jodohku…seperti apakah dia? Sedikitpun aku tak dapat mengira-ngira bayangannya. Apakah dia tampan? Apakah dia sholeh seperti yang aku idamkan? Yang hanya dapat aku lakukan adalah terus memperbaiki diri untuk menjadi hamba yang baik di mata Allah, karena Allah menjanjikan laki-laki yang untuk wanita yang baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik, aku lumayan cantik dan menarik, berpendidikan, dan karirku bagus. Saat ini aku sudah menjadi Marketing Manager di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di tanah air. Apakah karena jabatan dan pendidikanku yang tinggi lantas laki-laki menjadi segan meminangku? Apa salahnya dengan pendidikan yang tinggi, aku hanya ingin terus belajar dan belajar. Dan karir yang bagus, itu adalah takdir Allah atas kerja kerasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perasaan iri setiap menghadiri pesta pernikahan temanku, bahkan anak temanku. Soal perasaan minder, itu sudah berkurang dibanding tahun-tahun yang lalu, aku sudah terbiasa. Apalagi di kota besar telat menikah bukan hal yang aneh. Tapi aku tak ingin menyamakan diriku dengan mereka. Mereka menunda menikah karena merasa belum siap secara moril maupun materil, padahal dengan gajinya mereka bisa menghajikan satu orang setiap bulan. Ada yang malas untuk berkomitmen karena takut bercerai, takut sakit hati, tapi yang pasti mereka takut bertanggung jawab. Sedangkan aku, aku sudah beberapa kali mencoba namun seperti biasa belum jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neng, ngelamun aja” kejut Andi membuyarkan lamunanku. “Kenapa sih? Udah jangan dipikirin, dia memang gitu orangnya” kelakarnya kemudian.&lt;br /&gt;Aku tertawa. Ah, aku tak ingin masalah ini merusak hari-hariku.&lt;br /&gt;“Makan siang bareng, yuk” ajaknya kemudian.&lt;br /&gt;Aku mengiyakan ajakannya. Kami makan siang di restoran Padang di food court kantorku. Andi adalah temanku semenjak aku bekerja di kantor ini, walaupun posisinya di bawahku namun aku tak pernah menganggap diriku lebih tinggi. Aku punya feeling bahwa Andi menyukaiku, itu terlihat dari sikapnya yang sangat perhatian padaku. Namun perasaanku padanya tidak begitu kuat, sampai saat ini aku belum memberikan sinyal bahwa aku juga menyukainya. Tapi entahlah, aku tak bisa memastikan apa yang akan terjadi nanti, aku tetap memberi peluang untuknya, karena ia baik dan sangat menghargaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu lagi laki-laki yang aku pertimbangkan. Dia laki-laki yang ditawarkan orang tuaku. Namanya mas Farhan, lebih tua dua tahun dariku, dan dia seorang duda dengan satu anak perempuan. Istrinya meninggal ketika melahirkan. Saat ini anaknya berumur 6 tahun. Tidak ada masalah dengan anaknya, karena aku sangat menyukai anak-anak. Dan anaknya juga sepertinya menyukaiku.&lt;br /&gt;“Tante, kenapa tante belum menikah juga?” tanya Dea, anak perempuan mas Farhan.&lt;br /&gt;Aku tersenyum mencari jawaban yang bisa diterima anak-anak.&lt;br /&gt;“Tante belum punya pacar” jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;Kemudian anak kecil itu membisikiku, “Tante mau nggak sama papaku? Papaku kan ganteng, jomblo lagi”.&lt;br /&gt;Mukaku bersemu merah. Anak kecil sekarang cepat sekali dewasa.&lt;br /&gt;Tapi aku belum dapat menjawab, kerena sampai sekarang papanya belum menanyakan secara langsung padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah keluar studio bioskop sambil memagang jus stroberi yang belum habis. Sesungguhnya yang nonton tadi adalah badanku saja, sedang rohku entah kemana. Sepanjang film tadi aku hanya berpikr tantang jodoh. Aku sudah beberapa kali nonton film ini, Ayat ayat Cinta. Film ini tak pernah bosan untuk ditonton. Seandainya aku bertemu dengan lelaki seperti Fahri, dan aku adalah Aisha, tapi aku tak ingin ada Maria, kalau dia dekat-dekat dengan Fahri akan kuenyahkan dia, hahahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruk! Gelas jus stroberi terlepas dari genggamanku. Seorang laki-laki buru-buru mengelap bajunya yang tertumpah jus stroberiku. Inilah akibatnya kalau terlalu banyak brkhayal, seorang laki-laki jadi korban keteledoranku.&lt;br /&gt;“Maaf, Mas. Saya yang salah” Aku minta maaf sambil mengambil saputanganku dan ketika akan mengelap tumpahan di bajunya ia buru-buru menghindar.&lt;br /&gt;“Oh, ya sudah. Ngga apa-apa , Mba. It’s ok” katanya pelan.&lt;br /&gt;“Aduh, Mas. Saya benar-benar minta maaf. Saya ngga konsentrasi” Aku minta maaf sekali lagi.&lt;br /&gt;Laki-laki itu menatapku lama lalu tersenyum, “Masih kepikiran film tadi ya? Filmnya memang benar-benar menyentuh ya. Jarang ada film seperti ini”.&lt;br /&gt;Aku membalas senyumannya, tenyata dia tidak marah. “Aku sudah nonton 3 kali lho” ceritaku tanpa ditanya.&lt;br /&gt;“Oh,ya. Saya baru kali ini nonton. Baru sempat.” jawabnya kemudian.&lt;br /&gt;Aku mengangguk-angguk tidak jelas, grogi mungkin.&lt;br /&gt;“Kenalin, saya Adam” dia mempelkan kedua tangannnya di depan dada.&lt;br /&gt;Aku juga menempelkan tanganku didepan dada, “Nadya” balasku. Aku memang tak bersentuhan bila bersalaman dengan laki-lai yang bukan muhrimku. Selain karena ketentuan dalam Alquran, sejak dulu walaupun ketika aku belum berhijab pun aku tidak suka bersalaman laki-laki, siapa dia baru kenal saja sudah menyentuhku. Idealis memang, bahkan beberapa temanku mengataiku sok suci, tak aku tak peduli.&lt;br /&gt;“Nonton sendirian ya?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Iya. Sedang ingin sendiri” jawabku.&lt;br /&gt;Kemudian kami berjalan beriringan keluar bioskop. Sebelum berpisah kami bertukar nomor telepon. Hmm, tampangnya sepintas mirip Saiful, teman Fahri. Duh, lagi-lagi Fahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphone-ku berbunyi. Mas Farhan menelpon.&lt;br /&gt;“Assalamu alaikum”&lt;br /&gt;“Wa alaikum salam, Mas. Ada apa?”&lt;br /&gt;“Ngga, mau nanya kabar aja. Kamu lagi dimana nih?” tanya Mas Farhan.&lt;br /&gt;“Saya lagi di mall, Mas” jawabku.&lt;br /&gt;“Oo..”&lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;“Nad, besok aku mau ke Brunei ada kerjaan. Paling nggak seminggu lah. Aku minta tolong liatin Dea ya kalau kamu sempat, dia di rumah berdua dengan Mbo Surti. Dea ngga mau dititipkan ke adikku. Bisa kan, Nad? Aku perhatikan kalian lumayan dekat.”&lt;br /&gt;“Insya Allah, Mas” jawabku.&lt;br /&gt;“Oke gitu aja ya. Makasih banyak lho sebelumnya”.&lt;br /&gt;“Iya, sama-sama”.&lt;br /&gt;“Assalamu alaikum”&lt;br /&gt;“Wa alaikum salam”.&lt;br /&gt;Aku menghela nafas. Aku memang dekat dengan anak kamu, tapi tidak dengan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya....&lt;br /&gt;Aku duduk di teras belakang ditemani ibu.&lt;br /&gt;"Ndhuk, gimana mas Farhan sudah ngomong sama kamu belum? tanya Ibu.&lt;br /&gt;"Belum tuh. Aku juga tidak berharap terlalu banyak sama dia. Sepertinya dia belum mau menikah lagi, Bu".&lt;br /&gt;"Trus temanmu itu, si Andi, gimana hubungan kamu sama dia?" tanya ibu lagi.&lt;br /&gt;"Aku sama Andi hanya berteman, Bu. Lagian usianya 5 tahun lebih muda dari aku, malas ah" jawabku.&lt;br /&gt;"Nadya, ibu pingin sebelum meninggal kamu sudah menikah"&lt;br /&gt;"Iya, Bu. Mau gimana lagi belum ketemu jodohnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriiing!! Kriiing!! Telepon rumah berdering. Aku masuk ke dalam mengangkat telepon.&lt;br /&gt;"Assalamu alaikum"&lt;br /&gt;"Waalaikum salam"&lt;br /&gt;"Bisa bicara dengan Nadya?" tanya suara dari telepon.&lt;br /&gt;"Saya sendiri, maaf ini dengan siapa ya?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Nadya, ini Ustadz Ansori"&lt;br /&gt;"Oh, Ustad. Maaf gak kenal suaranya"&lt;br /&gt;"Kamu kemana aja Nadya? Sudah 3 minggu kamu tidak datang ke pengajian?" tanya Ustadz Ansori.&lt;br /&gt;"Maaf Ustadz, saya akhir-akhir ini luar biasa sibuknya. Saya kecapean sehabis ngantor, jadi gak bisa datang ke pengajian" jelasku.&lt;br /&gt;"Oo...Ustad bisa mengerti. Begini lho Nadya, Ustadz mau menawarkan laki-laki untuk jadi suamimu, kamu belum menikah juga kan?"&lt;br /&gt;"Belum lah, Ustadz"&lt;br /&gt;"Begini, laki-laki ini adalah murid pengajian Ustdz juga. Besok dia akan menikah dengan wanita pilihan orangtuanya. Tiba-tiba tadi sore dia menelpon Ustadz katanya calon istrinya kabur dari rumah dengan pacarnya. Dia bingung sekali, sedangkan undangan sudah disebar, gedung dan katering beserta lain-lainnya sudah beres semua. Dia tidak memaksakan calon istrinya itu untuk menikah kalau memang tidak mau. Nah Nadya, maukah kamu menikah dengannya?"&lt;br /&gt;Aku tergagap menjawab pertanyaan Ustadz Ansori, "Apakah harus secepat ini? Saya bahkan tidak tau siapa orangnya?".&lt;br /&gt;"Lelaki ini adalah lelaki yang baik, Ustadz bisa menjamin itu. Insya Allah pernikahan kalian nanti bahagia dan langgeng" tambah Ustadz lagi.&lt;br /&gt;Ya Allah, mungkinkah ini jodohku? Bila ini memang jodohku berilah aku kekuatan untuk menjawab 'iya'.&lt;br /&gt;"Sebentar Ustadz, saya ingin berbicara dengan Ibu saya".&lt;br /&gt;Aku berlari menemui ibu di teras. Kujelaskan semuanya. Ibu terdiam sejenak memikirkan tawaran ini. Kemudian...&lt;br /&gt;"Ibu percaya Ustadz Ansori. Kamu boleh menikah dengan lelaki itu."&lt;br /&gt;Keringat dingin keluar dari badanku. Sekarang semua keputusan ada di tanganku.&lt;br /&gt;Aku mengangkat gagang telepon.&lt;br /&gt;"Halo Ustadz"&lt;br /&gt;"Ya, gimana Nadya?"&lt;br /&gt;Kutarik nafas dalam-dalam, "Bismillah, saya bersedia Ustadz".&lt;br /&gt;"Alhamdulillah, mungkin dia memang jodohmu, Nadya".&lt;br /&gt;"Gimana selanjutnya Ustadz, saya tidak punya persiapan apa-apa".&lt;br /&gt;"Kamu tidak usah khawatir, besok pagi mungkin jam 8, kami akan datang ke rumahmu. Kamu hanya perlu mempersiapkan mental kamu saja".&lt;br /&gt;Aku tidak bisa bicara, ini mendadak sekali.&lt;br /&gt;"Baiklah Nadya, Ustadz sarankan kamu malam ini untuk sholat Tahajud, agar besok kamu menjadi tenang"&lt;br /&gt;"Baik, Ustadz"&lt;br /&gt;"Assalamu alaikum"&lt;br /&gt;"Waalaikumsalam". Klik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak dapat tidur. Aku mengikuti saran Ustadz Ansori untuk sholat Tahajud. Aku berdoa dengan khusyuk. Air mataku meleleh. Aku berdoa agar aku tidak salah membuat keputusan menerima tawaran Ustadz Ansori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, iring-iringan mobil datang ke rumahku. Akad nikah dilakukan di rumahku. Aku hanya memakai gamis putih yang kubeli sewaktu ke Turki. Aku mengintip dari jendela ruang tamu. Usatdz Ansori keluar dari mobil diikuti oleh seorang laki-laki nampaknya dialah calon suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu alaikum" sapa Ustadz dan laki-laki itu kepada ibuku yang sudah menunggu di teras depan rumah.&lt;br /&gt;"Waalaikum salam"jawab ibu. "Selamat datang, maaf kami tidak ada penyambutan sewajarnya, harap maklum".&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa Ibu, justru saya yang mengucapkan terima kasih kepada Ibu" kata lali-laki itu.&lt;br /&gt;Kemudian Ibu, Ustadz, calon suamiku dan keluarga besarnya masuk ke dalam.&lt;br /&gt;"Nadya...kemari nak" panggil Ibu.&lt;br /&gt;Badanku gemetaran, aku tertunduk malu. Kuberanikan diri untuk melihat calon suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu?!" Aku tak percaya dengan penglihatanku.&lt;br /&gt;"Lho, kamu?" Dia juga kaget.&lt;br /&gt;Ustadz juga ikut kaget, "Lho, kalian sudah saling kenal yah?".&lt;br /&gt;Aku melongo.&lt;br /&gt;Laki-laki itu kemudian menjelaskan kepada Ustadz, "Kami pernah betemu di bioskop Ustadz, cuma sekali ketemu, setelah itu kami tidak ada kontak apa-apa, karena saya sudah meminang wanita lain. Waktu itu dia menabrak saya sehingga minumannya tumpah ke baju saya".&lt;br /&gt;Aku tesipu malu, "Adam kan?".&lt;br /&gt;"Iya saya Adam, Nadya" jawabnya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;"Wah, bagus toh kalau begitu, mari segera dimulai jangan lama-lama" timpal Ibu diikuti tawa keluarga Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata inilah rahasia indah Allah untukku. Akhirnya aku bertemu dengan jodohku, seperti Jakarta dan sungai Ciliwung yang berjodoh hehehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-That's All-&lt;br /&gt;sumber: http://aftiabdullah.multiply.com/journal/item/9/Memang_Jodoh_Rahasia_Allah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-7591066035020561957?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/7591066035020561957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/memang-jodoh-rahasia-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/7591066035020561957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/7591066035020561957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/memang-jodoh-rahasia-allah.html' title='MEMANG, JODOH RAHASIA ALLAH'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-8849809798357811608</id><published>2009-11-06T14:43:00.000+08:00</published><updated>2009-11-06T14:44:54.068+08:00</updated><title type='text'>WANITA</title><content type='html'>Wanita.......&lt;br /&gt;andai engkau seorang remaja, jadilah anak yg solehah bt kedua ibu bapakmu, andai engkau sudah bersuami, jadilah isteri yang meringankan beban suamimu, andai engkau seorang ibu, didiklah anakmu sehingga dia tidak gentar memperjuangkan Agama ALLAH...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita....&lt;br /&gt;andai engkau belum berkahwin, janganlah kau risau jodohmu, ingatlah janji Allah Azza Wajalla Tuhan sekalian alam bahwa wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Jangan memulai sebuah pertemuan dengan lelaki yang bukan muhrimmu, kerana aku khawatir dari mata jatuh ke hati, maka lahirnya senyuman maka tercetusnya salam sekaligus disusuli dengan pertemuan, takut lahirnya nafsu kejahatan yang menguasai diri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita.......&lt;br /&gt;lelaki yang baik tidak melihat pada paras rupamu, lelaki yang baik tidak memilih wanita melalui keayuannya, lelaki yang baik, tidak menilai wanita melalui kemanjaannya serta kemampuannya mengoncang iman lelaki, tetapi, lelaki yang baik akan menilai wanita melalui akhlaknya, peribadinya, dan yang paling penting pegangan Agamanya. Lelaki yang baik juga tidak menginginkan pertemuan dengan wanita yang bukan muhrimnya, kerana dia takut memberi kesempatan kepada syaitan untuk mengodanya, lelaki yang baik juga, tidak mahu bermain cinta kerana dia tahu apayang halal dalam sebuah pertemuan lelaki dan wanita, yakni sebuah Ikatan pernikahan yang diridhoi Allah Azza Wajalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Wanita.......&lt;br /&gt;jagalah pandanganmu, awasilah auratmu, peliharalah akhlakmu, kuatkan pendirianmu. Andai ditakdirkan tiada cinta dari pada laki2 beriman untukmu, cukuplah hanya cinta ALLAH, yang memenuhi dan menyinari kekosongan jiwamu, biarlah hanya cinta daripada kedua ibu bapamu yang memberi kehangatan kebahagiaan buat dirimu, cukuplah sekadar cinta kakak beradik, serta keluarga yang membahagiakan dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita........&lt;br /&gt;cintailah ALLAH dikala susah dan senang kerana kau akan memperolehi cinta daripada insan yang juga menyintai ALLAH. Cintailah kedua ibu bapamu kerana kau akan perolehi Keridhoan ALLAH, cintailah keluargamu kerana kau tidak akan menjumpa cinta yang bahagia selain dari pada cinta keluarga. Janganlah sesekali tanganmu mengoncangkan dunia, juga mengoncangkan iman lelaki.. TUNDUKKAN PANDANGANMU…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-8849809798357811608?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/8849809798357811608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8849809798357811608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8849809798357811608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/wanita.html' title='WANITA'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3579355132816127997</id><published>2009-11-06T14:42:00.000+08:00</published><updated>2009-11-06T14:43:07.586+08:00</updated><title type='text'>KALA CINTA DATANG MENGGODA</title><content type='html'>“Jatuh cinta berjuta rasanya …”, begitu syair lagu ciptaan Titik Puspa. Konser Dewa, Atas Nama Cinta, dihadiri ribuan penggemar mereka. Album terakhir mereka pun, Cintailah Cinta pun terjual diatas 1 juta copy. Dan entah berapa banyak lagi lagu, kata, ungkapan, syair, puisi yang berbau cinta begitu mengharu biru dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm..perasaan jatuh cinta memang sukar dijelaskan dan ditebak, karena penuh dengan gejolak. Semua saran dan nasihat ditolak, bahkan nalar pun bisa terdepak oleh perasaan mabuk kepayang yang membikin rasa melayang-layang. Itulah dahsyatnya perasaan yang satu ini. Gedubrak !!!&lt;br /&gt;Apakah karena itu kita tak boleh mencintai dan dicintai? Uups…tentu saja boleh, karena cinta adalah pemberian Allah SWT. Mencintai dan dicintai adalah karunia, sekaligus panggilan hidup kita. Tak pernah merasakan jatuh cinta, bukanlah manusia, karena manusia pasti merasakan cinta [QS Al Imran:14] Bahkan, cinta merupakan ruh kehidupan dan pilar untuk kelestarian ummat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam juga gak phobi sama yang namanya cinta kok, bahkan Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun, bukan dalam komoditas rendah dan murah lho. Artinya, tingkatan mencintai sesuatu itu ada batasnya. Jika cinta itu malah membawanya kepada perbuatan yang melanggar syariat, nah…kore wa dame da!*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm…cinta itu katanya jelmaan perasaan jiwa dan gejolak hati seseorang, wuis…puitis banget! Nah, dalam Islam kalau kita merujuk QS: At Taubah 24, maka cinta dapat dibagi dalam 3 tingkatan, yaitu:&lt;br /&gt;1. Cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya&lt;br /&gt;2. Cinta kepada orangtua, istri, kerabat dan seterusnya&lt;br /&gt;3. Cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga dan anak istri melebihi cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu gimana dong, kalau cinta itu datang, menghampiri dan menggoda di luar pernikahan? Nah lho, puyeng deh kalo gini! Padahal cinta itu kan timbul memang dari sononya, muncul dari segi zat atau bentuknya secara manusiawi wajar untuk dicintai. Normal aja kan, jika memandang sesuatu yang indah, kita akan mengatakan bahwa itu memang indah, masa’ sih dibilang jelek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Ibnu al-Jauzi, “Kecintaan, kasih sayang, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela serta tak perlu dibuang. Namun, cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya, hal seperti inilah yang tercela.”&lt;br /&gt;Waduh…gimana dong, lagi jatuh cinta nih! Problem…problem… mana masih kuliah, kerjaan belon ada, masih numpang ama orangtua, wah…nih cinta kok gak pengertian ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalem dong, jangan blingsatan begitu. Emangnya jatuh cinta masalah kamu aja, ya…gak lagi! Nabi Yusuf a.s. aja pernah jatuh cinta lho, bahkan kepada seseorang wanita yang telah menjadi istri seseorang. Eits…protes deh! Iya deh, kalau bukan cinta, paling gak, tertarik dan terpesona, boleh kan?&lt;br /&gt;Buka deh surat Yusuf, romantika kisah beliau diceritakan dengan tuntas, awal, proses, konflik hingga klimaks dan ending-nya. Nah lho…Nabi aja bisa punya ‘konflik’ seperti itu, apalagi kamu, iya kan? Romantika cinta beliau bukan kacangan, atau pepesan kosong, namun apa yang dialami beliau bisa menjadi pelajaran buat kita bagaimana kalau cinta itu demen banget menggoda kita. Beliau sadar, dan mengerti betul bahwa itu terlarang, meski ada gejolak di hatinya [QS Yusuf: 24]&lt;br /&gt;Namun… Kondisi di atas itu gak terjadi begitu aja lho, karena sebelumnya Nabi Yusuf a.s. pun telah berusaha untuk menolaknya saat wanita itu terus merayunya. Eh…nabi Yusuf pun dikejarnya, dan yang dikejar malah lari terbirit-birit, wuus…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa dong pelajaran yang bisa kita ambil, saat cinta itu menggoda kita? Pelajarannya adalah:&lt;br /&gt;1. Setiap orang memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, perasaan ini manusiawi, fitrah sekaligus anugerah.&lt;br /&gt;2. Namun, gejolak itu harus diatur lho, kalau gak maka kita akan terperosok ke jurang kenistaan, karena diperbudak gejolak jiwanya. Lantas jadi merana deh, angan-angan melulu. Innan nafsa la ammaaratun bis-suu, sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan kecuali nafsu-nafsu yang diberi rahmat oleh Allah [QS Yusuf:53].&lt;br /&gt;3. Kalau kita jatuh cinta pada lawan jenis, dan mengharapkan terbalaskan cintanya, maka saat itu ada sebagian dari akal dan logika yang hilang. Sekian banyak pertimbangan akal sehat yang dipunyai jadi ngadat, gak jalan! Gak percaya? Coba deh, ntar kalau kamu tambah dewasa, udah nikah, mungkin mikir, “Kok, dulu begitu ya?”, “Kok, dulu gak mikir ya?”, dan “kok-kok” yang lain.&lt;br /&gt;4. Dulu waktu ngejar-ngejar, wah…dimana-mana hanya terpampang wajah dia seorang, kekasih hati. Tidur gak nyenyak, makan pun terasa gak enak, bukan karena banyak nyamuk atau lauknya gak enak, dunia ini pun hanya untuk berdua, yang lain ngontrak, ck…ck…ck… Kalau gak ketemu, rasanya gimana gichuu. Dikejar setengah mati deh, pokoke mesti dapet! Tapi begitu udah dapat, lalu masuk dunia rumah tangga, gejolak itu bisa berganti dengan rutinitas dan bisa bosan. Itulah sifat manusia, karena itu bila mencintai seseorang, cintailah sewajarnya, siapa tahu ntar kamu benci padanya. Begitu juga sebaliknya, kalau benci, bencinya yang wajar aja deh, siapa tahu ntar malah jatuh cinta&lt;br /&gt;5. Ingat lho, gak semua yang kita inginkan itu harus terpenuhi, kalau gak mau dibilang egois. Tidak semua cita-cita itu harus terkabul, dan tidak pula semua gejolak harus dituruti. Di dunia ini ada banyak pilihan, kalau gak dapat yang satu, pilihan lain masih banyak kan? Siapa tahu malah lebih baik. Makanya buka mata lebar-lebar, masa’ sih cuma ada dia aja di dunia ini, emang yang lain kemana bo!&lt;br /&gt;6. Tidak semua yang kita anggap baik itu baik, dan tidak semua yang dianggap indah itu indah. Segala sesuatu itu pasti ada cacat dan cela-nya. Saat jatuh cinta sih, wuah…indah buanget, tiada cacat dan cela. Padahal bisa aja kan, cacat dan cela itu jauh lebih banyak dari baik dan indahnya.&lt;br /&gt;7. Akhirnya, kalau kamu udah sampai pada puncak cinta, yaitu pernikahan, ingat deh kalo puncak masalah pernikahan itu bukanlah pada siapa yang akan jadi pasangan kita, tapi gimana agar kita bisa survive di dalamnya, siapapun pasangan kita.&lt;br /&gt;Semoga membantu akhi wa ukhti, jangan lupakan Allah SWT kalau antum jatuh cinta ya. Jatuh cinta-lah karena Allah SWT, karena kasih sayangnya akan meluruh ke jiwa.&lt;br /&gt;Wallahu a`lam bis-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;————————————————&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA AKU JATUH CINTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Rabbi aku minta izin&lt;br /&gt;Bila suatu saat aku jatuh cinta&lt;br /&gt;Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang&lt;br /&gt;Hingga membuat lalai akan adanya Engkau&lt;br /&gt;Allahu Rabbi&lt;br /&gt;Aku punya pinta&lt;br /&gt;Bila suatu saat aku jatuh cinta&lt;br /&gt;Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas&lt;br /&gt;Biar rasaku pada-Mu tetap utuh&lt;br /&gt;Allahu Rabbi&lt;br /&gt;Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta&lt;br /&gt;Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu&lt;br /&gt;dan membuatku semakin mengagumi-Mu&lt;br /&gt;Allahu Rabbi&lt;br /&gt;Bila suatu saat aku jatuh hati&lt;br /&gt;Pertemukanlah kami&lt;br /&gt;Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu&lt;br /&gt;Allahu Rabbi&lt;br /&gt;Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati&lt;br /&gt;Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku&lt;br /&gt;Anugerahkanlah aku cinta-Mu…&lt;br /&gt;Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu&lt;br /&gt;Amiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3579355132816127997?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3579355132816127997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/kala-cinta-datang-menggoda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3579355132816127997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3579355132816127997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/kala-cinta-datang-menggoda.html' title='KALA CINTA DATANG MENGGODA'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-1503674867588209780</id><published>2009-11-06T14:39:00.000+08:00</published><updated>2009-11-06T14:42:24.383+08:00</updated><title type='text'>Catatan Seorang Ukhti...</title><content type='html'>Catatan Seorang Ukhti...&lt;br /&gt;Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ALLAH, Janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan tentang aku. Berikanlah kebaikan padaku dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. Ampunilah aku karena apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi ALLAH… bukannya ana ingin mendzolimi saudara ana sendiri, bukan ingin mempersulit jalannya, bukan itu tujuan ana. Tujuan ana hanya ALLAH… ana ingin ketika saatnya nanti ana harus menikah, ana ingin menikah dengan orang yang belum pernah ana lihat wajahnya, belum pernah ana kenal namanya, belum pernah ana dengar suaranya, dan belum pernah ana tau bagaimana akhlaknya... itu semua yang ana inginkan agar tujuan ini tidak bergeser, agar niatan ini lurus padaNYA, agar nantinya tidak akan ada fitnah yang muncul… untuk DIA-lah segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sarana tidak bisa bergeser jadi tujuan??? Karenanya dengan siapapun nantinya ana menggenabkan dien ini… itu tidak akan jadi soal, itu hanya sarana. Tujuan ana hanya menggenabkan dien ini…hanya untuk-NYA. Ana tidak perlu terlalu fokus pada “sarana” saja, karena itu bukanlah “tujuan” utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran akan selalu muncul ketika kaki ini harus melangkah ke luar rumah untuk berbagai aktifitas da’wah. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjaga hijabnya dan juga hijab antar saudaranya. Ana khawatir jika seseorang “tergoda” karena tingkah laku ana… entah itu tergoda untuk apa, ana tidak bisa mendeskripsikannya. Khawatir jika ana di khitbah karena akhlak atau bahkan karena fisik. Ana tidak menginginkan keduanya. Dan jika ada yang tergoda karenanya…maka itulah sebuah kesalahan terbesar ana. Astaghfirulloh… ampunkanlah dosaku Ya ALLAH, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau-lah pengampun dosa-dosa besar… amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bukan standar baku…, dan bukan sebuah kesalahan si ikhwan… tetap ahsan insya ALLAH jika alasannya karena telah melihat akhlak...bukan fisik semata. Tapi ana ingin yang lebih mulai dari itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana tidak ingin menikah hanya karena ingin menjaga hijab karena telah “bergetar” hatinya ketika melihat akhlak si ini atau si itu. Terjaganya hijab, ketenangan qolbu, hanya ibroh di balik perintahNYA untuk menggenabkan dien...bukan sebuah nash. Menikah adalah perintahNYA. Sami’na wa atho’na…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sekarang ini sudah sering terjadi, seorang ikhwan mendatangi ustadznya untuk mengutarakan niatnya berta’aruf dengan “si akhwat ini atau itu”…? Ia telah menyebut nama si akhwat di depan ustadznya terlebih dulu, terlihat seperti memesan si akhwat. Kenapa harus menyebutkan nama terlebih dulu? Allahu’alam… apa sebenarnya maksud di balik itu…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah tidak jarang lagi ketika si akhwat yang dituju menolak karena ketidaksiapan pribadi atau ortunya, si ikhwan lantas berkata “ana akan menunggu” atau “bolehkan ana maju kembali di kemudian hari, mungkin 1,2, atau 3 tahun lagi ukhti, hingga anti dan keluarga anti siap menerima ana…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya ia berkata, insya ALLAH niatnya menikah lurus untuk menggenabkan dien semata..., lantas kenapa ia harus memilah-milih si akhwat ? kenapa harus dengan akhwat ini atau itu, hingga ia mau menunggu ? Bukankah itu hanya wujud sarana untuk mencapai tujuannya, yakni ALLAH…??? Bukankah menunggu akan membuka pintu-pintu syaitan ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah harusnya ketika ia mengutarakan kesiapannya menikah, ia juga harus siap “menjadikan” siapapun nantinya yang jadi penggenab diennya, akan jadi seseorang yang menentramkan qolbunya, menjadi istri yang sholehah, yang dicemburui para bidadari surga, dan membuat dirinya di”iri”i para syuhada ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah “menjadikan” lebih mulia daripada sekedar “mencari” untuk memilih ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah semua “proses” menuju akad tidak ahsan berlangsung lama ? karena dikhawatirkan akan muncul fitnah di antara kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ia mau menunggu, padahal si akhwat tidak mau ditunggu atau pun menunggu…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, salahkah jika ikhwan seperti itu…tertolak ? Ikhwan yang sebelumnya si akhwat kenal baik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebelumnya si ikhwan pernah membayangkan apa yang akan terjadi jika ia menunggu, akan ada perasaan lain yang sebelumnya tidak pernah ada ketika bertemu, dan kini timbul karena pinangannya ? karena ia telah menyebut nama si akhwat, karena si akhwat telah tau maksudnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menjaga ketenangan qolbu jika harus bertemu dengan sosoknya di suatu tempat misalnya di kampus atau medan da’wah lainnya, setelah maksudnya terdengar di telinga si akhwat ? apa si ikhwan juga merasakan kegelisahan si akhwat ? apa ia bisa menjaga ketenangan qolbu si akhwat ? apa ia bisa merasakan sakitnya qolbu si akhwat jika tanpa sengaja bertemu dengannya atau sekedar terbayangkan maksud dan tujuannya pada si akhwat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana tidak ingin mendengar berita ana dikhitbah, sekalipun berita itu datangnya dari ustadzah ana. Apalagi jika berita itu tersampaikan dari si ikhwan yang langsung menyampaikannya tanpa perantara. Na’udzubillah…tsumma na’udzubillah… karena setidaknya dengan adanya pendamping/perantara yang lebih paham akan membantu kedua belah pihak untuk menjaga semua “proses” dari fitnah dan bisa membantu mengingatkan ketika langkah yang diambil kurang benar. Jadi lebih ahsan dengan adanya pendamping atau perantara yang ana yakini lebih paham daripada ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ana inginkan, ustadzah ana terlebih dulu menawarkan…”adakah akhwat di sini ini yang siap menikah?”, jadi tidak ada pemesanan nama sebelumnya. Berita itu datang untuk semua akhwat yang siap menikah. Bukan jadi berita “khusus” untuk yang tersebut namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri, akan jadi sebuah kesalahan besar dan penyesalaan bagi ana, jika si ikhwan mengkhitbah ana karena tertarik oleh akhlak ana. Meskipun hanya karena akhlak, bukan karena telah melihat fisik… tetap saja rasanya…ana telah secara tidak langsung mengganggu hijab qolbunya. Astaghfirulloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…Sesungguhnya termasuk kebaikanku adalah pengetahuanku akan kekurangan jiwaku… Astaghfirulloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ana berkata fobia kaum Adam, itu karena ketakutan ana menjadi penggoda di mata mereka. Bukan karena ana merasa (afwan…) “jijik” pada mereka. Kalau pun ana membenci mereka…insya ALLAH itu dalam taraf yang wajar. Karena ana punya musuh yang nyata-nyata perlu dibenci ketimbang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seorang saudara bertanya, “kenapa anti begitu misterius ukht?”. Ana hanya bisa tersenyum dalam hati karena tak mampu menjawabnya. Ia bertanya seperti itu setelah membuka fs atau pun media elektronik lainnya, berharap mendapati profile ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga saudara yang ana kenal baik menanyakan kenapa ana tidak pernah membalas SMS tausyiahnya. Ana rasa sudah saatnya menjawab, karena metode “mendiamkannya” tidak menjadikannya paham, terbukti dari pertanyaannya itu. Kala itu ana jawab, “karena antum ikhwan, kalau antum akhwat… akan dengan senang hati ana SMS antum tiap waktu...insya ALLAH. Dalam bentuk apa pun komunikasi dengan nonmakhrom, antum tetap perlu menjaga hijab, karena faktor syaitan tidak bisa “dinihilkan”. SMS dengan kepentingan koordinasi mengenai sebuah proker da’wah atau kepentingan syar’i lainnya seperti tugas kampus, dll… saja tetap harus diperhatikan tata cara komunikasinya, entah itu bahasa yang digunakan agar tidak terkesan mendayu-dayu atau menjerumus ke terlonggarnya hijab dan bahkan mengenai perihal waktu berkomunikasi, karena SMS yang masuk layaknya tamu yang datang, tentunya akan sangat tidak sopan jika kita bertamu malam-malam. Apalagi SMSnya berisi tausyiah. Sekalipun tujuan SMSnya untuk saling mengingatkan, tetap saja itu nggak ahsan. Putihnya si pengirim belum tentu diikuti putinya si penerima SMS. Antum tidak perlu repot-repot menyebrang ke zona akhwat untuk menyemangati saudari antum. Perhatikan saja saudara-saudara antum, mungkin ada di antara mereka yang berhak dan halal menerima perhatian antum tapi belum atau lupa antum perhatikan. Afwan jiddan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu’alam…ternilai setegas, sekasar atau mungkin seekstrim apa sikap ana itu...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang selalu menghilangkan jejak no HP ba’da proker usai, tidak pernah mau mengisi profile di media apa pun kalau pun ana mengisinya maka sudah pasti datanya tidak valid kecuali data di instansi tertentu yang memang wajib ana isi, tidak pernah mau foto atau pun memasang foto, teguran yang selalu ana luncurkan ketika seorang nonmakhrom menanyakan ana pada saudari ana padahal ia tidak memiliki kepentingan yang syar’i…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu ana lakukan karena ana khawatir dan takut ada SMS masuk dari ikhwan yang tidak memiliki kepentingan yang jelas. Bisa jadi bukan hanya HP saja yang akan bergetar tapi juga qolbu. Takut jika SMS itu tidak bernilai pahala di mataNYA melainkan dosa karena telah melonggarkan hijab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana khawatir jika profile dan foto ana terlihat dan terbaca nonmakhrom lantas membuat mereka tergoda untuk sekedar memberikan sapaan melalui testimonial or comment , atau pun tergoda untuk melakukan yang lebih dari itu... Dan ana tidak berani untuk sekedar melihat foto. Karena ana tau qolbu ana kotor maka ana tidak ingin lebih mengotorinya dengan melihat foto dan memberikan peluang pada syaitan untuk turut memberi “rasa”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana khawatir akan muncul fitnah dari pertanyaannya, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu’alam… mungkin prasangka dan kekhawatiran ana terlalu berlebih…Astaghfirulloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah ana memelihara rasa “khawatir atau takut” pada ikhwan, selama perasaan itu tidak mengganggu kinerja da’wah di jalanNYA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada yang berkomentar, “anti terlalu mempersulit diri dengan semua sikap itu.” Apakah memang terlihat seperti mempersulit diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bahkan terlihat ekstrim ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pantaskah ana berharap mendapatkan sesuatu yang lebih mulia di hadapanNYA??? Astaghfirulloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ALLAH, jadikanlah di dalam hatiku cahaya. Di dalam ucapanku cahaya. Jadikanlah pada pendengaranku cahaya. Jadikanlah pada penglihatanku cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya. Dan dari depanku cahaya. Jadikanlah dari atasku cahaya. Dari bawahku cahaya. Ya ALLAH…berikanlah kepadaku cahaya dan jadikanlah aku cahaya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WALLAHU’ALAM BISH SHOWAB.&lt;br /&gt;Di pencarian mutiara di dasar hati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Created by ALLAH and Rosululloh are Enough for Me...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-1503674867588209780?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/1503674867588209780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/catatan-seorang-ukhti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1503674867588209780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1503674867588209780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/catatan-seorang-ukhti.html' title='Catatan Seorang Ukhti...'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-7259593290803182286</id><published>2009-11-06T14:32:00.000+08:00</published><updated>2009-11-06T14:39:31.711+08:00</updated><title type='text'>Surat Putus</title><content type='html'>“Syaithan itu memberikan janji-janji pada mereka, dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal, tiadalah syaithan itu menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka.” (An Nisaa’:120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sadar ya ditipu syaithan?? Memang ada kok orang yang baru sadar sesudah sampai di akhirat. Sesal kemudian selalu tak berguna Aduhai.., celaka aku.., kiranya aku dulu tidak menjadikan si Fulan sebagai kekasihku!! Sesal ini hanya akan menjadi gigit jari kenestapaan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah) hari di mana si zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rosul. Kecelakaan besarlah bagiku,. Kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan menjadi kekasihku!” (Al Furqon: 27-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni.., ada contoh surat buat kalian yang mau mengikuti jejak Rosul dan mengabaikan bisikan syaithan itu ..,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalaamu ‘alaykum wa rohmatulloohi wa barokaatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba’da tahmid dan sholawat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur pada Alloh yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang Tak pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur. Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malam. Yang siap Memberi apapun yang kupinta. Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf akhi, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil, dan kerdil di hadapanNya. Ia berbuat apa saja sekehendakNya kepadamu. Dan, akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya cemburu. Aku takut hubungan kita selama ini membuatNya murka. Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya. Ia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang yang pernah kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu, marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu, marah karena pernah ketetapanNya kuadukan padamu atau tentang lamunanku yang selalu membayangkan wajahmu. Ia bisa marah. Tapi sekali lagi semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni. Akhi, Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, jangan marah ya. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNya, tidak pada selainNya. Tapi tak Cuma aku, akhi. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini. insyaAlloh, Dia punya rencana yang indah untuk masa depan kita masing-masing. Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenciNya, kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita sholihah. Ya, wanita sholihah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini. Ia yang akan membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridho Alloh dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakanku, akhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini. Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Alloh. Ya, saudara di jalan Alloh, akhi. Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua, tapi seluruh orang mukmin di dunia. Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rosululloh di telaganya, lalu beliau pun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, akhi. Tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah, doa keselamatan dunia akhirat sekaligus TANDA AKHIR DARI HUBUNGAN HARAM KITA., insyaAlloh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang pilih jalan sendiri. Mau ke pintu surga abadi atau di siksa di neraka..^^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-7259593290803182286?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/7259593290803182286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/surat-putus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/7259593290803182286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/7259593290803182286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/surat-putus.html' title='Surat Putus'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-2847896433612317016</id><published>2009-11-06T14:31:00.000+08:00</published><updated>2009-11-06T14:32:22.844+08:00</updated><title type='text'>Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi; Malaikat Jibril Menjelma dalam Rupanya</title><content type='html'>’Awwaanah bin al-Hakam berkata, “Manusia yang paling tampan rupanya, ialah seseorang yang Malaikat Jibril ’alaihis salam datang dalam bentuk rupanya. Yakni Dihyah.”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihyah bin Khalifah al-Kalbi radhiyallahu ’anhu adalah salah satu di antara para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang telah lama masuk Islam. Beliau masuk Islam sebelum perang Badar. Akan tetapi, dalam peperangan itu, beliau belum sempat mengikutinya. Baru, setelah peperangan itu, beliau tidak pernah absen dalam jihad di medan peperangan.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga salah seorang sahabat Rasulullah yang masyhur. Dia dikaruniai Allah berupa keutamaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya. Di antara keutamaan yang beliau miliki, yaitu Malaikat Jibril ’alaihis salam seringkali datang menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam wujud menyerupai dirinya. Imam an-Nasa’i meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Yahya bin Ya’mur rahimahullah dari Ibnu ’Umar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Malaikat Jibril ’alaihis salam mendatangi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam rupa Dihyah Al-Kalbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain disebutkan, dari Jaabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Telah diperlihatkan kepadaku para nabi, maka aku melihat Musa ’alaihis salam adalah seorang laki-laki yang kuat, seakan-akan dia adalah lelaki dari kaum Syanuu’ah. Dan aku melihat Isa bin Maryam ’alaihis salam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat, adalah Urwah bin Mas’ud. Dan aku melihat Ibrahim ’alaihis salam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat ialah sahabat kalian –yaitu diri beliau sendiri– Dan aku pun melihat Jibril ’alaihis salam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat adalah Dihyah. (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu ’Utsman, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Telah diberitakan kepadaku bahwa Malaikat Jibril ’alaihis salam datang kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, dan Ummu Salamah sedang bersama beliau. Maka, dia pun berbicara lantas berdiri, sehingga Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pun berkata kepada Ummu Salamah, ’Siapakah ini?’ – atau (kurang lebih) seperti (itu) ucapan beliau– Lantas Ummu Salamah pun berkata, ’Ini adalah Dihyah’. Ummu Salamah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        ’Demi Allah, sungguh aku mengira, ia adalah Dihyah, sampai aku mendengar khutbah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang mengabarkan bahwa dia adalah Malaikat Jibril ’alaihissalam’3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengirimkan surat-surat seruan memeluk Islam kepada para raja, kisra dan kaisar, yaitu pada akhir tahun ke enam hijriah, Dihyah termasuk salah satu delegasi yang ditugaskan. Adapun tugas yang diberikan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepada Dihyah, yaitu agar ia menyampaikan surat beliau shallallahu ’alaihi wa sallam kepada Hiraklius, kaisar Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu riwayat disebutkan, dari ’Abdullah bin ’Abbas radhiyallahu ’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menulis surat kepada kaisar untuk mengajaknya masuk Islam. Beliau pun mengutus Dihyah al-Kalbi untuk menyampaikan suratnya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memintanya supaya menyerahkan surat tersebut kepada penguasa Bushra, agar ia menyampaikannya kepada kaisar.4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam al-Bidayah wan Nihayah, sepulang dari menemui kaisar -dan Dihyah mendapatkan hadiah yang banyak dari kaisar– ketika ia telah sampai di daerah Hisma, ia dihadang oleh sekelompok orang dan mereka pun mengambil semua yang ada padanya. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah radhiyallahu ’anhu untuk memerangi mereka.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, seklias kisah Dihyah bin Khaliifah. Pada masa hidupnya, beliau tinggal di daerah Mizzah di Damaskus, dan beliau hidup hingga masa kekhalifahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma. Semoga keridhaan Allah Ta’ala senantiasa tercurahkan pada sahabat yang mulia ini.&lt;br /&gt;Disalin dari majalah As-Sunnah edisi 04/XII/1429H 2008M , Rubrik Baituna, hal. 8 Catatan Kaki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Al-Ishaabah, Ibnu Hajar, hal. 371. no. 2474. [↩]&lt;br /&gt;   2. Thabaqaat, Ibni Sa’ad, 4/249. [↩]&lt;br /&gt;   3. Shahih Al-Bukhari, kitab Al-Manaqib, bab: ‘Alaamaatin Nubuwwah fil Islaam. [↩]&lt;br /&gt;   4. Shahih Bukhari, kitab al-Jihad was Siyar, Bab: Du’aa-in Nabiyyi an-Naasa ilal Islaam. [↩]&lt;br /&gt;   5. Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, 6/242. [↩]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-2847896433612317016?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/2847896433612317016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/dihyah-bin-khalifah-al-kalbi-malaikat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/2847896433612317016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/2847896433612317016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/dihyah-bin-khalifah-al-kalbi-malaikat.html' title='Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi; Malaikat Jibril Menjelma dalam Rupanya'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-1365011819608742464</id><published>2009-11-06T14:28:00.000+08:00</published><updated>2009-11-06T14:29:47.207+08:00</updated><title type='text'>JOMBLO VS PACARAN</title><content type='html'>Jomblo. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih…nggak laku? Emangnya jualan kolor?&lt;br /&gt;Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzhubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.&lt;br /&gt;So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.&lt;br /&gt;Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak nyari pacar. Tulalit banget kan?&lt;br /&gt;Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi dorongan media, baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus pacaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayo…bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm…mungkin di antara kamu ada yang menjawab:&lt;br /&gt;‘biar nggak kuper’&lt;br /&gt;‘biar nggak dibilang nggak laku’&lt;br /&gt;‘biar ada cowok yang sayang sama kita’&lt;br /&gt;‘biar ada semangat untuk belajar’&lt;br /&gt;‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’&lt;br /&gt;‘sekedar pingin tahu rasanya’&lt;br /&gt;dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?&lt;br /&gt;Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa warna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pacaran adalah adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah saw., “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)&lt;br /&gt;Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jomblo adalah pilihan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung dating ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jomblo tapi sholihah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Benar-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkeredung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’. Hidup jomblo!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-1365011819608742464?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/1365011819608742464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/jomblo-vs-pacaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1365011819608742464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1365011819608742464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/jomblo-vs-pacaran.html' title='JOMBLO VS PACARAN'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-1705572041119074575</id><published>2009-11-06T14:27:00.002+08:00</published><updated>2009-11-06T14:28:14.788+08:00</updated><title type='text'>Bagi yang mau BERPACARAN, BACA INI..!!</title><content type='html'>Apakah perwujudan cinta itu hanya berarti kasmaran saja? Hmm…menurut salah seorang peneliti, cinta itu bisa berarti banyak, dan salah satunya memang bisa diartikan kasmaran dan kasih terhadap lawan jenis. Karena perasaan senang terhadap lawan jenis itu merupakan fitrah, berarti sah-sah aja dong, namun apakah sarananya harus pacaran?&lt;br /&gt;Sarana yang terbaik adalah simpan rasa itu, tata dengan rapi dan ekspresikan dengan cara yang halal, yaitu menikah. Ehem…&lt;br /&gt;Senang sama lawan jenis, boleh gak ya? Bukankah itu fitrah!&lt;br /&gt;Ehm, siapa yang bilang nggak boleh? Tapi apakah sarananya harus pacaran?&lt;br /&gt;EMOSI CINTA&lt;br /&gt;Menurut para peneliti, yang dimuat Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, CINTA ADALAH SALAH SATU EMOSI YANG ADA PADA MANUSIA. Emosi cinta ini mengandung beberapa emosi lain seperti: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, hormat, kasmaran dan kasih.&lt;br /&gt;Nah, dari emosi-emosi turunannya itu, jelas terlihat kalo PERWUJUDAN CINTA LEBIH LUAS SIFATNYA, BUKAN SEKEDAR KASMARAN SAJA. Persahabatan, penerimaan, kebaikan hati dsb bisa kita ekspresikan tanpa harus pacaran.&lt;br /&gt;Tapikan, seorang laki-laki butuh perempuan, dan juga sebaliknya? Glek! (*smile*)&lt;br /&gt;Jawabannya, memang iya sih! Namun, apakah lantas karena butuh itu kita jadi menerobos garis batas yang telah diatur Allah untuk menjaga kita?&lt;br /&gt;WAJAR SAJA&lt;br /&gt;Yap, wajar saja kalo kita senang dengan lawan jenis. Fitrah, betul itu! Tapi FITRAH BUKAN BERARTI HARUS DITURUTI SEHINGGA TAK TERKONTROL. KITA HARUS TETAP MENJAGA FITRAH AGAR TETAP MURNI DAN TAK TERKOTORI DENGAN NAFSU SESAAT. Cinta itu sendiri terbagi menjadi dua:&lt;br /&gt;1. Cinta yang Syar’i&lt;br /&gt;Cinta yang syar’i dasarnya adalah iman. Buka deh Q.S. 3:15, 52: 21 dan 3: 170.&lt;br /&gt;2. Cinta yang Tidak Syar’i.&lt;br /&gt;Sedangkan cinta yang tidak syar’i dasarnya adalah syahwat. Untuk yang ini silakan dibuka Q.S. 3:14, 80: 34-37, dan 43:67.&lt;br /&gt;Kalau di stiker-stiker kamu sering baca: Cinta Allah, Rasul, dan jihad fi sabilillah, itu benar adanya. Urutan itulah yang utama. ALLAH MEMBENARKAN CINTA YANG SIFATNYA SYAHWATI seperti di Q.S. 3:14 (wanita/pria, anak, harta benda, dsb), SEBAB KECINTAAN YANG SIFATNYA SYAHWAT INI ADALAH TABIAT MANUSIA. Nah, KECINTAAN INILAH YANG PERLU DIKENDALIKAN.&lt;br /&gt;Gimana cara mengendalikannya?&lt;br /&gt;JAGALAH HATI&lt;br /&gt;Ingat kisah Fatimah ra, putri Rasulullah saw? Setelah menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah mengaku pernah menyukai seorang laki-laki. Ketika ditanya Ali, siapa laki-laki itu, Fatimah menjawab lelaki itu sebenarnya Ali sendiri (ehem!).&lt;br /&gt;Bisa ditarik kesimpulan, sebenarnya sudah ada bibit cinta pada diri Fatimah terhadap Ali, tapi toh beliau nggak lantas jadi kasmaran dan mengekspresikan cintanya dengan suka-suka gue. Beliau simpan rasa itu, menatanya dengan rapi dan mengekspresikan saat memang sudah&lt;br /&gt;halal untuk diekspresikan, yaitu saat telah menikah.&lt;br /&gt;Aduh, jauh banget ya? Nggak juga kok, karena itulah kendalinya. Kalau belum siap menikah? Ya, jangan main api. Lebih baik ‘main air’ saja biar sejuk. Gimana ‘main air’-nya?&lt;br /&gt;1. Jaga pergaulan. Bukan berarti ngggak boleh gaul sama cowok, tapi JAGA PANDANGAN (bukan berarti nunduk terus).&lt;br /&gt;2. Kalau menyukai lawan jenis, CUKUP SAMPAI TAHAP SIMPATI. Jaga hati. Kalau nggak tahan, jauhi diri dari orang yang kita sukai. Banyak-banyak puasa.&lt;br /&gt;3. Banyak ikut kegiatan buat mengalihkan diri. Kurangi interaksi yang kurang jelas dengan lawan jenis. Tapi harap ingat, di setiap tempat kita pasti selalu bertemu dengan lawan jenis. Jadi SOLUSI UTAMA MEMANG MENJAGA DIRI.&lt;br /&gt;4. Banyakin teman (yang sejenis lho) dan cobalah untuk terbuka dengan teman itu. Jadi kamu nggak merasa kesepian. Cuma AKAL-AKALAN SI SETAN KOK KALO KAMU MERASA PUNYA TEMAN COWOK LEBIH ENAK DARIPADA TEMEN CEWEK ATAU SEBALIKNYA. Ngibul tuh si setan!&lt;br /&gt;5. Masih nggak kuat dan tetap ingin pacaran? Ya silakan saja. Tapi tanggung resikonya (kamu-kan sudah baligh). Harap diketahui, API NERAKA ITU PANAS, MESKI DI MUSIM HUJAN. DOSA BESAR ITU AWALNYA DARI KUMPULAN DOSA KECIL. Nah lho!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-1705572041119074575?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/1705572041119074575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/bagi-yang-mau-berpacaran-baca-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1705572041119074575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1705572041119074575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/bagi-yang-mau-berpacaran-baca-ini.html' title='Bagi yang mau BERPACARAN, BACA INI..!!'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3472988465875858475</id><published>2009-11-06T14:27:00.001+08:00</published><updated>2009-11-06T14:27:44.669+08:00</updated><title type='text'>Wanita Suci (Suara Hati Seorang Ikhwan untuk Seluruh Wanita Suci di Dunia)</title><content type='html'>Wanita suci,&lt;br /&gt;Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?&lt;br /&gt;Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.&lt;br /&gt;Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.&lt;br /&gt;Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.&lt;br /&gt;Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita suci,&lt;br /&gt;Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh, karena akan membuatku mengingatmu.&lt;br /&gt;Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.&lt;br /&gt;Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.&lt;br /&gt;Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.&lt;br /&gt;Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita suci,&lt;br /&gt;Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.&lt;br /&gt;Ada ingin tapi tak ada henti.&lt;br /&gt;Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.&lt;br /&gt;Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kaupertaruhkan.&lt;br /&gt;Mungkin kau tak peduli&lt;br /&gt;Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.&lt;br /&gt;Dan tak lebih dari wanita biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita suci,&lt;br /&gt;Jangan pernah kautatapku penuh&lt;br /&gt;Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihatku.&lt;br /&gt;Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.&lt;br /&gt;Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.&lt;br /&gt;Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.&lt;br /&gt;Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.&lt;br /&gt;Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita suci,&lt;br /&gt;Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.&lt;br /&gt;Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.&lt;br /&gt;Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.&lt;br /&gt;Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.&lt;br /&gt;Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita suci&lt;br /&gt;Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.&lt;br /&gt;Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.&lt;br /&gt;Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.&lt;br /&gt;Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kaubangun dengan segala kekhusyu'an tangis do'amu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita suci&lt;br /&gt;Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.&lt;br /&gt;Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.&lt;br /&gt;Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih,&lt;br /&gt;seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.&lt;br /&gt;Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.&lt;br /&gt;Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta&lt;br /&gt;dalam setiap denyut nadi kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3472988465875858475?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3472988465875858475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/wanita-suci-suara-hati-seorang-ikhwan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3472988465875858475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3472988465875858475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/wanita-suci-suara-hati-seorang-ikhwan.html' title='Wanita Suci (Suara Hati Seorang Ikhwan untuk Seluruh Wanita Suci di Dunia)'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-5185284661681850409</id><published>2009-11-06T14:11:00.000+08:00</published><updated>2009-11-06T14:12:50.293+08:00</updated><title type='text'>Ketika Aktivis Dakwah Jatuh Cinta (untukmu para ikhwan...)</title><content type='html'>"Dari Akhwat Untuk Ikhwan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kelabu mungkin tidak akan mampu merubah lukisan langit yang terlanjur biru.Untuk kamu para ikhwan mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin bicara atas nama Wanita, terlebih Akhwat (kalau boleh sih).Apa beda?,silahkan antum memaknainya..&lt;br /&gt;Tolong untuk para Ikhwan (atau yg merasa sebagai Muslim) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, but itu fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi. Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami. Mungkin kami akan melengos kalau disapa. Atau membuang muka kalau dipuji. But, jujur saja, ada perasaan bangga. Bukan suka pada antum (mungkin) but suka karena diperhatikan "lebih".&lt;br /&gt;Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri. Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci.&lt;br /&gt;Jangan antum tawarkan sebuah ikatan bernama Ta'aruf bila antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya. Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, pahami arti Cinta seperti pemahaman Umar Al Faruq.&lt;br /&gt;Bukan mengajak kami ke bibir neraka. Dengan SMS-SMS mesra, telepon sayang, hadiah-hadiah ungkapan cinta dan kunjungan pemantapan yang dibungkus sebuah label : Ta'aruf.&lt;br /&gt;Tolong, kami hanya ingin menjaga diri. Menjaga amal kami tetap tertuju pada-Nya. Karena janji Allah itu pasti. "Wanita baik hanya Diperuntukkan Laki-laki baik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu.&lt;br /&gt;Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu.&lt;br /&gt;Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu.&lt;br /&gt;Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu.&lt;br /&gt;Jangan ajak hati kami berzina dengan berkhalwat denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beda... Persahabatan sebagai saudara, dengan hati yang sudah terjangkiti virus...&lt;br /&gt;Beda itu bernama "Rasa" dan "Pemaknaan".&lt;br /&gt;Bukan, bukan seperti itu yang dicontohkan Rasulullah.&lt;br /&gt;Antum memang bukan Mush'ab.&lt;br /&gt;Antum juga tak sekualitas Yusuf As.&lt;br /&gt;Tetapi Antum bukan Arjuna dan tak perlu berlagak seperti Casanova.&lt;br /&gt;Karena Islam sudah punya jalan keluar yang indah : Segeralah Menikah atau Jauhi Wanita dengan Puasa.&lt;br /&gt;Tolong, sebelum antum memutuskan untuk mendatangi kami jawab dulu Pertanyaan ini dengan Jujur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setelah 3 bulan antum mendatangi dan menyatakan Cinta, antum masih belum siap untuk mengikrarkan dalam sebuah Pernikahan ?&lt;br /&gt;2. Ataukah antum masih butuh waktu lebih lama dan meminta kami menunggu, dengan alasan yang tidak syar'i dan terlalu duniawi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Jawabannya : "Ya !"&lt;br /&gt;"SELAMAT"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti antum lebih pantas masuk surga dibandingkan Ali bin Abi Thalib. Dia baru berani mengatakan Cinta kepada Fathimah, setelah menikah. Ali, pemuda kesayangan Rasul, tetapi menunggu waktu bertahun-tahun untuk mengatakannya. Bukan karena dia pengecut tentu saja justru karena dia adalah laki-laki kualitas Surga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, kami tidak ingin menyakiti hati calon Suami kami yang sebenarnya. Mereka berusaha untuk menjaga Hijab, agar datang kepada kami dalam kondisi suci hati, tetapi kami malah menjajakan Cinta kepada laki-laki yang belum tentu menjadi suami kami. Atau antum sekarang sudah berani menjamin bahwa antum adalah calon Suami kami sebenarnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, Wanita itu lemah dan mudah ditaklukkan. Sebagai Saudara kami Tolong Jaga kami. Karena kami akan Kuat menolak rayuan Preman, but bisa jadi kami Lemah dengan Surat Cinta kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah akan lebih indah bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahi-Nya ?&lt;br /&gt;Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhoi-Nya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma saat Menikah, tetapi saat pertemuan yang juga bebas dari maksiat. Allah Maha Pencemburu, dan Dia Maha Memiliki kami.&lt;br /&gt;So,,, Mintalah kepada-Nya sebelum mendatangi kami&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-5185284661681850409?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/5185284661681850409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/ketika-aktivis-dakwah-jatuh-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5185284661681850409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5185284661681850409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/ketika-aktivis-dakwah-jatuh-cinta.html' title='Ketika Aktivis Dakwah Jatuh Cinta (untukmu para ikhwan...)'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3586116860269357333</id><published>2009-11-05T12:00:00.002+08:00</published><updated>2009-11-05T12:01:22.050+08:00</updated><title type='text'>Diantara Kehalusan dan Kelembutan Islam</title><content type='html'>Dengan adanya peristiwa bom yang menggemparkan mata dunia baru-baru ini di Jakarta tentu membuat orang menebak dan menduga inilah pasti ulah kaum muslimin garis keras yang ekstrim. Pembunuhan, kekerasan, terorisme atau nama lain yang tidak menyenangkan berusaha keras di sandarkan atas nama islam. Padahal islam sendiri berlepas diri darinya. Bagi setiap muslim dan muslimah dan siapa saja yang ingin belajar memahami islam dengan baik dan benar layak merenungkan hadits ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Imam itu mempunyai tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Yang paling tinggi ialah perkataan Laa ilaaha illallah, sedangkan yang paling rendah ialah menghilangkan gangguan dari jalan dan sifat malu adalah salah satu cabang dari keimanan”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Abdul Hakim Abdat (semoga Allah menjaganya) dalam Kitab beliau Al-Masail jilid 6 halaman 28 berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hadits yang mulia ini adalah sebuah hadits yang sangat besar dan sangat agung sekali. Hadits yang menjadi salah satu dasar di dalam islam. Dia menjelaskan tentang keimanan yang mempunyai tujuh puluh cabang lebih. Yang tertinggi adalah kalimat thayyibah Laa ilaaha illallah, sedangkan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan. Kalau islam telah memerintahkan untuk menghilangkan gangguan dari jalan yang merupakan salah satu cabang keimanan meskipun sangat kecil sekali dan hampir-hampir tidak kelihatan seperti duri yang ada di jalan, atau kayu yang melintang menghalangi perjalanan manusia dan seterusnya, maka bagaimana mungkin islam memerintahkan dan mengajarkan umatnya untuk mengebom tanpa haq sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuh islam . Kalau duri yang ada di jalan saja telah di perintahkan untuk disingkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu kehalusan dan kelembutan islam sayangnya sedikit sekali orang yang mau mengambil pelajaran darinya dan kepada Allahlah kita memohon pertolongan. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan dosa-dosa kita semua.amin. Wallahu’alam bish-shawaab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Rujukan :&lt;br /&gt;AL-Masail (Masalah-masalah Agama) jilid VI/28-29,Darus Sunnah, Jakarta, Juli 2007.&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Hadits Shahih riwayat Bukhari no.9 dan Muslim 1/46. Dan lafazh hadits riwayat Imam Muslim. [↩]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3586116860269357333?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3586116860269357333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/diantara-kehalusan-dan-kelembutan-islam_04.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3586116860269357333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3586116860269357333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/diantara-kehalusan-dan-kelembutan-islam_04.html' title='Diantara Kehalusan dan Kelembutan Islam'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3456852374003108686</id><published>2009-11-05T11:59:00.001+08:00</published><updated>2009-11-05T11:59:49.029+08:00</updated><title type='text'>13 Penawar Racun Kemaksiatan</title><content type='html'>Disadur secara ringkas dari buku 13 Penawar Racun kemaksiatan (terjemahan dari kitab Sabiilun najah min syu’mil ma’shiyyah) karangan Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy, terbitan Darul Haq, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini ada beberapa terapi mujarab untuk menawar racun kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anggaplah besar dosamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata, ”Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Janganlah meremehkan dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan membinasakannya.” (HR. Ahmad dengan sanad yang hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Janganlah mujaharah (menceritakan dosa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Semua umatku dimaafkan kecuali mujahirun (orang yang berterus terang). Termasuk mujaharah ialah seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam hari kemudian pada pagi harinya ia membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian dan demikian’. Pada maalm hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi pada pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Taubat nasuha yang tulus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat daripada seorang di antara kamu yang berada di atas kendaraannya di padang pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia menuju pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keaadaan bersedih terhadap kendaraannya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya muncul di dekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya. Kemudian ia berkata, karena sangat bergembira, ‘Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu’. Ia salah ucap karena sangat bergembira”. (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jika dosa berulang, maka ulangilah bertaubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata, ”Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) lagi bertaubat.” ditanyakan, ‘Jika ia mengulangi lagi?’ Ia menjawab, ‘Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.’ Ditanyakan, ‘Jika ia kembali berbuat dosa?’ Ia menjawab, ‘Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.’ Ditanyakan, ‘Sampai kapan?’ Dia menjawab, ‘Sampai setan berputus asa.”’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jauhi faktor-faktor penyebab kemaksiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bertaubat harus menjauhi situasi dan kondisi yang biasa ia temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauh darinya secara keseluruhan dan sibuk dengan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Senantiasa beristighfar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat beristighfar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    a. Ketika melakukan dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    b. Setelah melakukan ketaatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    c. Dalam dzikir-dzikir rutin harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    d. Senantiasa beristighfar setiap saat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu alaihi wa salam beristighfar kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali (dalam hadits lain 100 kali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Apakah anda berjanji kepada Allah untuk meninggalkan kemaksiatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada bedanya antara orang yang berjanji kepada Allah (berupa nadzar atas tebusan dosa yang dilakukannya) dengan orang yang tidak melakukannya. Karena yang menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam kemksiatan tidak lain hanyalah karena panggilan syahwat (hawa nafsu) lebih mendominasi dirinya daripada panggilan iman. Janji tersebut tidak dapat melakukan apa-apa dan tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Melakukan kebajikan setelah keburukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ”Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebajikan maka kebajikan itu akan menghapus keburukan tersebut, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Merealisasikan tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ”Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Barangsiapa yang melakukan kebajikan, maka ia mendapatkan pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah dan barangsiapa yang melakukan keburukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa; barangsiapa yang datang kepada-ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku menemuinya dengan maghfirah yang sama.” (HR. Muslim dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Jangan berpisah dengan orang-orang yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Persahabatan dengan orang-orang baik adalah amal shalih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mencintai orang-orang shalih menyebabkan sesorang bersama mereka, walaupun ia tidak mencapai kedudukan mereka dalam amal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Manusia itu ada 3 golongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    i. Golongan yang membawa dirinya dengan kendali takwa dan mencegahnya dari kemaksiatan. Inilah golongan terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ii. Golongan yang melakukan kemaksiatan dalam keadaan takut dan menyesal. Ia merasa dirinya berada dalam bahaya yang besar, dan ia berharapa suatu hari dapat berpisah dari kemaksiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    iii. Golongan yang mencari kemaksiatan, bergembira dengannya dan menyesal karena kehilangan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat dipetik dari persahabatan yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Tidak ada alasan untuk berpisah dengan orang-orang yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Jangan tinggalkan da’wah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said bin Jubair berkata, ”Sekiranya sesorang tidak boleh menyuruh kebajikan dan mencegah dari kemungkaran sehingga tidak ada dalam dirinya sesuatu (kesalahanpun), maka tidak ada seorangpun yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.” Imam malik berkomentar, ”Ia benar. Siapakah yang pada dirinya tidak ada sesuatupun (kesalahan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Jangan cela orang lain karena perbuatan dosanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menceritakan kepada para shahabat bahwasanya seseorang berkata, ”Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah swt berkata, ”Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapus amalmu.” (HR. Muslim).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3456852374003108686?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3456852374003108686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/13-penawar-racun-kemaksiatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3456852374003108686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3456852374003108686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/13-penawar-racun-kemaksiatan.html' title='13 Penawar Racun Kemaksiatan'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-8144274731494273815</id><published>2009-11-05T11:58:00.000+08:00</published><updated>2009-11-05T11:59:06.463+08:00</updated><title type='text'>Karenanya Kau dipilih</title><content type='html'>Begitu banyakkah wanita yang belum menemukan jodohnya? Sungguh suatu fenomena yang memprihatinkan. Bukankah pernikahan merupakan kebutuhan mendasar? Semua orang menginginkan dan merindukan. Lepas dari jumlah perempuan yang semakin membengkak, tentu tak luput dari faktor kriteria pilihan.Tidak bisa dipungkiri lelaki biasanya memasang setumpuk kriteria calon istrinya, begitupun dengan wanita punya segudang syarat untuk calon suaminya. Tidak jarang saking ketat dan tingginya kriteria mengakibatkan jodoh sebatas angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembang, sebut saja begitu, usia sudah merayap pada angka 40-an tahun. Berkali-kali proses pernikahannya gagal. Cantik memang tidak dimilikinya, tinggi juga kurang, kekayaan pun tidak  bisa diharapkan, parahnya lagi dia juga bukan tipe wanita yang rajin mengkaji ilmu agama dan akhlak. Hari-harinya dilalui dengan penuh tanda tanya, kapankah suami akan diperolehnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA MENOLAK SALIHAH?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari kasus ini sudah semestinya kalau kaum muslimah menggali potensi untuk meningkatkan kualitas diri. Cantik dan tidak memang sudah dari sananya, demikian juga dengan kecerdasan, tingkat sosial, dan semacamnya. Ada yang bisa dikembangkan sehingga menjadi muslimah berkualitas. Perhatian kepada ilmu agama disertai tentunya dengan penempaan diri sehingga menghasilkan akhlak yang mulia. Tiada pilihan kecuali menjadi wanita yang salihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik, yang biasanya dijadikan patokan utama oleh kebanyakan orang, tanpa disertai sifat kesalihatan bisa berbahaya. Pintar juga akan merepotkan bila tidak dikawal oleh akhlak yang baik, bisa menjadi wanita yang panjang lidah, tidak sopan dan beradab, atau selalu menjadi pembangkang. Begitu juga yang berharta, tanpa bimbingan agama, kekayaannya sering tidak membawa manfaat, bahkan sebaliknya menjadi bencana. Status sosial yang tidak dibarengi kualitas agama yang baik hanya akan memunculkan sifat keangkuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan wanita salihat; tanpa kecantikan, kekayaan, kepintaran dan status sosial akan tetap mendatangkan kebaikan. Lebih-lebih bila disertai oleh satu atau lebih sifat yang empat itu, tentu akan menjadi primadona. Siapa yang tidak ingin menikah dengan wanita kaya, cantik, pintar dan terpandang, salihat lagi !?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INILAH WANITA PILIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi tuntunan dalam memilih wanita yang akan dijadikan sebagai istri. Bukan sekedar memilih yang pintar, tapi pria mesti pintar memilih dan wanita pun harus berlaku pintar agar menjadi sosok pilihan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan beberapa sifat seorang wanita salihah, pendek tapi cukup untuk menjadi pedoman bagi muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Apakah kalian mau saya beritahu tentang simpanan seseorang yang yang paling berharga? Yaitu wanita salihah yang (suaminya) menjadi bahagia bila memandangnya, bila diperintah segera dipenuhi, dan bila suaminya tidak ada dia menjaga kehormatannya.” (riwayat Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang akan menjadikan seorang wanita sebagai pilihan, simpanan nan berharga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Taat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis yang terbiasa taat pada orang tua, akan mudah taat pada suami ketika sudah menikah nanti. Selama perintah suaminya adalah ma’ruf (tidak menyelisihi syariat) dia segera melaksanakannya. Bila perintah tersebut tidak berkenan, akan dicarinya waktu yang tepat untuk meyakinkan suami agar mengurungkan perintahnya tanpa dibarengi bantahan, penentangan, atau pemaksaan kehendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Enak Dipandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak harus cantik. Dengan mengoptimalkan segala potensi yang dimilikinya seorang wanita akan membuat senang suami yang memandangnya. Dia akan mampu membuat suaminya merasa nyaman, tenang dan puas. Rasa lelah yang dirasakan suami setelah bekerja seharian sirna oleh sambutan sang istri. Dengan begitu suami tidak akan berbuat yang tidak-tidak ketika di luar rumah. Hal ini akan mudah dilakukan oleh wanita yang terbiasa bersikap manis dan murah senyum kepada orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cinta dan Pasrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria tentu berharap mendapat seorang istri yang mampu mencintai sepenuh hati dan bersikap pasrah. Wanita yang dalam berbuat dan bertingkah laku selalu berupaya menyenangkan suami dan menjauhi hal-hal yang mendatangkan kebenciannya. Kalau suami, saat di rumah, tidak mendapatkan istri yang bersikap manis, penuh kasih, bersih, senantiasa tersenyum memikat, perkataan indah, penuh cinta nan suci, akhlak islami serta sentuhan tangan yang penuh kasih sayang, maka di mana lagi dia bisa mendapatkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Suka Membantu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita salihah adalah yang selalu mengajak suaminya pada kebaikan agama dan dunianya. Bukannya memberatkan, namun justru mengingatkan suami untuk selalu berlaku taat pada Allah subhanahu wa ta’ala, serta memberikan saran dan pendapat demi kemajuan usaha sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha, istri pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus ibu kita semua, merupakan teladan wanita pilihan. Beliau sumbangkan harta dan perhatiannya untuk perjuangan Rasulullah, menyantuni kerabat dan selalu menyambung silaturahmi. Akankah Anda mewarisi sifat dan perilakunya? Kalau ya, karenanyalah engkau dipilih!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-8144274731494273815?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/8144274731494273815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/karenanya-kau-dipilih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8144274731494273815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8144274731494273815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/karenanya-kau-dipilih.html' title='Karenanya Kau dipilih'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-5355719424213270286</id><published>2009-11-05T11:57:00.001+08:00</published><updated>2009-11-05T11:57:54.094+08:00</updated><title type='text'>Antara Mau dan Kemauan</title><content type='html'>Saudaraku yang dimuliakan Allah, jika anda ingin makan karena lapar, cukupkan anda berdiam sambil menunggu ada orang yang datang membawakan makanan? Jika anda ingin memiliki penghasilan yang baik, cukupkah anda duduk di rumah menunggu ada orang yang datang membawakan pekerjaan? Jawabnya tentu tidak! Padahal anda yakin Allah Maha Pemberi rezki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, jika anda ingin makan, maka anda akan tergerak untuk bangkit mencari jalan agar anda mendapatkan makanan, begitu pula jika anda ingin mendapatkan penghasilan. Itulah bedanya antara mau dan kemauan. Sekedar ingin makan berarti anda baru sampai pada tahap “mau”, dan itu tidak berarti apa-apa, dia baru akan bermanfaat jika “mau”-nya berubah menjadi “kemauan” yang berbentuk tindakan nyata untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang disayangkan – saudaraku -, “kemauan” tersebut baru kita miliki pada hal-hal yang bersifat duniawi seperti contoh di atas. Adapun hal-hal yang bersifat ukhrowi, sering “kemauan” kita hanya sebatas “mau” saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanya kepada kaum muslimin, apakah mereka ingin menjadi orang shaleh? Maka semuanya akan menjawab: “Ya”. Namun banyak yang hanya sampai disitu, selebihnya tidak ada tindakan nyata yang dia lakukan untuk mewujudkannya. Dirinya tidak bergerak untuk menempuh sarana atau jalan yang dapat mengantarkan kesana. Pengajian tidak dihadiri, al-Qur’an dan buku-buku Islami tidak pernah dibaca, teman-teman yang shaleh justru dia benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sebaliknya, jalan-jalan keburukanlah yang dia tempuh. Perkumpulan gosip menjadi hobinya, lagu dan musik menjadi temannya, tontonan dan bacaan porno selalu dicarinya dan berbagai bentuk kegiatan rusak, dialah pelanggannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian halnya, akankah keinginan seorang muslim untuk menjadi orang saleh akan terwujud? Kata seorang penyair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ingin selamat, namun tidak anda tempuh jalannya&lt;br /&gt;Sesungguhnya perahu tidak berjalan di daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sekedar “mau” umumnya bersifat pasif, mencari waktu luang, menunggu peluang, minta dipahami, dst. Sementara orang yang punya “kemauan”, umumnya bersifat aktif, meluangkan waktu, mencari peluang, berusaha memahami dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, orang-orang munafik yang tidak ikut perang Tabuk mencari-cari alasan mengapa mereka tidak ikut perang, seolah-olah mereka juga sebenarnya ingin ikut berperang, namun Allah Ta’ala membantah argumen mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu” (QS At-Taubah: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;Sejak sekarang, rubahlah “MAU” kita menjadi “KEMAUAN”, dari kemauan menjadi tekad yang kuat untuk menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari buku Nasehat dari Hati ke Hati, Abdullah Haidir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-5355719424213270286?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/5355719424213270286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/antara-mau-dan-kemauan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5355719424213270286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/5355719424213270286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/antara-mau-dan-kemauan.html' title='Antara Mau dan Kemauan'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-8396543219273846198</id><published>2009-11-05T11:56:00.000+08:00</published><updated>2009-11-05T11:57:10.980+08:00</updated><title type='text'>Ketika Ku Langkahkan Kakiku Keluar Untuk Bekerja</title><content type='html'>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan hendaklah kamu tetap(tinggal) dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahilyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya (Al-Ahzab :33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ukhti muslimah,…Wanita dalam pingitan menunjukkan kemuliaan dan kesucian. Terdapat dalam sejarah dari dulu hingga kemudian. Dalam pingitan malu menjadi hiasan. Wajarlah bila ia menjadi primadona dan dambaan. Bukankah Allah ciptakan bidadari surga dalam pingitan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mengapa wanita sekarang berlomba-lomba meninggalkan rumahnya,menukar tempat yang mulia dengan kehinaan?Bukankah telah Allah perintahkan dalam Al-Qur’an tinggallah dalam rumah-rumah kalian wahai wanita yang beriman?tidakkah kau lihat sekarang terjadi berbagai kerusakan dari banyaknya wanita yang berbaur dengan laki-laki dan berkeliaran?perselingkuhan dan perzinahan menjadi kemaksiatan yang tak lagi menakutkan, pada Allahlah kita meminta pertolongan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ukhti muslimah,…banyak slogan bertaburan untuk menjadikan kalian wanita yang mengikuti perkembangan zaman walaupun harus mengorbankan agama dan kehormatan kalian, agar julukan kuno dan ketinggalan zaman tidak melekat pada diri kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya wahai saudariku,…sebagian saudari kita merasa sesak dan sempit dadanya ketika harus tinggal dirumah. “Seperti burung dalam sangkar “, katanya. Betapa membosankannya! Merasa nyaman ketika di luar rumah bergaul begitu bebas tanpa batasan, keluar rumah tanpa kebutuhan. Hilanglah sudah rasa malu yang menjadi hiasan utama para wanita, tak merasa risih berbicara dengan lawan jenisnya tanpa ada kebutuhan yang penting atau mendesak bahkan tertawa dan bercanda? Bukankah Rasul  kita yang mulia bersabda : “Malu adalah sebagian dari iman?”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mereka beralasan “Tidaklah kami keluar melainkan karena kami harus bekerja membantu suami atau orangtua kami karena kebutuhan hidup yang semakin tinggi, bagaimana kami hidup jika kami tidak keluar bekerja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku,…mencari nafkah adalah tanggungjawab suami  jika engkau telah bersuami,  ridhalah dengan pemberiannya. Syukurilah ia walau tak seberapa, keridhaanmu dan qana’ahmu (menerima apa adanya) justru akan membawa barakah pada harta suamimu. Bila engkau belum menikah maka ayahmulah yang bertanggungjawab atas biaya hidupmu. Bersyukurlah atas pemberian orangtuamu dan berbaktilah pada mereka agar doamu dikabulkanNya. Bukankah Uwais Al-qarni sangat berbakti pada ibunya yang membuat doanya dikabulkan Allah? hingga Nabi kita yang mulia menyuruh Umar Radiyallahu anhu bila berjumpa Uwais agar meminta doa darinya agar Allah mengampuni dosa Umar? Bukankah Umar radiyalahu anhu juga menawarkan dunia berupa surat rekomendasi kepada uwais yang waktu itu akan ke Kufah. Bila saja ia mau menggunakannya maka kehidupannya akan berubah. Dunia mendatangi Uwais dan tunduk padanya akan tetapi Uwais menolaknya dengan berkata, “Menjadi orang biasa dan tidak terkenal adalah lebih aku sukai.”2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku fillah,… dalam hidup ini kita akan selalu dirisaukan dengan kelaparan, kefakiran dan ketakutan karena memang demikianlah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kau lihat dalam sejarah wahai saudariku,…sebelum sahabat dan sahabiyah mengenal islam. Hidup dalam gelap gulita, kehinaan, permusuhan, pertumpahan darah, kesesatan bahkan kefakiran. Kemudian mereka menyerahkan diri mereka hanya taat pada perintahNya dan RasulNya tercinta. Keikhlasan dan mengikuti Sunnah Nabi mereka adalah pedoman hidup mereka. Jasad mereka berjalan di atas muka bumi tetapi hati-hati mereka tergantung di akhirat. Iman, takwa dan amal shaleh menjadi pakaian mereka. Maka kejayaan, kekayaan bahkan dunia menghampiri dan bertekuk lutut dihadapan mereka. Tidakkah mereka pada saat itu menguasai bumi dari timur hingga barat? Allahpun memenuhi janjiNya.                     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.” (An-Nuur: 55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku,…aku ulang sekali lagi, bukankah dunia menghampiri para sahabat yang mulia? Mereka tidak tertipu dan terbenam dalam gemerlapnya kehidupan dunia. Akan tetapi justru hidup zuhud adalah pilihan mereka. Mereka tetap memilih untuk khusyu’, tunduk dan berhina diri di hadapan Allah Azza wa jalla. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu arahkanlah pandanganmu sekali lagi pada Al-Qur’an,…akan engkau dapati kisah indah dan menakjubkan. Dua wanita putri  nabi yang mulia, sangat terpaksa harus membawa binatang ternaknya ke sumber air Madyan . Karena sang ayah telah lanjut usia hingga tugasnya tak mampu lagi beliau tunaikan. Rasa malu menghalangi mereka untuk berbaur (ikhtilath) dengan kaum lelaki jadilah mereka  menunggu dari kejauhan. Mereka rela sabar menunggu memberi  minum ternaknya setelah berlalunya rombongan. Inilah dia kisah yang akan membuat hatimu tertawan, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dan tatkala ia (Nabi Musa alaihis salam) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? ” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.(Al-Qashas:23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maka Allahpun memberikan pertolongan pada kedua putri Nabi Syuaib alahis salam dengan hadirnya Nabi Musa alaihis salam yang memberi minum ternak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ketempat yang teduh lalu berdo’a: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashas :24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai hamba Allah yang shalihah,…renungkanlah kisah mulia diatas. Rasa malu ternyata telah menjadi hiasan wanita di masa lampau. Walau bagaimanapun beratnya tantangan hidup, dua putri nabi mulia memilih menjauh dari  ramai sesaknya para pria. Bersabar menunggu hingga mereka pergi dan berlalu barulah mereka memberi minum ternaknya kemudian Allah pun memudahkan urusan dunia mereka dengan menghadirkan Musa alaihis salam agar menolong mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Diantara saudari kita ada yang berkata, “Kita tetap harus bekerja karena kita butuh pegangan, kita butuh harta agar anak-anak kita tidak terlantar bila ayahnya tiada, apalagi kita tidak tahu isi hati suami kita bagaimana kalau ia tergiur wanita lain lalu melupakan kewajibannya menafkahi keluarga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para istri,…tak ada satupun ulama melarang wanita bekerja dengan dua syarat kewajibanmu sebagai  istri engkau tunaikan dan jenis pekerjaan yang tidak melanggar syariat agama. Tinggal dirumah adalah lebih utama akan tetapi bila memang engkau harus keluar maka taatilah rambu-rambu agama. Keluar dengan menutup aurat secara sempurna yaitu dengan jilbab syar’i yang merupakan pakaian wanita bertakwa, hindari ikhtilath semampumu, menundukkan pandangan dan hiasan malumu janganlah engkau tanggalkan. Karena dengan malu itulah engkau menjadi terhormat dan dimuliakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau berburuk sangka pada suamimu diluar ketika mencari nafkah,..hatimu tidak tenang dan was-was boleh jadi ia tergiur wanita lain. Tidakkah engkau sadar karena ini adalah akibat dari bergaul bebasnya wanita dengan laki-laki sehingga engkaupun terkena fitnah keraguan? Sebagai seorang muslimah yang beriman hendaklah menjauhi dari prasangka karena ini adalah dosa sebagaimana Rabb kita berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” (Al-Hujuraat: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana bila suamiku tiada, tentu anak-anakku akan terlantar”, Wahai saudariku,… jangan biarkan setan mengelabuhimu. Menakut-nakutimu terhadap perkara ghaib. Kematian adalah perkara yang ghaib, hanya Allah saja yang tahu. Boleh jadi kitalah yang mendahului suami kita karena urusan ajal adalah rahasia Allah semata. Kita dilarang berbuat “rajman bilghaib” yaitu menerka-nerka sesuatu perkara yang ghaib yang dimana hanya Allah saja yang mengetahuinya.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ                                                                       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     “Dan, tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Lukman : 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercerminlah wahai ukhti muslimah,…pada Ummu Salamah radiyallahu anha. Ketika suaminya tercinta ditakdirkan Allah sebagai syuhada. Beliau beristirja (mengucapkan innalillahi wa inna ilahi raajiun) kemudian bersabar dan bertawakal kepadaNya dengan berdoa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ya, Allah berikanlah pahala karena musibah ini dan berikanlah kepadaku pengganti yang lebih baik”3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beliaupun bertanya pada dirinya sendiri, “Siapa gerangan yang lebih baik dari Abu Salamah?” Allahpun menjawab doanya ketika iddah beliau selesai,  Rasulullah shalallahu alaihi wassalam datang  melamarnya kemudian menikahinya dan beliau pula yang menanggung anak-anak Ummu Salamah. Ummu Salamah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Allah telah mengganti untuk diriku yang lebih baik dari Abu Salamah radiyallahu anhu yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ukhti muslimah semoga Allah memuliakanmu, setelah engkau membaca kisah Ummu Salamah Radiyallahu anha apalagi yang engkau ragukan?Apa lagi yang engkau  risaukan?Bukankah Ar-Rahman telah memberikan jaminan setelah Ia memberikan ujian dan cobaan pada hamba-hambaNya yang beriman?kebahagiaan di akhirat berupa surga yang penuh dengan kenikmatan dan keabadian. Di dunia bahkan Dia akan menggantinya dengan lebih baik dari yang sebelumnya hamba tersebut dapatkan. Buah dari kesabaran dan ketawakalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal di rumah adalah perintah dari Rabbmu Azza Wajalla, sangat utama ibadah dan berpahala. Kebaikan di dalamnya tersimpan melimpah ruah. Barakah dari atas langit senantiasa tercurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai, para calon bidadari surga… segeralah kembali pada seruan Penciptamu,taatilah perintahNya maka keberuntungan akan menghampirimu, kebahagiaan dunia akan mendatangimu akhiratpun berbahagia menyambutmu.Wallahu a’lam bish-shawwab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini telah di muraja’ah (dibaca dan di cek ulang) dan di setujui oleh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ustadz Khalid Syamhudi Lc dan Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Rujukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Terjemah Shahih Bukhari,Asy-Syifa’, Semarang.&lt;br /&gt;   2. Ringkasan Shahih Muslim,Pustaka Amani, Jakarta.&lt;br /&gt;   3. Hiburan bagi Orang-orang Yang Tertimpa Musibah,Muhammad bin Muhammad Al-Manjabi Al-Hambali,Darul Haq,Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-8396543219273846198?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/8396543219273846198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/ketika-ku-langkahkan-kakiku-keluar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8396543219273846198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8396543219273846198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/ketika-ku-langkahkan-kakiku-keluar.html' title='Ketika Ku Langkahkan Kakiku Keluar Untuk Bekerja'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-9090232717039829857</id><published>2009-11-05T11:55:00.000+08:00</published><updated>2009-11-05T11:56:31.972+08:00</updated><title type='text'>Saat Tepat Memulai Tobat</title><content type='html'>Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan juga berkah. Allah membuka lebar-lebar pintu surga, dan menutup rapat-rapat pintu neraka pada bulan ini. Maka akan sangat tepat, bila bulan ini kita jadikan start untuk memulai tobat dari berbagai dosa dan maksiat yang telah kita perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEUTAMAAN TOBAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia pasti tidak luput dari dosa dan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Karena itulah kita disyariatkan untuk selalu memohon ampunan kepada Allah, dan segera bertobat bila melakukan kesalahan. Allah Subhaanahu wa Ta’Ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri“(QS.Al-Baqarah:222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar:53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, Allah Subhaanahu wa Ta’Ala membukakan pintu ampunan dengan seluas-luasnya bagi seluruh orang yang berdosa dan melakukan kesalahan. Meskipun dosa mereka setinggi langit sekalipun. Sebagaimana sabda Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan(dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertobat, niscaya Allah akan memberikan tobat pada kalian.“(Riwayat Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara keutamaan orang-orang yang bertobat adalah Allah Subhaanahu wa Ta’Ala menugaskan para malaikat muqarrabin untuk beristigfar bagi mereka serta berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’Ala agar Dia menyelamatkan mereka dari azab neraka dan memasukkan mereka ke dalam surga, serta menyelamatkan mereka dari keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta’Ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya, serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar ” (QS.Ghafir:7-9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IKUTI DENGAN PERBAIKAN DAN AMAL SHALIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bertobat hendaknya mengiringi tobatnya itu dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam kehidupannya. Kesungguhannya dalam bertobat dia tunjukkan dengan berusaha semaksimal kemampuannya untuk meninggalkan dosa dan maksiat yang selama ini dilakukannya, serta mengadakan berbagai perbaikan dan meningkatkan amal shalih dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allah Subhaanahu wa Ta’Ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka barangsiapa yang bertobat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu, dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Al-Maidah:39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.Al-An’am:54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat setelah itu, dan memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.An-Nahl:119)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang menyatakan diri bertobat, namun ia masih terus-menerus mengulangi perbuatan dosa/maksiatnya, maka sesungguhnya dia belum bertobat dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOHON AMPUN SETELAH SHOLAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ali Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah seseorang melakukan perbuatan dosa lal dia bangun dan bersuci, kemudian mengerjakan shalat, dan setelah itu memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya.” (Riwayat Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa doa mohon ampunan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’Ala yang dapat dibaca setelah shalat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَ إِ نْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَا الْخَاسرِ يْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”(QS.Al-A’raf:23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَللَّهمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِئ ظُلْمًا كَثِيْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ يَغْفِرُالذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَا غْفِرْلِئ مَغْفِِرَۃً مِنْ عِنْدِ كَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَارْحَمْنِئ إِنَّكَ أَنْتَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:”Ya Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau. Oleh karena itu ampunilah dosa-dosaku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan berikan rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang“(Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kita juga disunnahkan untuk memperbanyak istigfar. Bukankah Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallam saja, yang sudah dijamin surga dan diampuni dosanya, masih selalu beristigfar tak kurang dari 70 kali dalam sehari? Maka selayaknya kita sebagai hamba biasa, bukan nabi atau rasul, juga selalu beristigfar dalam setiap kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, di bulan yang penuh berkah ini, marilah kita sambut seruan Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa…; dan juga otang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri (segera) mengingat Allah, lalu mohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lahi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.“(QS. Ali-Imran:133,135 dan 136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menerima tobat kita, memudahkan kita dalam melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta membukakan pintu surga-Nya bagi kita semua. Aamiin….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-9090232717039829857?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/9090232717039829857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/saat-tepat-memulai-tobat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/9090232717039829857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/9090232717039829857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/saat-tepat-memulai-tobat.html' title='Saat Tepat Memulai Tobat'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-8742269598600168232</id><published>2009-11-05T11:47:00.000+08:00</published><updated>2009-11-05T11:53:57.315+08:00</updated><title type='text'>Islam adalah Kerinduanku</title><content type='html'>Hidayah tidak selalu datang pada hati yang telah “siap”. Tidak jarang seorang yang telah tertarik dengan Islam, akan berusaha menjalankan segala yang diperintahkan oleh agama Islam. Namun, aku merupakan kasus lain, aku benar-benar ikhlas menerima Islam sebagai tuntunan hidup setelah kira-kira tujuh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bermimpi berada di masjid dan mengenakan mukena serta didoakan oleh seorang ustadz, saat i’tikaf untuk pertama kali dalam hidupku, aku semakin mantap untuk membaca dua kalimat syahadat, sebagai wujud keseriusan aku memilih Islam sebagai tuntunan hidup dan secara ikhlas bersumpah berusaha kuat menjalankan segala perintah-Nya. Di dalam keluarga, aku adalah anak pertama adari tiga bersaudara. Dari pihak ibu, Eyang putri dan Eyang kakung berasal dari Solo dan Sedayu. Sedangkan dari pihak Ayah, nenek adalah asli orang Makassar tepatnya Tanah Toraja. Eyang buyut dari pihak nenek, adalah salah satu pemangku adat dan pendeta di daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku adalah penganut Katholik yang taat. Aku menempuh pendidikan formal mulai TK-SMU di sekolah swasta yang notabene milik yayasan Katholik. Saya mengenyam pendidikan formal di TK Santo Yoseph, SMP Katholik Puteri (sekarang ganti nama menjadi SMP Katholik Santa Maria, dan SMUK Santo Augustinus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal ketertarikanku dengan Islam hanya kerena dua kata – mesti inti dari semua ketertarikanku pada Islam adalah karena aku sendiri tidak memahami adanya “Doktrin Trinitas” dalam keyakinan lama yang aku anut – yaitu Iri dan Logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini aku tegaskan, aku memaparkan penjelasan ini untuk mendiskreditkan ajaran-agama lain. Dalam hal ini aku berbicara karena kapasitasku hanyalah muallaf yang benar-benar tertarik pada Islam karena akhirnya saya benar-benar memilih Islam sebagai tuntunan hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Iri dengan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dalam agamaku yang dulu dikenal dengan adanya dosa turunan. Dalam keyakinanku yang lama, setiap bayi yang dilahirkan ke bumi telah membawa dosa , hal tersebut dikarenakan dulu manusia petama, Nabi Adam, telah berbuat dosa yang mengakibatkannya diusir dari surga oleh Tuhan dan dosa itu ikut ditanggung oleh anak keturunannya sampai sekarang. Dulu timbul pertanyaan dalam diriku “Tidak adil sekali, orang nggak ikut berbuat dosa masa menanggung akibatnya? Bukankah Tuhan itu Maha Adil??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ada semacam statement “Jika masuk Islam maka akan mendapat pahala”. Waktu itu aku berpikir, “Wah asyik sekali, begitu masuk Islam aku mendapat pahala, mau sekali!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika, ketika saya melihat acara ‘Ied di televisi, aku merasakan suatu yang -dalam bahasaku menakjubkan- berbeda. Waktu aku menganut keyakinan Katholik, aku belum pernah merasakan ketika bersembahyang aku menitikkan air mata. Pertanyaanku, mengapa mereka bisa meneteskan air mata seperti itu? Apa karena dosa-dosa mereka? Atau karena rindu bertemu Tuhannya? Atau hal lain? Untuk yang pertama, aku yakin semua manusia tidak pernah luput dari dosa. Tapi dulu aku merasa telah melaksanakan ajaran agama Katholik yang disebut dengan 10 Perintah Allah. Aku rajin ke Gereja, selalu patuh pada orang tua dan saudara-sudaraku yang lebih tua, rajin datang ke sekolah minggu, rajin ikut kegiatan sosial, rajin pergi ke Panti Wreda (Panji Jompo milik Yayasan Katholik, milik Yayasan Santo Yoseph, tempat dimana aku mengenyam pendidikan TK-SD). Jadi, waktu itu tidak ada alasan yang membuatku untuk menangis hanya karena dosa, karena aku merasa tidak pernah melakukan apa-apa yang dilarang oleh Tuhan. Jika karena alasan yang kedua, rindu apada Tuhannya. Bagaimana aku bisa menangis, aku saja belum tahu pasti siapa Tuhanku. Apakah Tuhanku itu Allah Bapa? atau Yesus? atau Roh Kudus? Aku memang benar-benar belum tahu pasti siapa Tuhanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah Logis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menurut pendapatku, Islam adalah satu-satunya agama yang secara jelas memberikan konsep ketuhanan. Setelah mengenal Islam, aku semakin tahu siapa tuhanku. Kedua, aku dulu memang belum pernah melihat seperti apa kitab suci teman saya yang beragama Hindu dan Budha tapi saya membandingkan kitab suci keyakinan saya dulu dengan kitab suci umat Islam, Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Mengapa kitab suci umat Islam dimanapun berada, dari dulu sampai sekarang tetap menggunakan Bahsa Arab, beda sekali dengan punyaku, jangankan lain negara, untuk satu kota saja sudah berbeda bahasa, bukankah hal tersebut justru rawan untuk diselewengkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berproses dalam bangku kuliah, saya menemukan teman-teman yang menyenangkan. Di hadapan mereka, aku mengaku beragama Islam (padahal dalam kenyataan saya memang belum bisa memutuskan apakah aku tetap menganut keyakinanku yang lama atau pindah ke Islam). Saat mengikuti kajian tentang keislaman atau mengaji bersama aku terpaksa memakai jilbab hanya karena merasa sungkan, malu, karena mereka semua memakai jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mulai kuliah, aku memutuskan untuk tidak pernah kembali pada keyakinan saya yang lama, dan akan mengikuti tata cara peribadatan yang dilakukan oleh umat Islam. Semua ini aku lakukan hanya karena aku tidak ingin dikatakan sebagai orang yang tidak beragama. Aku shalat bukan karena Allah ta’ala, tapi karena manusia, Aku melaksanakan shalat hanya sekadar aktifitas yang memang diwajibkan, kalau mood shalat kalau tidak mood ya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan kuliah, aku mengikuti kursus Bahasa Inggris di salah satu daerah di kotaku. Setiap kursusan yang ada mewajibkan setiap muslimah untuk memakai jilbab, dan inilah yang membuatku berat, “Waduh.. pakai jilbab nih, mana mungkin!!”, inilah yang terlintas dalam benakku. Akhirnya aku terpaksa memakai jilbab daripada nggak boleh ikut kursus. Aku memakai jilbab hanya waktu kursus, ketika beraktifitas di luar kursus aku lepas jilbabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayah Allah Ta’ala mulai menyentuh diriku setelah aku selesai mengikuti kursus Bahsa Inggris di kotaku. Saat itu tanggal 13 September 2006, pukul 12.15 WIB aku dihubungi seseorang yang mengatakan bahwa aku diterima sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu English Course, senang sekali aku saat itu. Malam harinya aku berdoa dan tidak lupa bersyukur atas karunia-Nya. Saat tidur aku bermimpi aku brada dalam masjid, mengenakan mukena, dan dihadapanku ada (mungkin) imam masjid engan pakaian putih yang sedang mendoakan saya. Ketika bangun di pagi harinya aku terkejut, jujur seumur hidup aku baru bermimpi masjid dan mengenakan mukena. Aku baru teringat bahwa dua bulan yang lalu pernah membaca buku masalah i’tikaf. Aku mencoba menganalisa mimpiku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Oh mungkin mimpi saya waktu itu artinya aku sedang beri’tikaf, tapi kok ada seorang imam masjid yang mendo’akanku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku putuskan untuk menolak lamaran sebagai guru Bahasa Inggris tersebut – saat itu aku berpikir, jika aku terima tawarkan tersebut, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ku pasti tidak bisa pergi ke Surabaya untuk i’tikaf bersama saudaraku. Memang, saat itu hatiku sudah mantap untuk i’tikaf, kerinduanku untuk segera berada dalam masjid seolah-olah begitu membuncah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hari yang aku tunggu datang juga. Aku bersama Saudara i’tikaf di Masjid daerah Gayungsari. Saya merasakan kenikmatan yang luar biasa, aku merasa dekat dengan Rabbku. Tepat di malam ke 27 aku bermimpi lagi seperti mimpi saya pada tanggal 13 September kemaren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian tersebut hati aku merasa mantap untuk mengucap dua kalimat syahadat dengan penuh keikhlasan, aku bersumpah akan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan berjalannya waktu, aku mencoba menghubungi teman, dan mengutarakan niatku. Aku sangat senang ternyata temanku mau membantuku dan mencarikan kau seorang ustadz. Tetap tanggal 17 Desember 2006 pukul 07.15 bertempat di Masjid Baiturrahman, Kediri, seorang imam masjid, ustadz, dan hakim Pengadilan Agama di kotaku, Ustadz Abdurrahman membimbingku untuk membaca dua kalimat Syahadat dan mendoakan saya yang diamini oleh puluhan jama’ah yang berada dalam masjid tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menahan air mataku yang terus meleleh , aku tidak peduli dengan keadaanku saat itu. Aku merasa sangat bersyukur atas karunia-Nya, ternyata aku bisa menahan hatiku untuk kembali pada keyakinanku dan mantap untuk mengucap dua kalimat syahadat di hadapan ustadz dan puluhan jama’ah sebagai wujud keseriusanku menerima Islam sebagai tuntunan hidupku. Sampai tulisan ini aku buat, ibu dan adikku masih menganut Katholik, namun aku tidak berhenti berdoa agar mereka mendapatkan hidayah sepertiku. (ESI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis ulang dari majalah Elfata, edisi 11 Volume 07 tahun 2007, Kolom: Kisah Kamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-8742269598600168232?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/8742269598600168232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/islam-adalah-kerinduanku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8742269598600168232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8742269598600168232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/islam-adalah-kerinduanku.html' title='Islam adalah Kerinduanku'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-8352490675586923815</id><published>2009-11-05T11:46:00.000+08:00</published><updated>2009-11-05T11:47:22.353+08:00</updated><title type='text'>Karena Cinta Aku Murtad</title><content type='html'>Aku seorang wanita berusia 27 tahun. Dua tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak ke dunia. Hanya saja mungkin keadaanku sebagai seorang ibu berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Mereka senantiasa memandang wajah putra dan putrinya dengan tatapan kasih sayang, bangga dan penuh cinta. Sedangkan aku? Yang kudapat saat menatap bola matanya adalah kepedihan yang teramat perih dari kisi-kisi hati yang tersayat sesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum peristiwa pahit itu menyapa dalam hidupku, kehidupanku yang sederhana senantiasa diliputi oleh ketenangan. Aku bahagia dengan keadaanku, dengan rutinitasku. Setiap hari kujalani dengan hati yang riang sebagai seorang wanita. Kebanggaanku pada kehormatan yang senantiasa kujaga demi satu mimpi mendapatkan keluarga yang bahagia suatu saat nanti. Hingga sosok itu hadir menghancurkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu bermula saat aku bekerja sebagai salah satu staf tata usaha di sebuah akademi kesehatan di kota Daeng. Aku berkenalan dengan dengan seorang pria yang mengaku bujang. Dia juga bekerja sebagai staf tata usaha di kampus tempatku bekerja, namun jabatannya lebih tinggi dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata orang, “mulanya biasa saja,” yah, memang semuanya biasa saja. Saling ber-say hello, bercerita, bercanda, bertegur sapa. Sesuatu yang lazim dilakukan oleh sesama pegawai staf. Apalagi dalam satu kantor. Hingga waktu terus berjalan seiring dengan hubungan kami yang begitu akrab. Semuanya mulai menjadi sesuatu yang tidak biasa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, dalam hal agama, pengetahuanku memang tidak terlalu dalam. Orang mungkin biasa mengatakannya “awam”. Di alam pikiranku, bergaul dengan lawan jenis itu adalah sesuatu yang biasa. Seperti yang terjadi ditengah masyarakat. Apalagi aku dilahirkan dari lingkungan keluarga yang pendidikan agamanya “biasa-biasa saja” tidak mengenal apa itu tarbiyah, ikhtilath, ghibah, dan istilah-istilah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tidak pernah berkeinginan untuk dekat dengannya, karena pertimbangan beda agama. Dia seorang non muslim. Namun rayuan demi rayuannya, perjuangannya mendekatiku, janji manisnya, perhatiannya yang berlebihan dan tidak henti-henti meski selalu kutolak dengan cara yang halus, sedikit demi sedikit meluluhkan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung pun bersambut, akhirnya kuterima uluran tangannya. Waktu itu aku tidak berpikir untuk serius. Hanya sekedar pengisi waktu saja. Apalagi dia sudah banyak berkorban untukku, dan aku merasa kasihan padanya. Waktu itu aku berpikir suatu saat nanti aku akan minta putus. Mudah kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kami pun berjalan secara rahasia, back street. Untuk menghindari ocehan dan desas desus penghuni kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan waktu yang mengantar kebersamaanku dengannya, entah mengapa tanpa sadar aku sudah mulai menyukainya, mencintainya. Aku tidak tahu, apa yang telah membuatku begitu tergila-gila kepadanya. Kehidupannya juga sederhana, wajahnya malah dibawah rata-rata. Apa karena rayuannya? Kelihaiannya mengumbar rayuan gombal menjadikanku merasa tersanjung dan berbunga-bunga. Seakan-akan akulah wanita yang paling menarik di dunia ini. Di sampingnya aku selalu merasa yang terbaik. Dia sungguh pandai menggombal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah kusangka dan kuduga sebelumnya, hubunganku dengannya sudah melewati ambang batas moral dan norma agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi yang tak mungkin pernah bisa kulupakan dalam lembaran sejarah hidupku. Aku hamil. Aku tidak tahu, iblis mana yang merasukiku waktu itu. Mengapa aku bisa menjadi sehina ini? Mengorbankan sesuatu kepada seseorang yang sebenarnya tidak berhak dan tidak boleh mengusiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak berani lagi pulang ke kampung dengan corengan hitam di wajahku. Tidak sampai di situ, entah darimana pihak birokrasi kampus mengetahui kehamilanku di luar nikah, yang berujung dengan memecatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak kampus tidak mengetahui siapa bapak dari bayi yang kukandung. Dia mengancamku dan menyuruhku untuk tutup mulut. Aku tersudut. Entah mengapa dia sudah begitu menguasai hidupku. Seakan membuatku tak mampu bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku tidak mengerti, mengapa aku selalu menurut saja pada setiap kata dan perintahnya. Yang bisa kulakukan hanya memohon kepadanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya terhadapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bersedia menikahiku dengan satu syarat, aku harus keluar dari Islam dan masuk ke agamanya. Menjadi seorang non muslim sepertinya. Ternyata orang yang selama ini mencurahkan perhatiannya -yang kukira tulus untukku- adalah seorang misionaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ini juga baru kukenal setelah semuanya sudah terlanjur terjadi. Selama ini istilah itu hanya lewat saja di kepalaku. Masuk telinga kiri, keluarpun juga lewat telinga yang sama. Aku tidak pernah membayangkan jika aku akan menjadi korbannya. Aku tidak pernah menduga kalau istilah dan kekhawatiran sebagian kaum muslim tentang misi itu ternyata menimpa kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirisnya karena aku sudah terlanjur menjadi korbannya. Kakiku sudah sulit dan mungkin tidak bisa lagi aku tarik kembali. Yang ada di kepalaku saat itu bukan lagi tentang aqidahku, tetapi tentang makhluk kecil yang ada di rahimku. Tentang aib, tentang calon istri bayi yang aku juga mulai mencintainya. Aku tidak ingin menggugurkannya. Ia darahku dan aku ingin merasakan desahan nafasnya. Merasakan kaki-kaki kecilnya nanti akan meronta di dalam dekapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku sudah buntu, bagiku sudah tak ada lagi pilihan lain. Aku tidak sanggup menghadapi aib ini sendiri, imanku begitu lemah. Aku tidak mau bayiku terlahir tanpa ayah dan akan dicemooh kelak di tengah masyarakat. Ditambah lagi siapa yang akan menanggung beban ekonomi kami nanti? Sedangkan aku sudah dipecat dan menjadi salah satu dari sekian banyak pengangguran yang ada di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kuikuti keinginannya. Kujual akidahku dengan harga yang sangat murah dan tak bernilai. Kulepas jilbab yang selama ini menutup kepalaku, beralih ke agamanya, murtad dari agama Islam yang benar dan suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lagi-lagi, keputusanku itu bukanlah hal yang tepat. Saat ini, meskipun ia sudah berhasil menjadikanku sebagai salah satu korban misinya, ia tengah berusaha mendekati dan mengejar seorang mahasiswi, tetap di kampus yang sama. Korban misi yang berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sama sekali tidak berdaya, aku sangat lemah dan pengecut. Aku selalu ketakutan dengan ancaman-ancaman dan perlakuannya yang keras dan kasar. Aku ketakutan pada kekasaran tangannya yang selalu menyiksa tubuhku. Rasanya perih. Aku menjadi semakin lemah. Aku tak tahu mengapa harus menjadi seperti ini? Padahal bisa saja aku lari menjauh dari hidupnya. Tapi lagi-lagi tetap saja aku tidak bisa. Ada yang mengikatku dengannya, sesuatu yang tidak aku mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hatiku sedikit lega saat kudengar bahwa mahasiswi itu memiliki sahabat seorang akhwat berjilbab besar yang selalu bersamanya. Akhwat itu pastilah lebih mengerti tentang kristenisasi dan akan memahamkan dirinya. Sehingga mau tidak mau, misionaris yang saat ini sudah menjadi suamiku sulit unutk bisa mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kisah ini dituturkan, aku masih dalam keadaan seperti ini, terkatung dalam penderitaan dan penyesalan. Penderitaanku ini mungkin adalah balasan atas dosa besar yag telah kuperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ini yang bisa kulakukan untuk para calon ibu di manapun berada. Semoga kisahku ini yang hanya berwujud tinta di atas kertas, dapat dibaca dan dijadikan sebagai pelajaran bagi seluruh perempuan -khususnya para remaja muslimah- bahwa misionaris sedang berkeliaran di sekitar kita dengan metode-metodenya yang beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi masih sempat, belajarlah tentang agama Allah. Jangan tunggu sampai menyesal seperti keadaanku sekarang. Jangan menunggu sampai kau merasa bingung dengan tindakan apa yang harus kau lakukan saat kehancuran kita sebagai wanita yang gagal mempertahankan kehormatannya menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi muda, belajar dan belajarlah untuk memperkuat aqidah keislaman yang mulia. Kenalilah mereka dari metode-metode apa saja yang mereka gunakan. Tingkatkan kewaspadaan dan tolong sebarkan pada saudarimu yang lain. Agar tidak lagi menjadi tangis penyesalan seperti yang aku alami terhadap mereka. Agar tidak ada lagi terjadi perusakan fitrah terhadap bayi-bayi yang tak berdosa. Jika ibu mereka adalah Islam, maka insya Allah anaknya juga akan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habiskan waktumu untuk ilmu, dan jangan kau habiskan untuk mencari-cari trend model terbaru, berjalan di mall tanpa manfaat atau menghabiskannya di kegelapan malam dengan lelaki yang kau pandang sebagai kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bukan kekasih …, tetapi serigala yang ingin menelanmu bulat-bulat. Bacalah buku-buku atau majalah-majalah Islami. Jadilah wanita yang cerdas dan tangguh. Belajarlah dari kesalahan dan kelemahanku. Belajarlah dari penyesalan dan penderitaanku. Sungguh …, apa yang kualami sangat menyakitkan. Kau akan merasa antara hidup dan mati. Tak ada lagi senyum ceria. Air matapun mengering. Selagi kau bisa meniti dan merencanakan mada depanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa bercerita, setidaknya semoga engkau bisa merenung barang sedetik. Sekali lagi …, belajarlah dari hidupku!!! Dan tolong doakanlah aku semoga saja suatu saat nanti keberanian itu akan muncul dalam diriku, sehingga aku bisa kembali ke jalan-Nya yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah mendengar doamu meski hanya seorang diantaranya. Tolong doakanlah aku barang semenit saja. Karena saat ini aku benar-benar merasakan ketidakberdayaan sebagai seorang wanita dan sebagai seorang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku, maafkan Ibu karena telah merusak fithrahmu, cepatlah besar untuk bisa menentukan sendiri jalan hidupmu.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.” (HR.Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seorang sahabat, Cahaya Bintang&lt;br /&gt;Semoga Allah selalu menjagamu.&lt;br /&gt;24 Juli 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-8352490675586923815?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/8352490675586923815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/karena-cinta-aku-murtad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8352490675586923815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/8352490675586923815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/karena-cinta-aku-murtad.html' title='Karena Cinta Aku Murtad'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-3152540708163849238</id><published>2009-11-05T11:43:00.000+08:00</published><updated>2009-11-05T11:46:31.821+08:00</updated><title type='text'>Aku Meninggalkan Suami Karena Ia Memintaku Meninggalkan Islam</title><content type='html'>Jika ada sebagian di antara wanita muslimah yang rela meninggalkan islam yang dianutnya demi cinta, ekonomi, harta, kekayaan, atau urusan dunia lainnya, maka dalam kisah nyata kali ini tidaklah demikian. Seorang wanita Jerman yang telah mendapat hidayah islam justru mengorbankan suaminya demi mempertahankan hidayah yang telah diraihnya! Sungguh hidayah itu adalah sangat mahal nilainya bagi orang-orang yang mau merenunginya dan mensyukurinya.Inilah dia kisahnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sampai di Saudi, sedangkan di pikiranku ada berbagai hal tentangnya. Sebelumnya saya sudah yakin bahwa akan terjadi perubahan besar pada diriku. Saya mulai memperhatikan hal-hal aneh di masyarakat  yang ada di sekitarku. Ketika waktu shalat  tiba, semua orang meninggalkan apa saja yang mereka kerjakan dan berdiri dishaf-shaf secara teratur (untuk melaksanakan shalat), mereka diliputi oleh kebahagiaan dan ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya memperhatikan berbagai macam pergaulan antara anggota masyarakat, di pikiranku berkecamuk dan bertumpuk berbagai pertanyaan. Pada setiap jawaban yang saya dapatkan, saya merasakan adanya denyutan baru di dalam hati yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya membandingkan antara tatanan kehidupan di Jerman dan tatanan ke hidupan yang ada di sini. Di Jerman, kami menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak bermanfaat, sementara disini semua orang menghabiskan waktunya untuk bekerja dan beribadah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya perempuan ini menambahkan, “Insinyur Subhi Tiraji dan istrinya telah menerangkan Islam kepadaku secara terperinci. Mereka juga telah menjelaskan kepadaku perkara-perkara yang ghaib dan pemahaman-pemahaman yang salah supaya saya masuk Islam dengan penuh kerelaan. Saya menamakan diri dengan Hana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengirim surat kepada suamiku di Jerman untuk memberitahukan hal ini dan menjelaskan kepadanya tentang kelebihan-kelebihan agama Islam, serta menjelaskan bahwa Islamlah agama yang benar. Akan tetapi sayang, suamiku malah memintaku untuk segera pulang dan meninggalkan Islam. Saya menolak permintaannya dan mengorbankan dirinya. Saya meminta untuk di talak dan saya pun mendapatkan hasilnya. Allah memberiku seorang suami yang shalih, berkebangsaan Amerika yang berasal dari Mesir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Hana menceritakan kehidupan barunya, “Setiap minggu kami pergi ke Mekkah atau Madinah al-Munawwarah untuk menghabiskan waktu-waktu yang indah di berbagai tempat suci dan mendengarkan berbagai kaset, supaya dengan mudah kami mendapatkan pemahaman yang benar tentang Islam dengan lebih dalam dan lebih sempurna.”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kutip dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Mereka Memilih Islam Kesaksian Para Muallaf, Khalid Abu SHalih, hal: 146-147, Darul Haq Jakarta, 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-3152540708163849238?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/3152540708163849238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/aku-meninggalkan-suami-karena-ia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3152540708163849238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/3152540708163849238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/aku-meninggalkan-suami-karena-ia.html' title='Aku Meninggalkan Suami Karena Ia Memintaku Meninggalkan Islam'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-1657521691564147024</id><published>2009-11-05T11:41:00.000+08:00</published><updated>2009-11-05T11:43:14.040+08:00</updated><title type='text'>Sufyan Bin ‘Uyainah Rahimahullah(Kunikahi dia karena Agamanya)</title><content type='html'>Orang alim ini dilahirkan pada tahun 107 H pada pertengahan bulan Syawwal, dan ajal menjemputnya pada hari Sabtu, 1 Rajab 198 H. Nasab lengkapnya, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran al Kufi. Dia dikenal dengan panggilan Abu Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya seorang pegawai pada masa Khalid bin Abdillah Al Qasri. Tatkala Khalid diberhentikan dari jabatan Gubernur Iraq dan digantikan oleh Yusuf bin Umar ats Tsaqafi, pejabat baru ini mencari-cari para staff pada masa pemerintahan Khalid, sehingga mereka berlarian untuk menyembunguikan diri. ‘Uyainah, Ayah Sufyan kecil, melarikan diri sampai ke kota Mekkah dan akhirnya memutuskan berdomisili disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia menapak usia lima belas tahun, ayahku memanggil, seraya berpesan : “Wahai Sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan, supaya engkau termasuk orang-orang yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang Allah mengetahui, bahwa keadaanmu berlawanan dengan itu. Sebab, tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang, kecuali ia akan berkata kejelekan kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah. Nikmati kesendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan engkau alihkan prsangka baikku kepadamu kepada prasangka lain. Dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama, kecuali orang-orang yang mentaati mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar nasihat ayahnya ini Sufyan berkata dalam hati : ”Sejak itu, aku menjadikan pesan Ayah sebagai arah kompasku, berjalan bersamanya, tidak menyimpang darinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang ia jalani. Sejak usia dini, ulama besar ini telah menyibukkan diri pada pendalaman ilmu din. Tepatnya pada tahun 119 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ’Uyainah mengisahkan tentang dirinya : ”Aku keluar menuju masjid, dan aku melihat-lihat halaqah-halaqah (majlis ilmu) yang ada. Bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua, maka aku menghampirinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan: ”Aku duduk di majlis ilmu Ibnu Syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang menunjukkan keberuntungannya, sebanyak delapan puluh ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai. Misalnya, ’Amr bin Dinas, az Zuhri, Muhammad bin al Munkadir, al A’masy, Sulaiman at Taimi, Humaid ath Thawil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kekuatan hafalannya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menulis sesuatu, kecuali sudah aku hafal sebelum aku menuliskannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, berkat pergaulannya dengan ulama-ulama besar, telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang teguh, luas ilmunya dan mendalam. Ia menjadi nara sumber dalam berbagai permasalahan dan tempat curahan isi hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan: ”Suatu hari, ada seorang lelaki mendatangi Sufyan dengan berkata : ’Wahai , Aba Muhammad (yang dimaksud adalah Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan istriku. Aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah dimatanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Sufyan menggeleng-gelengkan kepala heran, dan kemudian berujar : ”Mungkin, keadaan itu muncul karena engkau menikahainya untuk meraih kehormatan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu pun mengakuinya: ”Ya, betul wahai Aba Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan lalu berpesan: ”Barang siapa pergi karena mencari kehormatan, niscaya akan diuji dengan kehinaan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, niscaya akan diuji dengan kefakiran. Barang siapa bergerak karena dorongan din, niscaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama dinnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, Sufyan mulai berkisah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak sulung., Imran anak bungsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, ia menginginkan kemuliaan nasab. Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi status sosialnya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Imran, (saat menikah) ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya. Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan. Keluarga wanita mengambil seluruh yang dimilikinya, tidak menyisakan sedikitpun.&lt;br /&gt;Aku pun merenungkan nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku. Aku pun berdiskusi dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku dengan hadits Yahya bin Ja’daj dan hadits ’Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Yahya bin Ja’dah yang dimaksud, yaitu sabda Nabi Shollallahu ’alayhi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ”Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, status sosialnya, kecantikannya dan dinnya. Carilah waniya yang beragama, niscaya tanganmu akan beruntung”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hadits ’Aisyah, Nabi Shollallahu ’alayhi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wanita yang paling besar berkahnya adalah waniya yang paling ringan beban pembiayaannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, aku memutuskan untuk memilih bagi diriku (wanita yang) memiliki din dan beban yang ringan untuk mengikuti Sunnah Rasulullah Shollallahu ’alayhi wa sallam. Allah menghimpunkan bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya. Tidak sedikit untaian hikmah dari Sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al Khaliq, Allah Subhaanahu wa Ta’Ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan bin ’Uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’, Dia pun menjelaskan, wara’ adalah keinginan untuk mendalami ilmu din yang menjadi sarana untuk mengenal seluk-beluk wara’. Sebagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara, padahal tidak demikian. Menurut kami, sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim, itu lebih afdhal dan lebih wara’ dibandingkan lelaki yang jahil lagi diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan bin ’Uyainah juga memiliki hikmah yang menunjukkan kedalaman ilmunya. Dia menyatakan, permisalan ilmu adalah bagaikan negeri kufur atas negeri Islam. Apabila penganut Islam meninggalkan jihad, niscaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil Islam. Jika orang-orang meninggalkan ilmu, maka mereka menjadi manusia-manusia bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui, dia berkata : ”Tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebenaran dan kejelekan. Tetapi, orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya, serta mengetahui kejelekan dan menjauhinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi.&lt;br /&gt;Diketik kembali oleh Ummu ’Umar dari Majalah As-Sunnah Edisi 10/IX/1426H/2005M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mana tulisan dari Majalah As Sunnah tersebut bersumber dari Tahdzibul Kamal fi Asma-i ar Rijal (3/223-228) karya Aal Hafizh Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf al Mizzi, tahqiq Basyyar Awwad Ma’ruf, Muassasah ar Risalah, Cetakan 1 Tahun 1418 H – 1998 M&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7451114630325576914-1657521691564147024?l=akhwat-of-miracle.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/feeds/1657521691564147024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/sufyan-bin-uyainah-rahimahullahkunikahi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1657521691564147024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7451114630325576914/posts/default/1657521691564147024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhwat-of-miracle.blogspot.com/2009/11/sufyan-bin-uyainah-rahimahullahkunikahi.html' title='Sufyan Bin ‘Uyainah Rahimahullah(Kunikahi dia karena Agamanya)'/><author><name>Rifdah Fakhirah Azalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08891506338993352974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_GWdf2KDMgxc/SkRsvSjyrAI/AAAAAAAAAAg/_rkWQzst6GI/S220/big_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7451114630325576914.post-7029173238999057874</id><published>2009-11-05T11:40:00.000+08:00</published><updated>2009-11-05T11:41:06.085+08:00</updated><title type='text'>
